Agustusan di Rangkasbitung

Perjalanan hari ini dimulai dengan kegalauan saya di atas kasur. Saya masih galau apakah mau jadi jalan-jalan ke Rangkasbitung atau ngga. Tadinya, saya pengen memanfaatkan promo naik KRL gratis dalam rangka merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72. Galau karena, sebenernya Rangkasbitung bukanlah tempat tujuan wisata yang menarik-menarik amat. Seengganya seperti itulah kesimpulan saya setelah sempet Googling. Kotanya ga punya banyak spot menarik. Objek wisata mereka yang paling terkenal justru berada di luar kota, sekitar 40 km ke selatan. Kampung Baduy namanya. Untuk saat ini tentunya saya ga berminat ke sana.

Terus, selain karena objek wisatanya ga banyak, saya juga ga tau apakah pas 17 Agustus itu, Museum Multatuli Lebak, yang menurut saya merupakan objek wisata paling menarik di sana, bakalan buka atau ngga. Akhirnya jam 8 pagi saya mencoba menelepon kontak museum yang ada di Google Maps. Sempet ngga diangkat, tapi eh beberapa menit kemudian saya ditelepon nomor itu lagi. Menurut si bapak di ujung sana, museumnya buka, plus ada pawai Agustusan di Alun-Alun yang akan mulai jam 10. Hmm, oke deh, saya berangkat aja kalo gitu, walaupun sedikit telat.

DSCF3575 (1280x853)

Sempet saya kira bakalan rame, ternyata KRL sama sekali ga padet, walaupun saya tentunya mesti merelakan tempat duduk untuk mereka yang lebih membutuhkannya. Di Stasiun Tanah Abang, saya berganti kereta ke peron 6, kereta menuju ke Rangkasbitung. Rangkaian KRL ini baru dihidupkan kembali beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya, penumpang ke Rangkasbitung mesti membeli tiket KA lokal dengan risiko kehabisan tiket. Tapi KRL ga mengenal yang namanya keabisan tiket, jadinya lebih enak walaupun jadwal berangkatnya pun ga terlalu sering. Kadang bisa satu jam sekali. Cara paling praktis untuk mengetahui jam keberangkatan yang bener adalah dengan cara bertanya ke petugas di Stasiun Tanah Abang.

DSCF3457 (1280x856)

Perjalanan dari Stasiun Tanah Abang menempuh jarak 72,7 kilometer dan memakan waktu nyaris dua jam, mengalahkan jarak dan waktu tempuh ke Bogor. Tapi saya ga duduk karena mengalah dengan penumpang yang lebih membutuhkan daripada saya. Lumayan juga kan berdiri selama itu? Sepanjang perjalanan saya bersandar ke tiang yang ada di tengah kereta. Cukup sering saya mesti memberi jalan pada polisi khusus kereta dan orang yang lewat. Dari stasiun demi stasiun, pemandangan berganti dari gedung-gedung perkotaan menjadi sawah, hutan, dan perumahan pedesaan. Lambat laun, sinyal di hape saya pun mulai melemah, dari 4G menjadi H+ bahkan sesekali 3G.

 

Makan Siang di RM Ramayana

Saya sampe di Rangkasbitung jam setengah 12. Karena laper, langsung aja saya meluncur ke RM Ramayana yang berada di Jalan Multatuli, jalan kaki aja sedikit dari stasiun. Perut udah mulai kelaperan karena terakhir makan kemaren sore. Tamunya cuma saya doang, bisa jadi karena emang baru jam setengah dua belas karena setelahnya dateng dua pasang pengunjung. Lagipula emang mereka baru buka jam 10an sih.

DSCF3461 (1280x855)

DSCF3464 (1280x855)

Dari beberapa menu soto dan sop yang tersedia, saya tergoda buat mencicipi soto kikilnya ditambah dengan setengah porsi sate kambing. Pas sotonya dianter, ga bisa ngga, saya langsung teringat dengan penampilan soto favorit saya, Soto Mencos! Beneran mirip, kuahnya kuning kemerahan dengan pecahan kerupuk emping yang mengapung. Bedanya, selain tentunya ada kikil dan potongan tomat, di dalemnya ada tambahan irisan kentang rebus. Selain itu, kuahnya pun sedikit manis. Begitu pula dengan bumbu satenya yang sedikit lebih manis dari biasanya. Sayang daging kambingnya masih kurang empuk.

