Menyelami Sejarah Nusantara di Museum Taman Prasasti (Jakarta)

Dulu, Museum Taman Prasasti merupakan area pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober yang dibangun pada tahun 1795 untuk menggantikan pekuburan di samping gereja Nieuwe Hollandsche Kerk (sekarang Museum Wayang) yang mulai penuh akibat munculnya wabah penyakit. Beberapa nisan penanda makam masih ada di sebuah taman kecil di dalam gedung museum. Secara desain tata kota, pemilihan area pemakaman yang jauh dari kepadatan penduduk saat itu dinilai lebih baik. Karena di sini sebelumnya memang sudah menjadi area pemakaman, maka untuk membedakan, nisan yang dipindahkan dari gereja diberi tanda inisial “HK” (Hollandsche Kerk).

DSCF6800 (1280x854)

Saya ke sini menyusuri Jalan Abdul Muis yang sejajar dengan Kali Krukut hingga berbelok di Jalan Tanah Abang I, tempat museum ini berada. Konon dahulu Kali Krukut digunakan untuk mengangkut jenazah menggunakan sampan lalu dibawa dengan kereta jenazah. Jika ada berita kematian, di sini terdengar bunyi lonceng perunggu yang dibunyikan. Dentang pertama memberitakan adanya kematian, dentang bertalu-talu menandakan kedatangan jenazah dan akan terus dibunyikan hingga jenazah tiba di pintu gerbang pemakaman. Replika kereta jenazah yang digunakan untuk membawa jenazah dari tepi kali hingga makam turut dipamerkan di lobby museum.

DSCF6803 (2560x671)

Setelah membayar tiket 5 ribu rupiah, saya lalu memasuki area museum dan disambut oleh plaza yang cukup terbuka. Tiba-tiba saya berpikir lagi, saya ke sini mau ngeliat apaan ya, kan ada begitu banyak batu nisan dan prasasti, tapi yang mana yang merupakan nisan tokoh terkenal? Di mana posisinya? Akhirnya saya balik lagi ke pintu masuk untuk melihat papan informasi.

DSCF6811 (1280x853)

Di papan itu ada beberapa informasi singkat mengenai nisan dan prasasti tokoh penting, serta denah museum yang sayangnya tidak dilengkapi dengan nama-nama. Hanya blok-blok hijau yang menandakan makan “in situ”. Hal ini membuat saya mesti bertanya-tanya pada petugas museum mengenai denah tersebut. Namanya Mas Eko Wahyudi, beliau sangat ramah dan mau dengan panjang lebar menjelaskan sejarah nisan-nisan dan kisah tokoh si pemilik nisan. Wawasannya sangat luas walaupun kekurangannya cuma satu, ejaan nama Belanda yang disebutkannya kerap membuat saya bingung. Berbekal keterangannya yang udah saya rekam dengan menggunakan aplikasi perekam suara di telepon genggam, saya mulai menjelajahi museum. Urutan area yang saya lewati adalah area J, I, G, H, F, E, D, B, A, lalu kembali lagi ke lobby museum.

 

Area J

DSCF6870 (1280x854)

Makam pualam yang memiliki hiasan sebuah buku ini merupakan nisan dari Dr. H.F. Roll, pendiri sekolah dokter di masa Hindia Belanda yang sangat terkenal itu, School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen atau biasa kita kenal dengan akronim STOVIA. Sekolah yang awalnya berada di Jalan Abdul Rachman Saleh ini terkenal karena beberapa pelajarnya kemudian mendirikan perkumpulan Boedi Oetomo. STOVIA juga menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Gedung ex STOVIA kini diabadikan Museum Kebangkitan Nasional.

DSCF6873 (1280x853)

Tidak jauh, terdapat prasasti bertuliskan aksara berbahasa Jepang yang tadinya berada di Desa Leuwiliang, Bogor. Prasasti ini dibuat untuk mengenang 30 tentara kekaisaran Jepang yang tewas bertempur melawan militer sekutu pada tanggal 3-4 Maret 1942. Dengan alasan kepraktisan, pada tahun 2000-am prasasti kemudian dipindahkan ke sini. Dua kali dalam setahun masyarakat Jepang yang ada di Jakarta mengadakan acara ritual di sini. Ketika perwakilan kedutaan Jepang datang ke Indonesia pun terkadang menyempatkan diri untuk bersembahyang di sini.

