Meneropong Sejarah Bahari Bangsa di Museum Kebaharian (Jakarta)

Mungkin udah bisa kamu tebak dari namanya, museum ini menyimpan koleksi-koleksi yang berhubungan dengan dunia kemaritiman. Walaupun menyandang nama Jakarta pada namanya, Museum Kebaharian Jakarta ga cuma menyimpan koleksi yang berasal dari Batavia namun juga dari seluruh Indonesia. Abis makan di Soto Betawi H. Umar Idris di Slipi, saya terus naik Gojek ke sini. Karena berada di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, kamu bisa juga menandemkan jalan-jalan ke sini dengan jalan-jalan serba museum di Kota Tua seperti Museum Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, dan Museum Keramik dan Seni Rupa. Dengan berjalan kaki, jarak dari Taman Fatahillah ke sini hanya sekitar 1.2 km sembari melewati situs Jembatan Kota Intan yang terkenal itu. Terakhir pas lewat kemaren, sepertinya ada pengerjaan revitalisasi sungai yang semoga kalo udah beres akan membuat sungai dan jembatannya keliatan lebih cantik.

DSCF7837 (856x1280)

DSCF7840 (1280x854)

Dari tepi Jalan Pakin terlihat sebuah menara yang pada masanya digunakan sebagai pos pabean dan pemantauan kegiatan di Pelabuhan Sunda Kelapa. Di puncak menara syahbandar yang dibangun pada tahun 1839 ini terdapat jendela di empat sisi untuk mempermudah pengawasan ke segala penjuru. Pada masanya, menara syahbandar pernah menjadi bangunan tertinggi di Batavia. Karena menjadi bagian dari sistem pertahanan Batavia, menara ini dilengkapi dengan beberapa meriam kecil serta lorong bawah tanah menuju Stadhuis (balaikota) yang sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta.

DSCF7852 (1280x854)

Walau masih satu bagian dan pengelolaan, Menara Syahbandar dipisahkan jalan dengan gedung utama museum. Pengunjung yang membawa mobil lebih baik parkir di sini. Pas saya mau masuk, seorang petugas keamanan mengatakan bahwa loket pembelian tiket ada di museum. Untungnya dia berbaik hati membolehkan saya berkunjung ke sini dulu dengan karena saya beralasan supaya tidak bolak-balik. Saya lalu memulai penjelajahan saya di sini. Ada beberapa bangunan, dari arah pintu masuk, saya menaiki beberapa anak tangga. Di kiri ada sebuah rumah satu tingkat, di sebelah menara syahbandar ada bangunan dua tingkat yang digunakan untuk menyimpan koleksi lukisan, peta kuno, sekstan, lampu navigasi kapal, batu duga, dan teropong. Di belakangnya lagi ada bangunan mushola kecil yang terbuat dari kayu.

DSCF7843 (1280x854)

PANO_20170402_140637 (2560x1146)

Saya lalu naik ke pos yang berada di tingkat ketiga menara syahbandar yang ternyata sudah dipadati pengunjung yang sedang menikmati pemandangan dan angin gelebuk. Dari foto panorama ini terlihat bangunan utama museum di sebelah kiri dan stasiun pompa pasar ikan di sebelah kanan. Sungai yang tampak di sebelah kanan mengalir ke bagian tengah itu adalah Sungai Ciliwung. Tidak jauh dari museum, walau ga keliatan dari foto panorama ini, ada perkampungan warga di sekitar Pasar Ikan yang digusur paksa dan telah rata dengan tanah.

DSCF7884 (1280x855)

DSCF7885 (1280x855)

Puas melihat-lihat pemandangan, saya lalu turun dan beranjak ke gedung utama museum. Di lobby, saya membeli tiket untuk pengunjung dewasa (umum) seharga 5 ribu rupiah. Ga ada tiket khusus ke menara karena tiket ini sebenernya udah berlaku juga untuk ke sana. Bangunan utama museum terbagi atas tiga gedung. Di lantai satu gedung depan, saya lebih suka menyebutnya gedung utama, ada ruang awal perkembangan pelayaran nusantara, lalu ruang era pelayaran nusantara (abad 7-15 masehi), ruang teknologi pembuatan kapal, dan ruang matra angkatan laut.

DSCF7900 (1280x855)

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, bangunan ini berfungsi sebagaui gudang untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah yang merupakan komoditas yang sangat laris di pasaran Eropa. Pada masa perang dunia kedua, gudang ini digunakan untuk menyimpan logistik tentara Jepang. Pasca kemerdekaan, fungsinya berubah lagi menjadi gudang peralatan Perumtel (sekarang Telkom) dan Perum Pos dan Giro (sekarang Pos Indonesia) hingga akhirnya akhirnya cagar budaya ini diresmikan sebagai museum pada tahun 1977.

