Gedung-Gedung Punya Cerita di Jalan Braga (Bandung)

Dulu saya udah pernah bikin postingan tentang jalan-jalan historis di kota Bandung yang menyusuri Jalan Asia Afrika sampe ke Dalem Kaum. Nah, tentunya kurang lengkap dong kalo saya ga ngebahas juga tentang satu jalan lagi yang sangat terkenal di Bandung. Entahlah, apakah jalan yang satu ini terkenal juga di luar Bandung? Saya belom pernah survei. Tapi yang pasti, ketika Bandung mengalami masa keemasannya dulu, jalan inilah yang jadi ikon pusat perbelanjaannya kota Bandung. Jalan apa itu? Apalagi kalo bukan Jalan Braga. Di sini ada banyak banget gedung cagar budaya yang masih menyisakan sedikit sisa masa-masa keemasannya itu.

DSCF7192 (852x1280)

Perjalanan saya mulai dari sebelah selatan, yaitu di pertigaan Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga. Biar ga panas, sengaja saya dateng pagi-pagi. Kebetulan karena waktu itu hari Minggu, saya abis nganterin Nanda buat try out di Inten Jalan Aceh. Saya tau keramaian pasti akan terpusat di area Car Free Day Dago dan Balaikota Bandung. Dan ya bener aja, Jalan Braga mah ga rame. Cuma terkadang ada pesepeda yang berlalu lalang dan berhenti untuk berfoto-foto.

DSCF7197 (1280x855)

Di pertigaan ini di salah satu sudutnya ada Gedung Merdeka (1926) yang terkenal karena pernah digunakan untuk menyelenggarakan konferensi akbar, Konferensi Asia Afrika. Gedung ini sekarang difungsikan sebagai Museum Konperensi Asia Afrika untuk mengenangnya. Dan iya, nama resmi museumnya pake P, mungkin karena zaman dulu yang bikin brosur dan selebarannya adalah orang Sunda yang ga bisa ngomong huruf F, hahaha. Kamu bisa mengunjungi museum ini tanpa perlu membayar tiket alias gratis tis tis. Jangan lupa perhatiin jam bukanya ya.

DSCF7191 (1280x853)

Dua gedung lain yang ada di ujung jalan ini adalah Gedung De Vries (1879) dan Apotek Kimia Farma (1902). Gedung De Vries ini dulunya adalah toko serba ada alias toserba pertama di Bandung sehingga sering dikunjungi oleh para preangerplanters. Toko cantik bergaya Old Indische Style ini menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari seperti makanan, minuman, peralatan dapur, pakaian dan lain-lain. Setelah sempat terbengkalai sejak akhir era 1990an, pada tahun 2010 gedung ini dipugar dan dikelola oleh Bank OCBC NISP. Satu gedung lagi yaitu Apotek Kimia Farma, dulunya pernah digunakan oleh Bank N.I. Escompto Mij, toko kacamata, agen ban Dunlop, serta toko tembakau dan rokok, sebelum akhirnya dimiliki oleh N.V. Chemicalienhandel Rathkamp & Co. yang merupakan cikal bakal Kimia Farma.

DSCF7182 (852x1280)

Berada tepat di sebelah Gedung Merdeka ada gedung De Majestic (1925) yang oleh orang Bandung dulu sering disebut kaleng biskuit (blikken trommel, alias kaleng timah). Ya jangan marah karena kalo diliat baik-baik bentuknya emang mirip kaleng biskuit Regal gede yang warnanya merah itu, hehehe. Gedung yang didesain oleh C.P. Wolf Schoemaker, guru besar Technische Hoogeschool te Bandoeng yang sekarang dikenal sebagai ITB, ini merupakan bioskop pertama di tanah air. Bioskop ini mulai meredup di era tahun 1980an seiring dengan munculnya gedung bioskop modern.

DSCF7200 (853x1280)

Gedung ini dulunya merupakan toko pakaian yang berkiblat ke Perancis, Au Bon Marche (1913) yang artinya “untuk murah”, mengacu ke belanja dengan harga murah namun berkualitas. Saking up to date-nya, seringkali pakaian model baru yang muncul di Paris udah tersedia di sini beberapa minggu kemudian. Sebuah kecepatan yang luar biasa lho untuk ukuran masa itu. Ga heran kan karena selain banyak tamannya, Bandung pantas menyandang julukan Paris van Java.

