Kagum Angklung di Saung Udjo (Bandung)

Seumur-umur lahir, tinggal, dan hidup di Bandung, saya belom pernah sekalipun ke Saung Angklung Udjo. Dulu banget saya emang ga punya ketertarikan yang tinggi terhadap seni musik, apalagi yang tradisional. Tapi semenjak ikutan unit mahasiswa Lingkung Seni Sunda di tempat saya berkuliah dulu, saya jadi lebih mengenal dan mencintai seni dan budaya tanah air, khususnya di tatar Sunda. Berbicara soal angklung, saya bukannya ga suka nonton angklung sehingga ga pernah nonton pertunjukan di sana. Waktu saya SMA, sekolah saya punya ekskul angklung yang terkenal bagus banget, malah bisa dibilang salah satu yang terbaik di tanah air, yang bahkan petualangan mereka waktu ke Eropa juga udah dibukuin. Jadinya saya cukup sering menikmati pertunjukan alat musik yang satu ini dan ga merasa mesti ke Saung Angklung Udjo untuk menikmatinya.

DSCF2959 (1280x854)

DSCF2961 (1280x854)

Saung Angklung Udjo didirikan tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena (alm) yang akrab dipanggil Mang Udjo dan istrinya, Uum Sumiati. Saung Angklung Udjo merupakan sanggar seni yang menjadi tempat pertunjukan seni, laboratorium pendidikan, sekaligus sebagai objek wisata budaya khas daerah Jawa Barat dengan mengandalkan semangat gotong royong antar sesama warga. Mang Udjo sudah mengenal kesenian angklung dengan akrab sejak berumur 4 tahun sehingga tidak heran bila Mang Udjo sangat mencintai kesenian ini sampai akhirnya mendirikan Saung Angklung Udjo.

IMG_20170805_154105 (852x1280)

Setelah sekian tahun ga pernah nonton konser angklung, rasanya saya jadi pengen ke Saung Angklung Udjo deh. Abis dari Mom’s Bakery dan Baker Street, saya nganterin Nanda ke acara kampusnya di Hotel Serela. Sore itu, saya udah berencana mau nonton pertunjukan sore di sana. Setiap hari, mereka punya pertunjukan rutin jam setengah empat sore untuk umum. Ga perlu reservasi, tinggal dateng aja ke sana. Sementara jadwal pertunjukan untuk rombongan yang bisa reservasi ada setiap jam 1 di hari Sabtu dan jam 10 di hari Minggu. Di luar jadwal itu juga kayaknya ada juga jadwal pertunjukan yang bisa dinegosiasikan dengan pihak Udjo. Dengan membeli tiket 70 ribu, lumayan mahal tapi worth it, saya juga memperoleh brosur sinopsis pertunjukan (ada bahasa Inggrinya juga), kalung angklung mini, dan dikasih es potong atau bisa juga milih sebotol kecil air mineral. Tentunya saya milih es potong yang lebih jarang makan.

DSCF2706 (1280x853)

Suasana sangat ramai oleh riuh rendah penonton yang tampak memadati ruangan pertunjukan dan ga cuma diisi oleh orang Indonesia aja, tapi juga ada banyak penonton bule berusia tua dan muda. Saya juga ngeliat ada bule Asia yang berasal dari Korea Selatan. Selama pertunjukan mereka antusias banget, terkadang joget-joget keasikan tanpa memedulikan sekitar mereka. Beda banget sama bule beneran yang jaim banget, kerjaannya ngerekam melulu. Saung Angklung Udjo akan memanjakan mereka dengan 9 program kesenian yang berlangsung selama dua jam sampe jam setengah enam.

DSCF2705 (1280x853)

Pertunjukan diawali dengan demonstrasi wayang golek khas tanah Sunda. Biasanya, pertunjukan wayang golek akan berlangsung semalam suntuk selama tujuh jam. Tapi di sini, kita semacam hanya menonton preview-nya aja yang berlangsung lebih kurang 20 menitan. Walau kemampuan bahasa Sunda saya emang ga tinggi plus udah karatan juga, saya masih bisa sedikit paham lah kata-kata yang diucapkan si dalang. Seperti biasa, pertunjukan wayang golek ga melulu diisi cerita yang serius, tentunya penonton bakal ngantuk. Maka dalang banyak juga menyelipkan candaan-candaan yang biasanya diisi oleh wayang yang khusus buat candaan, kayak cepot, gareng, dawala, dan lain-lain. Pemain musik yang berada di belakang dalang juga ikut nimbrung dalam candaan-candaan itu. Ga hanya memainkan alat musik, mereka juga mengisi pertunjukan dengan sorakan-sorakan yang khas orang Sunda banget.

