Mengunjungi Museum Terbaru di Bandung, Museum Pendidikan Nasional (Bandung)

Bandung nambah museum lagi. Museum baru ini berada di area kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Maka ga heran kalo namanya adalah Museum Pendidikan Nasional UPI.  Sesuai namanya, museum yang diprakarsai oleh Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd (rektor UPI ketujuh) dan gubernur Jabar, H. Ahmad Heryawan Lc., ini didirikan untuk melestarikan sejarah dan budaya bangsa terutama di bidang pendidikan.

DSCF9315 (853x1280)

Sayangnya, museum ini secara resmi hanya buka dari Senin sampe Jumat, jadinya agak sulit buat pengunjung dari luar kota terutama yang perorangan untuk berkunjung ke sini pada hari Sabtu atau Minggu. Tapi rombongan lebih dari 200 orang masih bisa berkunjung asalkan membuat perjanjian sebelumnya. Setelah membayar tiket 5 ribu rupiah, saya pun memulai penjelajahan saya di sini. Seengganya ada 19 ruangan di museum ini, mulai dari pendidikan masyarakat prasejarah hingga ke sebuah museum perjuangan kecil.

DSCF9172 (1280x855)

Pendidikan masa prasejarah dilakukan di dalam lingkup keluarga, biasanya diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Pendidikannya bersifat aplikatif, langsung ke lapangan, dan turun-temurun. Manusia dicita-citakan sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakatnya, yaitu memiliki semangat gotong royong, menghormati para tetua, dan taat kepada adat.

DSCF9182 (1280x854)

DSCF9176 (1280x855)

Setelah masuknya agama seperti Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dan Katolik, pendidikan dilakukan berbasis agama, ditandai dengan banyaknya peninggalan berupa bangunan keagamaan yang selain digunakan sebagai tempat ibadah, juga digunakan sebagai tempat pendidikan.

DSCF9197 (1280x854)

Pada zaman kolonial Hindia Belanda, pendidikan dilakukan melalui tiga jenjang, sekolah rendah, menengah, dan tinggi, yang bersifat diskrimatif untuk anak Belanda, Tionghoa, dan bumiputera. Bahkan untuk kaum bumiputera rendahan, sekolahnya pun masih dibedakan lagi. Pada masa pergerakan nasional, pendidikan menghasilkan banyak tokoh-tokoh yang pada akhirnya dapat membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan.

DSCF9221 (1280x854)

Pendidikan masa pendudukan jepang ditandai oleh indoktrinasi ketat demi kepentingan Jepang. Setiap pagi mesti menyanyikan lagu kebangsaan Jepang, mengibarkan bendera Hinomaru, melakukan senam (wah, ternyata ini kebiasaan peninggalan Jepang ya), dan melakukan latihan-latihan fisik dan militer bagi siswa yang lebih dewasa.

DSCF9230 (1280x854)
Seragam sekolah kejuruan, sekolah guru agama, Sekolah Menengah Ekonomi Atas, dan Sekolah Menengah Farmasi
DSCF9233 (1280x854)
Suasana siswa bermain di halaman sekolah
DSCF9238 (1280x854)
Soekarno sedang mengajar ilmu alam di Sekolah Kesatriyan, Bandung

Berbicara tentang pendidikan, tentunya ga bisa lepas dari yang namanya guru. Guru mengajarkan banyak ilmu pengetahuan untuk memudahkan manusia menjalani hidupnya. Pada pendidikan berbasis agama, brahmana, bhiksu, pastor, dan ulama memegang peranan penting dalam sistem sekolah berasrama. Pada masa kolonial, peranan guru menjadi lebih modern dan bergaya Eropa. Guru harus melewati pendidikan keguruan sebelum bisa diturunkan ke masyarakat.

DSCF9239 (1280x853)

Pada salah satu sudut museum terdapat sebuah galeri yang menampilkan foto-foto menteri pendidikan Indonesia, lengkap dengan nama kabinet, nama kementerian/departemen, dan periode masa jabatan sejak tahun 1945 hingga saat ini.

DSCF9244 (1280x854)

DSCF9245 (1280x854)

DSCF9248 (853x1280)

Pendidikan masa kemerdekaan hingga era reformasi ditandai oleh berkali-kali perubahan kurikulum. Saya sendiri sempat mengalami tiga kurikulum yang bahkan saya sendiri ga terlalu paham bedanya. Saking seringnya berganti, perubahan kurikulum sering diidentikkan dengan pergantian menteri. Seringkali orang tua mengeluh, buku si kakak udah ga bisa lagi dipake sama adiknya karena berbeda kurikulum.

