Pameran Senandung Ibu Pertiwi di Galeri Nasional (Jakarta)

Ini kedua kalinya saya dateng ke Galeri Nasional, tapi bukan mau ngeliat-liat pameran tetapnya. Itu mah udah pernah dulu pas saya sama Fay dateng ke sini buat ngeliat Pameran 17 71 Goresan Juang Kemerdekaan yang sama-sama diadain oleh Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. Waktu itu kita dateng pas hari Sabtu siang dan yang dateng rameee banget. Iya lah, apalagi pamerannya gratis. Kita mesti ngantre dulu buat ngedapetin nomor antrean. Ngantre buat nomor antrean masuknya aja udah ngabisin setengah jam. Setelah itu kita pun masih mesti ngantre lagi buat masuk, itu butuh waktu sekitar satu jam. Makanya waktu itu kita sempet masuk ngeliat-liat pameran tetap di Galeri Nasional.

DSCF3611 (1280x855)

Pameran yang berlangsung selama bulan Agustus 2017 ini masih menampilkan lukisan-lukisan koleksi Istana Kepresidenan Indonesia, namun kali ini bertajuk Senandung Ibu Pertiwi. Karena udah tau kalo untuk ngeliat pameran kita bisa mendaftar terlebih dahulu melalui aplikasi Android Bekraf atau situs Bekraf, saya pun mendaftarkan diri saya di sana. Saya mendaftarkan diri untuk dateng pas hari Senin malem. Dan ternyata hari Senin malem ini termasuk hari yang sepi pengunjung. Bahkan kayaknya tanpa mendaftarkan diri online pun bisa langsung masuk. Apalagi saya mendaftarkan diri satu jam sebelum pamerannya tutup jam 8 malem. Mungkin malem-malem lain di hari kerja pun masih cukup sepi.

IMG_20170821_185826 (1280x960)

IMG_20170821_194059 (1280x960)

Di samping pintu masuk ruang pameran, terdapat layar multimedia yang menampilkan lukisan monumental Perkawinan Adat Rusia yang merupakan satu dari dua karya pelukis terkenal abad ke-19, Konstantin Egorovick Makovsky, yang berada di Istana Bogor, hadiah rakyat Rusia pemberian Nikita Kruschev. Lukisan yang baru direstorasi pada tahun 2004 oleh konservator dari Rusia ini tidak ditampilkan dengan kondisinya sangat rentan karena faktor usia juga karena ukurannya yang sangat besar sehingga sulit dipindahkan.

Lukisan-lukisan pemandangan alam cukup banyak menghiasi Istana Presiden, terutama di Istana Negara/Merdeka, Istana Bogor, dan Istana Cipanas yang merupakan koleksi Soekarno. Koleksi lukisan yang banyak berkategori Mooi Indie ini menggambarkan alam di berbagai wilayah Indonesia yang menjadi representasi visual dari kekayaan alam serta budaya masyarakat daerah-daerah tersebut. Kata Soekarno dalam pidatonya dalam sidang Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Indonesia bukan hanya Jawa saja, bukan Sumatera saja, Borneo saja, Selebes saja, Ambon saja, Maluku saja, melainkan segenap kepulauan yang ditunjuk Allah menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua samudera, itulah tanah air kita!

IMG_20170821_190114 (1280x960)
“Pantai Flores”, Basoeki Abdullah
IMG_20170821_190310 (1280x962)
“Pemandangan di Sulawesi”, Henk Ngantung
IMG_20170821_190348 (960x1280)
“Harimau Minum”, Raden Saleh

Pada awal abad ke-20, banyak pelukis Eropa yang datang untuk melukis keindahan dan keeksotisan alam Hindia Belanda. Gaya lukisan mereka menjadi populer dan turut ditiru oleh pelukis kita. Istilah Mooi Indie atau Hindia Molek muncul dan merujuk pada pemandangan indah dan romantis yang menggambarkan Hindia Belanda.

IMG_20170821_190619 (1280x962)
“Gelombang Laut”, Wilhelmus Jean Frederic Imandt
IMG_20170821_190716 (959x1280)
“Pura di Atas Bukit”, Carl Lodewijk Dake Jr.
IMG_20170821_190751 (1280x960)
“Sebuah Pemandangan di Sudut Kota Jakarta”, Ernest Dezentje

Sub tema keseharian dalam pameran ini menunjukkan berbagai kecenderungan pelukis kita dalam mencari jati diri seni lukis Indonesia pada tahun 1950-an. Kecenderungan berefleksi pada kondisi masyarakat, menampilkan alam pikiran dan masalah-masalah sosial masyarakat.

