Mengenang Serangan Umum Satu Maret di Monjali (Jogja)

Pada tahun 1946 hingga 1949, Yogyakarta sempat menjadi ibukota bagi Republik Indonesia. Negara yang masih berumur seujung jagung ini masih saja dirongrong oleh Belanda. Berkali-kali pejuang-pejuang kita dengan perlengkapan dan kekuatan seadanya mesti mempertahankan kemerdekaan. Bahkan Yogyakarta pun sempat jatuh ke tangan oleh Belanda sehingga memaksa presiden kita, Soekarno, untuk memandatkan tongkat kepemimpinan kepada menteri Syafrudin Prawiranegara yang saat itu sedang berada di Bukittinggi.

DSCF0688 (1280x854)

Saya ama Fay dateng ke sini naik Go Car, udah sambil bawa-bawa tas karena malemnya saya udah mesti balik lagi ke Bandung naik kereta di Stasiun Tugu. Kita membeli tiket masuk seharga 10 ribu rupiah dan izin kamera seribu rupiah di loket. Sepi, nyaris ga ada pengunjungnya. Ya maklum sih, lagi bulan puasa kan ya.

Sementara pas malem hari tempat ini akan berubah menjadi semarak dengan adanya Taman Pelangi yang menampilkan lampion-lampion berwarna-warni berbagai bentuk. Anak-anak pasti seneng nih. Buat berswafoto juga kayaknya menarik. Dari Senin hingga Sabtu wahana ini buka dari jam 5 sore sampe jam 10 malem, kecuali hari Minggu udah buka dari pagi. Harga tiketnya 15 ribu hari Senin sampe Kamis dan pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional tarifnya naik menjadi 20 ribu rupiah.

DSCF0690 (1280x855)

Ini adalah replika pesawat Cureng yang berada di taman timur ini pernah digunakan oleh penerbang kita untuk menyerang posisi-posisi strategis pasukan Belanda di Ambarawa dan Salatiga pada tanggal 29 Juli 1947. Pesawat bermesin tunggal bersayap ganda ini merupakan peninggalan angkatan laut Kekaisaran Jepang pada akhir Perang Dunia II.

DSCF0694 (1280x855)

Di seberang Monjali ini terdapat daftar nama pahlawan yang gugur di daerah Wehrkreise III dalam kurun waktu 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949. Di antara daftar nama ini dituliskan puisi Chairil Anwar yang berjudul Krawang-Bekasi, untuk mengenang para pahlawan tidak dikenal dan tidak tercatat yang jumlahnya tentu lebih banyak lagi.

DSCF0711 (1280x854)

Di sekeliling Monjali terdapat kolam yang di dalamnya dipelihara ikan-ikan mas. Saya dan Fay mengambil pakan ikan yang dijual dalam wadah plastik besar ala-ala Tupperware. Harganya seribu rupiah dan uangnya bisa kita masukin sendiri ke dalam wadah, ga ada yang jaga. Wah, tugas ngasih makan yang seharusnya dilakuin ama pengelola malah dilakuin ama pengunjung. Dengan senang hati pula, hehehe.

DSCF0721 (1280x854)

DSCF0729 (1280x853)

Selain berfungsi sebagai monumen, bangunan Monjali yang berbentuk kerucut persisi kayak nasi tumpeng ini juga berfungsi sebagai museum. Alur kunjungan bisa mengikuti papan petunjuk yang ada di sekitar monumen. Di lantai satu terdapat empat ruangan museum, perpustakaan, ruang pengelola, mushola, dan ruang serbaguna yang berada di pusat bangunan yang berbentuk lingkaran.

DSCF0740 (1280x855)

DSCF0747 (1280x855)

Monjali didirikan untuk mengenang peristiwa bersejarah ditariknya pasukan Belanda dari ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 sebagai penanda awal bebasnya negara kita dari kekuasaan Belanda. Pembangunannya memakan waktu empat tahun dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 6 Juli 1989.

