Balaikota Bandung yang Bikin Hati Jadi Teduh (Bandung)

Karena udah yakin seyakin-yakinnya kalo Balaikota Bandung bakalan rame kalo saya berkunjung di hari Minggu pagi, maka saya pun berstrategi untuk berkunjung ke sini di hari Senin pagi. Kebetulan waktu itu hari kejepit nasional dan saya mengambil cuti. Sejak beberapa tahun lalu dibenahi oleh Ridwan Kamil, Balaikota Bandung kini semakin banyak pengunjungnya. Ga cuma dari seantero Bandung tapi juga wisatawan dari luar kota. Menurut saya sih ini tren yang bagus, semakin banyak ruang terbuka hijau membuat interaksi warga dengan alam jadi lebih banyak. Bandingkan dengan jalan-jalan yang melulu hanya ke mal. Mendingan ke Balaikota yang sekarang ada banyak tamannya. Murah meriah karena masuk ke sini ga perlu bayar, cuma perlu niat!

IMG_20170327_111513 (1280x855)

Saya memarkirkan mobil di lahan parkir yang ada di sebelah selatan, berhadapan dengan gedung Bank Indonesia. Dulu sih saya biasanya memarkirkan mobil di lahan parkir yang masuknya dari Jalan Wastukencana, mungkin nantinya lahan parkir di sini akan dikhususkan bagi pengunjung dan yang di sana khusus untuk karyawan. Ga jauh dari tempat parkir, saya disambut oleh Patung dada Dewi Sartika yang dulu alasnya berbentuk kotak sekarang diganti jadi setengah kerucut. Saat peresmiannya pada tahun 1996, taman Balaikota yang saat itu bernama Taman Merdeka diubah namanya menjadi Taman Dewi Sartika. Dewi Sartika sendiri adalah pahlawan nasional yang merintis pendidikan untuk kaum wanita di Bandung.

IMG_20170327_111413 (1280x854)

Taman di Balaikota memiliki sejarah yang cukup panjang. Taman pertama di Bandung yang dibuat pada tahun 1885 ini awalnya dinamakan Pieterspark, untuk mengenang jasa Pieter Sijthoff, asisten residen Priangan yang berjasa besar bagi perkembangan kota Bandung. Di tengah taman lalu dibangun gazebo segi enam yang disebut babancong untuk berteduh dari teriknya matahari. Masyarakat pribumi menyebut Pieterspark sebagai Kebon Radja karena di seberang taman terdapat sekolah untuk kaum bangsawan yang oleh masyarakat pribumi dijuluki Sekolah Radja.

DSCF7422 (1280x853)

DSCF7424 (1280x853)

Sejak akhir tahun 2015 di sisi Jalan Merdeka yang sejajar dengan anak Sungai Cikapayang ada taman yang dilengkapi dengan tanaman berwarna-warni, bangku taman, parkir khusus sepeda, dan yang paling saya suka adalah deretan batu-batu besar dan pipih yang keliatan kayak batu megalitikum beneran. Duduk di sini pun rasanya enak banget karena ada banyak pohon-pohon berukuran gede yang membuat suasananya jadi super rindang.  Ga jauh dari situ, di samping Bank Indonesia ada taman kecil yang dulu sempet ngetren sampe jadi tempat nongkorng segala, Taman Vanda namanya.

DSCF7433 (1280x853)

Sementara orang tuanya duduk, anak-anaknya bisa main di sungai yang arusnya pelan. Ga takut kotor? Tenang aja, karena sekarang di bagian atas anak sungai udah dipasang instalasi penyaringan air sehingga airnya menjadi bersih. Tapi bukan dalam artian bisa diminum lho ya. Ga takut hanyut? Udah dibuat jadi dangkal kok, ga lebih dari setinggi lutut. Seorang temen saya bisa bercerita begitu panjang soal keasikannya berinteraksi ama anak-anak SD yang sampe cebur-ceburan di sini.

DSCF7439 (1280x855)

Ga jauh dari situ, ada fasilitas olahraga ala tempat fitness yang bisa digunakan oleh masyarakat. Masih baru nih. Tapi saya ga yakin ada yang pake dengan serius, misal sampe setengah jam berolahraga di sini. Ntar bisa dilempar botol minuman mineral gara-gara makenya lama banget.

IMG_20170327_104044 (1280x854)

Di sini pengunjung bisa memasang gembok cinta yang udah ditulisi inisial nama masing-masing. Ceritanya sih meniru yang udah ada di beberapa kota besar dunia seperti Paris, Seoul, Moskow, dan Cologne. Sepasang kekasih mesti menulis inisial di kedua sisi gembok (tapi gemboknya bawa sendiri lho ya karena di sini ga ada yang jual) lalu memasangkannya di jeruji besi berbentuk trapesium tiga dimensi ini sebagai simbol cinta mereka. Kalo di Paris sono, setelah memasang gembok, mereka lalu melempar kuncinya ke sungai. Lah kalo di sini dilempar ke mana ya? Terus, sejak dipasang tahun 2014 lalu, kok yang masang gembok dikit banget yah? Jangan-jangan abis dibuang-buangin, kekekek…

DSCF7446 (1280x854)

Di belakang Gembok Cinta, ada penghuni lama taman Balaikota Bandung, yaitu patung badak putih yang konon dulu ada banyak di Bandung. Bahkan RS Hasan Sadikin aja dulu sebelum tahun 1967 sempet disebut RS Ranca Badak, ranca sendiri berarti rawa. Bisa jadi dulu di lokasi yang sama pernah ada rawa yang dihuni badak-badak putih tersebut. Setelah direnovasi, sekarang di depannya dikasih tulisan Taman Badak.

