Menyelami Sejarah Kepolisian Kita di Museum Polri (Jakarta)

Saya ga akan pernah lupa kalo ada yang namanya Museum Kepolisian Republik Indonesia, disingkat Museum Polri, di Jakarta, lokasinya bahkan cukup strategis di daerah Kebayoran Baru, ga terlalu jauh lah dari deket kosan saya di Percetakan Negara. Cuma, waktu itu seinget saya Museum Polri cuma buka pas hari kerja, sangat ga ramah buat pengunjung yang bukan anak sekolahan yang bisa dateng karena program kunjungan museum dari sekolahnya. Itu dulu, beberapa tahun yang lalu pas museum ini emang baru aja diresmikan oleh Presiden SBY pada tahun 2009. Saya emang berharap museum ini akhirnya bisa menerima pengunjung pas weekend dan hal itu kejadian juga. Pas saya ngecek lagi jadwal buka museum ini di Google Maps, dia akhirnya buka setiap hari dari jam 8 pagi sampe jam 3 sore dan terbuka untuk umum tanpa dipungut bayaran. Asik kan? Jadilah di hari Minggu siang itu, abis makan di Laksa Betawi Assirot saya langsung meluncur ke sini.

DSCF3679 (852x1280)

Museum Polri berada di komplek Markas Besar alias Mabes Polri, di depannya berdiri patung Soekanto Tjokrodiatmodjo yang menghadap jalan layang busway jurusan Ciledug-Tendean yang sempet jadi viral karena untuk menuju ke haltenya kita mesti menaiki 118 anak tangga. Oiya, balik lagi, kalo kamu belom kenal dengan Soekanto Tjokrodiatmodjo, dia adalah kepala Polri yang pertama dan dianggap sebagai Bapak Kepolisian Indonesia yang meletakkan dasar kepolisian modern Indonesia. Ia menduduki jabatan itu cukup lama, 14 tahun, dan masih belum tertandingi oleh siapapun yang menjadi Kapolri sesudahnya.

DSCF3682 (1280x854)

DSCF3948 (1280x853)

Di halaman museum terdapat sebuah panser yang sempat memperkuat divisi Brigade Mobil (Brimob) dan ikut menumpas pemberontakan oleh DI/TII di Jawa Barat serta pemberontakan G30S. Lalu yang cukup menarik perhatian adalah sebuah helikopter Bell 206 Jet Ranger buatan Amerika Serikat tahun 1975 yang pernah digunakan untuk kegiatan operasional patroli dan pengawalan udara. Di halaman samping dekat dengan parkiran motor ada Meriam Talamburang, peninggalan Belanda pada perang dunia kedua yang dihibahkan dari Gubernur Maluku pada Kapolda Maluku sebelum akhirnya berpindah tangan lagi ke Museum Polri.

DSCF3685 (1280x853)

Museum Polri saat itu justru sepi, mungkin belum banyak pengunjung yang tau mengenai keberadaannya atau belum menjadikannya sebagai objek wisata pilihan. Padahal suasananya adem karena berpendingin ruangan plus jika dibandingkan dengan museum-museum lainnya, karena tergolong baru, desainnya pun modern. Saat baru masuk, pengunjung akan bertemu dengan dinding besar yang dibuat seperti bendera negara kita. Di dinding ini tercantum Tribrata dan Catur Prasetya yang menjadi pedoman hidup dan pedoman kerja setiap polisi. Di bagian putih tercantum daftar nama anggota polisi yang gugur dalam berbagai peristiwa di Nusantara.

DSCF3946 (1280x853)

Walaupun gratis, saya ga bisa melenggang masuk begitu saja karena resepsionis yang berjaga di lobi meminta saya untuk menyerahkan KTP dan meletakkan jaket di loker yang telah disediakan. Di samping loker terdapat papan bertuliskan “Ruang Soekanto” yang memampangkan foto-foto beliau saat berkegiatan di kepolisian. Namun plakat-plakat yang terlihat itu bukanlah penghargaan-penghargaan  yang telah diperolehnya semasa hidup melainkan plakat kenang-kenangan dari berbagai institusi yang telah berkunjung ke sini.

DSCF3691 (1280x853)

DSCF3693 (1280x854)

Bagian pertama di lantai satu dari gedung tiga lantai yang ditempati museum memamerkan foto-foto hitam putih yang menampilkan kiprah dan aktivitas kepolisian Indonesia di zaman dahulu. Satu foto yang paling menarik perhatian saya adalah foto razia sepeda, mengingat waktu itu belom ada yang namanya sepeda motor. Kalo zaman sekarang sih sepeda mana pernah dirazia kan.

DSCF3703 (1280x855)

Di bagian tengah ruangan terdapat koleksi sepeda motor patroli polisi merk Harley Davidson WLA C Class, beberapa sepeda ontel patroli jadul, berbagai merk kamera yang digunakan untuk memotret Tempat Kejadian Perkara (TKP), stamping kit untuk mengambil sidik jari, perlengkapan komunikasi, mikroskop, alat pendeteksi kebohongan (alias lie detector), serta alat penyadap yang disamarkan dalam koper.

DSCF3740 (1280x855)

DSCF3750 (1280x853)

Setelah pemanasan melalui foto-foto yang dipajang “Koleksi & Peristiwa”, saya beranjak ke ruangan di sebelahnya yang memaparkan sejarah Polri lebih detail lagi. Dimulai dari diorama Bhayangkara, yaitu sekelompok pasukan di bawah kepemimpinan Gajah Mada yang memiliki fungsi seperti kepolisian. Lalu ada diorama Pertempuran Surabaya yang melibatkan polisi istimewa, diorama lahirnya Tribrata Polri di mana Soekanto menjadi polisi pertama yang membaca ikrar tersebut, dan diorama terakhir menggambarkan situasi pemisahan Polri dari struktur TNI sebagai bagian dari proses reformasi 1998.

