Wot Batu, Bukan Sekedar Taman dan Batu (Bandung)

Di Jalan Bukit Pakar Timut, tidak jauh dari Selasar Sunaryo, Bandung memiliki sebuah objek wisata menarik dan tak biasa yang bisa kamu kunjungi. Wot Batu namanya. Sesuai namanya, taman ini menampilkan instalasi-instalasi seni yang menggunakan batu, media favorit Sunaryo, seniman senior yang kini tinggal di Bandung. Ya, Wot Batu merupakan hasil karya seni Sunaryo juga. Namun berbeda dengan Selasar Sunaryo yang gratis, untuk masuk ke sini, kita mesti membayar tiket masuk yang tidak murah juga, namun ada keringanan untuk beberapa golongan pengunjung seperti rombongan lebih dari 15 orang, pelajar, akademisi, seniman, dan anak-anak di bawah 12 tahun. Pengunjung berusia di atas 70 tahun bahkan dibebaskan dari biaya masuk.

img-725073342-0001

Dalam sebuah ruang terbuka yang hanya seluas 2000 meter persegi, terdapat sebelas instalasi bebatuan karya Sunaryo yang diletakkan secara harmoni dan menyatu dengan alam. Terdapat kurang lebih 135 bebatuan yang diambil dari batu-batu vulkanik yang ada di sekitar Bandung dan Jawa Barat. Bebatuan ini sengaja digunakan tanpa menghilangkan bentuk aslinya agar dapat menampakkan sifat batu itu sendiri.

IMG_20170715_123816 (1280x855)

Di Wot Batu ada pemandu yang dapat menjelaskan instalasi-instalasi seni di sini. Kata petugas loket sih, pemandunya ada setiap satu jam sekali. Tapi kalo emang lagi sedikit pengunjungnya, kamu bisa minta dipandu saat itu juga. Coba aja, daripada mesti nunggu. Tapi kalopun mesti nunggu, kamu bisa memanfaatkan waktu itu untuk berfoto-foto ria di dalem komplek Wot Batu. Sayangnya hanya kamera hape yang diperbolehkan untuk mengambil gambar. Kalo motonya pake hape Huawei P9 Leica atau Moto Z dengan Hasselblad Mods sih kemampuannya nyaris setara dengan kamera poket digital kali ya. Oke, mari kita mulai perjalanan di Wot Batu.

IMG_20170715_123159 (852x1280)

Batu Gerbang menyambut pengunjung yang baru datang ke Wot Batu. Batu ini memiliki makna bahwa dalam membuat suatu pilihan atau keputusan, kita harus berhati-hati karena kita tidak tahu ke arah manakah pilihan itu akan membawa kita. Ketidaktahuan itu digambarkan dengan betapa kecilnya kita yang dikungkungi oleh tembok-tembok yang tinggi. Kerikil-kerikil ini menimbulkan perasaan baru, agar saat berjalan di atasnya kita berjalan dengan pelan dan berhati-hati.

IMG_20170715_135904 (851x1280)

Dalam banyak karyanya, Sunaryo seringkali berbicara mengenai dualisme, di mana segala hal dalam kehidupan mengenai relasinya masing-masing. Hal tersebut digambarkan dengan Batu Abah Ambu ini, yang berarti ayah dan ibu, yang dapat dikaitkan dengan dualisme antara lelaki dan perempuan, positif dan negatif, yin dan yang, satu dan kosong. Air pada cekungan menggambarkan kesuburan dalam tubuh perempuan.

IMG_20170715_122141 (852x1280)

Di dalam komplek Wot Batu terdapat mushola mungil yang dapat dipergunakan oleh umat Muslim. Pada arah kiblatnya terdapat kaca yang diberi ukiran surat Al Fatihah. Batu yang ditempel pada kaca ini diambil dari Gua Hira saat Sunaryo melakukan perjalanan ibadah umrah. Batu ini diharapkan dapat membangun koneksi kita saat sedang shalat dengan Ka’bah di Makkah.

IMG_20170715_123134 (852x1280)

Di salah satu sudut Wot Batu terdapat Batu Merenung di mana pengunjung dapat duduk di sana dan melihat seluruh pemandangan Wot Batu. Pengunjung dapat berkontemplasi dan merenung mengenai kehidupan. Sayangnya, usaha itu mungkin akan terganggu oleh suara lalu lalang kendaraan yang melalui jalan yang tepat berada di belakang tembok.

IMG_20170715_123237 (1280x855)

Di sebelah kiri foto terdapat sebuah batu beton memanjang yang diberi nama Panggung Kehidupan, di mana di atasnya terdapat tiga macam komposisi yang kurang lebih membahas hal-hal yang kita alami selama hidup.