IMG_20170821_190919 (1280x962)
“Lelang Ikan”, Itji Tarmizi
IMG_20170821_191000 (1280x961)
“Menggaru Sawah di Jawa”, Romualdo Locatelli
IMG_20170821_191135 (1280x961)
“Bertamasya ke Dieng”, Kartono Yudhokusumo
IMG_20170821_191458 (1280x961)
“Sungai Musi di Palembang”, Ernest Dezentje

Pada tahun 1827, pemerintah kolonial Belanda menetapkan bahwa setiap penduduk harus berpakaian sesuai dengan latar belakang etnisnya dalam rangka mempermudah identifikasi juga menunjukkan hegemoni pemerintah. Batasan berpakaian tersebut sedikit banyak tergambarkan dalam penggunaan kebaya dan sarung batik. Kebaya yang awalnya dipilih menjadi pakaian sehari-hari karena dinilai paling nyaman digunakan di tengah iklim tropis muncul sebagai penanda identitas Indonesia sebagai bangsa yang baru merdeka.

IMG_20170821_191652 (1280x960)

IMG_20170821_191902 (1280x960)
“Keluarga Tani”, Kosnan
IMG_20170821_192126 (960x1280)
“Wanita Berkebaya Hijau”, M. Thamdjidin

Basoeki Abdullah merupakan pelukis yang paling banyak mengambil tema kepercayaan lokal dan menggambarkannya dalam bentuk kisah pewayangan dan mitos budaya Jawa. Lukisan Gatotkaca dan Anak-Anak Arjuna : Pergiwa dan Pergiwati, merupakan cuplikan Mahabharata versi Jawa. Sementara gambaran mitos Nyai Roro Kidul digambarkan dengan sudut pandang yang unik mengingat citraannya yang sangat modern, menggunakan gaun malam dari sutra dan kalung mutiara. Kedua lukisan ini menjadi primadona dalam pameran kali ini. Adik saya yang udah berkunjung seminggu sebelumnya berpendapat, wajah Nyai Roro Kidul di lukisan ini mirip Megawati saat masih muda. Gimana menurut kamu?

IMG_20170821_192549 (957x1280)
“Gatotkatja dengan Anak-Anak Arjuna : Pergiwa dan Pergiwati”, Basoeki Abdullah
IMG_20170821_192604 (959x1280)
“Njai Roro Kidul”, Basoeki Abdullah

Dalam seni rupa lama, seni tidak selalu berkaitan dengan realitas namun erat dengan religi. Seni lukis modern era 1950-1960-an menggambarkan alam benda dan aktivitas manusia dalam sedang mempraktekkan kepercayaannya dalam bentuk figur yang sedang beribadah, penggabungan penghayatan alam benda dan religi, namun ada pula yang menurunkan emosi dan penghayatannya dalam citraan-citraan abstrak.

IMG_20170821_192901 (959x1280)
“Kaligrafi”, Ahmad Sadali
IMG_20170821_193026 (1280x961)
“Djika Tuhan Murka”, Basoeki Abdullah
IMG_20170821_193242 (1280x960)
“Sesadji Dewi Sri”, Ida Bagus Made Poleng

Tradisi mengoleksi karya seni rupa telah dimulai oleh Soekarno bahkan sebelum ia didapuk menjadi presiden pertama Republik Indonesia. Kecintaannya terhadap karya seni rupa melahirkan banyak monumen, patung-patung, dan karya arsitektur yang masih bisa kita lihat hingga kini di seantero Jakarta. Pada masa pemerintahan Soeharto yang panjang, dibangun Taman Ismail Marzuki dan lahirnya cikal bakal Galeri Nasional, Wisma Seni Indonesia. Pada masa Megawati, koleksi benda-benda seni di istana mulai diinventarisasi dan hasilnya bisa kita lihat dalam pamera-pameran yang mulai diadakan sejak masa pemerintahan presiden SBY.

IMG_20170821_193423 (1280x961)

IMG_20170821_193434 (1280x962)

 

Pameran Senandung Ibu Pertiwi
Galeri Nasional, Jalan Merdeka Timur No. 14, Gambir, Jakarta Pusat
Click for Google Maps

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s