DSCF3730 (853x1280)

DSCF3737 (1280x853)

DSCF3782 (1280x854)

Koleksi yang dipamerkan di ruangan ini meliputi patung polisi zaman Jepang dan Belanda, pedang rampasan Jepang, peluncur roket, berbagai senapan mesin yang pernah digunakan untuk menumpas berbagai pemberontakan yang mengacam keamanan dan ketentraman, serta berbagai foto yang menampilkan peranan kepolisian dalam perjalanan sejarah negara kita. Tidak hanya berperan di dalam negeri, Polri turut mengirimkan wakilnya dalam kontingen Garuda dan menjadi bagian dari pasukan perdamaian PBB.

DSCF3807 (1280x853)

Sebelum naik ke lantai dua, pengunjung akan melewati ruang Hall of Fame para perwira polisi yang pernah menjabat sebagai Kepala Polri. Foto-foto selama mereka menjabat serta berbagai memorabilia yang umumnya berupa topi dan tongkat komando dari sebagian Kapolri dipajang mengelilingi ruangan. Di bagian tengah terdapat lukisan seluruh Kapolri yang saya heran kenapa kok rasanya banyak amat. Padahal kalo dicek di Wikipedia sih jumlah Kapolri sampe Pak Tito Karnavian cuma ada 23 orang.

DSCF3834 (1280x853)

DSCF3842 (853x1280)

Di lantai dua lebih banyak menampilkan kiprah berbagai satuan kerja dan organisasi yang berada di bawah naungan Polri, disajikan dalam bentuk berbagai foto dan deskripsi fungsi mereka masing-masing. Ada Lembaga Pendidikan Kepolisian (Lemdikpol), Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam), Badan Reserse Kriminal (Bareskrim), Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam), Korps Brigade Mobil (Brimob), Korps Lalu Lintas (Korlantas), Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror, serta Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter), dan masih banyak lagi.

DSCF3823 (853x1280)

Penasaran kayak apa kostum polisi dari jaman dulu sampe sekarang? Kamu bisa ngeliat perkembangan pakaian dinas polisi dari tahun 1970-an yang ternyata sudah mengadopsi warna coklat abu-abu seperti sekarang ini. Baru pada tahun 1980-an warnanya jauh lebih bervariasi mengingat satuan kerjanya sudah banyak bertambah. Hal ini diperlukan mengingat tugas polisi yang semakin kompleks. Mereka diharuskan pula memberantas penyebab-penyebab penyakit sosial di dalam masyarakat seperti narkoba, minuman keras, pornografi, dan premanisme. Untuk itu, saya menyatakan salut terhadap kepolisian kita yang mesti mengemban tugas-tugas berat tersebut.

DSCF3864 (1280x854)

DSCF3867 (852x1280)

Di bagian lain, kamu juga bisa ngeliat berbagai tanda kepangkatan dan medali tanda jasa polisi, lambang kepolisian di berbagai provinsi, peranan kepolisian dalam konflik Trikora di Papua, menjaga perbatasan dengan negara lain bekerja sama dengan TNI, serta menjaga wilayah-wilayah terpencil, evakuasi kecelakaan Air Asia QZ 8501 yang jatuh di Laut Jawa, dan penumpasan terorisme yang semakin menjadi di berbagai wilayah. Kisah heroisme polisi kita memperoleh bagiannya tersendiri di salah satu sudut lantai dua, ada komik kisah pertempuran Rumbati, kisah M. Jasin pencetus Brimob, Karel Satsuit Tubun dan agen polisi Sukitman yang berada dalam pusaran peristiwa G30S.

DSCF3859 (1280x855)

Tidak lupa, ada satu sudut yang jadi bagian yang bakal menarik buat anak-anak karena selain dekorasinya yang ceria karena berwarna-warni, beda sendiri dengan bagian-bagian lainnnya yang berkesan cukup serius, di sini anak-anak bisa beraktivitas dengan membaca buku cerita, memainkan mainan mobil mini, atau berpura-pura menjadi polisi cilik dengan menggunakan kostum polisi berukuran mungil yang ada di sana. Wah, pasti bagus tuh hasil fotonya buat kenang-kenangan.

DSCF3893 (1280x853)

DSCF3906 (1280x853)

DSCF3899 (1280x853)

Naik ke lantai tiga, suasananya temaram karena entah kenapa pencahayaannya minim banget karena lampu utamanya ga nyala, cuma ada lampu-lampu kecil yang cahayanya lemah Mungkin lampu utamanya baru akan dinyalakan kalo ada rombongan yang akan menggunakan ruang audio visual. Padahal selain itu di sini juga disimpan berbagai benda koleksi yang berkaitan dengan aksi terorisme di Indonesia, mulai dari Bom Bali I, Bom Bali II, bom di depan Kedubes Australia, Bom JW Marriott, dan Bom Malang. Koleksinya ada yang berupa maket, serpihan bom, serta berbagai macam saklar yang dapat digunakan untuk memicu bom. Pemicu yang paling canggih digunakan pada Bom Bali I, yaitu berupa sebuah telepon genggam merk Nokia 3350. Teror bom ini paling banyak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.

DSCF3922 (1280x853)

Jam Buka
Setiap Hari o8.00-15.00

Tiket Masuk
GRATIS

 

Museum Polri
https://web.facebook.com/museumpolri/
Jalan Trunojoyo No. 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Click for Google Maps

Iklan

2 pemikiran pada “Menyelami Sejarah Kepolisian Kita di Museum Polri (Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s