IMG_20170715_135143 (852x1280)

Pertama, ada batu yang di tengahnya terdapat sebuah batang pohon, bernama Batu Indung. Batu ini merupakan batu yang cukup personal bagi Sunaryo karena di baliknya beliau membahas konsep kelahiran. Jika membahas kelahiran, kita pasti akan membahas ibu (indung) kita sendiri. Pohon tersebut merupakan pohon jambu yang ditanam di belakang rumah Sunaryo. Jambu merupakan buah favorit ibu Sunaryo. Sayang sekali, belum sempat pohonnya berbuah, ibundanya telah lebih dahulu dipanggil yang Maha Kuasa. Sunaryo kemudian mengecor ulang pohon tersebut dengan bahan perunggu dan diletakkan di sini untuk mengabadikan kenangan bersama ibunya.

IMG_20170715_123246 (1280x854)

Di bagian tengah terdapat Batu Mandala yang membahas hubungan manusia secara horizontal dengan sesama manusia. Hubungan ini direpresentasikan dengan gerakan kosmologi yang selalu berputar secara terus-menerus. Garis-garis lingkaran ini menyebar hingga ke bagian panggung, menandakan hubungan-hubungan ini tidak kita ketahui di mana akhirnya.

IMG_20170715_123805 (1280x853)

Batu Perahu merepresentasikan perjalanan manusia selama hidup di dunia. Batu ini seolah membawa perjalanan kita dari awal kehidupan manusia sejak lahir, lalu fase hubungan dengan sesama manusia, dan seolah-olah akan mengarahkan kita menuju Batu Air yang merepresentasikan “kehidupan” kita setelah kematian. Hal ini juga menggambarkan dualisme kehidupan saat dan kehidupan yang akan datang. Lubang-lubang serta ukiran yang ditambahkan pada batu memberi rasa seni yang berbeda ketimbang kita hanya melihat batu yang polos-polos aja.

IMG_20170715_124031 (851x1280)

Memisahkan antara kedua wilayah yang merepresentasikan kehidupan saat ini dan kehidupan yang akan datang, terdapat Batu Lawang, yang berasal dari bahasa Sunda atau Jawa yang berarti pintu. Sunaryo mengganggap batu tidak mengenal batasan umur atau waktu sehingga dapat digunakan sebagai bukti mengenai peninggalan peradaban manusia abad ke-21. Semua ukiran batu dilakukan dengan menggunakan peralatan modern untuk membedakannya dengan ukiran batu yang dibuat oleh manusia purba. Maka, beliau kemudian meletakkan identitasnya di atas Batu Lawang berupa batu dengan ukiran sidik jarinya.

IMG_20170715_124251 (1280x855)

Instalasi ini dinamakan Antara Bumi dan Langit, Bumi digambarkan dengan rumput sementara langit digambarkan dengan tembok, dan lagi-lagi dikaitkan dengan dualisme. Sunaryo memandang langit sebagai laki-laki, yang melindungi bumi, sama seperti seorang laki-laki yang melindungi perempuan. Pengunjung dapat menginjak bagian berumput ini namun dengan syarat harus melepaskan alas kaki.

IMG_20170715_123423_HHT (1280x855)

Salah satu keunikan Wot Batu adalah ia mengandung semua elemen dalam kehidupan, ada elemen angin, air, tanah atau bumi, kayu, logam, dan api. Di dalam ruangan bangunan beton yang gelap ini terdapat Batu Api. Selain sebagai representasi elemen api, api dianggap memiliki energi yang sangat besar namun dengan kehadirannya yang kecil pun kita masih tetap dapat merasakannya.

PANO_20170715_123450 (3840x1051)

Tadi kita udah sempet ngebahas mengenai Batu Air yang merepresentasikan kehidupan setelah kematian. Kolam dan alam di sekelilingnya seolah tidak ada batasan. Saat kita mati, kita akan kembali lagi ke alam yang keberadaannya sangat luas. Batu Air mengingatkan kita untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang mana kita tidak akan pernah tau hal apa yang kita alami. Batu Air ini sendiri awalnya hanya disusun berdasarkan intuisi Sunaryo, namun kemudian dari komposisi ini dapat dilihat dengan arti “ketinggian” di mana Bandung sendiri merupakan kota yang berada di suatu ketinggian. Bagian ini mungkin jadi favorit banyak pengunjung karena latar di belakangnya memiliki pemandangan yang ciamik.

IMG_20170715_135211 (1280x855)

Jembatan ini memiliki nama yang sama dengan komplek ini, Wot Batu. Ia memisahkan bagian kanan dan kiri taman yang mereprentasikan otak kanan dan kiri kita, di mana otak kanan mewakili hal-hal yang abstrak namun otak kiri mewakili hal-hal yang lebih informatif.