DSCF7452 (1280x855)

Di belakangnya lagi, ada lima patung ikan mujair berwarna putih yang seakan-akan sedang berlomba siapa yang bisa paling tinggi melompat ke angkasa. Uniknya, karena berbaris dengan ketinggian yang berbeda-beda, mereka jadi membentuk sebuah lengkungan setengah lingkaran. Di samping kiri dan kanannya ada taman dengan tanaman berwarna-warni yang ditanam berselang seling seperti tuts piano.

DSCF7455 (1280x853)

Di belakangnya lagiii, taman baru juga yang oleh khalayak ramai disebut Taman Labirin. Taman yang baru selesai dibuat ini memiliki ketinggian sampai melebihi tinggi badan orang dewasa dan ada lorong-lorong yang bisa dilewati orang. Lorong ini sebenernya lurus-lurus aja sih, ga akan bikin tersesat. Yang menarik buat saya adalah adanya sepasang patung merpati putih yang menghadap ke gedung Balaikotadan mengapit sebuah pohon trembesi yang udah berusia 100 tahun lebih. Kedua patung ini dibuat untuk mengenang bahwa di sini pernah dilepaskan 800 merpati untuk menghiasi taman di masa Walikota Ateng.

DSCF7458 (1705x2560)
Denah dinas-dinas yang beroperasi di Balaikota Bandung

PANO_20170327_105344 (2560x868)

Pasca renovasi, plaza di hadapan Gedung Balaikota jadi sangat keren gini deh, di kanan kiri ada tamannya dan deretan pohon rindang. Dulu banget, bukan sepuluh atau dua puluh tahun lalu melainkan pada masa kota Bandung baru menggeliat, di sini terdapat gudang kopi (Koffie Pakhuis) milik Andreas de Wilde yang dibangun pada tahun 1819. Pada tahun 1927, gudang ini dirobohkan dan sebagai gantinya didirikanlah Gedung Balaikota yang dirancang oleh arsitek E.H. de Roo sebagai kantor walikota Bandung. Gedung Balaikota terhubung dengan Jalan Raya Pos melalui Jalan Braga. Sejumlah bangunan pendukung pun dibangun di sekitarnya, seperti De Javasche Bank (sekarang jadi Bank Indonesia), katedral, dan Gereja Bethel.

IMG_20170327_110648 (1280x853)

IMG_20170327_110744 (1280x854)

Saya lalu keluar melalui pintu kecil yang mengarah ke trotoar di samping Jalan Merdeka. Taman Sejarah yang berada di tepi Jalan Aceh merupakan taman yang paling anyar di sini, baru diresmiin pas bulan Januari 2017 kemaren. Taman ini dibangun di atas area yang tadinya digunakan untuk lahan parkir DPRD Kota Bandung. Lho, terus nanti para dewan rakyat itu memarkirkan kendaraannya di mana? Ya di Jalan Sukabumi. Lho, kok jauh amat? Iya, soalnya sejak 2014 mereka pindah ke bangunan baru di sana, hehehe.

IMG_20170327_110245 (1280x854)

Disebut Taman Sejarah karena di sini kita bisa mengenal para walikota dan bupati Bandung sejak zaman kolonial beserta wajah mereka dalam bentuk kartun, biografi singkatnya, serta kontribusinya terhadap kota Bandung. Ada bagusnya sih, kita jadi mengenal para walikota dan bupati Bandung yang jumlahnya ada banyak ini. Oiya, berikut daftar para walikota Bandung tersebut,

  1. B. Coops (1913-1928)
  2. R.A. Atmadinata (1942-1945)
  3. R. Sjamsurizal (1945-1946)
  4. Ir. Ukar Bratakusumah (1946-1949)
  5. R. Enoch (1949-1956)
  6. R. Priatna Kusumah (1956-1966)
  7. R. Didi Jukardi (1966-1968)
  8. Hidayat Sukarmadijaya (1968-1971)
  9. R. Otje Djoendjoenan Setiakusumah (1971-1976)
  10. H. Utju Ejoenaedi (1976-1978)
  11. R. Husein Wangsaatmadja (1978-1983)
  12. H. Ateng Wahyudi (1983-1993)
  13. H. Wahyu Hamijaya (1993-1998)
  14. Aa Tarmana (1998-2003)
  15. H. Dada Rosada (2003-2013)
  16. Ridwan Kamil (2013-sekarang)

PANO_20170327_110031 (2560x857)

Di sudut lain taman, ada panel relief panjang yang mengisahkan Sejarah Bandung di Era Wiranatakusumah, dimulai dari Raden Adipati (R.A.) Wiranatakusumah II yang dianggap sebagai pendiri kota Bandung. Ia memindahkan pusat kota Dayeuh Kolot dari Krapyak yang sering kebanjiran ke alun-alun Bandung sekarang. Ada 9 bupati Bandung yang dikisahkan di sini lengkap dengan penjelasan bahasa Inggris.

PANO_20170327_110508 (2560x815)

Di sisi lainnya, ada plaza luas yang memiliki sebuah kolam kecil. Entah memang didesain untuk itu atau bagaimana, kolam ini malah dijadiin tempat anak-anak bermain air setinggi mata kaki. Ga heran kalo kolam ini dengan cepat menjadi spot rekreasi paling favorit di sini. Sayangnya, ternyata setiap hari Senin Taman Sejarah ditutup untuk pemeliharaan dan air di kolam ini dikuras.

 

Balaikota Bandung
Jalan Wastukencana No. 2 Bandung
Click for Google Maps

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s