Sate Klatak Pak Pong yang Gurih Bin Nagih (Bantul)

Beres mengunjungi Candi Borobudur, waktu udah nyaris menunjukkan pukul 3 sore. Saya udah merencanakan untuk makan siang, atau sekarang lebih tepat disebut makan sore, di Soto Bathok Mbah Katro yang searah menuju ke Ratu Boko. Tapi karena perjalanan yang sedikit tersendar di beberapa titik, akhirnya kita baru sampe di sana jam 4 seperempat. Sialnya, saya lupa mengecek kalo rumah makannya tutup jam 4 sore. Sial bener. Mana perut udah laper, berkunjung ke Ratu Boko buat menikmati matahari terbenam sepertinya ga sempet.

Sedikit jauh, akhirnya kita bertiga sepakat buat makan di Sate Klatak Pak Pong di Wonokromo, Imogiri. Lumayan juga tuh, dari utara banting setir ke selatan. Perjalanan melalui jalan lingkar luar Jogja ditempuh dalam waktu satu setengah jam aja. Kita sampe di sini jam setengah 6. Karena waktunya nanggung menuju ke makan malem, belum terlalu banyak pengunjungnya. Tapi semakin malem, rupanya meja-meja semakin terisi penuh.

Warung Sate Klatak Pak Pong memiliki tempat yang cukup luas buat menampung ratusan pengunjung. Bahkan mereka pun memiliki saung-saung lesehan tambahan di seberang jalan. Ga mengherankan mengingat sate klatak yang satu ini udah terkenal bahkan sampe ke luar Jogja dan selalu diburu para penggemarnya.

Emang apa sih yang membedakan sate klatak dengan sate kambing pada umumnya? Mungkin ya, sate klatak ini lebih terasa daging kambing mudanya karena cuma dikasih bumbu garam aja. Hal itu juga yang menyebabkan pada saat dibakar dia menimbulkan suara “klatak, klatak!” yang khas sehingga disebut sate klatak. Penyajiannya juga tergolong unik karena ga menggunakan tusuk dari bambu melainkan menggunakan jeruji sepeda. Iya, jeruji sepeda! Alasannya, supaya daging bisa matang lebih merata mengingat logam merupakan penghantar panas yang baik.

Seporsi sate klatak hanya berisi dua tusuk sate aja. Sedikit? Ngga jugaaa, karena selain setusuk ada sekitar delapan kerat daging, ukuran dagingnya pun gede-gede. Jadi berasa kayak makan satu porsi sate kambing biasa. Penampakannya luar biasa menggiurkan, warna merah muda dan coklat bercampur dengan sedikit bagian yang hitam karena gosong. Menurut saya rasanya luar biasa enak, rasa asinnya gurih banget. Udah gitu, dagingnya pun terasa sangat empuk.

Tapi biarpun rasanya enak banget, rasanya ada yang kurang. Apa itu? Yak, ga ada rasa pedesnya sama sekali sehingga terasa kurang nendang. Saya tau ini masalah selera aja. Saya yakin banyak pengunjung lain yang memakan satenya begitu aja tanpa tambahan apapun. Akhirnya saya meminta sambel ke pelayan, tapi ditawari irisan cabai sebagai gantinya. Tapi ternyata cabenya pedes banget, padahal saya cuma menggigit beberapa iris aja.

Selain sate, kita juga penasaran sama tengklengnya. Mumpung dateng rame-rame, bisa banyak menu yang dicoba. Seporsi tengkleng bisa dibilang murah meriah, cuma 27 ribu aja tapi dapetnya banyak banget. Kalo di Jakarta mana dapet nih segini. Apalagi ternyata tengklengnya ga kalah enaknya. Rasanya gurih ada sedikit manis-manisnya, ditambah dagingnya empuk dan memiliki banyak bagian lemak yang saya suka. Walau perut udah kenyang pun rasanya masih pengen ngegerogotin tulang-tulangnya.

Sate Klathak (Seporsi Isi Dua Tusuk) IDR 22K
Tengkleng IDR 27K
Nasi Putih IDR 4K
Es Teh Manis IDR 4K
Es Jeruk IDR 4K

 

Sate Klathak Pak Pong
Jalan Imogiri Timur KM 10, Wonokromo, Bantul
Click for Google Maps

3 pemikiran pada “Sate Klatak Pak Pong yang Gurih Bin Nagih (Bantul)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s