DSCF7202 (1280x853)

Di Jalan Braga Nomor 8, ada Toko Sarinah yang merupakan cabang dari Toko Sarinah di Jakarta. Sebelum dinasionalisasi pada era Bung Karno, toko ini menjual pakaian yang berkiblat ke Belanda, Onderling Belang namanya. Sayangnya sejak tahun 2015, gedung ini diratakan dengan tanah karena katanya sih mau dibangun menjadi hotel bintang empat. Padahal persaingannya akan sangat ketat mengingat di sebelahnya udah berdiri terlebih dahulu Hotel Ibis Styles yang mentereng. Sejak dulu emang toko ini sangat sepi dari pengunjung. Bisa jadi kasusnya mirip dengan nasib bioskop De Majestic, Sarinah kalah bersaing dengan pasar swalayan modern yang muncul belakangan.

DSCF7205 (853x1280)

Di Jalan Braga Nomor 15, ada Gedung Dekranasda Jawa Barat (1919) yang dulunya pernah digunakan sebagai kantor PD Grafika (Tjibantar). Gedung ini erat kaitannya dengan sejarah surat kabarnya orang Bandung, Pikiran Rakyat. Awalnya, percetakan surat kabar yang pernah berafiliasi dengan Surat Kabar Angkatan Bersenjata ini dilakukan di PD Grafika Provinsi Jawa Barat Unit III Cibantar.

IMG_20170326_073407 (1280x853)

Di seberangnya, ada salah satu ikon kota Bandung yang mulai pudar, Kantor Bank Jabar Banten (1935) yang merupakan eks DENIS, singkatan dari De Eerste Nederlandsch-Indische Spaarkas, sebuah bank yang melayani jasa tabungan, asuransi, dan hipotek di Hindia Belanda. Setelah nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda pasca kemerdekaan, DENIS dijadikan kantor Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Barat. Gedung yang didesain oleh A.F. Aalbers ini menampilkan gaya arsitektur art deco berjenis streamlined modern dan dijadikan model arsitektur gedung-gedung cabang Bank Jabar Banten yang baru dibangun di kota-kota lain di Jawa Barat.

DSCF7223 (1280x855)

Di sudut seberang gedung Bank Jabar Banten terdapat gedung Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara (1936) yang juga didesain oleh A.F. Aalbers. Awalnya gedung ini digunakan sebagai kantor Leger des Heils atau Bala Keselamatan sebelum digunakan oleh LKBN Antara. Jika diperhatikan, keunikan gedung terletak pada bentuknya yang seperempat lingkaran karena berada di sudut jalan.

DSCF7228 (1280x855)
Penjual lukisan di depan Sumber Hidangan

DSCF7295 (1280x853)

Menyeberangi Jalan Naripan, di sebelah kiri dan kanan jalan ada Canary Bakery and Cafe, French Bakery, dan Rumah Seni Ropih. Lalu ada Toko Roti Sumber Hidangan, dulunya bernama Het Snoephuis (berarti Rumah Permen), salah satu toko roti tertua di Bandung, yang wajib kamu mampirin. Favorit saya di sini adalah Bokkepootjes (kue kaki kambing) dan Es Krim Sumber Hidangan Spesial. Toko roti ini kadang luput dari pengguna kendaraan bermotor karena tidak mencolok.

DSCF7293 (1280x853)

Di pertigaan Jalan Braga dengan Jalan Kejaksaan, terdapat eks Toko Populair (1915) yang kini ditempati oleh Bandros Bistro (yang warnanya biru sian). Walau sudah dipermak dengan bentuk bus Bandros, kita tetap dapat melihat tulisan “d/h Toko Populair Telp 4694” yang tersisa di bagian atas muka bangunan bernomor 47 ini. Menyenangkan melihat geliat gedung-gedung lama yang sempet terbengkalai kini mulai digunakan kembali untuk bisnis. Tapi tetep sih, agak sulit kalo mau berkunjung ke Braga karena parkir mobilnya susah.

DSCF7248 (1280x854)

Ke utara lagi, ada toko perhiasan De Concurrent (1908) yang dulu sempat menjadi agen jam tangan bermerk Zenith asal Swiss satu-satunya di Bandung. Hingga perusahaan jam tangan Zenith sendiri masih eksis. Entah bagaimana ceritanya toko ini bisa berubah menjadi toko perhiasan.