 

Nontonin yang Pawai

Kenyang, saya pun melangkahkan kaki ke arah alun-alun di sebelah selatan. Tapi baru berjalan beberapa puluh meter, tampak kerumunan orang yang membuat jalan jadi macet. Oh, ternyata jalan ke arah alun-alun ditutup karena ada pawai Agustusan yang dihadiri langsung oleh Bupati Lebak, Ibu Iti Octavia. Ia dan wakil bupati tampak mengenakan seragam berwarna putih bersih, tersenyum dan melambaikan tangan ke arah pawai.

DSCF3474 (1280x853)

DSCF3487 (1280x853)

DSCF3490 (1280x855)

DSCF3492 (1280x855)

DSCF3500 (1280x854)

DSCF3502 (853x1280)

DSCF3511 (1280x855)

DSCF3517 (1280x854)

DSCF3518 (1280x855)

Udah lama banget rasanya ga pernah liat pawai begini. Apalagi antusiasme masyarakat Rangkasbitung sangat tinggi, mereka memadati pinggiran jalan yang dilalui oleh jalur pawai. Pawai ini sendiri diikuti oleh berbagai dinas pemerintah Kabupaten Lebak, organisasi, sekolah, komunitas, bahkan beberapa desa di Lebak. Setiap melewati podium ada sebagian rombongan yang melakukan pertunjukan-pertunjukan kecil. Ga heran kalo di situlah kerumunan terpadat terjadi. Setelah melakukan action kecil-kecilan itu sebagian lagi dari mereka ada yang memberi bingkisan. Liat itu meja di samping kiri yang udah dipenuhi oleh bingkisan-bingkisan. Dalam imajinasi saya, mungkin nanti akan si Bu Iti bagi-bagiin untuk para ajudan dan bawahannya.

 

Alun-Alun Rangkasbitung

Rangkasbitung ditetapkan sebagai ibukota kabupaten Lebak sudah sejak lama, tepatnya pada tangal 17 Januari 1849 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Maka tidak mengherankan bila di sekitar alun-alun yang dianggap sebagai jantung kota bercokol berbagai kantor pemerintahan dan juga Masjid Agung Rangkasbitung, Al A’raaf. Lapangannya sendiri sering digunakan masyarakat setempat sebagai tempat melangsungkan berbagai kegiatan, tidak heran jika di sekelilingnya kita bisa menemukan banyak penjaja makanan dan minuman, bisa jadi sekalian wisata kulineran deh.

DSCF3540 (1280x853)

DSCF3522 (1280x853)

Di tengah lapangan masih terlihat patok-patok papan nama institusi pemerintahan yang digunakan untuk menandai posisi barisan mereka di sana saat diadakan upacara bendera tadi pagi. Walaupun lapangan rumputnya cukup terawat, tidak demikian dengan track lari yang ada di sekelilingnya, terbuat dari paving block alih-alih tanah merah. Di banyak bagian, paving block ini udah rusak. Selain track lari, di samping alun-alun juga ada lapangan basket dan bola voli yang tampaknya akan digunakan untuk perlombaan panjat pinang.

 

Museum Multatuli dan Perpustakaan Saidjah dan Adinda

Di sebelah timur alun-alun, ada dua sejoli Museum Multatuli dan Perpustakaan Saidjah dan Adinda yang berada tepat di sebelahnya. Multatuli merupakan nama pena Douwes Dekker, seorang Belanda yang menaruh simpati terhadap penderitaan masyarakat di Lebak akibat tanam paksa ketika ia menjabat sebagai asisten wedana Lebak. Pengalamannya itu ia tuliskan dalam sebuah novel satir, Max Havelaar, yang memperoleh perhatian luas di Belanda dan pada akhirnya turut melahirkan gerakan “balas budi”. Museum ini dibangun di bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada tahun 1923 dan sebelum dijadikan museum digunakan oleh Badan Kepegawaian Daerah Lebak.

DSCF3545 (1280x855)

DSCF3531 (1280x856)

Sayangnya, museum yang direncanakan akan menjadi museum anti kolonial pertama di Indonesia ini belum beroperasi secara penuh. Setelah peresmiannya pada bulan Mei 2017 yang lalu, museum ini masih dalam tahap pengembangan dan penambahan koleksi, bekerja sama dengan Perhimpunan Multatuli di Belanda. Jika sudah jadi, nantinya akan berisi perjalanan sejarah kolonialisme di Nusantara, sejarah hidup Douwes Dekker, dan juga sedikit sejarah tentang Lebak. Kalo udah jadi kayaknya bakalan bagus sih, tapi ya entah kapan.