DSCF0756 (1280x853)

DSCF0759 (1280x854)

Museum menyajikan benda-benda koleksi berupa replika, foto, dokumen, heraldika, pamflet, berbagai jenis senjata, benda-benda kenangan yang pernah dimiliki oleh tokoh-tokoh perjuangan, dan diorama dapur umum, yang membawa pengunjung ke suasana perang mempertahankan kemerdekaan antara tahun 1945 dan 1949. Ada replika tandu yang digunakan untuk menggotong Panglima Besar Jenderal Soedirman selama perang gerilya, seragam tentara dari berbagai kesatuan, kursi dan meja ruang tamu dari rumah dinas Bung Hatta, tempat tidur yang pernah digunakan Bung Karno di Gedung Agung, dan masih banyak lagi.

DSCF0775 (1280x854)

Keluar dari lantai satu, pengunjung mesti menaiki tangga yang ada di depan monumen untuk mencapai lantai dua. Di sekeliling lantai terdapat dinding luar yang menampilkan 40 buah relief perjuangan fisik dan diplomasi bangsa Indonesia. Relief diawali dengan peristiwa proklamasi kemerdekaan, relief-relief pertempuran bersenjata, relief-relief perjanjian diplomasi yang banyak merugikan karena semakin mengurangi wilayah negara, hingga ke relief kembalinya Soekarno ke Jakarta sehari setelah pengakuan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949.

DSCF0781 (1280x856)

Lantai dua berisi 10 diorama dengan susunan melingkar pusat monumen yang berkisah seputar peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Pada tanggal 19 Desember 1948, Republik Indonesia yang beribukota di Yogyakarta diserang oleh Belanda dalam Agresi Militer Belanda II sehingga memaksa para pemimpinnya diasingkan ke Brastagi, Sumatera Utara. Untung sebelumnya Soekarno sempat memandatkan tampuk pemerintahan pada menteri Syafrudin Prawiranegara yang saat itu kebetulan sedang berada di Bukittinggi.

DSCF0789 (1280x854)

Untuk melawan propaganda Belanda bahwa Republik Indonesia tidak ada lagi, maka direncakanlah sebuah serangan besar-besaran ke jantung kota Yogyakarta yang melibatkan seluruh potensi sipil dan militer untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih eksis. Dengan kekuatan angkatan perang saat itu, usaha merebut kota Yogyakarta sebagai ibukota negara hanya direncanakan selama 6 jam saja sebelum datang bala bantuan Belanda dari berbagai daerah di sekitarnya. Setelah 6 jam, seluruh kekuatan perang ini akan mundur secara teratur dan kembali melanjutkan perang gerilya di sekitar daerah Yogyakarta. Pada saat serangan dilangsungkan, beritanya disebarluaskan ke dunia internasional dengan bantuan Dinas Kode yang bertempat di Banaran.

DSCF0802 (1280x853)

Pasca Perjanjian Roem-Roijen pada tanggal 7 Mei 1949, tercapai kesepakatan untuk menghentikan konflik dari kedua belah pihak. Soekarno dan Hatta kembali dari pengasingannya ke Yogyakarta yang sudah pulih sebagai ibukota Republik Indonesia. Dengan berhentinya pertempuran, Panglima Besar Jenderal Soedirman kembali dari medan gerilya dan disambut oleh Soekarno dan Hatta dengan didampingi oleh Kolonel T.B Simatupang sebagai wakil angkatan perang dan Letnan Kolonel Soeharto sebagai komandan Wehrkreise III.

DSCF0809 (1280x853)

Monjali dipuncaki oleh sebuah ruang hening untuk mengenang dan mendoakan para pahlawan, serupa dengan yang dimiliki oleh Monumen Nasional (Monas) di Jakarta. Setelah menaiki beberapa puluh anak tangga, kita akan disambut oleh sebuah ruangan bundar besar yang di tengahnya terdapat tiang bendera Sang Saka Merah Putih. Di belakangnya terpampang pesan yang dituliskan oleh Presiden Soeharto.

Jam Buka
Selasa-Jumat 08.00-16.00
Sabtu-Minggu 08.00-16.30
Senin TUTUP

Tiket Masuk
Umum IDR 10K
Izin Kamera IDR 1K

 

Monumen Yogya Kembali
http://monjali-jogja.com/
Jalan Ringroad Utara, Sleman, Jogja
Click for Google Maps

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s