DSCF7249 (1280x855)

Awalnya, Jalan Braga hanyalah sebuah jalan pedati berlumpur, disebut Karrenweg atau Pedatiweg, yang menghubungkan gudang kopi milik Andreas de Wilde yang kini menjadi Balaikota Bandung dengan Jalan Raya Pos yang kini kita kenal dengan nama Jalan Asia Afrika. Salah satu kisah yang beredar mengenai asal usul nama Braga diambil dari nama perkumpulan Tonil “Braga” yang didirikan Pieter Sijthoff pada tahun 1882 di sana. Seiring dengan pembangunan kota Bandung yang diproyeksikan untuk menggantikan Batavia sebagai ibukota Hindia Belanda, jalan ini pun berkembang menjadi pusat perbelanjaan ternama tempat mondar-mandirnya kaum berduit.

DSCF7289 (1280x855)

Sin Sin Art Shop (1943) di nomor 59 merupakan salah satu toko cenderamata tertua di Bandung. Di sini dijual berbagai macam kerajinan tradisional dan modern yang tidak hanya berasal dari Jawa Barat namun juga dari daerah lain di Indonesia. Di seberangnya ada Gedung Gas Negara (1919), dahulu pernah digunakan Bandung Vooruit dan NV Becker & Co, sebelum diambil alih oleh NV Nederlandsch-Indische Gasmaatschappij (NIGM), cikal bakal Perusahaan Gas Negara. Hingga tahun 1930-an, di Bandung udah ada sekitar 3.750 sambungan pipa gas dari pabriknya di Kiaracondong.

DSCF7283 (1280x854)

Jalan Braga menjadi saksi tutupnya salah satu toko buku tertua di Bandung, Toko Buku Djawa, yang berhenti beroperasi sejak awal tahun 2015 karena sepi pembeli. Hingga kini, belum ada toko baru yang menempatinya. Di sampingnya ada tukang bubur yang jualannya cukup laris manis. Jika malam tiba, di sini ada Nasi Goreng Braga yang cukup terkenal karena rasanya yang enak. Sayangnya hingga kini saya belum sempat berkunjung dan membuat ulasannya.

DSCF7258 (1280x853)

Berhasil selamat mengarungi zaman, ada restoran Braga Permai yang masih ramai dikunjungi pelanggan setianya. Maison Bogarijen (1923), namanya dahulu, merupakan restoran paling elit seantero kota yang menyajikan aneka menu makanan dari seluruh penjuru dunia. Hingga kini Braga Permai masih memproduksi kue, roti, es krim, dan juga makanan berat bercita rasa Eropa.

DSCF7264 (1280x854)

DSCF7275 (1280x854)

Di utara Braga Citywalk, satu-satunya mal di Jalan Braga, ada deretan bangunan kuno yang kini ditempati oleh Warunk Upnormal, Braga Weg, North Sea Bar, dan The First Shop. Agak kontras dengan Braga Weg dan North Sea Bar karena The First Shop menjual busana-busana muslim. Mungkin hal ini membuat banyak yang enggan ke Jalan Braga, adanya beberapa bar di daerah sini yang menjual minuman keras membuat kesannya jadi buruk di mata orang  Bandung.

DSCF7268 (1280x855)

Di perempatan Jalan Braga dan Jalan Suniaraja/Jalan Lembong ada Centre Point (1925) yang dirancang oleh C.P. Wolff Schoemaker. Konon gedung yang berfungsi sebagai rumah sekaligus toko ini dulunya merupakan toko alat musik Naessens & Co yang mengimpor berbagai alat musik berkualitas tinggi dari Eropa. Kini toko ini sudah beralih menjual berbagai perlengkapan olahraga.

DSCF7273 (1280x854)

Dan yang terakhir ada gedung Landmark Convention Hall (1922) yang sering dipake jadi arena pameran, yang paling terkenal tentunya Bandung Book Fair dan Islamic Book Fair yang rutin diadakan setiap tahun. Tidak mengherankan karena secara historis gedung ini dulunya pernah digunakan oleh Toko Buku Van Dorp hingga tahun 1960 sebelum sempat berubah fungsi menjadi bioskop pada era 1970-an. Hebatnya, gedung ini pun dirancang oleh C.P. Wolff Schoemaker. Sungguh laris manis ya arsitek kita yang satu ini.

 

Jalan Braga, Bandung
Click for Google Maps

Iklan

2 pemikiran pada “Gedung-Gedung Punya Cerita di Jalan Braga (Bandung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s