DSCF3526 (853x1280)

DSCF3529 (1280x855)

Dan kalo kamu udah ke museumnya, jangan lupa berkunjung ke perpustakaannya yang diberi nama Saidjah Adinda, nama dua tokoh di dalam novel Max Havelaar yang kisahnya sangat menyentuh. Bangunannya megah dan didesain berbentuk lumbung padi masyarakat Baduy, dalam bahasa Sunda disebut leuit. Filosofinya, perpustakaan merupakan lumbung ilmu. Namun sama halnya dengan museum, sayangnya perpustakaan ini pun belum resmi dibuka untuk umum.

 

Balong Ranca Lentah

Ga jauh dari alun-alun, di sebelah tenggara ada Balong Ranca Lentah, sebuah kolam besar yang baru saja direnovasi. Dulu katanya lokasi ini sering dijadikan tempat mesum sama pemuda-pemudi namun sekarang dipercantik karena direncanakan akan dijadikan sebagai pusat kuliner dan tempat nongkrong warga. Wah, keliatannya menjanjikan, saya ke sana deh.

DSCF3547 (1280x855)

DSCF3553 (1280x853)

Ternyata kolamnya emang ga terlalu luas, plus warna airnya ijooo banget. Padahal kalo airnya dibersihin terus diperlihara ikan di sini kayaknya bakal bagus deh. Pusat kuliner yang saya baca di internet pun entah ga ada atau ga berjualan mengingat hari itu tanggal merah, cuma ada beberapa gerobak yang berjualan. Lalu lintas di sekitarnya pun lengaaaang banget, sehingga suasananya nyaman, ga bising oleh suara lalu lalang kendaraan. Saya pun akhirnya duduk-duduk aja menikmati pemandangan sembari berteduh dari teriknya matahari siang hari itu.

 

Wisata Religi

Saking minimnya tempat wisata dalam kota Rangkasbitung, saya kepikiran untuk membuat bagian khusus mengenai wisata religi di kota ini. Idenya muncul pas saya ngeliat sebuah baligo acara doa bersama 17.17.17 yang diinisiasi oleh TNI dalam rangka peringatan kemerdekaan RI. Acaranya sendiri ga hanya diselenggarakan untuk umat muslim melainkan juga untuk umat Katolik dan umat Buddha, sehingga acaranya dipusatkan di tiga lokasi, Masjid Agung Al A’raaf, Vihara Ananda Avalokitesvara, dan Gereja Santa Maria Tak Bernoda.

DSCF3536 (853x1280)

my eat and travel story

Pas siang tadi, abis ngeliatin pawai, saya udah menyempatkan diri untuk shalat zuhur di sini. Masjid agung yang berdiri sejak tahun 1932 ini baru saja direnovasi untuk yang kedua kalinya pada masa pemerintahan bupati sebelum Bu Iti Octavia, yaitu ayahnya sendiri yang bernama Mulyadi Jayabaya. Pasca renovasi, Masjid Al A’raaf mampu menampung hingga 2500 jamaah. Di sampingnya terdapat menara masjid yang menjadi landmark karena saking tingginya dapat terlihat nyaris dari seluruh penjuru kota.

DSCF3562 (1280x853)

Untuk umat beragama Buddha, di Rangkasbitung ada satu vihara yang ukurannya tidak terlampau besar dan berbaur di antara pemukiman warga. Lokasinya tepatnya di seberang terminal lama Rangkasbitung. Pas pawai tadi mereka membawakan arak-arakan barongsai yang didominasi warna merah dan emas. Keberadaan orang Tionghoa di Rangkasbitung tidak terlepas dari sejarah panjang perdagangan kerajaan Nusantara dengan kerajaan-kerajaan di negeri tirai bambu. Dari sini, saya naik angkot ke Gua Maria Bukit Kanada, tempat tujuan terakhir saya yang berjarak sekitar 2,3 kilometer.

DSCF3568 (1280x854)

Sempat bingung karena tidak ada petunjuk apa-apa di tepi jalan, Gua Maria Bukit Kanada ternyata berada di belakang komplek kampus Akademi Keperawatan Yatna Yuana, walau pintu masuknya sebenernya sama aja. Kanada sendiri merupakan singkatan dari daerah di mana Gua Maria ini berada, Kampung Narimbang Dalam. Sebagai Gua Maria yang menjadi tempat ziarah umat Katolik satu-satunya di Banten, Gua Maria Bukit Kanada memiliki keunikan tersendiri, Patung Maria berada di dalam ceruk batu karang, yang mengingatkan saya pada Taman Sunyaragi di Cirebon. Di sebelahnya terdapat sebuah gereja sederhana yang dapat menampung jemaat dalam jumlah kecil.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s