Basoeki Abdullah, Berjuang Lewat Budaya (Jakarta)

Sepulang dari Museum Layang-Layang di Pondok Labu, saya melanjutkan lagi perjalanan ke tujuan berikutnya, Museum Basoeki Abdullah. Sengaja saya atur begitu karena lokasinya berdekatan, jarak antara keduanya bahkan ga sampe 3 km. Dan alasan kedua, sengaja saya sekalianin karena jarak keduanya dari kosan saya nyaris 20 km. Kan ogah banget kalo ngedatengin keduanya pada hari yang berbeda. Tul ngga?

DSCF8236 (1280x854)

Dari Jalan RS Fatmawati, saya berbelok ke Jalan Keuangan Raya, jalan di mana museum ini berada. Di mulut jalan juga ada plang cukup besar bertuliskan “Museum Basoeki Abdullah” yang dipasang oleh Dishub DKI. Nanti, sekitar 200 meter dari mulut jalan, di sebelah kiri terlihat patung sang maestro, Basoeki Abdullah, berukuran asli (badannya gede juga lho) yang didirikan di depan rumah dua tingkatnya yang kini difungsikan sebagai gedung museum. Di sebelah rumah ada gedung baru yang diresmikan tahun 2016 lalu sehingga bisa menampilkan lebih banyak lukisan pada khalayak umum.

Saya lalu membayar tiket masuk di loket yang berada di sebelah kanan dari pintu pada bangunan baru tadi. Karena dikelola oleh Kemendikbud, tiketnya murah banget, cuma 2 ribu untuk perseorangan dan seribu untuk rombongan. Di depan loket ada papan informasi yang dapat membuat pengunjung lebih mengenal figur Basoeki Abdullah lebih dekat.

DSCF8280 (1280x853)

DSCF8281 (1280x856)

DSCF8284 (1280x853)

Lantai satu menrupakan galeri lukisan potret para tokoh dunia mulai dari Bung Karno dan Bung Hatta, Presiden Soeharto, Raja Faisal (Arab Saudi), Presiden Ferdinand Marcos (Filipina), Perdana Menteri Lee Kuan Yew (Singapura), hingga Raja Bhumibol Adulyadej (Thailand). Untuk potret wanita cantik, ada lukisan Ratna Sari Dewi Soekarno (istri Bung Karno yang orang Jepang itu), Imelda Marcos (Filipina), hingga Ratu Sirikit (Thailand). Bahkan, sebagian lukisan potret pahlawan nasional yang kita kenal sejak duduk di bangku SD itu ada yang merupakan hasil lukisan beliau lho.

DSCF8287 (2560x1297)

DSCF8288 (2560x804)

Di lantai dua, dipajang lukisan-lukisan bertema keindahan alam. Basoeki Abdullah gemar melukis dan menceritakan keindahan alam Indonesia sebagai wujud dari rasa syukurnya kepada Tuhan sekaligus rasa cintanya akan Indonesia. Dalam berimajinasi sebagai pelukis, Basoeki Abdullah sangat dipengaruhi oleh perkembangan seni rupa barat yang telah dipelajarinya sejak muda dan digabungkan dengan ketertarikannya yang luar biasa pada cerita rakyat, wayang, legenda, dan mitologi. Selain itu, lukisan-lukisannya banyak mengisahkan saat-saat sedang melakukan perjalanan di luar negeri. Beliau memang pernah bermukim 20 tahun di Belanda, 17 tahun di Thailand sebagai pelukis istana (wow ya?), sebelum akhirnya diangkat menjadi pelukis istana oleh Soekarno. Sejak tahun 1974, ia kembali menetap di Jakarta, saat itu usianya telah mencapai 59 tahun.

DSCF8294 (853x1280)

DSCF8293 (853x1280)

Di samping luar ruang pamer di lantai dua, terdapat koleksi benda patung dan topeng yang diperoleh Basoeki Abdullah ke berbagai tempat. Koleksi patung mencapai 164 buah, tidak semuanya dipamerkan, yang terdiri dari berbagai jenis bahan seperti kayu, gading, logam, keramik, fiberglas, dan gips. Koleksi topeng mencapai 149 buah yang secara garis besar terbagi menjadi koleksi topeng untuk upacara, topeng legenda, topeng hiburan/banyolan, dan topeng untuk hiasan dinding. Di hadapan lemari pajang terdapat mural berukuran besar yang berisi potret diri Basoeki Abdullah, tokoh-tokoh yang pernah dilukisnya, serta kata-kata mutiara yang pernah diucapkannya.

DSCF8290 (1280x853)
Ruang Peraga dan Proses Berkarya Basoeki Abdullah

DSCF8241 (1280x854)

DSCF8246 (1280x855)

Lantai 3 merupakan ruang auditorium yang serba guna. Saat saya ke sana, ruangan ini sedang difungsikan sebagai ruang pamer bagi sepuluh lukisan pemenang Basoeki Abdullah Art Award 2. Perlombaan yang diadakan tahun 2016 ini mengangkat tema “Ekologi: Dari Ruang Maya ke Ruang Alam”.

DSCF8302 (1280x853)

DSCF8303 (1280x853)

DSCF8297 (1280x854)

Dari gedung baru museum, saya pun beranjak ke rumah Basoeki Abdullah yang merupakan ruang museum lama melalui lorong kecil di samping mural yang saya ceritain tadi. Walaupun masih terdapat beberapa lukisan beliau seperti lukisan-lukisannya yang berkaitan dengan kehidupan dan keindahan, koleksi yang dipamerkan di sini mulai terasa lebih personal, seperti koleksi busana penari wayang orang miliknya di atas. Karena hidup di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta, sejak kecil ia telah melihat dan berlatih menari.

