Makan Sampe Kenyang di Shabu Hachi (Jakarta)

Hari itu, saya ulang tahun. Tapi justru malah saya yang ditraktir ama Fay makan-makan di Shabu Hachi karena ceritanya saya beberapa waktu sebelumnya sempet nagih traktiran karena diterima masuk kerja di tempat yang baru (tapi rasa lama). Ya saya sih seneng aja lah yaaa. Terus, saya ga nraktir nih? Tetep nraktir dong, kita makan paket All You Can Eat di Hotel Santika Depok. Tapi sayang, foto-fotonya hilang bersama handphone saya. Setelah shalat magrib di Masjid Al Maimun, saya yang udah naik Gocar ngejemput Fay di pintu gerbang komplek Arkadia Green Park dan bareng-bareng pergi ke Shabu Hachi Jalan Ampera Raya. Walau sebelumnya Fay udah berusaha untuk booking tempat, tapi karena kita cuma berdua, si mbak di ujung telepon bilang langsung dateng aja. Ya udah deh, kita akhirnya dateng dan masuk daftar tunggu.

IMG_6703 (854x1280)

IMG_6704 (853x1280)

Sambil nunggu, kita nyemil keripik bawang yang saya ambil dari dua buah toples, khusus buat ngejinakin tamu yang masuk dalem daftar tunggu, sambil ngeliat-liat menu Shabu Hachi. Seperti di restoran shabu-shabu pada umumnya, kita bisa milih jenis daging dari yang paling murah, Australian reguler, sampe ke yang nyaris empat kali lipatnya, daging Wagyu. Kalo dateng berdua, bisa beli menu daging yang berbeda, tapi refill dagingnya ngikut ke menu daging yang paling murah. Untuk supnya, ada berbagai varian yang dibagi menjadi kategory non-spicy dan spicy. Buat yang suka bakar-bakaran, ada tambahan yakiniku grill yang ga bisa dipesen kalo ga mesen menu shabu-shabu. Walau sepertinya belom mengantongi sertifikat halal dari MUI, di negara lain Shabu Hachi udah memiliki sertifikat halal. UPDATE September 2018 : Saya baca berita kalo akhir Agustus kemaren Shabu Hachi akhirnya mengantongi sertifikat halal dari MUI, membuatnya menjadi restoran shabu-shabu pertama yang mengantongi sertifikat halal dari MUI. Wah, jadi makin yakin dong ya buat makan shabu-shabu ke Shabu Hachi?

IMG_6707 (1280x852)

Ruangan di dalem Shabu Hachi ternyata cukup luas dan memanjang sampe ke belakang. Suasananya juga cukup riuh rendah oleh serunya tawa dan obrolan para pengunjung yang kebanyakan lagi berbuka puasa di sini. Pencahayaannya ga terlalu terang sehingga enak buat mata, ga bikin jadi lelah. Tapi efeknya mungkin abis kekenyangan, jadi bikin gampang ngantuk, hehehe. Suhu ruangan juga diatur dengan tepat sehingga ga kedinginan atau kepanasan sekalipun ada banyak pengunjung.

IMG_6719 (1280x850)

Soal memilih kuah, ternyata di restoran shabu-shabu itu kita bisa lho minta mencicipi beberapa pilihan kuah yang ada. Kita waktu itu nyobain kuah kaldu (broth), kuah konbu, dan kuah Mongolia yang belom pernah saya liat di tempat lain. Kalo ga suka kuah yang rasanya terlalu kuat bisa milih jenis kuah dari kategori non-spicy tadi. Tapi kalo suka kuah yang rasanya lebih pedes atau lebih kuat karena banyak rempah-rempahnya, bisa mencoba salah satu kuah dari kategori spicy. Nanti panci berisi kuah yang kita pilih akan diletakkan di atas kompor induksiyang ada di meja kita.

IMG_6711 (1280x849)

IMG_6710 (1280x853)

Sambil menunggu kuahnya panas, sekarang saatnya mengambil sayuran-sayuran yang disediakan dalam meja panjang berpendingin yang ada di ruangan tengah. Di ruangan ini semua jenis makanan dan minuman bisa diambil sepuasnya. Triknya sih mungkin jangan terlalu banyak ngambil sayur, karena sayur kan berserat, nanti jadi cepet kenyang. Sayang kan kalo dagingnya ga abis. Kalo pengen sekedar ngerasa “ga mau rugi”, ambil aja dikit-dikit dari masing-masing jenis sayur. Kalo kata saya sih mendingan sih banyakin jamur, daging ayam, baso ikan, kepiting, sosis, pokoknya jangan sayur deh. Untuk menu daging untuk yakiniku, lokasinya ditaro di lemari pendingin yang terpisah, jenis dagingnya ga sebanyak kayak di Hanamasa.

IMG_6729 (1280x851)

IMG_6738 (1280x851)

Oke, saatnya masak-masaaaak. Rasa kuah miso yang dipesen Fay emang enak sih, warnanya putih, asin gurih, dan karena agak kental jadi berkesan creamy. Sementara kuah Mongolia saya rasanya emang kuat banget dan agak pedes, apalagi kalo kuahnya panas, makin berasa pedesnya. Teknik memasaknya, celupin daging satu demi satu, selama lebih kurang 6 detik aja untuk memperoleh cita rasa terbaik, lalu dicelup dengan saus piliham, ada Gomadare, Ponzu, Sweet Tare, dan saus Thailand. Tapi entah kenapa sih ya, ini perasaan aja, kayaknya masih lebih nampol waktu kita dulu makan di Shaburi Mal Kelapa Gading. Saya justru malah lebih berkesan pas makan yakinikunya yang dagingnya saya ambil dari daging buat shabu-shabu saya. Dagingnya yang tipis-tipis berlemak itu ternyata enak banget kalo dibakar. Yang pasti lebih enak ketimbang Hanamasa dan menu bakar-bakaran ini emang ga ada juga sih di Shaburi.

IMG_6740 (1280x852)

IMG_6756 (1280x852)

IMG_6751 (1280x852)

Abis makan shabu-shabu dan yakiniku, perut saya rasanya masih bisa nampung menu-menu All You Can Eat lain yang udah siap makan kayak salad, rujak buah, kimchi, yaki udon, beef gyudon, chicken karaage, sushi, singkong manis, dorayaki, takoyaki, french fries, pudding, an es krim. Minumannya pun saya cobain semuanya, walau cuma sedikit-sedikit. Ada jus mangga, milk green tea, ocha, infused water kyuri, dan infused water lemon, tentunya saya lebih sering refill yang mana lagi kalo bukan milk green tea yang rasanya paling mewah di antara semua minuman lainnya.

Australian Reguler IDR 148K
Yakiniku Grill IDR 50K (2 orang)

 

Shabu Hachi
Cabang Jalan Ampera Raya No. 127 Jakarta Selatan
Click for Google Maps

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s