DSCF6874 (1280x855)

Agak di sudut, ada dua buah peti jenazah yang disimpan dalam kotak mika transparan. Kedua peti jenazah tersebut pernah digunakan untuk membawa jenazah kedua bapak bangsa Indonesia, Ir. Soekarno, dan sahabatnya, Drs. Mohammad Hatta. Tentu karena keduanya muslim, peti jenazah ini tidak ikut dikuburkan. Bung Karno sendiri dimakamkan di kampung halamannya, Blitar, sementara Bung Hatta dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

 

Area I

DSCF6809 (1280x853)

Jadi, walaupun dulunya Museum Taman Prasasti merupakan pemakaman, saat ini sudah tidak ada lagi jenazah-jenazah yang disemayamkan di sini. Seluruhnya telah dipindahkan dan disebar ke berbagai pemakaman lain yang ada di Jakarta. Pada saat pembongkarannya dulu, tulang-tulang jenazah disimpan sementara di dalam bangunan ini sehingga ia disebut Rumah Tulang. Bangunan ini sebenernya merupakan makam keluarga A.J.W. Van Delden, seorang juru tulis di Indonesia Timur yang pernah menjabat sebagai ketua perdagangan VOC.

DSCF6816 (1280x854)

Informasinya simpang siur, konon Kapitein Jas merupakan seorang yang dituakan dan memiliki wilayah pemerintahan setara dengan afdeling di Batavia. Pada saat relokasi pada tahun 1975, di atas makamnya terdapat pohon yang sangat besar sehingga makamnya tidak bisa dibongkar. Jadi konon nisan ini dipercaya masih menyimpan jenazah Kapitein Jas. Makamnya diyakini sebagian orang dapat memberikan kesuburan, keselamatan, kemakmuran dan kebahagiaan.

 

Area G

DSCF6858 (853x1280)

Di area ini ada replika tembok peringatan Pieter Erberveld, seorang keturunan Belanda-Siam (ada juga yang bilang Belanda-Jawa) yang pada tahun baru 1722 berencana memberontak dan melakukan makar pada pemerintah Hindia Belanda dengan menggalang dukungan dari kaum pribumi. Sayang, rencananya keburu ketahuan. Ia ditangkap dan dihukum mati dengan cara kedua tangan dan kakinya ditarik oleh empat ekor kuda. Tempat ia tewas kemudian dinamakan Kampung Pecah Kulit dan di depan rumahnya di Jalan Pangeran Jayakarta dibangun tembok peringatan yang sayangnya hancur pada masa pendudukan Jepang. Di bagian atas tembok tersebut ditancapkan penggalan kepala Pieter dan pada dindingnya dipasang sebuah prasasti, “Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan atas dihukumnya sang pengkhianat: Pieter Erberveld. Karena itu dipermaklumkan kepada siapapun, mulai sekarang tidak diperkenankan untuk membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini dan sekitarnya. Batavia , 14 April 1722.”

DSCF6847 (856x1280)

Di belakang Area G terdapat patung Pastur Herikus Van Der Grinten yang berdiri di atas tugu berwarna cokelat. Ia adalah seorang pastur kenamaan di Batavia pada masa itu dan sangat disayangi oleh banyak orang karena jiwa kemanusiaannya yang tinggi. Konon pastur inilah yang mendirikan Perhimpuan Vincentius Jakarta pada tahun 1855. Yayasan ini masih ada dan saat ini memiliki beberapa panti asuhan dan sekolah dari strata TK hingga SMK.

 

Area H

DSCF6831 (1280x853)

Nisan sederhana ini milik Marius J. Hulswit, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang tiba di Indonesia pada tahun 1890. Ia kemudian ditugasi merenovasi bangunan Algemeene di deket Jembatan Merah dan meneruskan pembangunan Gereja Katedral Jakarta. Bersama Eduard Cuypers ia mendirikan agen desain arsitek terbesar di Hindia Belanda pada saat itu.

DSCF6818 (1280x853)

Mungkin kamu pernah inget dengan serial Angel’s Diary yang pernah tayang di Trans TV? Itulah saat pertama kali saya mengetahui mengenai keberadaan museum ini. Pada tayangan pembuka terdapat scene yang mengambil latar patung-patung bidadari yang banyak terdapat di sini. Sayangnya bagian tubuh patung-patung ini banyak yang rusak dan patah. Sebagian memang karena faktor usia, namun sebagiannya lagi karena tindakan vandalisme.

