Menyelami Sejarah Kodam Siliwangi di Museum Mandala Wangsit Siliwangi (Bandung)

Biasanya hampir di setiap Komando Daerah Militer (Kodam), TNI pasti punya museum. Kalo di Bandung, museum yang dikelola oleh TNI ini berada di Jalan Lembong No. 38, sekitar seratus meter dari Grand Royal Panghegar. Nanti di sebelah kanan jalan ada pagar tembok berwarna hijau muda. Di sebelah kiri gapura terdapat tulisan “Museum Mandala Wangsit Siliwangi” sementara di sebelah kanannya ada tulisan “Tahun 1950 Gedung Bersejarah Tempat Staf Kwartier Divisi III Siliwangi”. Saya lalu memarkirkan mobil saya di lahan parkir yang cukup luas di dalam. Di deket tempat saya memarkirkan mobil juga ada mini market yang tutup karena hari Sabtu, tapi kalo hari kerja saya yakin pasti buka. Di kejauhan terlihat masjid yang tidak terlampau besar namun cukup bersih, masih kinyis-kinyis juga sih keliatannya.

IMG_20170325_140234 (1280x854)

Di bagian depan gedung museum terdapat dua buah monumen, yang mana satunya lebih berupa prasasti dan yang satunya lagi lebih bisa disebut relief. Dimulai dari yang lokasinya di depan, adalah monumen yang di permukaannya tertulis “Wangsit Siliwangi”, yaitu pesan, amanat, petuah, dan wasiat dari pejuang di masa lalu untuk generasi berikutnya. Sementara di belakangnya terdapat Monumen Kekejaman APRA yang diresmikan tahun 1995 oleh Gubernur R. Nuriana untuk mengenang wafatnya Letnan Kolonel Adolf Gustaaf Lembong dan 78 prajurit Siliwangi lainnya dalam pertempuran melawan APRA. Menurut saya sih akibat adanya monumen ini justru jadi menghalangi muka gedung museum.

IMG_20170325_140120 (1280x854)

Masih di halaman depan museum namun tersebar-sebar, terdapat berbagai koleksi senjata artileri dan kendaraan lapis baja yang bersejarah, di antaranya sebuah meriam PSP yang pernah digunakan dalam Pertempuran Surabaya, Ambarawa, dan Semarang, sebuah meriam gunung yang digunakan dalam menumpas pemberontakan APRA dan Kahar Muzakar, panser Rel V-16 yang digunakan untuk mengawal kereta api dari gangguan gerombolan DI/TII, meriam 40mm L60 Bofors yang pernah diturunkan dalam Operasi Trikora/Mandala, serta panser ringan Stuart M3A1. Selain itu, ada pula patung Letkol A.G. Lembong yang namanya kemudian diabadikan menjadi nama jalan di depan museum.

IMG_20170325_131306 (1280x856)
Di kejauhan terdapat koleksi jubah milik Kyai Agung Caringin dari Menes, Banten dan milik Haji Hasan Arief dari Cimareme, Garut

Jangan tertipu, pintu masuk museum ada di sebelah dalam. Karena waktu itu hari Sabtu, sebenernya museum ga buka. Kebanyakan museum yang dikelola TNI memang hanya buka dari Senin hingga Jumat, biasanya sesuai jam kerja orang kantoran. Namun untuk lebih amannya, kita sebut saja bukanya jam 9 pagi dan tutup jam 3 sore. Tapi saya beruntung karena ada petugas piket yang mau berbaik hati membukakan pintu ke dalem museum. Saya sempet bertanya, “Ini lampunya nyala semua kan, Pak?” mengingat saya pernah ngedenger kisah-kisah seram tentang museum ini. Dan jawabannya melegakan, nyala semua katanya. Si petugas kemudian meminta sumbangan pemeliharaan alakadarnya. Saya lalu merogoh saku dan memberikan selembar uang sepuluh ribu. Anggap aja tiket masuk saya dan Nanda yang waktu itu ikut saya juga.

