Bertualang di Dusun Bambu (Bandung)

Petualangan saya buat membabat habis semua tempat wisata, yaaa paling ngga yang terkenal-terkenal, di utara Bandung masih berlanjut. Setelah sebelumnya udah sempet ke Floating Market dan Farmhouse, kali ini saya main ke Dusun Bambu yang lokasinya agak jauh dari pusat kota Lembang. Tepatnya sekitar 10 km ke arah barat menyusuri Jalan Kolonel Masturi yang saking panjangnya, jalan ini menghubungkan Jalan Raya Lembang dan kota Cimahi. Kalo dari arah gerbang tol Pasteur, Google Maps kemungkinan akan mengarahkan kendaraan kamu melalui jalan kecil melewati daerah Polban dan menyusuri Jalan Cihanjuang sampe mentok di Universitas Advent Indonesia. Pilihan jalan ini menurut saya udah paling oke sih, walaupun jalannya kecil, daripada mesti lewat Jalan Raya Lembang yang pada siang hari di kala weekend biasanya mulai macet gara-gara si Farmhouse tadi.

DSCF9998 (1280x853)

DSCF0005 (2560x992)

Saya tau Dusun Bambu ini rame banget pengunjungnya. Kalo kamu dateng kesiangan, kamu bisa ngantre sampe setengah jam cuma buat ngelewatin gerbang masuk kendaraannya doang. Dan kalo area parkir P1 di dalem komplek Dusun Bambu udah penuh, kamu bakal diarahin untuk parkir di lokasi parkir P2 yang berada di luar komplek Dusun Bambu. Jalannya lumayan agak jauh. Makanya, saya sengaja banget dateng di weekend pertama bulan puasa karena menduga pada hari itu pengunjungnya ga terlalu banyak karena wisatawan yang beragama Islam tentunya memilih tinggal di rumah dan menahan diri dari berjalan-jalan. Tapi buat saya sih, puasa ga seharusnya jadi halangan. Lagipula, cuaca di Dusun Bambu yang berada di kaki Gunung Burangrang ini cenderung sejuk sehingga ga bikin badan gampang kelelahan.

DSCF0007 (1280x853)

Tiket masuk Dusun Bambu terbilang murah, cuma 25 ribu rupiah aja, dan itupun udah termasuk air mineral gratisan, walaupun cuma botol kecil. Tapiiiii, minuman itu baru akan dikasih pas kita udah pulang. Yesss, strategi banget supaya pengunjung belanja minum di dalem. Dari pintu masuk, saya udah disambut oleh pemandangan sawah yang bikin saya jadi inget pemandangan pedesaaan di Garut waktu angkatan kuliah saya bakti desa dulu. Di belakang sawah ada area yang disebut Kampung Layung, yaitu villa-villa berfasilitas bak hotel yang dapat disewa oleh pengunjung namun berbentuk rumah tradisional khas Sunda. Ih, kayaknya seru banget tuh nginep di situ. Tapi pasti mahal banget ya, hehehe.

DSCF0010 (1280x854)

Untuk berkeliling-keliling di area Dusun Bambu yang luas, pengelola udah menyediakan kendaraan Wara-Wiri yang kerjaannya mondar-mandri kayak setrikaan. Pengunjung dijemput di pintu masuk tadi (di peta nomer 2) dan ntar ngelilingin Taman Arimbi (nomer 14) sebelum nurunin penumpang di area drop off (nomer 7). Tapi kamu ga harus turun di situ kok, kamu bisa minta turun di mana aja di perjalanan. Bahkan pengunjung juga bisa menyetop kendaraan Wara-Wiri yang lewat dan kalo masih ada tempat kosong bisa ikut naik deh. Pilihan lainnya, di dalem juga ada penyewaan sepeda dengan tarif 30 ribu untuk satu jam atau 50 ribu buat seharian.

DSCF0013 (1280x854)

DSCF0021 (1280x853)

DSCF0017 (853x1280)

Dari drop off point, saya masuk ke dalam bangunan yang disebut Pasar Khatulistiwa yang menawarkan berbagai produk dengan kualitas terbaik seperti buah-buahan dan sayuran segar, cinderamata hasil karya masyarakat setempat, serta berbagai macam jajanan tradisional mulai dari penganan ringan hingga makanan berat, semuanya ada. Nanda malah kesengsem buat beli boneka kayu Pinocchio yang menurut dia bagus buat pajangan. Karena saya lagi pelit, saya suruh dia buat beli sendiri pake duit tabungannya.

DSCF0025 (1280x854)

DSCF0115 (1280x853)

DSCF0119 (1280x856)

Di sebelah Pasar Khatulistiwa ada beberapa arena bermain anak yang tarif masuknya lumayan mahal, mulai dari Bamboo Train Express yang cuma 30 ribu sampe Creativity Ship yang tiketnya mencapai 60 ribu rupiah. Hiy, kontras banget ya sama tiket masuknya. Saya ama Nanda masuk ke Rabbit Wonderland yang tiketnya 35 ribu dan itu udah termasuk seiket kecil wortel berukuran kecil. Di sini kelincinya ada banyak banget, tapi kasian sebagian besar ditaro di dalem kandang. Tapi walaupun begitu kita tetep masih bisa ngasih mereka makan kok. Oiya, hati-hati ya, jangan sampe nginjek atau nyentuh kotoran kelinci yang bisa berada di tempat-tempat yang ga terduga.

