Seri Pahlawan Revolusi : Monumen Pancasila Sakti (Jakarta)

Dalam seri blog Pahlawan Revolusi, situs yang kini menjadi Monumen Pancasila Sakti ini menandai akhir tragis dari kisah penculikan para perwira TNI pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965 yang dilakukan oleh para tentara simpatisan Partai Komunis Indonesia. Pada prosesnya, usaha penculikan ini menyebabkan penjaga rumah J. Leimena yang tinggal di sebelah rumah Jenderal A.H. Nasution, Karel Satsuit Tubun, tewas. Selain itu di Jogja juga terjadi pembunuhan terhadap dua orang perwira TNI di daerah Kentungan, Kaliurang. Di lokasi tersebut kemudian dibangun Monumen Pahlawan Pancasila. Kesepuluh orang yang menjadi korban tersebut kemudian dinobatkan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia.

DSCF5636 (1280x855)

Monumen Pancasila Sakti berada di daerah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, lumayan jauh dari kosan saya di Percetakan Negara. Di depan pintu gerbang yang berwarna hitam kelam, terdapat komplek Angkatan Udara dan Bandara Halim Perdana Kusuma, waktu itu masih merupakan satu-satunya bandara di Jakarta sehingga memegang peranan strategis. Pada masa itu, TNI AU sendiri dicurigai memiliki banyak simpatisan PKI sehingga daerah di sekitarnya dijadikan tempat pelatihan militer anggota PKI.

DSCF5640 (1280x853)

Belum apa-apa, pengalaman tidak menyenangkan sudah saya terima di sini. Di loket masuk, selain tiket masuk seharga 4 ribu dan tiket motor seharga 2 ribu, pengunjung mesti membeli juga stiker museum yang kalo bisa sih saya ga mau beli, buat apa? Belum lagi ternyata pas masuk ke dalam, area parkirnya dikelola oleh pihak “rekanan” sehingga saya mesti membayar pungli yang disamarkan jadi duit keamanan parkir sehingga saya dua kali membayar parkir.

DSCF5647 (1280x854)

Dari pintu gerbang hingga ke area museum dan pintu masuk monumen, kita mesti melalui jalan yang cukup panjang. Makanya kalo mau ke sini naik kendaraan umum, lumayan juga sih kalo mesti jalan dari loket sampe ujung. Karena panjang dan bukan jalan raya, sehingga sepi, di luar jam kunjung museum jalan ini dipake jogging oleh masyarakat sekitar. Di ujung jalan juga yang pas buat nongkrong abis jogging.

DSCF5642 (1280x855)

DSCF7578 (1280x853)

DSCF7746 (1280x853)

Dari parkiran, saya langsung menuju area monumen. Maket di atas menggambarkan situasi Lubang Buaya pada tahun 1965 dan sekarang. Setidaknya ada empat lokasi penting yang kini diabadikan, yaitu sumur maut (1) tempat mengubur jasad para perwira yang diculik yang sering dengan salah kaprah kita sebut sebagai Lubang Buaya, lalu rumah penyiksaan (2), pos komando (3), dan dapur umum (4). Saat ini area tersebut dikelilingi oleh tembok kecil yang jika dilihat dari langit berbentuk segi lima, tentunya menyimbolkan lima butir Pancasila.

DSCF7535 (1280x432)

DSCF7542 (2560x975)

Serambi di depan rumah penyiksaan ini dikelilingi dinding berkaca di mana pengunjung bisa melihat diorama penyiksaan para korban penculikan. Kalo kamu ngeliat filmnya, kamu pasti bakal bergidik ngeri plus ngilu melihat penyiksaan demi penyiksaan yang mesti mereka alami. Diorama ini sendiri dibuat berdasarkan hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para pelaku penyiksaan. Konon menurut hasil otopsi, tidak ditemukan tanda-tanda penyiksaan pada jenazah sehingga rekonstruksi ini bisa jadi hanya propaganda yang sengaja dibuat untuk membangun kebencian yang teramat sangat terhadap PKI.

DSCF7565 (1280x853)

DSCF7564 (1280x853)

Di samping rumah penyiksaan terdapat sebuah rumah lainnya yang digunakan sebagai pos komando bagi pasukan yang bertugas menculik para perwira TNI. Tidak jauh dari situ, sebuah rumah lagi digunakan sebagai dapur umum.

