Jalan-Jalan Sore ke Festival Condet 2017 (Jakarta)

Pas Pak Aang, temen kantor saya, ngasih tau kalo ada acara pasar malem di Jalan Condet Raya, sampe-sampe jalannya ditutup buat acara itu, saya langsung penasaran. Saya langsung Googling dan menemukan bahwa ternyata jalan itu bukan ditutup buat acara pasar malem biasa karena di sana bakal diadain Festival Condet yang kedua. Karena adanya acara yang diadain selama dua hari ini, yaitu dari tanggal 29 hingga 30 Juli 2017, Jalan Condet bakalan ditutup buat lalu lintas kendaraan umum. Mulai dari persimpangan Jalan Buluh hingga persimpangan Jalan Gardu sepanjang nyaris 2 kilometer. Pada waktu yang bersamaan, ada pula event Lebaran Betawi yang diadain di Setu Babakan. Karena saya udah pernah main ke Setu Babakan, saya lebih memilih ke Festival Condet yang notabene lebih deket dari kosan saya.

DSCF2468 (1280x855)

Walau acara ini diadakan dari jam 7 pagi hingga jam 12 malem, saya memilih untuk berangkat jam 4 sore. Itung-itung menghindari panasnya sinar matahari. Saya pergi menggunakan GrabBike biar ga ribet mesti nyari-nyari lokasi parkir. Apalagi kalo ada yang dateng pake mobil, ampun deeeh. Mpu parkir di mana tuuh, jalan di sini sempit-sempit. Kalo ngga mendingan pake TransJakarta aja, terus ntar jalan dari Pasar Grosir Cililitan. Memasuki Jalan Condet Raya, saya baru tahu kalo walaupun jalannya menyandang nama “raya” ternyata lebar jalannya sempit banget. Buat lewat dua mobil aja pas-pasan. Terus, di samping kiri dan kanan jalan banyak yang menjual refill parfum dan berbagai kuliner Arab. Di daerah ini ternyata banyak warga Betawi keturunan Arab yang udah tinggal secara turun temurun.

DSCF2513 (1280x855)
Tari Yapong, tapi lagunya pake rekaman sehingga para pemusik di belakang cuma nonton doang
DSCF2626 (1280x856)
Peragaan pencak silat
DSCF2532 (1280x854)
Aksi penggalangan dana untuk acara santunan anak yatim

Festival Condet sedianya udah memasuki tahun ketiga dalam pelaksanaannya, namun karena tahun pertama diadakan secara swadaya, festival kali ini terhitung yang kedua semenjak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Cagar Budaya Betawi Condet. Dalam festival kali ini, skalanya lebih besar daripada yang diadakan tahun sebelumnya. Ada lima buah panggung yang didirikan dan akan menampilkan berbagai macam pentas budaya dan kesenian yang diisi oleh remaja-remaja dari sanggar-sanggar seni maupun komunitas lainnya. Salah satu panggung khusus digunakan untuk acara Kontes Batu Akik Pandan yang didukung oleh Komunitas Pandan Condet (Kompac).

DSCF2472 (1280x853)

DSCF2527 (1280x855)

Selain pentas seni budaya, ada lebih kurang 400 tenda stan bazaar kuliner dan berbagai produk UKM yang ikut meramaikan perhelatan ini dan mengisi setengah badan jalan. Tanpa adanya acara pentas seni khas Betawi, festival ini ga beda tipis dengan bazaar biasa. Barang-barang yang dijual pun tidak banyak yang menarik, kebanyakan menjual pakaian, sepatu, jam tangan, aksesoris hape, dan mainan anak. Lalu ada dua lahan parkir kecil yang digunakan sebagai play ground. Ada kereta api mini, odong-odong, dan serodotan yang terbuat dari balon bertekanan udara.

DSCF2540 (1280x854)

DSCF2534 (1280x853)

DSCF2521 (1280x855)

DSCF2536 (1280x855)

DSCF2553 (1280x853)

DSCF2523 (1280x854)

Ada sih beberapa stan yang menarik perhatian saya kayak stan Betawi Punye Distro yang menjual kaos dan souvenir khas Jakarta dan beberapa stan yang menjual miniatur ondel-ondel. Ada juga usaha-usaha kreatif seperti penyewaan photo booth dengan menarik tarif 5 ribu rupiah per orang yang difoto, menjala ikan buat anak-anak, pengobatan alternatif ala Papua, dan menulis kaligrafi. Setiap saya berjalan beberapa ratus atau bahkan puluh meter, ada pula pedagang yang menjual antena TV mini yang diklaim bisa menangkap siaran dengan baik sehingga pemiliknya ga perlu lagi repot-repot memutar-mutar antena setiap kali mengganti channel. Saking banyaknya para pedagang ini, saya sempet berpikir jangan-jangan mereka ini semacam sponsor ga resmi Festival Condet.

