Ngeliat Pemandangan dari Puncak Monas (Jakarta)

Udah lama saya ngincer pengen jalan-jalan ke Monumen Nasional alias Monas, ikon kota Jakarta yang paling terkenal. Tapi rasanya kalo jalan-jalan sendiri banget kok kayaknya males banget ya. Iya, walaupun saya sering jalan-jalan sendiri, itu sebenernya karena emang jarang ada yang bisa diajakin. Ga semua orang seneng jalan-jalan ke museum. Dan daripada malah ga jalan, ya mendingan saya jalan aja sendiri. No companion no cry.

DSCF8355 (1280x853)

Pas kemaren itu, si (Fachri) Alda, temen kantor saya, ternyata berminat juga jalan-jalan ke Monas. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya, pada suatu hari kita mutusin mau ke sana. Tadinya saya ngincer wisata naik ke Monas pas Jumat malem. Tapi karena sorenya gerimis, saya pun memalas. Akhirnya saya bilang ke Monasnya besok pagi aja deh, semoga ga ujan. Dan ya untung aja besok paginya cuaca cerah.

DSCF8349 (1280x853)

Pintu masuk menuju komplek Monas ada tiga, yaitu pintu parkir IRTI ngelewatin area Lenggang Jakarta, pintu di sebelah barat daya deket patung Muhammad Husni Thamrin, dan pintu di sebelah barat laut yang deket Istana Negara. Karena ke sini naik motor, kita dateng dari arah parkir IRTI. Saya ngajakin Alda buat dateng sepagi mungkin supaya kita ga mesti ngantre lama buat naik ke puncak Monas. Udah bukan rahasia kalo yang namanya mau naik ke Monas itu ngantrenya bisa berjam-jam. Apalagi kalo siangnya panas terik, beuh, bisa gosong deh.

DSCF8360 (853x1280)

Buat kamu yang mau jalan-jalan ke Monas, rasanya sayang banget kalo cuma naik ke puncak Monas doang. Komplek Monas ga cuma punya si tugu putih dengan puncak “lidah api” doang. Di sekelilingnya ada taman, hutan kota, dan juga karya-karya seni berupa patung dan monumen. Karena loket menuju puncak Monas baru dibuka jam 8, mendingan kamu dateng satu jam lebih cepet buat nyempetin jalan-jalan ke sekeliling Monas dulu.

DSCF8588 (854x1280)

Di area barat Monas sebenernya ada objek wisata “air mancur menari.” Keren lho, mirip lah kayak wahana Song of The Sea yang dulu pernah saya liat di Sentosa Island Singapore, ada cahaya lasernya juga. Tapi sayangnya sekarang peralatannya sekarang rusak dan entah kapan bakal dibetulin. UPDATE Agustus 2017 : Menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia yang ke-72, air mancur menari ini diperbaiki dan beroperasi setiap hari Sabtu dan Minggu malam jam setengah 8 dan setengah 9. Karena keren dan gratis pula, kolam air mancur menari ini menjadi tujuan wisata primadona sehingga sore menjelang malam pun Monas masih ramai dipadati pengunjung. Di antara kolam dan tugu Monas ada patung dada Muhammad Husni Thamrin, pahlawan nasional asli Betawi yang banyak memperjuangkan hak-hak orang Betawi melalui dewan rakyat (Volksraad).

DSCF8362 (1280x854)

Tadinya, karena saya sempet baca di suatu artikel kalo di seberang Istana Negara ada jejak kaki presiden-presiden Indonesia, saya keluar dari pintu sebelah barat laut. Dicari-cari ke sana kemari, ga ketemu-ketemu juga. Nanya sama petugas kebersihan Monas dan polisi yang berjaga di pintu sini, ga ada yang tau juga. Mungkin jejak-jejak kaki ini udah dipindahin. Tapi ke mana? Saya googling pun ga nemu infonya. Ya udah deh kita masuk lagi ke area Monas.

DSCF8376 (1280x853)

DSCF8377 (1280x856)

DSCF8371 (1280x854)

Di sebelah utara tugu Monas ada patung Pangeran Diponegoro dalam posenya yang paling terkenal dan epik, dengan kain serbannya yang berkibar-kibar, menunggangi kuda jingkrak mirip logonya Ferrari. Wajahnya (wajah Pangeran Diponegoro ya, bukan kudanya) garang memberi komando sambil menunjuk ke suatu titik nun jauh di depan. Mungkin mau ngasih tau kita kalo ga jauh di depannya ada patung dada Chairil Anwar, pujangga pelopor angkatan 45 yang menggubah banyak puisi bertema perjuangan. Patung dada ini ditopang oleh sebidang dinding yang di depannya menampilkan teks puisi “Karawang Bekasi” dan “Diponegoro” di bagian belakang. Wah, ternyata mereka berdua emang jodoh ya berada di sini.

