Roti’O vs Rotiboy, Manakah yang Lebih Enak? (Jakarta)

Waktu nganterin Fay pulang naik KRL di Stasiun Juanda, calon penumpang KRL kan mesti melewati sebuah lorong yang berisi kios-kios. Walau sebagian besar kios ini masih kosong, bahkan sampe saya ke sana lagi pun masih kosong, namun ada dua kios yang menarik hati saya, yaitu Roti’O dan Rotiboy. Gara-gara ngeliat dua kios itu, saya jadi terinspirasi buat ngebikin review yang membandingkan kedua roti beraroma kopi tersebut.

 

Roti’O

Uniknya, ada dua cabang Roti’O di sini. Cabang yang pertama modelnya kayak cafe dan menawarkan beberapa minuman berbasis kopi yang bisa langsung di-take away. Sementara cabang yang satu lagi ya berupa kios biasa yang ga menyediakan tempat duduk. Saya tentunya lebih memilih menyambangi cabang yang gede ini, bukan karena pengen duduk atau membeli minumannya, tapi karena lokasinya juga berada di seberang cabang Rotiboy yang cuma ada satu di sini.

IMG_3884 (1280x855)

IMG_3887 (1280x771)

IMG_3888 (1280x854)

Saya membeli rotinya yang diharga 10 ribu rupiah per potong. Rotinya berbentuk seperti cembung dengan alas rata, berukuran segede telapak tangan, dan sayangnya ga terlalu anget. Lapisan kopi yang menutupi permukaan atas agak kenyal dan chewy, mungkin karena ga hangat dan udah ga terlalu baru. Rotinya sendiri empuk dan sedikit lentur sehingga enak dikunyah. Rasa asin yang berasal dari mentega meresap di seluruh daging roti.

 

Rotiboy

Nah, seperti yang udah saya bilang tadi, cabang Rotiboy ada di depan cabang Roti’O yang gede, dan cabang ini pun hanya berupa kios yang ga menyediakan tempat duduk karena semua roti yang dijual emang untuk take away.

IMG_3891 (1280x853)

IMG_3893 (852x1280)

Berbeda halnya dengan Roti’O, Rotiboy menjual dua jenis roti, ada Rotiboy yang rasanya kopi, seperti yang sebagian besar dari kita udah tau. Dan ada produk baru, yang saya bahkan baru tau, yaitu Rotigal, yang permukaanya berwarna putih dan berisi krim vanila. Harga Rotiboy dan Rotigal sama, sebelas ribu rupiah, sedikit lebih mahal ya daripada Roti’O. Lalu ada juga produk Krispy Stix, yang dari namanya pasti udah bisa kamu tebak itu apa.

IMG_3898 (1280x855)

Karena penasaran, selain membeli Rotiboy saya beli juga varian Rotigal. Kedua roti terasa masih anget karena sebelumnya disimpen di dalem oven, bahkan udah ditaro di oven bersama pembungkus kertasnya. Lapisan kopi yang rapuh hancur saat roti saya sobek buat ngeliat isinya. Menurut penjualnya, pas dibikin emang ada isi menteganya, namun meresap ke seluruh penjuru roti saat dipanggang. Saat saya gigit, menteganya masih bersisa cukup banyak dan memunculkan rasa asin yang berpadu dengan rasa manis lapisan kopi yang ada di permukaan roti. Hmm, menurut saya rasa Rotiboy sedikit lebih enak, apalagi masih anget pas sampe ke tangan saya.

IMG_3900 (1280x855)

Tapiiii, mengalahkan roti kopinya Roti’O dan Rotiboy, menurut saya yang paling enak justru Rotigal! Saking enaknya, ga kayak Rotiboy dan Roti’O yang saya makan cuma setengah doang dan sisanya saya simpen buat dimakan lagi kalo udah ngerasa laper lagi, Rotigal ini langsung saya abisin di tempat. Dan karena rasa krim vanilanya yang manis banget, abis makan Rotigal saya langsung buru-buru nyari penjual air mineral karena bawaannya jadi haus banget.

 

Roti’O & Rotiboy
http://www.rotio.id/
http://indonesia.rotiboy.com/
Cabang Stasiun Juanda, Jalan Ir. H. Juanda, Jakarta Pusat
Click for Google Maps

Iklan

Satu pemikiran pada “Roti’O vs Rotiboy, Manakah yang Lebih Enak? (Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s