IMG_20170715_123721 (1280x855)

Contoh dari hal yang bersifat informatif itu adalah Batu Peta ini. Di atasnya terdapat sebuah pelat tembaga yang mencantumkan nama-nama gunung di sekitar Bandung, lengkap dengan jarak, ketinggiannya, bahkan dengan bentuk gunungnya, dan terakhir ada tahun pembuatan pelatnya. Tujuannya adalah untuk merekam informasi bentuk dan ketinggian gunung-gunung tersebut, siapa tau di masa depan nanti baik bentuk maupun ketinggiannya berubah.

IMG_20170715_125213 (852x1280)

IMG_20170715_133218_HHT (850x1280)

Wot Batu memiliki sebuah ruang audiovisual yang berada di bawah tanah yang disebut Batu Ruang. Di sini terdapat video seni berdurasi lima menit karya Sunaryo yang membahas tentang konsep pembuatan alam semesta. Alam semesta diawali dengan terjadinya suatu ledakan maha dahsyat yang kita kenal dengan sebutan Big Bang. Ruangan yang sengaja dibuat gelap pun dimaksudkan untuk membuat kita sebagai manusia merasa kecil dibandingkan dengan keluasan alam semesta yang ujungnya entah berada di mana. Kita tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan mengingat kita hidup dalam ruang yang terbatas.

IMG_20170715_125226 (852x1280)

Tumpukan sepuluh batu ini disebut…. Batu Sepuluh. Instalasi ini awalnya dibuat dengan hanya berdasarkan intuisi Sunaryo saja. Namun seiring dengan perjalanan waktu, terdapat makna yang dapat diperoleh darinya, di mana ada sepuluh batu tersebut memiliki makna spiritual, ia mewakili Sepuluh Perintah Tuhan dalam keyakinan umat Nasrani. Selain itu, susunannya yang menjulang ke atas dianggap dapat mengingatkan kita terhadap Tuhan.

IMG_20170715_135341 (1280x855)

Di sudut kanan bawah foto terdapat Batu Seke, yang dalam bahasa Sunda kurang lebih berarti sumber mata air, di mana sirkulasi air yang berada di Wot Batu berasal dari batu ini. Di belakangnya, ada batu berbentuk tiang dengan kincir angin di atasnya yang mirip anemometer. Batu ini dikatakan masih berkaitan dengan Batu Mandala yang tadi merepresentasikan hubungan manusia secara horizontal, Batu Angin merepresentasikan hubungan manusia secara vertikal dengan Tuhan.

IMG_20170715_134553 (1280x853)

Batu yang terakhir di Wot Batu ini adalah Batu Waktu, yang masih berkaitan dengan Batu Ruang tadi. Jika Batu Ruang berbicara mengenai ruang yang terbatas, Batu Waktu berbicara tentang waktu yang terbatas. Mesin yang ditanamkan ke dalam batu ini menceritakan tentang konsep waktu namun tidak menunjukkan waktu itu sendiri. Mesin ini dapat berjalan dengan tenaga yang berasal dari panel surya di atas Bale Batu sehingga tidak akan bergerak pada saat malam hari. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat mengendalikan jalannya waktu. Di belakangnya terdapat ukiran kutipan yang masih ada kaitan dengan keterbatasan waktu itu, “hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke” yang berarti “di saat ada sekarang ada masa depan, di saat tidak sekarang tidak ada masa depan”.

IMG_20170715_134500 (1280x853)

Batu Prasasti ini tentunya bukan bagian dari karya Sunaryo melainkan menandai peresmian Wot Batu pada 4 September 2015 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita saat itu, Anies Baswedan. Kutipan pada batu menyiratkan pesan bahwa Wot Batu didirikan tidak hanya untuk nilai estetisnya saja namun juga mengandung pesan-pesan yang bermanfaat tidak hanya untuk hari ini tapi juga di masa depan.

IMG_20170715_134844 (1280x856)

Nah, setelah selesai setengah jam lebih dipandu mengelilingi Wot Batu, pengunjung dapat menikmati minuman tradisional gratis yang udah termasuk dalam biaya tiket di Bale Batu. Di sini pengunjung juga dapat menonton video proses pembuatan Wot Batu yang dibuat dalam kurun waktu tiga tahun. Walau menyenangkan duduk di sini, sayangnya Bale Batu hanya bisa dinikmati kalo kamu udah membeli tiket masuk. Dan lagi, di sini hanya menyediakan minuman aja, ga ada menu makanan.

Jam Buka
Setiap Hari 10.00-18.00

Tiket Masuk
Umum IDR 50K
Pelajar/Mahasiswa* IDR 30K
Akademisi/Seniman* IDR 30K
Anak-Anak <12 Tahun* IDR 30K
Senior >70 Tahun* GRATIS
*menunjukkan bukti identitas

 

Wot Batu
http://www.wotbatu.id/
Jalan Bukit Pakar Timur No. 98#1 Bandung
Click for Google Maps

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s