Museum Kebangkitan Nasional : Para Dokter Penggerak Rasa Nasionalisme (Jakarta)

Museum Kebangkitan Nasional adalah museum yang didirikan pemerintah dalam rangka menanamkan nilai sejarah perjuangan bangsa kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Museum ini menempati sebuah geung bersejarah yang dulunya pernah dimanfaatkan sebagai tempat pendidikan sekolah dokter untuk bangsa pribumi atau School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, disingkat STOVIA. Museum ini diresmikan oleh mantan Presiden Soeharto pada Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1974.

DSCF6586 (1280x853)

Museum yang berada di dekat RSPAD Gatot Subroto ini sepi dari pengunjung. Yah, sebenernya sih hampir semua museum keadaannya sama. Padahal sebenernya museum ini cocok banget buat dikunjungi anak-anak sekolah yang dalam kurikulumnya sedang mempelajari mengenai pergerakan nasional, karena di sinilah asal muasalnya organisasi kepemudaan modern pertama di Nusantara, Boedi Oetomo.

DSCF6480 (1280x855)

Setelah membeli tiket, ada papan informasi ruangan-ruangan yang ada di museum. Saya lalu memilih untuk pergi ke sebelah kanan, di sini ada ruang informasi, ruang dosen, ruang sejarah kedokteran, ruang memorial Boedi Oetomo, serta ruang asrama. Setelah Boedi Oetomo berdiri, cabang-cabangnya mulai banyak bermunculan di berbagai daerah sehingga membuat para dosen menjadi cemas karena takut dinilai gagal sebagai pendidik. Mereka lalu mengancam Soetomo, yang merupakan ketua Boedi Oetomo, untuk menghentikan organisasinya atau dikeluarkan dari STOVIA. Berkat pembelaan Dr. H.F. Roll, direktur STOVIA saat itu, Soetomo dan pengurus lainnya diperkenankan untuk meneruskan pendidikannya.

DSCF6487 (1280x855)

Di Ruang STOVIA I yang bertajuk “Perubahan”, pengunjung dapat membaca pemaparan mengenai dunia pengobatan tradisional nusantara sebelum bangsa barat datang. Lalu saat VOC datang, dunia pengobatan barat harus berhadapan dengan berbagai penyakit tropis yang membuat mereka harus mengombinasikan ilmu kedokteran barat dengan ilmu pengobatan nusantara.

DSCF6490 (1280x854)

Ruang II yang bertajuk “Lahirnya Pendidikan Dokter Modern” ini menceritakan cikal bakal lahirnya Sekolah Dokter Djawa. Sekolah ini bermula dari Kursus Juru Kesehatan yang didirikan pada tahun 1851 karena dipicu oleh merebaknya wabah cacar di Karesidenan Banyumas. Pemerintah kolonial lalu merekrut pemuda-pemuda Jawa dan mendidik mereka menjadi sebuah korps kesehatan. Setelah melalui pendidikan selama dua tahun, lulusannya diberi gelar Dokter Djawa.

DSCF6495 (853x1280)

DSCF6498 (1280x853)

Di Ruang III, “Meningkat dan Berkembang”, dikisahkan mengenai perubahan Sekolah Dokter Djawa menjadi STOVIA yang tidak lepas dari usulan Dr. H.F. Roll. Demikianlah, STOVIA kemudian terbuka untuk seluruh bangsa pribumi tidak hanya dari pulau Jawa saja sehingga menjadi tempat bertemunya para mahasiswa Indonesia dari berbagai daerah.

DSCF6510 (1280x853)

Di Ruang keempat dipaparkan mengenai kegiatan para mahasiswanya yang tidak hanya sekedar belajar kedokteran namun juga berorganisasi, apalagi di tengah kebangkitan gagasan kebangsaan. Tidak jauh dari STOVIA, tinggallah Douwes Dekker, seorang tokoh Indo penggagas Politik Etis. Pada tahun 1913, singkatan Inlandsche (pribumi) pada singkatan STOVIA diubah menjadi Indische (bumiputera) sebagai upaya menghapus konotasi sosial-politis yang merendahkan. Gelar lulusannya pun berubah dari Inlandsch Arts menjadi Indisch Arts. Dari tahun 1919 hingga tahun 1926, dibangun kampus baru di Weltevreden (kini Salemba) sehingga STOVIA pun dipindahkan ke sana. Sejak tahun 1927, nama STOVIA resmi berubah menjadi Geneeskundige Hoogeschool (GHS) dengan lulusannya bergelar Arts, setara dengan dokter dari Belanda.

DSCF6515 (2560x650)

DSCF6517 (1280x856)

Di ruang berikutnya, tampak ruang kuliah dengan lantai berundak yang berisi manekin-manekin pelajar STOVIA dalam balutan pakaian tradisional Jawa yang sedang serius memperhatikan penjelasan dosen di depan mereka. Ruang pengajaran anatomi ini dijadikan sebagai Ruang Memorial Boedi Oetomo. Di sini dijelaskan mengenai asal muasal Boedi Oetomo, latar belakang 9 tokoh pendiri, serta susunan para pengurusnya.

DSCF6528 (1280x855)

Tepat di sebelah ruang anatomi ada ruang asrama yang memanjang, lengkap dengan beberapa belas ranjang sederhana yang masing-masing memiliki sebuah lemari. Kehidupan pelarar STOVIA dari bangun sampai tidur lagi senantiasa diawasi oleh kepala asrama. Sekalipun berbeda-beda suku, bahasa, agama, dan budaya, kegiatan asrama yang penuh suka dan duka ini menumbuhkan rasa persaudaraan di antara sesama penghuninya.