DSCF2738 (1280x855)

DSCF2774 (1280x854)

Setelah demonstrasi wayang golek, program berikutnya adalah helaran yang dibawakan oleh anak-anak murid Saung Angklung Udjo. Helaran yang asli dibawakan oleh orang dewasa dan diadakan untuk mengiringi upacara tradisional atau khitanan maupun pada acara panen padi. Suasananya sangat riang gembira karena memang ditujukan untuk menghibur masyarakat dan bersyukur pada Tuhan atas segala keberkahan yang diberikan. Ada anak-anak yang memainkan umbul-umbul, kuda lumping, sementara sisanya membawa angklung. Helaran yang dimainkan menyimulasikan suasana khitanan karena di antara mereka ada seorang anak yang diusung dan dipayungi bak seorang raja kecil.

DSCF2806 (1280x854)

Setelah helaran, Saung Angklung Udjo menyajikan pementasan tari topeng yang lagi-lagi dibawakan oleh anak kecil. Tari topeng yang dibawakan ini merupakan cuplikan dari tari topeng klasik Topeng Kandaga yang menceritakan Ratu Kelana Kencana Wungu yang dikejar-kejar oleh Prabu Menak Jingga yang tergila-gila padanya. Dulu waktu di Lingkung Seni Sunda, tarian ini sering dibawakan pada saat kita mengadakan pertunjukan. Tari topeng ini seharusnya dibawakan oleh sepasang penari, tapi di sini walau penarinya ada dua orang, tapi ga sepasang karena dua-duanya sama-sama Prabu Menak Jingga, ga ada Ratu Kelana Kencana Wungu-nya. Sebenernya kalo dibawakan berpasangan dan oleh orang dewasa, tari topeng ini sangat menarik, atraktif, dan enerjik banget. Temen-temen saya biasanya sampe basah kuyup oleh keringet karena menari yang durasinya hanya beberapa belas menit.

DSCF2807 (1280x855)

Kalo kamu mungkin cuma tau angklung sebagai alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, di sini kamu juga bakal ngeliat alat musik bambu lainnya yang disebut arumba, singkatan dari alunan rumpun bambu. Arumba baru diciptakan pada tahun 1970-an, mungkin sebagai salah satu usaha untuk memodernkan kesenian musik Sunda karena memiliki tanga nada diatonis, bukan pentatonis seperti alat musik tradisional klasik pada umumnya. Cara memainkannya cukup dipukul dan bagi penonton bule-bule tadi, tentu mereka bisa melihat keserupaannya dengan alat musik xylophone yang lempengannya terbuat dari tembaga. Pada arumba, lempengan tersebut digantikan oleh selongsong bambu yang berbeda-beda panjangnya sehingga menghasilkan nada-nada yang berbeda.

DSCF2811 (1280x833)

Angklung datang dalam berbagai ukuran, ada yang ukuran normal dan dimainkan dengan membawanya di tangan, ada yang gede-gede, sampe mesti digantung pake palang, tapiiii ada juga yang ukurannya kecil-kecil sehingga cocok untuk dijadikan cinderamata. Nah, angklung minimalis yang dimainkan oleh anak-anak ini bisa dipake untuk memainkan lagu-lagu yang sederhana. Mereka memainkan sebuah lagu anak-anak yang, saya juga baru tau nih, punya lebih dari 800 versi dalam berbagai bahasa-bahasa di dunia sehingga bule manapun yang hadir di sini bisa ikut menyanyikan lagunya. Saya sendiri tau lagu ini dalam versi bahasa Sundanya karena dulu pernah denger di film Jelangkung atau yang terbaru ada di film Danur. Tau lagu yang mana? Yang ini nih, “Abdi teh ayeuna gaduh hiji boneka” yang berjudul Boneka Abdi. Saya malah baru tau kalo lagu ini ada versi bahasa Indonesianya juga dengan judul “Melati Kenanga”.