IMG_20170325_131530 (1280x854)
Perlawanan rakyat Tasikmalaya melawan rezim penjajah Jepang yang dipimpin oleh Kyai Haji Zaenal Mustofa

Museum Mandala Wangsit Siliwangi memiliki sebelas ruangan dengan tema yang berbeda-beda namun sesuai dengan kronologi peristiwanya. Ruangan pertama yang kita masuki bertema “Pergerakan Nasional Indonesia” yang merentang dari tahun 1918 hingga setahun sebelum kemerdekaan. Di sini digambarkan lukisan perjuangan yang dilakukan oleh rakyat Jawa Barat, lukisan penderitaan bangsa yang dijadikan romusha, serta koleksi berupa senjata tradisional yang pernah digunakan tokoh-tokoh di berbagai daerah di Jawa Barat.

IMG_20170325_131613 (1280x855)

Ruang yang kedua menampilkan suasana detik-detik proklamasi dan memajang beberapa koleksi yang berkaitan. Di tengah ruangan terdapat meja dan kursi yang bukan perabot sembarangan karena pernah dipergunakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok. Di sudut ruangan terlihat bendera merah putih yang katanya pertama kali dikibarkan di halaman Kota Madya Bandung, entah di mana ya maksudnya, pada tanggal 17 Agustus 1945. Lalu ada koleksi “bedil” kuno berupa senapan laras panjang, senapan otomatis, bahkan ada pula yang rakitan. Di sudut lain ruangan terdapat diorama Peristiwa Bojong Kokosan pada tanggal 13 Desember 1945 di Sukabumi antara pejuang kita yang persenjataannya minim melawan konvoi sekutu.

IMG_20170325_132407_HHT (1280x960)

Ruang berikutnya mengambil tema “Palagan Bandung” dan mengisahkan rentetan peristiwa setelah kemerdekaan yang dipuncaki oleh peristiwa yang mengilhami lagu Halo-Halo Bandung, Bandung Lautan Api. Peristiwa pembumihangusan kota Bandung yang terjadi pada tanggal 24 Maret 1946 ini sering dianggap sebagai bentuk kepatuhan pejuang Jawa Barat terhadap dua perintah yang berbeda antara pemerintah pusat dan daerah. Peristiwa ini sendiri dilatarbelakangi oleh adanya ultimatum dari pihak sekutu Inggris yang memaksa unsur bersenjata untuk meninggalkan kota Bandung sejauh 11 km ke selatan. Di ruangan ini juga disimpan koleksi katana, klewang, pedang Belanda, dan helm logam.

PANO_20170325_132726 (2560x853)

IMG_20170325_132603 (1280x853)

Periode antara tahun 1947 hingga 1949 dianggap sebagai perang mempertahankan kemerdekaan. Tentara dari Divisi Siliwangi bahkan digambarkan melakukan hijrah dari Jawa Barat ke Yogyakarta dalam sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Long March Siliwangi dengan… berjalan kaki! Peristiwa yang dilatarbelakangi oleh adanya Perjanjian Renville ini diabadikan dalam dokumentasi foto-foto monokrom. Koleksi yang disimpan di sini di antaranya berbagai senjata yang dipajang berjajar, cocok buat tempat selfie tapi pencahayaannya agak kurang, ransel karung, baju jas, baret, iket kepala, serta berbagai lencana dan emblem ketentaraan.

IMG_20170325_133408 (1280x853)

IMG_20170325_133059_HHT (1280x854)
Peristiwa peracunan pasukan Divisi Siliwangi di Banjar Selatan saat Long March dari Jateng ke Jabar awal tahun 1940
IMG_20170325_133555_HHT (1280x856)
Peristiwa ditangkapnya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada tanggal 4 Juni 1962 di Gunung Geber melalui operasi Pagar Betis

IMG_20170325_133444 (1280x960)

Di ruang enam, kita dapat melihat kekejaman yang dilakukan oleh para pemberontak yang ingin mendirikan negara Islam yang tergabung dalam kelompok DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Mungkin ini sih salah satu penyebabnya museum dibilang angker. Banyak foto-foto yang bisa dibilang cukup vulgar karena menampilkan foto-foto mayat, jenazah yang telah membusuk, bahkan tubuh yang terpenggal. Cukup untuk membuat anak-anak bermimpi buruk di malam setelah kunjungan dari sini.

