Menelisik Sejarah dan Budaya Tatar Sunda di Museum Sri Baduga (Bandung)

Walaupun berada di kota Bandung, tapi Museum Sri Baduga sejatinya berstatus museum provinsi Jawa Barat. Museum Sri Baduga terletak di Jalan BKR No. 185, berhadapan dengan Monumen Bandung Lautan Api yang ada di Lapangan Tegal Lega. Nah lho, di mana itu Lapangan Tegal Lega? Tepat di ujung Jalan Oto Iskandar Dinata alias Otista. Kalo nama jalan yang satu itu saya yakin semuanya tau, karena di situ ada Pasar Baru yang terkenal. Terkenal bikin macet kalo kata orang Bandung, terkenal sebagai surga belanja kalo kata orang Malaysia.

DSCF1354 (1024x683)

Saya berkunjung ke sana di hari Minggu. Jangan khawatir, museumnya buka kok. Seperti kebanyakan museum yang dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, museum justru tutup di hari Senin dan tentunya di hari libur nasional. Untungnya, museum lagi sepi dari kunjungan study tour anak-anak sekolahan, jadinya saya juga bisa lebih leluasa buat mengambil foto. Petugasnya pun entah kenapa, walaupun ada, ga meminta saya membeli tiket ke saya. Ya udah deh, saya melenggang masuk aja *jangan dicontoh =P*

DSCF1345 (1024x683)

Nama museum diambil dari nama seorang raja yang paling terkenal dari Kerajaan Pajajaran, Sri Baduga Maharaja. Kamu mungkin lebih mengenalnya dengan nama populernya, Prabu Siliwangi. Rekam sejarah pemerintahan Prabu Siliwangi dipahat di Prasasti Batu Tulis yang ditemukan di Bogor, replikanya ada di sebelum pintu masuk gedung utama, sementara yang asli masih berada di tempatnya ditemukan.

DSCF1348 (1024x683)

Museum memiliki dua gedung pameran, gedung utama untuk pameran tetap dan bangunan baru yang ada di samping kiri (kalo diliat dari depan) untuk pameran temporer. Saya inget banget dulu pas SMP pernah ikutan lomba cerdas cermat museum tapi pake bahasa Sunda. Karena waktu SMP saya ga bisa banget bahasa Sunda, jadilah saya yang ngasih tau temen saya jawabannya dan dia yang menjawab ke juri pake bahasa Sunda. Istilahnya, saya jadi otaknya, dia jadi mulutnya. Dan kita waktu itu jadi juara 3. Yeay!

Gedung utamanya, walaupun memiliki dua lantai tapi ukurannya juga ga terlalu gede. Lantai pertama diisi oleh koleksi yang berkaitan dengan Jawa Barat, seperti sejarah Jawa Barat, keragaman flora dan fauna, dan temuan-temuan arkeologis. Lantai 2 diisi oleh koleksi yang memaparkan adat dan tradisi orang Sunda, kehidupan sehari-harinya, keseniannya, hingga ke mainan anak-anak tradisional. Koleksinya ditunjang dengan berbagai peta, maket, panel-panel ilustrasi, foto, bahkan replika. Iya, banyak koleksinya yang replika karena koleksi aslinya kebanyakan disimpen di Museum Nasional alias Museum Gajah di Jakarta. Alur untuk melihat museum adalah, dari pintu masuk kita berjalan ke sebelah kiri lalu memutar searah jarum jam, terus naik ke atas ke lantai dua dan berjalan berlawanan arah jarum jam.

DSCF1351 (1024x683)

Yang menyenangkan dari museum ini adalah, tampaknya dia abis mengikuti lomba antar museum di Indonesia dan memperoleh penghargaan. Jadinya, kebanyakan panel ilustrasi dan papan informasinya udah diperbarui, kontras dengan waktu saya dateng beberapa tahun yang lalu di mana suasananya sangat suram, jadul, dan sungguh tidak menarik. Bahkan sekarang di beberapa sudut ditaro floor standing AC. Sayangnya, multimedia digital yang tersedia tidak berfungsi (atau tidak dinyalakan?) dan teronggok begitu saja.