DSCF6530 (1280x854)

Di gedung belakang ada berbagai mesin pembuat obat kuno, antara lain molen alat pengaduk obat, alat pompa pernapasan, alat pembantu pernapasan, sinar merah dan alat rontgen, serta alat pencatat detak jantung. Sayang tidak ada keterangan lebih jauh selain hanya papan nama yang ditaruh di depan masing-masing alat tersebut. Mungkin akan menarik jika ada diagram atau video cara kerja alat-alat tersebut.

DSCF6536 (1280x855)

DSCF6537 (1280x853)

Lebih ke tengah lagi, ternyata ada kantin sederhana dan perpustakaan yang suasananya cukup nyaman. Saya ga sampe masuk ke dalem untuk melihat ada koleksi buku apa aja di sini.

DSCF6552 (1280x855)

Nah, kalo dari pintu masuk tadi kita jalan ke sebelah kiri, kita akan menemui ruang pengenalan yang memutar film setiap satu jam, dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore. Lalu di ruangan berikutnya dipaparkan mengenai sejarah masuknya bangsa Eropa hingga sejarah pergerakan nasional. Ruang nusantara menceritakan mengenai sejarah geologis terbentuknya kepulauan Indonesia yang dihiasi oleh gunung-gunung vulkanik. Lalu ada peta besar yang menunjukkan daerah-daerah penghasil rempah-rempah yang pada akhirnya menarik kedatangan bangsa Eropa ke nusantara. Bangsa Portugis di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque pada tahun 1512 tiba di Maluku sementara bangsa Belanda di bawah pimpinan Jacob van Neck pada tahun 1598 tiba di Banten.

DSCF6559 (1280x855)

Persaingan antara Belanda, Portugis, dan Spanyol mendorong terbentuknya kongsi dagang Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) pada tahun 1602. Keinginan VOC untuk memonopoli perdagangan kemudian berkembang menjadi penjajahan yang memicu perlawanan fisik di seluruh nusantara, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa, Bali, Banjar, Sulawesi Selatan, hingga Maluku.

DSCF6564 (1280x854)

Kebijakan pemerintah kolonial berhasil membawa kemakmuran pada rakyat Belanda, namun membuat kondisi masyarakat pribumi sangat menderita. Semenjak buku Max Havelaar karangan Douwes Dekker yang memiliki nama pena Multatuli terbit, penderitaan mereka mulai diketahui oleh parlemen, pers, dan rakyat Belanda. Hal ini memaksa pemerintah kolonial untuk melakukan perubahan kebijakan politik yang dituangkan dalam Politik Etis yang meliputi irigasi, emigrasi, dan edukasi.

DSCF6543 (1280x855)

Kebijakan dalam bidang edukasi memunculkan golongan baru dalam masyarakat, yaitu kelompok terdidik yang diangkat menjadi pegawai pemerintah. Tokoh-tokoh pendidikan nusantara yang kemudian muncul di antaranya Dewi Sartika, Ki Hajar Dewantara, dan Kartini. Diorama di atas menggambarkan suasana belajar di STOVIA yang dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 12 siang.

DSCF6570 (1280x855)

Di STOVIA, kunjungan Dr. Wahidin Soedirohusodo pada Desember 1907 semakin menguatkan tekad para pelajarnya untuk mendirikan organisasi sebagai wadah perjuangan untuk mengejar kemajuan masyarakat bumiputera. Pada 20 Mei 1908, sembilan orang pelajar STOVIA kemudian didirikan organisasi Boedi Oetomo yang diketuai oleh Soetomo. Dalam tempo beberapa bulan saja, mereka sudah mengadakan Kongres Boedi Oetomo yang pertama. Kongres ini mengesahkan kepengurusan baru yang tidak melibatkan para pelajar karena mereka ingin fokus pada pendidikannya.

DSCF6572 (1280x853)

Boedi Oetomo kemudian didaulat sebagai “ibu perhimpunan” bagi organisasi-organisasi pergerakan nasional karena setelahnya bermunculan organisasi-organisasi pergerakan dengan corak yang beragam, seperti Perhimpunan Indonesia, Sarekat Islam, Indische Partij, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Partai Nasional Indonesia. Boedi Oetomo sendiri pada tahun 1935 membentuk Partai Indonesia Raya (Parindra) bersama dengan empat partai lainnya.

DSCF6574 (1280x853)

Pada satu ruangan yang didedikasikan untuk Kartini, ada sebuah diorama yang menggambarkan suasana belajar mengajar pada sekolah yang diadakannya di pendopo Kabupaten Jepara. Pada pertengahan Juli 1903, ia menerima lamaran Bupati Rembang, R.A. Djojo Adiningrat, namun pada saat yang bersamaan dia menerima kepastian untuk meneruskan pendidikan ke Batavia. Beasiswa ini kemudian dialihkannya pada seorang pemuda dari Sumatera yang tidak dikenalnya. Pemuda yang sangat berprestasi karena mencapai nomer satu dari ujian HBS ini ingin melanjutkan belajar ke Batavia namun mengalami keterbatasan dana. Tak dinyana, pemuda yang dimaksud kelak kita kenal dengan nama Haji Agus Salim.

Jam Buka
Selasa-Minggu 08.00-16.00
Jumat 08.00-11.30, 13.00-16.00
Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
Dewasa IDR 2K
Anak-Anak IDR 1K

 

Museum Kebangkitan Nasional
Jalan Abdul Rachman Saleh No. 26 Jakarta Pusat
Click for Google Maps

museum-kebangkitan-nasional.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s