Mengenal Si Pelukis “Kerbau” di Museum Affandi (Jogja)

Hari kedua saya lanjalan di Jogja, saya ama Fay, Fatma kembarannya, dan Aul pacar kembarannya, saya ngajakin mereka ke Museum Affandi. Museum Affandi terletak di Jalan Laksda Adisucipto yang menghubungkan kota Yogyakarta dan Solo, tepat berada di sebelah barat Sungai Gajah Wong. Komplek Museum Affandi menempati area seluas 3500 meter persegi yang terdiri atas tiga buah bangunan museum, bangunan-bangunan pelengkap, serta bangunan bekas tempat tinggal Affandi yang kini dijadikan cafe.

DSCF0613 (1280x855)

Kita membeli empat buah tiket di loket depan, harganya 25 ribu dan itupun bisa ditukarkan dengan soft drink di cafe. Sialnya, kalo mau motret pengunjung mesti membayar lagi, 20 ribu kalo pake kamera profesional dan 10 ribu rupiah kalo memotret dengan hape. Mayan mahal ya? Tapi ya masih mending sih masih dibolehin ngambil foto.

DSCF0560 (1280x855)

Galeri I selesai dibangun pada tahun 1962 namun baru resmi dibuka pada tahun 1974. Bangunan ini dan rumah tinggal yang didesain sendiri oleh Affandi terinspirasi dari bentuk daun pisang, terutama terlihat dari bentuk atapnya yang ga bisa keliatan dari bawah. Konon pada suatu waktu beliau pernah menggunakan daun pisang untuk melindungi lukisannya agar tidak basah oleh air hujan dan teriknya matahari.

DSCF0526 (1280x853)

DSCF0529 (1280x854)

DSCF0544 (1280x855)

Galeri pertama memuat karya-karya seni beliau dari awal hingga akhir atau disebut juga pameran retrospektif. Ada lukisan cat air, pastel, serta cat minyak di atas kanvas, juga terdapat karya tiga buah patung reproduksi, yaitu potret diri 1, potret diri 2, dan potret diri “Affandi dan Kartika”, anak pertama beliau yang juga menjadi pelukis. Awalnya, lukisan Affandi masih bergaya realis dan belum menemukan bentuknya yang kita kenal kini, bergaya ekspresionis yang sangat khas karena dibuat dengan menggunakan kuasan-kuasan cat kental yang baru keluar dari tabungnya. Pengunjung dapat melihat hal ini dari keterangan tahun pembuatan lukisan dilengkapi dengan penjelasan dari petugas museum. Ia dengan antusias menjelaskan mengenai berbagai aspek kehidupan dan lukisan Affandi. Dan ketika Fay mau memberikan tip, dia menolak.

DSCF0562 (1280x855)

Walaupun dikenal sebagai seorang maestro pelukis ternama Indonesia, Affandi justru membutakan dirinya dengan teori-teori. Ia kerap menyebut dirinya “pelukis kerbau”, julukan yang ia berikan sendiri karena ia merasa dirinya adalah seorang pelukis yang bodoh. Sikapnya yang sederhana ini memang patut ditiru. Bahkan baginya, kepentingan keluarga tetap berada di atas kesenian.

DSCF0548 (1280x854)

Lemari kaca ini menyimpan benda-benda pribadi maupun penghargaan yang pernah diperoleh oleh Affandi. Di antaranya adalah koleksi cangklong berbentuk unik yang diperoleh dari dalam maupun luar negeri. Karena memang gemar merokok, banyak lukisan potret dirinya yang sedang merokok dengan cangklong. Lalu ada pula koleksi sarung yang menjadi identitas penampilan sehari-harinya yang sederhana. Sementara beberapa penghargaan yang diperolehnya antara lain Prix International Dag Hammarskjoeld, bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden SBY, dan sertifikat The President Sukarno Heritage List dari Soekarno Center.

