Menjelajah Gedung Arsip Nasional Jalan Gajah Mada (Jakarta)

Udah lama banget saya pengen berkunjung dan menikmati bangunan cantik bergaya kolonial ini dari dekat. Berlokasi di Jalan Gajah Mada, Gedung Arsip Nasional ini seringkali digunakan sebagai tempat untuk mengadakan acara pernikahan, pesta ulang tahun, acara kantor, dan lain sebagainya. Pernah suatu kali saya lewat sini, namun sayangnya dilarang masuk karena sudah disewa untuk suatu acara. Walaupun kalo pengen berkunjung ke sini ga dipungut biaya sedikit pun, namun berkunjung di akhir minggu tentunya juga bukan waktu yang tepat karena tentunya sudah disewa untuk perhelatan berbagai acara. Padahal kalo hari kerja kan mana mungkin saya ke sini.

Nah, karena hari itu merupakan hari terakhir di penghujung tahun 2018 yang mana kejepit ama tahun baru, saya pun memutuskan untuk cuti dan iseng jalan-jalan di Jakarta. Abis makan Sop Buntut Ibu Samino Senayan di cabang Kebayoran Baru, saya sempet mampir dulu ke Senayan, ngeliat taman kota yang katanya dulunya bekas lapangan golf itu. Ga menarik. Barulah setelahnya saya langsung ke sini. Udah saya duga, ga ada orang yang menyewa gedung ini dan memakainya untuk acara apapun. Setelah memarkir mobil dan meminta izin sama petugas keamanan, saya pun, bebas melenggang dan berfoto ria.

Bangunan yang selesai dibangun pada tahun 1760 ini awalnya digunakan sebagai tempat kediaman Reinier de Klerk, seorang pengusaha yang kemudian terjun ke dunia politik dan akhirnya menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda dari tahun 1778 hingga 1780. Salah satu jasanya adalah mendirikan Museum Gajah pada awal masa kekuasaannya. Bangunan ini sempat beberapa kali berganti kepemilikan dan bahkan sempat juga terbengkalai. Pada tahun 1925, rumah ini dibeli oleh pemerintah Hindia Belanda dan digunakan sebagai gedung Landsarchief alias Arsip Negeri. Pasca kemerdekaan Indonesia, rupanya fungsinya dilanjutkan dengan nama yang diubah menjadi Kantor Arsip Nasional. Pada tahun 1992, Arsip Nasional berpindah lokasi menempati gedung baru di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, dan bangunan ini pun kembali terbengkalai. Sebuah yayasan Belanda bernama Stichting Nationaal Cadeau Indonesia, yang berarti Yayasan Hadiah Nasional Indonesia, kemudian memugar gedung ini, selesai pada tahun 1998, dan menyerahkannya kembali untuk dikelola oleh pemerintah Indonesia sebagai museum.

Saya pun masuk dari pintu utama yang menghadap jalan raya ke lantai satu dari bangunan berlantai dua ini. Ada tujuh buah ruangan di lantai satu, dengan sebuah tangga kecil yang menuju ke lantai dua berada di ruangan sebelah kiri dari pintu masuk. Sayangnya akses menuju ke lantai atas ditutup dan saya ga berhasil menemukan petugas untuk meminta izin naik ke atas.

Sebagaimana bangunan peninggalan masa kolonial pada umumnya, nyaris semua bagian atas pintu yang membatasi ruangan-ruangan memiliki ventilasi udara yang dihiasi oleh ukiran indah bergaya Eropa. Lalu, saya juga sempat memperhatikan keramik-keramik yang berbatasan dengan ubin yang terlihat masih terjaga dengan baik. Gambar-gambar diilustrasikan di ubin tersebut sepertinya diambil dari penggalan-penggalan kisah alkitab.

Ruangan-ruangan di lantai satu dipenuhi oleh berbagai koleksi kearsipan nasional seperti surat-surat dari raja-raja di berbagai daerah di Indonesia ke pemerintah kolonial Belanda, lalu senjata tajam, senapan api, mebel, peralatan rumah tangga, hingga foto-foto dan tempat ibadah dari abad ke-19 yang tergantung di dinding.

Jika dilihat dari atas, komplek bangunan akan terlihat menyerupai huruf O. Namun, bangunan pada sisi belakang merupakan bangunan baru yang ditambahkan belakangan. Dahulu, gedung ini dikelilingi oleh taman yang luas dan cantik, bahkan halaman belakang bangunan yang kini sudah diisi oleh bangunan-bangunan lain memanjang hingga ke Kali Krukut. Di sisi kiri dan kanan bangunan utama yang pertama kali saya masuki tadi, ada bangun kecil layaknya dua perwira yang menjaga junjungannya. Lalu dua buah bangunan memanjang yang berada di sebelah kiri dan kanan taman, kini digunakan sebagai kantor pengelola, gudang, dan mushola, dulunya merupakan kamar para budak dan pekerja.

Setelah puas berkeliling di Gedung Arsip Nasional, saya menyempatkan diri mampir ke Gedung Kesenian Jakarta yang berada di seberang Pasar Baru, masih satu blok dengan Katedral Jakarta. Dicetuskan oleh Daendels, gedung, kesenian ini baru berhasil, direalisasikan pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814 walaupun setelah Inggris angkat kaki dari Hindia Belanda, gedungnya diperbarui menjadi lebih permanen pada tahun 1821 oleh, perkumpulan teater Ut Desint. Bangunan yang pernah menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah seperti Kongres Pemoeda yang pertama dan peresmian Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) ini sempat pula menjadi gedung bioskop. Akhirnya pada tahun 1984 fungsinya dikembalikan sebagai gedung kesenian kemudian dipugar sehingga dapat digunakan oleh khalayak umum. Karena kualitas akustik ruangannya yang bagus, gedung ini sering dipakai untuk acara bergenre musik dan teater.

 

Museum Gedung Arsip Nasional
Jalan Gajah Mada No. 111, Krukut, Jakarta Barat
Click for Google Maps

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s