DSCF9266 (1280x853)

Berbicara tentang pendidikan, jangan lupa juga kalo bangsa kita memiliki banyak sekali tokoh-tokoh pendidikan. Ada Ki Hajar Dewantara, Raden Ajeng Kartini, Raden Ajeng Lasminingrat, Mohammad Syafe’i, Rohana Kuddus, Achmad Dahlan, Raden Dewi Sartika, dan Mohammad Yamin. Mereka mendirikan sekolah-sekolah non pemerintah di berbagai daerah dengan tujuan memperkuat pendidikan pribumi yang berbasis kearifan lokal, kebudayaan nasional, dan agama.

DSCF9274 (853x1280)

Dan karena museum kita ini berada di Bandung, maka dari tokoh-tokoh tadi, dipilihlah Raden Dewi Sartika untuk diberikan ruangan tersendiri. Beliau menekankan bahwa kaum wanita haruslah maju dan setara dengan kaum pria. Apalagi merekalah yang paling dahulu mengajarkan pengetahuan kepada manusia, yaitu anak-anak mereka.

DSCF9282 (854x1280)

Dan karena museum ini berada di komplek Universitas Pendidikan Indonesia, tentunya ada beberapa ruangan yang didedikasikan untuk kampus ini. Mulai dari ruangan Sejarah Perkembangan UPI, UPI Kini dan Prestasi, Peran UPI dalam Dunia Pendidikan, Rektor UPI Dari Masa ke Masa, dan UPI Masa Depan. Ruangan-ruangan ini banyak diisi oleh foto-foto, benda-benda yang pernah digunakan dalam proses belajar mengajar, piagam, serta sertifikat.

DSCF9294 (1280x853)

Selain itu, Mang Koko sebagai tokoh seniman Jawa Barat yang dikenal sebagai pencipta lagu-lagu berbahasa Sunda pun mendapat kehormatan karena menjadi bagian dari museum ini. Sejak masih kecil ia sudah akrab dengan alat musik, seperti kecapi, suling, gitar, maupun biola. Bakat seni yang dimilikinya berasal dari ayahnya yang tercatat sebagai juru mamaos Ciawian dan Cianjuran. Kemudian ia belajar sendiri dari seniman-seniman ahli karawitan Sunda yang sudah ternama, termasuk kepada Raden Machjar Angga Koesoemadinata

DSCF9311 (1280x853)

Di penghujung museum, ada ruangan kecil yang digunakan untuk menyimpan peninggalan para pejuang dari kesatuan Batalion Bandung Utara, yaitu Museum Wirayudha Batara. Museum mini ini awalnya berada di dalam gedung Bumi Siliwangi, alias Villa Isola, yang pernah digunakan sebagai markas para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan. Nama-nama seperti Letnan Hamid, Sersan Bajuri, Sersan Sodik dan Sersan Surip yang sebagiannya kini hanya kita kenal melalui nama jalan adalah anggota dari batalion ini.

IMG_20170327_130230 (852x1280)

Gedung kuno bergaya art deco yang cantik ini dikenal sebagai Villa Isola dan sekarang digunakan sebagai gedung rektorat UPI. Gedung yang dibangun pada tahun 1933 ini dulunya merupakan sebuah rumah tinggal milik bangsawan Belanda, Dominique Willem Berretty, sebelum dijual ke Hotel Savoy Homann. Pada masa pendudukan Jepang, ia sempat digunakan sebagai tempat kediaman sementara Jendral Hitoshi Imamura saat menjelang Perjanjian Kalijati di Subang.

Setelah berkunjung ke Museum Pendidikan Nasional UPI, saya pun bergegas menuju ke Farmhouse Susu Lembang. Tadinya saya mau berkunjung ke Griya Seni Popo Iskandar yang berada tepat di belakang gedung museum. Namun karena pas saya liat dari lantai tiga museum, pintunya ketutup, yah, mungkin lagi-lagi galerinya ga buka. Padahal udah tiga kali saya mencoba ke sini.

Jam Buka
Senin-Kamis 09.00-15.00
Jumat 09.00-15.30
Sabtu, Minggu, Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
Umum IDR 5K

 

Museum Pendidikan Nasional
http://museumpendidikannasional.upi.edu
Komplek Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung
Click for Google Maps

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s