DSCF8577 (1280x854)

Di sebelah timur ada patung peringatan R.A. Kartini yang dipersembahkan sebagai lambang persahabatan antara bangsa Indonesia dan Jepang. Patung R.A. Kartini diapit oleh dua patung lainnya, yang satu patung wanita sedang menari, sementara yang lainnya sedang menyusui. Di sisi timur ini juga ada satu lapangan bola voli, empat lapangan futsal, dan satu lapangan basket yang bisa digunakan oleh para pengunjung Monas. Mekanismenya gimana? Saya juga kurang tau deh. Kayaknya langsung pake-pake aja deh.

DSCF8584 (1280x854)

DSCF8585 (1280x855)

Di selatan, ada Monumen Ikada yang didirikan untuk mengenang peristiwa bersejarah yang terjadi pada tanggal 19 September 1945. Saat itu ribuan massa menghadiri sebuah rapat besar di mana Bung Karno kemudian hadir dan berpidato. Monumen yang diresmikan pada tahun 1988 ini menggambarkan sosok lima manusia yang menjunjung bendera merah putih (tentunya keliatan item abu). Di antara monumen dan Monas terdapat sebuah relief pesan yang ditulis oleh Presiden Soeharto tentang memelihara lingkungan hidup.

DSCF8572 (1280x854)

Nah, sekarang kita balik lagi ke topik ngantre masuk ke Monas. Pintu loketnya berada di sisi utara, di antara patung Pangeran Diponegoro dan Monasnya sendiri. Karena lumayan jauh, pihak pengelola nyediain beberapa kereta wisata Monas yang beroperasi dari jam 8 pagi dan membawa penumpang secara gratis dari suatu titik di deket pintu masuk barat daya hingga ke deket loket. Kadang kalo jatah naik ke puncak Monas udah abis, pengunjung yang naik kereta ini akan dibawa mengitari Monas.

Walau baru jam 8an, ternyata udah lumayan banyak juga yang antre. Sebelnya, kalo mau beli tiket masuk kita juga mesti beli JakCard, semacam e-Money tapi keluaran Bank DKI, seharga 10 ribu rupiah. Karena udah punya e-Money, ngapain coba saya punya dua kartu yang fungsinya sama. Harga tiketnya sendiri dibagi menjadi kategori anak-anak atau pelajar, mahasiswa, dan umum. Tiket masuk ke Monas dibagi menjadi dua, tiket cawan dan tiket buat naik ke puncak. Tiket untuk pengunjung yang ingin naik hingga ke puncak dibatasi sebanyak 2000 orang di sinang hari dan 500 orang untuk malam hari. Pembelian tiket masuk kunjungan malam hari dimulai dari jam setengah 6 sore.

DSCF8385 (1280x853)

Dari loket, kita ngelewatin terowongan panjang menuju gate tap kartu untuk masuk ke area cawan. Dari gate ini lalu kita menaiki tangga ke area pelataran yang dikelilingi relief sejarah Indonesia. Terus, baru deh kita masuk ke aula gede yang disebut Museum Sejarah Nasional. Tapi liat-liatnya nanti aja, sekarang mendingan langsung antre mau naik lift ke puncak.

DSCF8397 (1280x854)

Nah, kalo datengnya pagi masih lumayan enak nih, yang ngantre belom terlalu banyak. Kalo udah siang, ngantrenya bisa panjang banget, konon bisa sampe dua jam lebih. Udah berasa di Dufan aja, tapi ga pake antrean VIP. Dan yang lebih kasiannya lagi, ga ada atapnya sehingga kalo terik pengunjung pasti kepanasan, kalo hujan ya udah pasti kebasahan. Jadi, ada baiknya kamu sedia topi atau payung, kipas tangan, dan mungkin juga sun block. Setelah antre sekitar 15 menit, saya ama Alda naik ke puncak melewati gate kedua. Ukuran liftnya kecil, cuma bisa memuat 8 orang pengunjung dengan durasi total naik turun plus loading unloading penumpang bisa mencapai 3 menit. Ga heran kan kalo ngantrenya lama banget?