DSCF7558 (1280x853)

DSCF7554 (1280x853)

Dilingkupi atap yang puncaknya dipasangi lambang TNI AD, karena memang seluruh perwira yang menjadi korban berasal dari TNI AD, adalah sebuah sumur tua kecil sedalam 12 meter dengan diameternya hanya 75 cm. Ketujuh jenazah perwira TNI yang dibunuh setelah mengalami penyiksaan kemudian dikuburkan di dalam sumur ini. Agar tidak tampak mencurigakan, di atas sumur kemudian diserakkan daun-daun, sampah, dan batang pohon pisang. Namun demikian, hanya berselang dua hari, yaitu pada tanggal 3 Oktober 1965, sumur ini berhasil ditemukan oleh RPKAD dengan bantuan kesaksian Agen Polisi II bernama Sukitman.

DSCF7552 (1280x854)

DSCF7563 (1280x410)

Di belakang sumur terdapat plaza berubin hitam dan Monumen Pancasila Sakti, dinamai demikian untuk menyiratkan bahwa ideologi Pancasila tidak tergantikan oleh ideologi komunis yang dibawa oleh PKI. Patung Garuda Pancasila yang sayapnya terbuka lebar seakan menaungi ketujuh jenderal yang menjadi korban, dari kiri ke kanan yaitu patung Brigjen Soetojo Siswomihardjo, Brigjen Donald Isaac Pandjaitan, Mayjen R. Soeprapto, Jenderal Ahmad Yani, Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono, Brigjen Siswondo Parman, dan Lettu Pierre Andreas Tendean. Seluruh kepangkatan dinaikkan satu tingkat dari saat hidupnya secara anumerta.

DSCF7569 (1280x853)

DSCF7573 (1280x853)

DSCF7575 (1280x854)

DSCF7811 (1280x854)

Di beberapa lokasi terpisah, terdapat empat buah koleksi kendaraan, terdiri dari satu truk, dua mobil dinas, dan satu panser. Truk (replika) berwarna biru muda merk Dodge 500 ini yang digunakan untuk membawa jenazah Brigjen D.I. Pandjaitan. Sedan GM Old Mobile 98 merupakan mobil kedinasan Letjen Ahmad Yani dan mulai dipamerkan di sini sejak tahun 1989. Di sebelahnya ada mobil jip dinas Toyota Land Cruiser yang pernah digunakan oleh Pangkostrad Soeharto pada saat kejadian. Di lokasi yang agak jauh, adalah sebuah panser tipe PCMK-2 Saraceen yang pernah digunakan untuk membawa jenazah Letjen M.T. Haryono bersama keenam jenazah lainnya ke Taman Makan Pahlawan Kalibata.

DSCF7571 (2560x628)

DSCF5657 (1280x847)

Selain monumen, di komplek ini pun turut dilengkapi dengan tiga buah gedung museum yang memaparkan informasi-informasi seputar PKI serta malam penculikan dan benda-benda peninggalan para perwira. Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) memiliki 34 diorama yang mengisahkan sepak terjang PKI di tanah air dari tahun 1945 hingga tahun 1974. Di sebelah pintu masuk museum terdapat toko souvenir yang menjual gantungan kunci, kaos, stiker, buku panduan, juga minuman dingin buat mereka yang haus abis jalan-jalan dari monumen. Tidak seperti monumen yang dibuka hingga jam 6 sore, museum hanya dibuka hingga jam 4 sore.

DSCF7610 (1280x853)

DSCF7635 (1280x853)

DSCF7643 (1280x854)

Dari diorama Pemberontakan Tiga Daerah di Brebes, Tegal, dan Pemalang pada tahun 1945 hingga Peristiwa Tanjung Morawa pada bulan Maret 1953, menggambarkan tindak-tanduk dan pemberontakan yang didalangi oleh PKI dalam rangka merebut pemerintahan yang sah. Salah satu peristiwa yang terkenal mungkin Pemberontakan PKI di Madiun pada tanggal 18 September 1948 yang melalui pemimpinnya yang bernama Muso mendeklarasikan berdirinya Sovyet Republik Indonesia. Muso yang kemudian kabur akhirnya tertembak mati karena melakukan perlawanan saat pasukan TNI akan menangkapnya di Ponorogo sebulan kemudian. Menjelang tahun 1965, PKI yang terbukti sudah berusaha melakukan usaha-usaha pemberontakan masih bisa bebas beraktivitas dan melancarkan kampanye-kampanyenya.