DSCF1341 (1024x683)

Dari bagian yang menceritakan sejarah dan ragam flora dan fauna Jawa Barat, pengunjung dibawa ke bagian tengah bangunan. Di sini dipamerkan berbagai koleksi temuan arkeologis di Jawa Barat seperti arca-arca dan peti kubur batu dari zaman Megalitikum, serta foto-foto berbagai situs arkeologis, yang ga mungkin kan dibawa ke museum, kayak Candi Cangkuang di Garut, Situs Ciacra dan Taman Purbakala Cipari di Kuningan, Gunung Padang dan Situs Tugu Gede di Sukabumi, Candi Jiwa dan Belandongan di Karawang. Yang menarik, mereka punya tiruan Gua Pawon yang ada di Padalarang, lengkap dengan kuburan dan kerangkanya. Bukan replika persis sih, tapi cukup lah buat memberikan gambaran ke para pengunjung.

DSCF1367 (1024x684)

DSCF1371 (683x1024)

Naik ke lantai 2, suasananya mulai agak-agak horor karena banyak banget patung-patungnya. Tapi ya semua patung-patung itu emang dibutuhkan untuk menggambarkan kehidupan orang Sunda. Pas baru naik, di sebelah kanan udah ada patung perempuan yang ceritanya lagi mengaji di bale. Lalu ada kostum bangsawan atau disebut menak dan kostum-kostum pengantin di berbagai daerah di Jawa Barat yang sangat beragam. Di atas itu contoh busana pengantin leluhur Sumedang. Kalo ngeliat kostum cowoknya saya jadi inget Gatotkaca.

DSCF1378 (1024x683)
Suasana di lantai 2
DSCF1374 (1024x685)
Mahkota ibu padi
DSCF1406 (1024x683)
Gamelan degung berlaras salendro

Selain itu, di lantai dua masih ada banyak koleksi lainnya kayak miniatur rumah adat Sunda, peralatan yang berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat (mungkin suatu saat komputer dan telepon genggam akan masuk museum juga ya sebagai alat mata pencaharian), koleksi yang berkaitan dengan uang, serta alat musik kayak angklung, calung, kecapi, dan gamelan degung. Wah, jadi inget pas jaman kuliahan saya ikutan Lingkung Seni Sunda, biasanya gamelan degung dipake pas di acara nikahan atau buat ngisi backsound wisuda.

DSCF1405 (1024x683)
Foto narsis dulu biar ga hoax

DSCF1408 (1024x683)

Beberapa koleksi museum yang unik di antaranya mereka punya berbagai macam “tanggungan”, yaitu wadah yang dipikul oleh para penjaja makanan. Ada tanggungan kerupuk yang gede banget karena isinya kan cuma kerupuk alias cuma angin doang, tanggungan oncom, tanggungan kecap, dan tanggungan minyak kelapa. Ada lagi koleksi yang bikin nostalgia, yaitu berbagai macam permainan anak tradisional yang dilengkapi dengan papan nama mereka dalam bahasa Sunda. Buat kamu yang orang Sunda, masih inget ga nama-nama mainan berikut ini : kolecer, gangsing, teteleponan, mamanukan, gatrik, kelom batok, bedil jepret, masak-masakan (alat masaknya beneran tapi berukuran mini), beklen, kaleci, gambar toong, dan masih banyak lagi koleksinya. Gimana, udah berasa nostalgia belum? Saya sih udah dari tadi, hehehe.

DSCF1426 (1024x683)

Beres dari museum, kalo kamu haus, cobain deh mampir ke penjual es gula asem yang setia berjualan di bibir Jalan Inhoftank di sebelah barat museum. Walaupun saya jarang lewat sini, tapi kalo udah lewat, saya biasanya akan nyempetin beli es asemnya. Harganya agak lumayan, sebungkus kecil 5 ribu rupiah. Tapi karena asem, ga akan cepet abis juga kan. Dan lagi, es gula asemnya enak, seger, dan berasa banget tradisionalnya dibandingin kalo minum gula asem kemasan.

 

Tiket Masuk
Anak-Anak (TK, SD, SMP) IDR 2K
Dewasa (SMA, Mahasiswa, Umum) IDR 3K

Jam Buka
Selasa-Jumat 08.00-16.00
Sabtu-Minggu 08.00-14.00
Senin dan Libur Nasional Tutup

 

Museum Sri Baduga
http://www.museumsribaduga.jabarprov.go.id/
Jalan BKR No. 185 Bandung
Click for Google Maps

sri-baduga.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s