DSCF8404 (1280x853)
Pintu barat laut, keliatan Istana Negara dan di sebelahnya ada gedung Mahkamah Agung
DSCF8403 (1280x853)
Pintu masuk ke area loket yang ada di utara Monas. Di sebelah gedung MA ada gedung Kemendagri.
DSCF8413 (1280x853)
Ini sudut timur lautnya Monas, dari kiri ke kanan ada komplek Mabes TNI AD, Masjid Istiqlal, dan gedung Pertamina
DSCF8406 (1280x853)
Di sisi tenggara Monas ada Stasiun Gambir yang terkenal sebagai stasiun kereta pusat
DSCF8409 (1280x853)
Ini sisi barat daya, keliatan gedung baru Perpustakaan Nasional, gedung Kementerian BUMN, dan komplek Bank Indonesia
DSCF8402 (1280x853)
Di sisi barat ada si kolam air mancur menari yang rusak, komplek Kemenhan, Museum Nasional, Kemenkominfo, Kemenhub, dan Mahkamah Konstitusi

Ngeliat pemandangan Jakarta dari Puncak Monas setelah antre dua jam mungkin bisa dibilang, “Udah? Gini doang?” Iya, banyak banget yang komentar kayak gini. Tapi itu lantaran ga sebanding dengan pengorbanan antrenya yang lama banget. Tapi terus kalo dipikir-pikir lagi, kan ga tiap hari juga bisa ngeliatin pemandangan Jakarta dari ketinggian? Apalagi di sekelilingnya banyak gedung-gedung yang terkenal. Di sini ada teropong yang bisa dipake secara gratis buat ngeliat pemandangan. Teropong ini dilengkapi juga dengan undakan buat anak-anak yang badannya masih pendek. Di bagian atas seluruh sisi terdapat foto gedung-gedung yang ada di sekitar Monas, entah buatan tahun berapa karena beberapa gedung baru ga keliatan di situ.

DSCF2974 (1280x853)

Turun dari puncak, kita diturunin di pelataran di atas cawan. Sementara pengunjung lain malah duduk ngampar dan membuka bekal makanan, kita malah narsisan, hehehe. Sedikit sejarah mengenai Monas, pembangunannya ga terlepas dari obsesi Soekarno membuat Jakarta setara dengan kota-kota besar di dunia yang memiliki monumen-monumen dan patung-patung. Pada tanggal 17 Agustus 1961, pembangunan monumen setinggi 132 meter yang didesain oleh Friedrich Silaban, arsitek yang juga mendesain Masjid Istiqlal, ini resmi dimulai dengan pemancangan pasak beton pertama oleh Soekarno. Bentuknya terinspirasi dari bentuk lingga dan yoni yang diusulkan oleh Soekarno sendiri. Puncaknya yang berwarna emas emang beneran berlapis emas dan menyimbolkan api yang tak kunjung padam. Sementara untuk bagian badannya dilapisi oleh marmer yang didatengin langsung dari Italia.

DSCF8422 (1280x854)

DSCF8427 (1280x855)

DSCF8428 (1280x854)

DSCF8430 (850x1280)

Turun dari pelataran cawan, saya ama Alda masuk ke Ruang Kemerdekaan. Ruang berbentuk amfiteater ini di ketiga sisinya memampangkan lambang negara, teks proklamasi, dan peta Indonesia. Kebanyakan pengunjung yang masuk ke sini untuk duduk-duduk santai dan banyak juga yang malah buka bekal makanan. Di satu sisi terdapat pintu besar berwarna hijau yang penuh dengan hiasan ulir bunga wijaya berwarna emas yang melambangkan keabadian. Semestinya setiap satu jam sekali pintu ini terbuka sehingga naskah asli proklamasi yang disimpan di baliknya bisa diliat pengunjung. Lagu Indonesia Raya mengalun dan rekaman pembacaan naskah proklamasi oleh Presiden Soekarno juga diputar. Tapi entah kenapa, udah ditungguin sampe setengah jam lebih tapi pintunya ga kebuka-buka. Pas saya tanyain petugas jaga, ternyata mekanisme yang saya sebutin tadi itu ga otomatis, jadi mungkin petugas yang bertanggung jawab lagi ga stand by di ruangannya. Payah.

DSCF8571 (1280x855)

Karena abis dari loket kita langsung ngantre naek ke puncak Monas, baru sekarang kita bisa ngeliat diorama-diorama yang ada di auladi bawah cawan. Di sini terdapat 51 diorama, 48 diorama ada di keempat sisi, sementara 3 diorama sisanya ada di tengah ruangan.