DSCF7681 (1280x853)

Pasca peristiwa usaha kudeta melalui pemberontakan G30S yang gagal, merupakan masa-masa yang genting sekaligus kelam. Dorongan untuk membubarkan PKI semakin menguat hingga akhirnya pada tanggal 12 Maret 1966, PKI dinyatakan sebagai organisasi terlarang (begitu pula komunis juga dinyatakan sebagai paham terlarang) oleh Letjen Soeharto yang disambut gembira oleh rakyat di Jakarta dan seluruh Indonesia. Beberapa operasi militer dilaksanakan untuk menumpas gerakan-gerakan yang masih tersisa dari basis-basis PKI di berbagai daerah.

Omong-omong, saya ingin sedikit mengingatkan bahwa sebagian kisah pada diorama-diorama tersebut mungkin terlalu dilebihkan atau mengandung detail yang kurang tepat mengingat pada masa Orde Baru propaganda anti komunis dan PKI dibuat sedemikian rupa agar rakyat membenci mereka. Pada ujungnya hal ini justru berbalik menjadi pembersihan terhadap orang-orang yang dicap PKI yang dilakukan baik oleh pihak militer dan rakyat. Mereka yang beruntung masih hidup, disulitkan kehidupannya, tidak memiliki hak pilih pada Pemilu, tidak bisa melamar menjadi pegawai negeri sipil, dan masih banyak lagi stigma yang dilekatkan pada mereka. Masa-masa itu merupakan salah satu titik moral terendah yang pernah dialami bangsa kita.

DSCF7697 (1280x855)

DSCF7713 (1280x855)

DSCF7727 (1280x853)

DSCF7725 (1280x853)

Museum Paseban yang berada di samping Museum Pengkhianatan PKI (Komunis) memiliki 16 diorama yang melengkapi detail peristiwa seputar Gerakan 30 September. Diorama dimulai dari rapat persiapan pemberontakan yang dilakukan oleh Biro Khusus PKI, didukung oleh pelatihan pasukan sukarelawan PKI di berbagai daerah. Diorama-diorama lainnya menggambarkan rekonstruksi peristiwa penculikan ketujuh perwira TNI. Letjen Ahmad Yani, Mayjen M.T. Haryono, dan Brigjen D.I. Pandjaitan tewas saat akan diculik, sementara keempat perwira lainnya berhasil dibawa.

DSCF7702 (1280x853)

DSCF7707 (1280x853)

Kedua diorama di atas menggambarkan suasana saat jenazah para perwira dimasukkan ke dalam sumur maut dan suasana saat proses pengangkatan jenazah pada tanggal 4 Oktober 1945. Proses pengangkatan jenazah melibatkan pasukan RPKAD dan Pasukan Amfibi dari KKO TNI AL dan dipimpin oleh Mayjen Soeharto. Pasuan pengangkat jenazah mesti menggunakan perlengkapan selam karena kondisi sumur yang cukup dalam dan ditambah lagi dengan kondisi jenazah yang mulai membusuk dan mengeluarkan bau busuk yang menyengat.

DSCF7744 (1280x855)

DSCF7793 (1280x853)

Di belakang Museum Paseban, terdapat sebuah gedung yang lebih tua. Gedung ini memiliki ruang teater yang memutar film pemberontakan G30S-PKI, ruang benda bersejarah milik para Pahlawan Revolusi plus Ade Irma Suryani yang tertembak saat usaha penculikan Jenderal A.H. Nasution, ruang dokumentasi dan perpustakaan, serta ruang pameran foto dokumenter. Benda-benda bersejarah yang dipamerkan di sini, selain benda-benda yang digunakan semasa hidup, juga dipamerkan pakaian-pakaian dengan bercak-bercak daerah yang digunakan mereka pada saat terbunuh.

 

Jam Buka
Selasa-Minggu 09.00-16.00
Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk++
Dewasa IDR 4K
Anak-Anak IDR 2.5K
Motor IDR 2K
Stiker IDR 4K

 

Monumen Pancasila Sakti
https://sejarah-tni.mil.id/2017/03/18/monumen-pancasila-sakti/
Jalan Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur
Click for Google Maps

Iklan

Satu pemikiran pada “Seri Pahlawan Revolusi : Monumen Pancasila Sakti (Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s