Nyemil Gultik di Blok M (Jakarta)

Kemaren saya ke sini lagi, beli gultik alias singkatan dari gule tikungan. Kali ini rame-rame ama temen-temen. Kenapa disebut gule tikungan? Soalnya, mereka jualannya emang di tikungan. Tepatnya, di trotoar sebelah utara Plaza Blok M. Tepat di seberang tempat kuliner terkenal lainnya, Ayam Bakar Ganthari. Entah sejak kapan mereka udah mangkal di sini. Tapi saya pernah baca suatu artikel tentang seseorang yang udah sering makan di mari. Dia bilang tahun 1995 pun dia udah makan di sini. Wow, seengganya udah 20 tahun ya gultik ini eksis.

DSCF3915 (1280x853)

Kalo sampe ga bisa nemuin tempat ini, kebangetan banget. Pasalnya, tempat jualan mereka eye-catchy banget, pake payung-payung berwarna-warni. Kira-kira ada 20 penjual gule tikungan di sini, jadi, ga cuma satu seperti yang mungkin kamu bayangkan sebelumnya. Belakangan saya bahkan baru ngeh kalo merea jualannya ga cuma ada di sudut trotoar doang yang tepat berada di belakang Plaza Blok M, tapi juga ada di beberapa titik lain deket situ juga. Edarkan pandangan sedikit ke sudut yang berlawanan, kamu udah bisa ngeliat adanya payung-payung warna-warni lainnya.

Ga ada satupun di mereka yang tampaknya lebih menonjol dari yang lain. Semuanya sama aja. kadang bisa rame, kadang bisa sepi juga. Saya pernah nyoba beli di penjual yang berbeda-beda dan rasanya ga jauh berbeda. Dari sekitar jam 4 atau 5 sore, para penjual mulai bersiap-siap menggelar dagangan mereka. Tiap penjual menyusun beberapa buah kursi di depan bakul-bakul dagangan mereka. Ada juga beberapa penjual yang menyediakan meja kecil sekedar untuk menaruh piring kerupuk atau minuman. Tak sedikit dari mereka yang berjualan sampe lewat tengah malam.

DSCF3905 (1280x855)

Untuk menyiapkan seporsi gultik, sang penjual gultik akan mulai dengan menyiapkan setengah piring nasi. Nasinya bener-bener cuma setengah dan dikumpulkan di satu sisi piring. Lalu, dia akan mengaduk-aduk gentong yang berisi gule dan mengambil daging. jeroan, dan gajih untuk diletakkan di atas nasi. Terakhir, barulah itu kuah gulenya disiramkan ke atas nasi. Mungkin kuahnya sengaja dikasih terakhir supaya tetep anget pas mulai kita makan. Oiya, kalo kamu ga suka gajih, jangan lupa bilang.

cover gultik (1280x853)

Jadi, kayak apa penampilan gulenya? Naaah, liat aja tuuh penampilannya. Porsinya kecil kok. Makanya saya bilang “nyemil”. Makan satu piring mana puaaaasss. Saya selalu beli dua porsi setiap ke sini. Soalnya, rasanya juga enaaaak. Gurih. Hangat. Pas banget dimakan malem-malem, rame-rame dengan temen-temen.

Waktu saya mau pesen sebungkus buat sahur, sayang sekali si penjual gultik ga menyediakan plastik buat bungkus. Dan mungkin semua penjual lain pun begitu. Sepertinya gultik ini memang tipe kuliner yang mesti dimakan di tempat, dinikmati dengan keramaian khas Blok M. Tapi hati-hati, nyari parkir mobil bisa pe er banget nih di sini.

Gule Tikungan IDR 10K

 

Gule Tikungan
Trotoar sebelah utara Plaza Blok M
Click for Google Maps

gultik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s