DSCF8311 (1280x855)

Lalu ada pula sebuah ruangan kecil yang dinamai ruang keluarga Abdullah, di mana pengunjung dapat mengenal lebih dekat keluarganya, mulai dari kakeknya yang merupakan seorang tokoh pergerakan nasional, Dr. Wahidin Sudirohusodo, hingga kakak dan adiknya. Basoeki Abdullah memang terlahir di keluarga seniman karena ayahnya, Abdullah Suriosubroto, dan kakaknya, Sudjono Abdullah, merupakan pelukis juga. Bahkan adik perempuannya, Tridjoto Abdullah, merupakan pematung wanita pertama Indonesia.

DSCF8309 (1280x854)
Lukisan pemimpin negara-negara yang tergabung dalam Gerakan Non Blok. Lukisan ini dipesan secara pribadi oleh Presiden Soeharto.

DSCF8317 (1280x853)

Basoeki Abdullah turut mengoleksi benda-benda yang terkait dengan seni pertunjukan, seperti wayang kulit, wayang golek, dan mahkota wayang wong (wayang orang). Konon Basoeki Abdullah dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sering menari bersama. Ia pun kerap tampil dalam pertunjukan sendratari Ramayana di Jakarta dan Eropa sebagai Hanoman dan Rahwana.

DSCF8255 (1280x854)

DSCF8257 (1280x855)

DSCF8260 (1280x855)

Turun ke lantai satu, pengunjung masih disuguhi oleh koleksi pribadi milih Basoeki Abdullah. Senjata api mainan dan senapan angin merupakan benda yang sangat disukainya. Selain itu, ada koleksi memorabilia penghargaan yang pernah beliau terima sepanjang hidupnya. Dan beliau pun ternyata sangat religius karena mengoleksi berbagai bentuk rosario, yaitu semacam tasbihnya penganut Katolik. Ya, walaupun namanya Abdullah, saya baru tau kalo beliau ini beragama Katolik walaupun kedua orang tuanya muslim. Konon beliau berpindah agama saat berumur 18 tahun setelah sebelumnya sembuh secara ajaib dari penyakit tifus yang nyaris merenggut nyawanya karena menggambar sosok Yesus Kristus.

DSCF8251 (854x1280)

Religiusitas beliau pun semakin terasa di ruang tidurnya, tempat di mana ia wafat. Di sini banyak terdapat koleksi patung Yesus Kristus dan Bunda Maria, keramik-keramik, alkitab, serta tempat duduk dan meja berdoa. Namun di kamar ini pula, terjadi sebuah peristiwa tragis dan mengenaskan. Pada suatu malam tanggal 5 November 1993, seorang pencuri masuk ke kamarnya dengan niat mencuri koleksi arlojinya. Sang pencuri yang terpergok kemudian mengambil senapan angin yang berada di lemari dan menghantamkannya ke kepala sang pelukis hingga wafat.

DSCF8321 (1280x853)

Sebagian koleksi arloji, pakaian dan kacamata yang digunakan saat wafat, serta senapan angin yang digunakan untuk memukul turut dipamerkan. Saking kerasnya hantaman si pencuri, popor senapan angin yang terbuat dari kayu keras itu terlihat retak. Beliau kemudian dimakamkan di pemakam keluarga di Mlati, Sleman. Lebih kurang seminggu kemudian si pencuri berhasil ditangkap, namun sayang sebagian besar koleksi arloji sudah terlanjur dijual. Ternyata dalam melakukan aksinya, si pencuri bekerja sama dengan penunggu rumah.

DSCF8269 (1280x855)
Koleksi busana dan perlengkapan pribadi, menggambarkan gaya hidup dan selera berpakaian Basoeki Abdullah
DSCF8268 (1280x854)
Katalog pameran dan buku tentang Basoeki Abdullah
DSCF8267 (854x1280)
Lukisan repro Ratu Yuliana

Sebagai seorang pelukis, beliau tidak melupakan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Pada tahun 1948 beliau memenangkan sayembara lukisan dalam rangka penobatan Ratu Yuliana, menyingkirkan 87 pelukis Eropa lainnya. Sejak saat itu, orang pun jadi mulai mengenal negara muda bernama Indonesia, tempat di mana Basoeki Abdullah berasal. Selama tinggal di Eropa, beliau banyak melakukan perjalanan ke Italia dan Perancis yang turut memperkaya wawasannya sebagai seorang seniman.

DSCF8265 (1280x854)

Ruang terakhir yang ada di museum ini adalah ruang tamu yang memamerkan potret diri dan istri-istri beliau (kemungkinan besar repro). Semasa hidupnya, beliau memiliki empat orang istri, seorang gadis Belanda bernama Josephine yang dinikahinya di Den Haag pada tahun 1937, seorang penyanyi seriosa bernama Maria Maya pada tahun 1944, menikahi seorang wanita Thailand bernama Somwang Noi pada tahun 1958, yang keseluruhannya bercerai sebelum menikah lagi. Beliau menikahi seorang mantan runner up Miss Thailand bernama Nataya Nareerat pada tahun 1963 dan terus bersama hingga akhir hidupnya.

Jam Buka
Selasa-Jumat 09.00-16.00
Sabtu-Minggu 09.00-15.00
Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
Dewasa IDR 2K
Anak-Anak IDR 1K
Turis Asing IDR 10K

 

Museum Basoeki Abdullah
http://museumbasoekiabdullah.or.id/

Jalan Keuangan Raya No. 19, Cilandak, Jakarta Selatan
Click for Google Maps

Iklan

Satu pemikiran pada “Basoeki Abdullah, Berjuang Lewat Budaya (Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s