DSCF7892 (1280x854)
Cagar budaya yang bercampur aduk masanya, sebagian udah ga ada lagi

DSCF7918 (1280x855)

Ruangan pertama dan kedua lebih banyak diisi oleh panel-panel informasi dwi bahasa, Indonesia dan Inggris tentunya, yang memaparkan sejarah pelayaran nusantara dari dulu hingga sekarang. Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi pelabuhan teramai yang menjual komoditas dengan kualitas terbaik dari berbagai daerah di nusantara dan mancanegara. tentu hal ini pulalah yang membuatnya begitu strategis untuk dikuasai sehingga pada tahun 1619, Jayakarta direbut oleh VOC dan diganti namanya menjadi Batavia. Dari tahun 1877 hingga tahun 1920, Tanjung Priok mulai dikembangkan sebagai pelabuhan baru yang dapat memenuhi syarat-syarat pelabuhan modern di mana kegiatan bongkar muat kapal berbadan besar dapat berlangsung. Pasca kemerdekaan, pembangunan terus berlanjut dengan pembangunan kolam-kolam baru dan didukung oleh manajemen yang modern.

DSCF7962 (1280x854)

Ruang ketiga menyimpan koleksi kapal-kapal tradisional yang berasal dari berbagai daerah di nusantara dilengkapi dengan papan informasinya. Ada yang berasal dari Padang, Jambi, Palembang, Kalimantan, Bali, Cirebon, Madura, Pangandaran, Bugis, Papua, semuanya dengan bentuk dan ciri khasnya masing-masing. Sejarah perahu dari masa prasejarah, masa kerajaan Hindu Buddha, serta masa kerajaan Islam, serta cara teknologi pembuatannya secara tradisional turut dipaparkan pula di ruangan ini.

DSCF7969 (1280x854)

Di bagian paling ujung terdapat ruangan yang ga terlalu seru. Ruangan ini hanya menyimpan model-model kapal yang saya duga disumbangkan oleh TNI Angkatan Laut. Panel-panelnya pun hanya berisi doktrin-doktrin dan TNI pada umumnya dan TNI AL pada khususnya seperti Tugas Pokok TNI AL, Delapan Wajib TNI, Sapta Marga, Trisila TNI AL, dan Sumpah Prajurit. Di sisi dinding lain terdapat foto-foto para pemimpin TNI AL dari masa ke masa dan juga lima figur pahlawan nasional yang berasal dari TNI AL.

DSCF7978 (1280x853)

Dari ruang matra angkatan laut, ada tangga menuju ke lantai dua. Tapi sayangnya alurnya ga tepat kalo di sini. Lebih tepat kalo mulainya dari lobby tempat beli tiket tadi, terus naik ke lantai dua. Kalo masuknya dari, urutannya bakal lebih tepat, mulai dari berbagai bangsa yang singgah ke Sunda Kelapa, penjelajah asing yang pernah singgah di Batavia, ruang legenda masyarakat bahari nusantara, dan di paling ujung (di atas ruang matra angkatan laut) ada ruang legenda masyarakat bahari. Enaknya di sini, karena ruangannya tertutup, di sini ada AC-nya. Lumayan deh buat nyejukin badan.

DSCF7985 (1280x853)
Rempah-rempah yang dipamerkan ini beneran lho, aromanya semerbak!
DSCF7988 (1280x853)
Diorama kedatangan bangsa Portugis ke Banten

Di semua ruangan ini terdapat manekin-manekin yang dipakaikan kostum sesuai tema ruangan. Pada ruangan penjelajah asing yang pernah singgah ke Sunda Kelapa, terdapat diorama-diorama yang menggambarkan tentang kedatangan bangsa Arab, bangsa Cina, bangsa Portugis, bangsa Belanda, bangsa Inggris, dan yang terakhir bangsa Jepang. Pada setiap diorama terdapat sebuah buku yang berisi penjelasan mengenai masing-masing diorama. Tulisannya terlalu banyak sehingga saya ga yakin pengunjung ada yang baca seluruhnya. Mestinya sih penjelasannya dibuat lebih ringkas dan ditulis di dinding sehingga lebih terlihat.

DSCF8001 (855x1280)
Laksama Cheng Ho, tidak hanya singgah ke nusantara tapi juga hingga ke Afrika
DSCF8008 (1280x853)
Pangeran Fatahillah, dikenal sebagai tokoh yang berhasil mengusir bangsa Portugis dari Sunda Kelapa dan mengganti namanya menjadi Jayakarta

Ruang berikutnya menampilkan manekin-manekin para penjelajah asing yang pernah datang ke Batavia. Ada penjelajah yang berasal dari Italia, Marco Polo; penjelajah dari Arab, Ibnu Battuta; penjelajah dari Cina, Admiral Cheng Ho; kartografer Belanda, Jan Huygen van Linchosten; serta penakluk dari Portugis, Vasco da Gama dan Ferdinand Magellan. Ada juga manekin admiral laut wanita pertama di dunia, Laksama Keumalahayati.