DSCF0101 (1280x856)

Salah satu lokasi yang paling terkenal di Dusun Bambu adalah bilik-bilik restoran “melayang” yang disebut Lutung Kasarung, karakter dalam kisah dongeng Jawa Barat. Bilik-bilik ini sangat unik karena berbentuk bulat dan di sekelilingnya dirangkaikan ranting-ranting kayu. Ruangannya ada yang berukuran kecil dan besar dengan biaya sewa masing-masing 125 dan 150 ribu per jam. Widih, mahal amat ya? Nanti makanan yang dipesen dianter dari restoran Burangrang Dapur Indonesia yang ada di sebelah Pasar Khatulistiwa. Di sebelah selatan Lutung Kasarung ada wahana menunggang kuda dan hammock tower yang kata Nanda sih lagi nge-hits. Sesuai namanya, wahana itu berupa hammock bertingkat yang dipasang di antara dua pohon tinggi. Tujuannya? Ya cuma buat berfoto narsis ria aja.

DSCF0135 (3840x891)

Selain Lutung Kasarung, salah satu primadona Dusun Bambu adalah saung-saung rumah makan yang ada di tepi danau buatan kecil, Purba Sari namanya. Kalo kamu tau kisah Lutung Kasarung, Purba Sari adalah seorang putri cantik yang dicintai oleh Lutung Kasarung. Di sini pengunjung bisa bersantap sembari menikmati pemandangan yang asri. Saya ga liat biaya sewanya, tapi saya duga sih ga jauh berbeda sama tarif Lutung Kasarung tadi. Di salah satu sisi danau terdapat amphiteatre yang pas weekend di malam hari diadakan pertunjukan musik atau budaya Sunda. Pengunjung juga bisa naik sampan atau bermain wahana air yang ada di danau. Bayar? Bayar sih kayaknya.

DSCF0035 (1280x854)

DSCF0023 (1280x854)

DSCF0054 (1280x853)

Di sebelah atas Pasar Khatulistiwa ada Taman Arimbi, yaitu taman bunga yang seakan menjadi paru-paru Dusun Bambu karena tepat berada di tengah-tengah komplek. Gradasi warna hijau dedaunan dipadu dengan aksen bunga-bunga berwarna-warni tentunya bisa menjadi pemandangan yang menyejukkan mata. Taman ini disusun berteras-teras mengikuti topografi khas kaki pegunungan. Di selebah timur taman ada mushola yang bisa digunakan oleh pengunjung muslim untuk menunaikan ibadah shalat.

DSCF0057 (1280x853)

DSCF0060 (1280x853)

DSCF0063 (1280x854)

Dari Taman Arimbi, kita beranjak ke wahana Tegal Pangulinan. Pemandangan di sini masih ga kalah ciamik karena dihiasi oleh pepohonan, sungai dengan bebatuan, dan kincir air bambu. Terus ada saung-saung lesehan Warung Ngampar juga tapi mungkin karena lagi bulan puasa, warung yang aslinya buka dari jam 9 pagi sampe jam 6 sore ini tutup. Gapapa sih, kan emang kita juga lagi bulan puasa. Pengunjung yang laper bisa ke Pasar Khatulistiwa atau Burangrang Dapur Indonesia.

DSCF0078 (1280x853)

Tadinya Tegal Pangulinan dipake buat berbagai wahana bermain seperti trampolin, ATV, paintball shooting, memanah, dan masih banyak lagi. Namun wahana permainan ini dipindah ke ujung barat laut. Sebagai gantinya, Tegal Pangulinan jadi kosong melompong menyisakan lapangan rumput sintetis cukup luas yang sama kita berdua menjadi wahana narsis.

DSCF0169 (1280x854)

Nah, wahana permainan yang saya sebut tadi pindah ke Kampung Ulin. Di sini ada lebih dari 10 wahana bermain yang cocok untuk pengunjung muda maupun dewasa. Tapiii, tiketnya lumayan mahaaaal, antara 15 sampe 35 ribuan untuk setiap wahana. Entah ya, apakah ada semacam tiket terusan atau gimana, semisal dengan membayar 50 ribu bisa bermain di empat wahana. Best deal banget kan kalo ada? Primadona wahana di sini, atau mungkin yang paling baru, adalah seekor ular piton gede yang diiklankan dengan tagline Ular Raksasa dan Ular Idiot. Hmmm, saya agak bertanya-tanya gimana cara si pawang mengukur tingkat inteligensi si ular.

Tiket Masuk
Dewasa IDR 25K

Jam Buka
Setiap Hari 08.00-21.00

 

Dusun Bambu
http://www.dusun-bambu.com
Jalan Kolonel Masturi KM 11 Lembang
Click for Google Maps

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s