DSCF2480 (1280x855)

DSCF2632 (1280x854)

DSCF2502 (1280x855)

DSCF2546 (1280x854)

DSCF2543 (1280x854)

Buat saya sih, yang paling menarik tentunya kulinernya. Sebagai festival yang mengusung kebudayaan Betawi, tentunya bakalan banyak banget kuliner khas Betawi yang ditawarkan di samping kuliner-kuliner tradisional lainnya. Ada pecel bumbu kacang yang menarik perhatian saya karena ada campuran kulit tangkilnya (kulit buah melinjo). Jarang-jarang lho pecel pake campuran ini. Terus ada soto Betawi, nasi kebuli, nasi uduk Betawi, gorengan, toge goreng, yang menurut saya sih itu mah ditumis, ada bir pletok yang terbuat dari campuran jahe dan berbagai rempah-rempah, dodol Betawi yang udah jarang kita temui, dan kue rangi yang terbuat dari campuran tepung sagu, kelapa parut, dan diolesi gula merah. Tadinya saya berminat membeli dodolnya tuh, tapi pas nanya harganya, saya langsung mengurungkan niat karena satu balok segitiga kecil itu dibandrol 25 ribu rupiah.

DSCF2500 (1280x855)

DSCF2503 (1280x855)

DSCF2506 (1280x855)

Kalo kuliner-kuliner tadi cuma saya foto doang, yang ini saya beli beneran. Dari sekian banyak kulineran, saya ujung-ujungnya beli kerak telor deh. Penganan yang satu ini emang banyak ditawarkan di sepanjang jalan. Harganya sedikit lebih mahal dari biasanya, 20 ribu untuk kerak telor yang menggunakan telur ayam. Saya pesen yang sedikit pedas menggunakan cabe bubuk, pedagang lain ada yang menggunakan potongan cabe asli. Selain kerak telor, saya juga membeli jajanan anak SD kayak martabak telor mini, roti maryam yang ditaburi meses coklat dan keju parut, serta cilok bumbu kacang. Cilok? Iya, cilok, tapi pake bumbu kacang. Biasanya cilok yang saya temui di Jakarta cuma dikasih saos sambel doang, kurang sedaaap.

DSCF2488 (1280x853)

DSCF2554 (1280x854)

Selain kuliner tradisional, ada juga kuliner-kuliner modern yang dijajakan seperti es serut khas Jepang “Kakigori” yang banyak banget stannya. Sebenernya ini sama persis kayak es serut yang suka kita beli pas SD yang dikasih sirup berwarna-warni aneka rasa. Wadahnya unik juga, dibentuk kerucut, tapi di atasnya sebenernya dikasih wadah mangkok plastik. Entah gimana kuliner yang satu ini jadi hits lagi dan saya liat mulai banyak dijual di beberapa kawasan objek wisata. Tapi kuliner yang paling unik menurut saya adalah “Dragon’s Breath”, yaitu dessert yang terbuat dari sereal dan disuntikkan sedikit nitrogen cair sehingga jika dikunyah akan mengeluarkan “asap” kayak napas naga.

IMG_20170730_173906 (852x1280)

Adakah yang bertanya-tanya mengapa festival ini diadakan di Condet? Sebenernya, saat Ali Sadikin menjabat sebagai gubernur Jakarta pada tahun 1970-an dulu, Condet sempat ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya Betawi mengingat dulu kawasannya masih asri dan asli dengan penduduknya yang sebagian besar warga Betawi. Namun seiring dengan perkembangan zaman, banyaknya pendatang baru ke Jakarta membuat pembangunan semakin tidak tertata sehingga daerah ini semakin semrawut. Jadi dengan adanya Festival Condet ini, diharapkan para warganya dapat menjaga dan melestarikan budaya Betawi yang semakin terlupakan. Sebenernya akan lebih menarik lagi jika panitia membuat booth atau stan yang khusus memberi informasi kepada pengunjung mengenai serba-serbi kebudayaan Betawi pada umumnya serta sejarah kawasan Condet khususnya sehingga ada nilai tambah edukasinya. Yah, kalo ada panitia yang baca tulisan saya ini, tahun berikutnya dibikin ya, hehehe.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s