IMG_20170325_133647 (1280x855)

Naik ke lantai dua, kita disambut oleh bendera-bendera yang menampilkan lambang satuan-satuan dalam Divisi Siliwangi. Sayang benderanya dalam keadaan menguncup sehingga kalo kita mau melihatnya ya mesti “melebarkan” benderanya sendiri. Hoream ah saya mah.

IMG_20170325_133743 (1280x960)

Indonesia di masa awal kemerdekaannya memang mesti menghadapi musuh-musuh dari dalam dan luar negeri. Selain DI/TII, ada pula peristiwa Pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling pada tanggal 23 Januari 1950 di Bandung. Kita dapat melihat foto-foto vulgar prajurit Siliwangi bersimbah darah yang menjadi korban keganasan mereka. Sementara dokumentasi mengenai Pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) pimpinan Dr. Soumokil didominasi oleh foto-foto operasi yang dilakukan oleh para prajurit Siliwangi.

IMG_20170325_133904 (1280x960)

Di sisi lain ruangan, kita bisa melihat dokumentasi yang berkaitan dengan pemberontakan afiliasi DI/TII di Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Abdul Kahar Muzakkar, seorang patriot sejati yang kemudian membelot. Ia tewas dalam baku tembak dengan prajurit Siliwangi yang tergabung dalam Operasi Tumpas. Di sebelah bawah, ada dokumentasi pemberontakan PGRS-Paraku (Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak – Pasukan Rakyat Kalimantan Utara) yang baru saya denger kali ini.

IMG_20170325_134153 (1280x960)

IMG_20170325_134200 (1280x857)

Di ruang berikutnya, terdapat dokumentasi Penumpasan G30S PKI yang memperlihatkan foto-foto pahlawan revolusi dan jenazah mereka saat baru diangkat dari Lubang Buaya. Di lemari kaca atasnya, terdapat foto-foto dan piaga penghargaan yang diperoleh prajurit Siliwangi saat melakukan tugas-tugas internasional pada kurun waktu 1965-1974.

IMG_20170325_134348_HHT (1280x855)
Lagu-lagu perjuangan dipajang dalam figura yang digantung di dinding ruangan

IMG_20170325_134450 (1280x960)

Sebelum terjadi perubahan peta politik di Portugal, hingga tahun 1974 Timor Timur masih dianggap sebagai provinsi dari negara tersebut. Setelah Portugal angkat kaki, di sana bermunculan berbagai partai politik. Ada UDT yang condong ke Portugal, ada Apodeti yang condong integrasi dengan Indonesia, dan Fretilin yang menginginkan kemerdekaan. Singkat cerita, Indonesia kemudian berusaha menganeksasi Timor Timur melalui Operasi Seroja yang menimbulkan banyak korban jiwa dari Fretilin, penduduk Timor Timur, dan tentunya di pihak TNI.

IMG_20170325_134536 (1280x854)

Ruang terakhir, ruang 11, sebenarnya hanya berupa tembok yang menampilkan foto-foto para panglima Divisi Siliwangi. Ada 36 prajurit yang pernah memimpin Divisi Siliwangi, mulai dari panglima pertamanya yaitu A.H. Nasution yang saat itu berpangkat kolonel. Foto ini tidak termasuk Pangdam yang sedang menjabat saat ini karena judulnya kan “Mantan-Mantan”.

IMG_20170325_134638_HHT (852x1280)

Setelah “ruangan bayangan” tadi, ada ruangan yang bisa bikin bulu kuduk berdiri karena berisi dengan pernak-pernik yang berkaitan dengan Prabu Siliwangi yang memang namanya menjadi asal muasal nama Kodam Siliwangi. Saya pun ga mau berlama-lama di situ sebelum ada yang nyolek saya. Maksudnya Nanda, karena kelamaan nunggu terus dia nyolek saya gitu, hehehe.

Jam Buka
Senin-Jumat 08.00-15.00
Weekend dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
Seikhlasnya

 

Museum Mandala Wangsit Siliwangi
Jalan Lembong No. 38 Bandung
Click for Google Maps

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s