Menyelamatkan Danau Maninjau Melalui Festival (Jakarta)

Wah, akhirnya bisa nulis blog lagi nih. Iya, selama seminggu kemaren selain sibuk, saya juga masih capek sehingga ga sempet ngeblog sama sekali. Emangnya capek dan sibuk kenapa sih? Yaaa, jadi tanggal 30 September 2018 kemaren, saya telah melangsungkan pernikahan saya dengan Fajar Sulistyaningsih, perempuan yang saya temui di kantor dan udah berpacaran selama tiga tahun, di Gedung Serba Guna Aula Zamhir Islamie, IPDN, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar dan minim drama. Cuma ada sedikit hal yang bikin deg-degan tepat di pagi hari dua jam menjelang akad karena sempet mati listrik dan kita sama sekali ga menyewa genset. Untungnya sejam kemudian listrik kembali normal hingga acara selesai ga ada masalah apa-apa.

Nah, ini bisa dibilang jalan-jalan pertama kita sebagai suami istri (hanimun ga usah diitung lah ya). Jalan-jalannya yang deket-deket aja kok, kebetulan tanggal 6-7 Oktober 2018 kemaren ada acara Festival Danau Maninjau yang diadain di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Pramuka Cibubur. Kebetulan saat itu kita lagi nginep di rumah Fay di daerah Mampang, Depok. Sekitar jam setengah tiga sore kita ciao deh pake mobil pinjeman ke sini. Perjalanannya bisa dibilang bikin banyak ngucap, gara-garanya AC mobil ga berfungsi dan jalanan Depok ternyata macetnya naujubile. Satu jam kemudian kita akhirnya sampe di lokasi, bayar tiket masuk sekaligus parkir mobil aja 10 ribu rupiah.

IMG_9082 (1280x853)

Di sebuah lapangan luas yang berada di sebelah kanan jalan, ga jauh dari pintu masuk Buperta Cibubur. Walau pengunjungnya keliatan cukup banyak, parkir mobil ga sulit karena lahan parkirnya pun luas. Ada tiga buah panggung kecil dan sebuah panggung utama yang diletakkan di keempat sisi lapangan dengan posisi agak berjauhan. Pengunjung festival tampak berkerumun di ketiga panggung kecil karena di depan panggung ada perlombaan tambua tansa.

IMG_9111 (1280x855)

Festival yang dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat ini bertujuan menggalang kepedulian dan partisipasi seluruh lapisan masyarakat untuk melestarikan Danau Maninjau yang makin tercemar oleh banyaknya keberadaan keramba jaring apung. Di dalam festival ini juga diadakan pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk parade seribu tambua tansa pada saat pembukaan acara yang sayangnya ga saya saksikan. Pada hari kedua, ada parade busana Minang, pencak silat galombang massal, dan kesenian mistis lukahgilo.

IMG_9089 (1280x858)

IMG_9104 (1280x855)

IMG_9090 (1280x855)

Ini pertama kalinya saya ngeliat pertunjukan tambua tansa. Biar kamu gampang ngebayanginnya, tentu bisa dengan mudah mencari aja di Youtube. Tapi gampangnya sih kesenian ini mirip dengan marching band masa kini. Tambua dalam bahasa Minang maksudnya adalah tambur, alias gendang besar berbentuk tabung yang dibawa dengan cara menyelempangkan talinya ke sekeliling badan dan menabuh gendangnya di depan badan. Tansa sendiri berbentuk bejana kuali yang ditutupi dengan kulit tipis, digunakan sebagai pemandu tempo para penabuh tambur. Walau kesenian tambua tansa awalnya digunakan dalam acara membangun rumah, menyambut tamu, atau pesta pernikahan, namun kini sering pula digunakan dalam acara-acara lain, bahkan perlombaan seperti yang saya saksikan ini.

IMG_9093 (1280x853)

Di tenda-tenda yang berada di sekeliling lapangan, ada stan-stan kuliner khas Minang dan produk-produk dari usaha kecil dan menengah (UKM). Bingung juga milihnya karena ada banyak pilihan untuk satu jenis makanan. Saya dan Fay mencoba sate dan soto padang dari salah satu stan yang sama. Harganya memang normal, masing-masing dihargai 30 ribu rupiah per porsi, namun jumlahnya yang agak dikurangi. Rasanya alhamdulillah enak, terutama soto padangnya yang rasa kuahnya gurih mantap, apalagi setelah bercampur dengan sambel merah yang khas. Daging satenya juga empuk.

IMG_9095 (1280x854)

Pas lagi makan soto, saya ketemu Tek Pa, tante saya yang tinggal di daerah Bantar Gebang dan dateng ke sini sejak pagi untuk bersua dengan teman-teman SMA-nya di Maninjau. Yap, keluarga mamah dan papah saya emang asli berasal dari Maninjau. Rumah kedua nenek saya hanya berjarak 500 meter dan dibatasi jalan raya yang mengelilingi danau. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar sama Tek Pa, mata saya mulai jelalatan lagi ngincer jajanan pasar yang pas berada di hadapan saya duduk. Saya kemudian membeli klepon, ketan berisi kelapa parut bergula aren, dan kue bugis.

IMG_9097 (1280x854)

IMG_9098 (1280x855)

Karena rasanya belum lengkap kalo belum makan nasi kapau, jadilah saya membeli seporsi nasi kapau dengan lauk rendang di salah satu stan nasi kapau asli Bukittinggi yang berada di deket stan sate dan soto tadi. Inilah risikonya udah beristri, harus nurut pas istri ngelarang saya pas mau pake lauk tunjang yang dibilangnya terlalu berkolesterol, hehehe. Sebongkah rendang yang pernah didapuk sebagai makanan terenak di dunia ini terasa empuk dan ga sulit untuk dipotong sekalipun kita hanya diberi sendok plastik.

Photo from Fachri Reza

Satu kuliner khas Danau Maninjau yang ga pernah kelupaan saya dan adik-adik saya beli ketika pulang kampung saat lebaran adalah pesi abuih, atau ada juga yang menyebutnya pensi. Nyaris tiada hari tanpa mengemil pesi abuih yang kita beli dari kios-kios yang tersebar di sepanjang tepian jalan deket rumah. Kerang sejenis remis bercangkang tipis ini konon hanya ada di Danau Maninjau dan saat ini makin sulit mendapatkannya akibat kondisi danau yang makin tercemar. Duh, sayangnya pesi abuih ini emang kuliner yang banyak peminatnya dan udah abis saat menjelang siang hari. Saya cuma kebagian fotonya aja yang dikirimin Tek Pa di grup Whatsapp keluarga besar. Semoga kesampean mudik pulang kampung dan menyantapnya lagi kapan-kapan. Amiiiin!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s