DSCF0540 (1280x854)

Mobil berwarna kuning terang yang berada di sudut seberang pintu masuk ini merupakan mobil kesayangan Affandi, Mitsubishi Galant tahun 1976. Ia sering menggunakannya untuk bepergian ke tempat lain maupun mencari inspirasi. Ia pun memodifikasinya sehingga menyerupai ikan yang disukainya karena berbentuk indah dan juga lincah. Di sebelahnya ada sebuah sepeda sport tahun 1965 dan 1985, tentunya masih milik Affandi.

DSCF0570 (1280x853)

DSCF0576 (1280x853)

DSCF0571 (1280x855)

Pada tahun 1987, Presiden Soeharto memberi bantuan untuk membangun galeri kedua yang diresmikan pada tahun 1988. Wah, cepet ya pembangunannya. Lantai satu digunakan untuk memamerkan lukisan-lukisan pada pengunjung sementara lantai dua yang tidak dibuka untuk umum digunakan untuk ruang penyimpanan lukisan. Uniknya, karya-karya yang dipamerkan di sini khusus untuk diperjualbelikan dan merupakan koleksi lukisan dari awal-awal berkarya. Konon harganya mencapai miliaran rupiah :uhuk!:

DSCF0580 (1280x855)

DSCF0583 (1280x854)

Sketsa-sketsa yang dibuat antara tahun 1946 hingga tahun 1959 juga dipamerkan di sini. Mochtar Apin, seorang pelukis terkenal lainnya, memberikan komentar. Menurutnya, Affandi tampaknya lebih tertarik pada obyek manusia dan kemanusiaan, terutama dari lapisan masyarakat bawah. Namun corat coret pemandangannya yang dibuat dengan penuh ekspresi dan suasana kontemplatif pun patut diperhatikan. Bagi Affandi sendiri, sketsa hitam putih sama bernilainya dengan lukisan berwarna karena emosi yang ia curahkan sama besarnya sekalipun penilaian publik lain.

DSCF0588 (1280x854)

DSCF0593 (1280x854)

Galeri III dibangun oleh Yayasan Affandi dan diresmikan pada tahun 2000 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Galeri ini dibangun atas dasar keinginan Affandi yang ingin memiliki ruang penyimpanan untuk koleksi lukisan-lukisannya yang mencapai 300 buah. Selain itu, di lantai satu pengunjung dapat melihat pameran lukisan karya Maryati, istri Affandi yang juga seorang pelukis, Kartika Affandi, putrinya, dan Rukmini Yusuf Affandi, cucunya. Di salah satu sudut galeri, pengunjung dapat menonton video dokumenter yang merekam proses berkreasi Affandi.

DSCF0602 (1280x853)

Studio Gajah Wong I, mengambil nama sungai yang ada di sampingnya, berada di deket Restoran Pronto Premium dan digunakan sebagai ruang pameran dan tempat beraktivitas seniman-seniman lokal dan murid-murid Studio Gajah Wong. Di sini dipamerkan lukisan Kartika Affandi dan anaknya, Didit, yang lukisannya pun beraliran ekspresionisme.

DSCF0566 (1280x854)

Jangan lupa untuk menziarahi makam Affandi yang dimakamkan berdampingan dengan istrinya. Atas keinginannya sendiri, Affandi memilih untuk dimakamkan di antara bangunan Galeri I dan II dikelilingi oleh rimbunnya tanaman. Affandi wafat pada tanggal 23 Mei 1990 sementara Maryati wafat setahun kemudian pada tanggal 26 Mei 1991.

DSCF0611 (1280x853)

Sebelum pulang, saya ama Fay berfoto di depan bekas rumah tinggal Affandi yang berbentuk rumah panggung. Dulu bagian atas rumah panggung merupakan kamar pribadi Affandi sedangkan bagian bawahnya digunakan sebagai ruang duduk tamu serta garasi mobil. Tapi sekarang bagian bawahnya udah berubah jadi cafe di mana kita bisa menukarkan voucher soft drink di sini.

Jam Buka
Senin-Sabtu 09.00-16.00
Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket
Umum IDR 30K
Izin Kamera Pro IDR 20K
Izin Kamera Telepon Genggam IDR 10K

 

Museum Affandi
http://www.affandi.org
Jalan Laksda Adisucipto No. 167, Depok, Jogja
Click for Google Maps

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s