DSCF6820 (1280x853)

DSCF6821 (1280x853)

Batu nisan yang dibangun di atas fondasi berbentuk segi delapan ini merupakan nisan dari Olivia Mariamne Raffless, istri Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles yang kita kenal sebagai pendiri Kebun Raya Bogor. Baru tiga tahun tiba di Pulau Jawa, ia meninggal pada tahun 1814 karena sakit malaria. Sebuah monumen peringatan yang cantik didirikan juga di Kebun Raya Bogor.

DSCF6830 (853x1280)

Ini adalah nisan Elisabeth Adriane Roseboom, istri dari Jeremias Schill, yang dulu memiliki Sekolah Santa Maria yang merupakan sekolah tertua di Jakarta. Sekolah ini dibangun di atas lahan yang dulunya merupakan rumah tinggal mereka di Jalan Ir. H. Juanda.

DSCF6825 (1280x853)

DSCF6832 (1280x853)

Nisan yang cukup lebar ini merupakan nisan Marisa, seorang wanita suku Jawa yang dinikahi oleh A. Schultheiss, lelaki berkebangsaan Belanda, secara resmi di gereja. Hal ini unik mengingat pada masa itu kebanyakan wanita pribumi hanya menjadi gundik atau nyai-nyai simpanan.

 

Area F

DSCF6862 (1280x854)

Andreas Victor Michiels termasuk salah seorang panglima militer Belanda paling cemerlang dan terkenal karena telah memimpin banyak pertempuran di Nusantara, di antaranya dalam Perang Jawa, Perang Padri di Sumatera dan Perang Jagaraga di Bali. Ia tewas setelah salah satu kakinya hancurnya terkena meriam laskar Bali dalam Pertempuran Kasumba. Untuk mengenang jasanya, dulu di Taman Melati, Padang, dan Lapangan Banteng, Jakarta, terdapat monumen yang didirikan untuk mengenang jasa-jasanya. Sayangnya keduanya diduga hancur pada masa pendudukan Jepang.

DSCF6828 (855x1280)

Tidak cukup kerusakan karena faktor usia dan cuaca, nisan dan prasasti di sini tidak luput pula dari tangan-tangan jahil. Ambil contoh batu nisan Johannes Jacobus Luuten ini. Goresan-goresan vandalisme dari pengunjung yang tidak bertanggung jawab menghiasi sebagian besar permukaan nisan. Entah bagaimana perasaan keluarga keturunannya kalo melihat nisan moyangnya ini.

DSCF6836 (854x1280)

Soe Hok Gie adalah aktivis pergerakan mahasiswa yang menentang kediktatoran Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Buku hariannya yang berjudul “Catatan Seorang Demonstran” mengilhami pembuatan film berjudul “Gie” yang dibintangi oleh Nicholas Saputra. Soe Hok Gie yang turut mendirikan ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia ini wafat pada usia muda saat pendakian Gunung Semeru akibat menghirup asap beracun. Ia sempat dimakamkan di sini namun saat pemakaman akan direlokasi pada tahun 1975, keluarganya memilih untuk mengkremasi tulang belulangnya dan menebar abunya di Puncak Gunung Pangrango.

 

Area E

DSCF6848 (1280x853)

Ga jauh dari batu nisan Soe Hok Gie ada batu nisan Miss Riboet yang tulisannya tidak terlalu jelas terbaca karena catnya sudah usang. Miss Riboet adalah tokoh opera yang terkenal pada era 1920-an di Batavia. Ia tergabung dalam opera komedi stambul yang memadukan seni dan olahraga pimpinan suaminya sendiri, Tio Tik Djien. Konon itulah asal muasalnya mengapa banyak toko olahraga merangkap sebagai toko alat musik.

DSCF6838 (1280x854)

DSCF6849 (1280x854)

Di belakang area museum ada deretan nisan para Gubernur Jenderal VOC dan Hindia Belanda. Di deretan keempat terdapat batu nisan bernomor 22 milik Gubernur Jenderal ke-29 di Batavia, Jeremias van Riemsdijk, yang mewakafkan tanah ini untuk dijadikan pemakaman. Masa pemerintahannya sangat singkat, dari tahun 1775 hingga 1777.