DSCF8548 (1280x854)
Candi Borobudur mewakili masa keemasan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha yang kemegahannya masih bisa kita nikmati hingga saat ini
DSCF8552 (1280x853)
Peristiwa Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada, Patih Majapahit yang bercita-cita untuk mempersatukan Nusantara
DSCF8468 (1280x854)
Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, mewakili diorama-diorama perlawanan terhadap penjajah yang masih bersifat kedaerahan.
DSCF8488 (1280x853)
Taman Siswa sebagai sebuah lembaga pendidikan yang menumbuhkan semangat nasionalisme didirikan oleh Ki Hajar Dewantara
DSCF8501 (1280x853)
Usaha menuju persatuan Indonesia diinisiasi melalui kongres Sumpah Pemuda
DSCF8508 (1280x855)
Kekosongan kekuasaan akibat kekalahan Jepang pada sekutu memberi kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemeredekaannya
DSCF8514 (1280x854)
Pertempuran Surabaya pada November 1945 terjadi antara pejuang kita melawan sekutu yang ditunggangi oleh Belanda
DSCF8534 (1280x853)
Usaha mengembalikan Papua ke pangkuan ibu pertiwi membuahkan hasil, penyerahannya dari Belanda ke Indonesia berlangsung pada tanggal 1 Mei 1963
DSCF8541 (1280x853)
Pasca peristiwa G 30 S PKI, Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang digunakan Soeharto untuk memulihkan keamanan nasional
DSCF8564 (1280x854)
Peristiwa Integrasi Timor Timur pada tahun 1976 menandai momen bergabungnya provinsi ke-27 di Indonesia ini, sebelum kembali berpisah pada tahun 1999
DSCF8567 (1280x854)
Peristiwa keberhasilan uji terbang perdana N-250 pada tanggal 10 Agustus 1995 diabadikan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Sayang, krisis moneter pada tahun 1998 menyebabkan industri dirgantara kita mangkrak.

Diorama-diorama di atas mewakili sejarah Indonesia mulai dari masa pra sejarah, masa kerajaan Hindu Budha, perang melawan penjajahan, perang mempertahankan kemerdekaan, serta peristiwa-peristiwa penting yang terjadi selama Presiden Soeharto menjabat. Diorama terakhir berhenti sampe tahun 1995 yang menggambarkan momen peresmian penerbangan perdana N-250.

DSCF8432 (1280x853)

Keluar dari museum, ada pelataran yang tadi cuma dilewatin doang. Tapi karena tadi jalan kita dipagerin, kayaknya pelataran ini emang cuma bisa diliat pas pulang sebelum keluar lagi lewat gate pertama. Tapi karena udah lumayan capek, waktu itu saya udah males mau ngeliatin relief-relief yang ada di sini. Yaa, isinya kira-kira sama aja kali ya kayak diorama-diorama di museum?

DSCF8603 (1280x854)

DSCF8601 (1280x853)

Sebelom pulang, saya emang udah ngerencanain buat makan siang di area Lenggang Jakarta yang menawarkan berbagai macam kuliner khas Indonesia. Pilihannya banyak banget, ada nasi timbel, soto Betawi, soto tangkar, nasi goreng, sate Madura, ayam Taliwang, mie bakso, pempek Palembang, dan masih banyak lagi. Saya ama Alda memilih untuk makan siang pake soto tangkar dan nasi goreng. Nasi gorengnya sih rasanya rada hambar kayak kurang bumbu, tapi kalo soto tangkarnya lumayan lah. Walaupun katanya mesti bayar pake e-Money, tapi untungnya penjual di sana mau nerima uang tunai.

DSCF8352 (1280x853)

Di sekeliling Lenggang Jakarta banyak lapak penjual cinderamata yang menjual berbagai macam pilihan buah tangan. Ada yang berkaitan sama Monas, ada juga yang ngga. Saya ga sempet nanya-nanya harga sih, tapi keliatannya mesti punya skill menawar yang bagus biar dapet harga yang pantas. Oiya, tempat shalat tersedia di sebelah selatan Lenggang Jakarta, ga terlalu besar sehingga penuh banget pas jam shalat baru masuk. Alternatif lainnya, mungkin kamu mau nyobain shalat di Masjid Fatahillah yang ada di Balai Kota.

Jam Buka Monas
Selasa-Minggu 08.00-22.00
Senin TUTUP

Jam Operasional Lift
Pagi 08.00-16.00
Malam 19.00-22.00

Tiket Masuk ke Pelataran Puncak
Dewasa IDR 5K+10K
Mahasiswa IDR 3K+5K
Pelajar IDR 2K+2K

 

Monumen Nasional
Gambir, Jakarta Pusat
Click for Google Maps

Iklan

2 pemikiran pada “Ngeliat Pemandangan dari Puncak Monas (Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s