DSCF8016 (1280x855)

DSCF8021 (1280x855)

DSCF8035 (1280x854)

Dua ruangan terakhir menampilkan karakter-karakter yang berkaitan dengan legenda bahari Indonesia dan dunia. Ngeliat manekin-manekin ini membuat saya jadi teringat buku kisah cerita rakyat terbitan Grasindo. Masih terbit ga ya? Dari legenda nusantara ada tokoh Nyi Roro Kidul, Bima dan Dewa Ruci, Malin Kundang, Putri Mandalika, Tuan Tapa dan Putri Naga, Pesut Mahakam, sementara dari legenda dunia ada Dewa Poseidon, Putri Duyung, prajurit Viking, Dewa Baruna, Putri Mazu, dan Davy Jones. Hmm, perasaan Davy Jones itu karakter fiktif yang ada di seri film Pirates of the Caribbean deh.

DSCF8041 (1280x853)
Maket Kastil Batavia
DSCF8045 (1280x855)
Maket Pulau Onrust

Dari tengah lantai dua gedung di depan, ada jembatan ke lantai dua gedung yang ada di belakang. Ke sebelah kanan, kalo menurut peta denah tadi sih mestinya ruang pengenalan kebaharian dan area bermain. Entah apa maksudnya area bermain, soalnya di sini ga ada serodotan atau ayunan, melainkan lebih mirip gudang di mana koleksi yang sedikit berdebu masih tertata rapi dan memiliki papan nama. Dua koleksi yang menarik buat saya adalah maket Kastil Batavia dan maket Pulau Onrust.

DSCF8047 (1280x853)

DSCF8061 (1280x853)

Di sebelah kiri, ada ruangan gudang yang disulap menjadi ruang yang memamerkan kisah Pertempuran Laut Jawa. Menarik juga melihat koleksi-koleksi baru ini mengingat pertempuran yang terjadi antara pihak sekutu yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Australia (ABDACOM) melawan angkatan laut kekaisaran Jepang ini nyaris ga pernah disebutin di buku-buku sejarah sekolah kita. Pertempuran itu sendiri berlangsung dari tanggal 27 Februari hingga 1 Maret 1942 dan diakhiri dengan kemenangan telak di pihak Jepang. Sebanyak lima dari empat belas kapal sekutu berhasil ditenggelamkan dan hingga kini berada di dasar Laut Jawa. Entah sampai kapan koleksi ini akan dipamerkan di sini, jadi kalo kamu penasaran mendingan buruan ke sini deh.

DSCF8094 (1280x853)

Turun ke lantai satu, lagi-lagi ada koleksi museum versi disimpan sayang yang hanya dibariskan saja di ruangan yang memanjang ini. Ada koleksi pelampung, gardan lampu suar, lampu suar kristal, rumah kompas, dan miniatur kapal. Di sisi jauh ruangan, ada peta Indonesia yang dibubuhi informasi mengenai kekayaan dan keanekaragaman hayati lautnya.

DSCF8106 (1280x853)

Di sisi satunya lagi, di bawah ruang pameran Pertempuran Laut Jawa tadi, ada ruangan yang berisi koleksi perahu tradisional tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias dalam ukuran asli, bukan miniatur! Interior ruangannya dibiarkan tidak terawat sehingga menimbulkan kesan jadul yang kuat. Batu bata yang dibiarkan terlihat karena plesternya rontok dan dinding yang terlihat coklat karena bekas alur air atau berjamur.

DSCF8117 (1280x855)

Rasanya ga lengkap kalo saya ga selfie di sini, apalagi udah menyengaja bawa gorillapod. Gedung Museum Kebaharian Jakarta emang terlihat cantik dan antik. Mungkin kamu akan melihat beberapa sudut bangunannya dalam foto-foto pre wedding, video klip, atau bahkan film. Siapa tahu, soalnya waktu saya ke sini terlihat banyak kru film yang sedang menyiapkan set syuting.

Jam Buka
Selasa-Minggu 09.00-15.00
Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
Dewasa IDR 5K
Mahasiswa IDR 3K
Pelajar IDR 2K

 

Museum Kebaharian Jakarta
Jalan Pasar Ikan No. 1, Penjaringan, Jakarta Utara
Click for Google Maps

Iklan

Satu pemikiran pada “Meneropong Sejarah Bahari Bangsa di Museum Kebaharian (Jakarta)

  1. keren, indonesia memang negara bahari..
    apapun berhubungan dengan kelautan..
    makanya menteri susi sadis klo ada negara lain yang ingin merebutkan kekayaan laut..
    keindahan museumnya bahwa laut sangat potensi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s