 

Area D

DSCF6839 (853x1280)

Batu nisan yang unik karena berbentuk candi ini merupakan batu nisan Jan Lauren Andries Brandes, seorang arkeolog dan filolog (ahli bahasa kuno) yang terkenal karena menemukan manuskrip Serat Pararaton yang memaparkan kisah-kisah raja Tumapel dan Majapahit, serta Kakawin Nagarakretagama karangan Mpu Prapanca yang berisi sejarah mengenai Kerajaan Majapahit dan Singosari. Bagian atas candi sengaja dibuat tidak utuh, hal ini menandakan bahwa ia masih memiliki keinginan yang belum tercapai.

DSCF6850 (852x1280)

Di dekatnya nisan J.L.A Brandes terdapat batu nisan milik Gubernur Jenderal VOC yang terakhir, Pieter Gerardus van Overstraten. Walau sempat berjaya sebagai sebuah perusahaan terkaya di dunia saat itu, bahkan diberi banyak keistimewaan layaknya sebuah negara, VOC akhirnya bangkrut pada tahun 1799 akibat korupsi yang merajalela dan diambil alih langsung oleh pemerintah Belanda.

DSCF6840 (1280x853)

Untung saya tidak lupa membawa tripod dan berswafoto dengan latar nisan Mayor Jenderal J.J. Perje yang berwarna hijau dan tinggi menjulang. Monumen bergaya gothik ini dibangun untuk mengenang jasa-jasanya semasa menjadi panglima perang Belanda di Jawa. Walaupun memperoleh penghargaan militer Orde Militer Willem Kelas 4 dari Kerajaan Belanda, anehnya catatan mengenai peranan J.J. Perje sangat minim.

 

Area J

DSCF6866 (1280x853)

Satu-satunya objek menarik di sini adalah sebuah monumen serupa obelisk yang merupakan nisan Direktur Jenderal Finansial Hindia Belanda, L. Launy, yang meninggal karena terjatuh dari kuda. Monumen mentereng ini dipesan dari Amerika Serikat, dibuat oleh seorang arsitek dari New York, Robert Eberhard Launitz, arsitek yang sama yang mendesain plakat peringatan pada Washington Monument. Ga heran kan kalo bentuknya mirip?

 

Area B

DSCF6864 (852x1280)

Ini adalah batu nisan Johan Harmen Rudolf Koehler, seorang jenderal Belanda yang memimpin Korps Marsose KNIL dalam Ekspedisi Aceh pertama. Dia tewas ditembak oleh penembak jitu tentara Kesultanan Aceh di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Pasca relokasi pada tahun 1975, atas usul gubernur Aceh saat itu jenazahnya dimakamkan di Banda Aceh.

 

Area A

DSCF6865 (853x1280)
Batu nisan dengan huruf Ibrani yang entah milik siapa
DSCF6855 (1280x853)
Replika Prasasti Ciaruteun yang entah kenapa ada di sini

DSCF6856 (853x1280)

Pada tahun 1847, Adami Caroli Claessens datang ke nusantara membawa misi agama sebagai pastur agama Katolik. Pada tahun 1875, ia ditahbiskan sebagai uskup di Batavia. Salah satu jasanya adalah membangun kembali Gereja Katedral yang sempat roboh pada bulan Mei 1890. Sayang, ia tidak sempat melihat pembangunannya rampung pada tahun 1901 karena keburu meninggal pada tahun 1893.

DSCF6869 (1280x854)

Perjalanan berkeliling museum pun diakhiri dengan sebuah batu nisan dengan bahasa Belanda Kuno yang berada di sebelah kanan setelah pintu masuk. “Seperti Anda sekarang, demikianlah aku sebelumnya. Seperti aku sekarang, demikianlah juga Anda kelak”. Sebuah kata-kata bijak untuk mengingatkan kita semua bahwa kematian adalah hal yang tidak dapat terelakkan.

Jam Buka
Selasa-Minggu 09.00-15.00
Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
Dewasa IDR 5K
Mahasiswa IDR 3K
Pelajar IDR 2K

 

Museum Taman Prasasti
Jalan Tanah Abang I No. 1 Jakarta Pusat
Click for Google Maps

museum-taman-prasasti.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s