DSCF2882 (1280x855)

DSCF2832 (1280x855)

Setelah diajak menyanyikan lagu yang mereka tau, penonton dibawa berkeliling nusantara dengan pertunjukan “angklung massal nusantara”. Pertunjukan yang masih dibawakan oleh murid-murid Saung Angklung Udjo yang masih berusia belia ini menyajikan tarian-tarian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Ada tarian dari Aceh, Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Bali, dan Papua, yang diiringi oleh lagu-lagu khas dari daerahnya masing-masing.

DSCF2934 (1280x854)

Nah, bagian ini merupakan bagian paling favorit buat saya, “bermain angklung bersama” yang dipandu oleh cucu Udjo sendiri, Sendi Putra yang sering dikenal dengan panggilan Sendi Udjo. Pembawaannya sangat santai, dinamis, kocak, dan mampu menguasai penonton dengan baik. Belum lagi ternyata dia jenius sebagai seorang konduktor angklung. Semua penonton dibagikan angklung-angklung yang telah ditandai dengan kode-kode nama pulau-pulau di Indonesia yang mewakili setiap nada. Setiap pulau atau nada tersebut harus dibunyikan jika dia memberi kode tangan tertentu. Nah, dengan instruksi yang sederhana tadi, dalam waktu yang singkat jadilah para penonton ini bak pemain angklung kawakan. Sendi mengajak mereka membawakan beberapa lagu, ada lagu asing, lagu Indonesia, dan bahkan ada juga lagu dangdut. Semua tampak senang, puas karena bisa memainkan angklung. Saya yakin mereka semua pasti berpikir, “Gampang dan seru juga yah main angklung teh?”

DSCF2944 (1280x854)

Tapi tunggu dulu, main angklung ga sesederhana itu. Setelahnya, Sendi mengorkestrasi pertunjukan angklung yang dimainkan oleh para pelatih senior di Saung Angklung Udjo. Kalo orang biasa palingan cuma bisa menghafal lebih kurang 10 lagu yang dimainkan dengan angklung, mereka bisa menghafal lebih dari 50 lagu. Saya yakin penonton yang tadinya udah tampak bangga dengan diri mereka sendiri akan langsung takjub dengan kemampuan para pelatih ini. Tentunya tidak hanya hafal puluhan lagu, mereka juga memiliki teknik yang sangat matang dalam bermain angklung.

DSCF2948 (1280x917)

Di bagian terakhir program, penonton diajak menari bersama oleh para pemain angklung cilik. Semua berbaur menjadi satu di panggung sehingga justru jadi tampak seperti helaran yang kedua yang lebih meriah dari yang tadi. Semua tampak senang.

DSCF2980 (1280x853)

DSCF2978 (1280x853)

Selesai melihat pertunjukan kesenian Sunda, pengunjung bisa memboyong kenang-kenangan dari toko souvenir. Di sini dijual gantungan kunci berbahan bambu, hiasan dekoratif berbentuk alat musik, kaos, kemeja batik, aksesoris, magnet kulkas, pajangan wayang, serta alat musik angklung minimalis kayak yang tadi dimainin. Jadi nanti kalo punya angklung kayak gitu, bisa dimainin di rumah. Dan kalo saya perhatiin, bandrol harganya juga ga terlalu mahal. Bule-bule mestinya kalap nih kalo belanja di sini.

DSCF2995 (1280x853)

DSCF2998 (1280x855)

DSCF2993 (1280x853)

Laper? Bisa juga makan di restoran di sini, Saung Angklung Udjo udah menyediakan fasilitas-fasilitasnya lengkap buat para pengunjung. Restoran dua lantai ini menyajikan masakan khas Jawa Barat, masakan Indonesia, dan Chinese food. Bahkan ada bajigur, bandrek, sakoteng, dan wedang juga. Wih, cocok banget buat menemani malam yang dingin di Bandung, ya kan?

DSCF2972 (1280x855)

Waduh, ada kendang nganggur! Ya ampun, udah berapa tahun saya ga main kendang sejak lulus kuliah dan ga berkecimpung lagi di Lingkung Seni Sunda. Ga memedulikan pengunjung yang berlalu lalang, saya asik aja main-main ga jelas sendirian sampe keringetan. Bener-bener nostalgia, bahagia banget deh saya di Saung Angklung Udjo hari itu.

 

Saung Angklung Udjo
http://www.angklung-udjo.co.id/
Jalan Padasuka No. 118 Bandung
Click for Google Maps

Iklan

3 pemikiran pada “Kagum Angklung di Saung Udjo (Bandung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s