Museumnya Pahlawan Betawi, Muhammad Husni Thamrin (Jakarta)

Masuk ke dalam sebuah jalan yang tidak terlalu besar di daerah Salemba, ada sebuah museum yang kemungkinan belum banyak orang yang tau. Museum ini didirikan untuk mengenang jasa seorang pahlawan asli Betawi bernama H. Muhammad Husni Thamrin. Kamu mungkin taunya nama Thamrin dari sebuah jalan yang memanjang dari Monas sampai dengan Bundaran Hotel Indonesia. Nah, rasanya kebangetan ga sih kalo ga tau mengenai pahlawan yang satu ini? Yuk dibaca terus sampe habiiisss.

DSCF6089 (852x1280)

Dari Jalan Salemba Raya, kita mesti masuk ke dalam daerah padat penduduk melalui Jalan Kenari II yang agak kecil. Untungnya mobil masih bisa masuk di jalan yang untuk dua mobil berpapasan aja agak susah. Setelah berjalan sekitar 400 meter, nanti di sebelah kanan ada pintu masuk menuju halaman depan museum yang ternyata luas banget. Kontras dengan jumlah pengunjung yang saat itu sedang berkunjung : saya doang. Di tengah halaman ada patung M.H. Thamrin bercat emas yang posenya sedang melangkah sambil membawa sebuah buku di samping badannya. Setelah memarkirkan motor, saya lalu berjalan ke pintu masuk museum dan membeli tiket seharga 5 ribu rupiah.

DSCF6098 (1280x853)

DSCF6102 (1280x853)

Museum ini memiliki berbagai koleksi, di antaranya foto-foto kisah hidup dan perjuangan M.H. Thamrin, lukisan, poster, diorama, meja dan kursi tamu, replika sepeda onthel, koleksi alat musik betawi, koleksi set gambang kromong, serta benda-benda yang pernah dimiliki oleh M.H. Thamrin. Ada radio bermerk Philips yang digunakannya untuk mengetahui perkembangan dunia baik di dalam maupun luar negeri. Ada pula blangkon yang dipergunakannya pada saat pertemuan kongres Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) di Surakarta pada tahun 1939.

DSCF6106 (1280x853)

Selain ruang pamer, Museum M.H. Thamrin juga memiliki berbagai fasilitas penunjang di antaranya ruang pertemuan, bioskop, dan perpustakaan. Di ruangan ini ada TV yang bukannya memutar film dokumenter mengenai M.H. Thamrin tapi malah disetel ke siaran salah satu stasiun TV. Padahal kalo ada film dokumenternya, bisa nonton berlama-lama soalnya enak sih, ruangannya berAC sehingga terasa nyaman, hehehe.

DSCF6094 (1280x853)
Suasana sebelum Kongres Rakyat I di depan Gedung Permufakatan Indonesia

Oke, cukup ngomongin soal museumnya. Sekarang mari kita bahas mengenai pribadi M.H. Thamrin. Ia dilahirkan pada tanggal 16 Februari 1894 di Kampung Sawah Besar. Walaupun ayahnya seorang pamong praja berpangkat wedana, ia cenderung memiliki sifat nakal dan bandel yang mana teman-teman sepermainannya pun tidak berasal dari kalangan ambtenaar sebagaimana dirinya.

DSCF6109 (1280x854)
Pidato di depan Gementee Raad (Dewan Kotapraja), ia sedang menyampaikan gagasan agar nasib kaum pribumi diperhatikan, di antaranya dengan cara perbaikan kampung dan penyediaan air bersih

Setelah lulus dari Gymnasium Koning Willem III di Salemba, ia dimasukkan ayahnya di kantor kepatihan Batavia untuk menjadi seorang ambtenaar juga. Namun ia tidak merasa senang karena cita-citanya adalah memperjuangkan dan mengabdi untuk kepentingan rakyat. Pada tahun 1919, ia terpilih untuk menjadi anggota dewan kota sehingga terbuka kesempatannya untuk memperbaiki kehidupan masyarakat Betawi. Pada tahun 1923 ia turut memprakarsai pendirian Perkumpulan Kaum Betawi.

DSCF6117 (1280x853)
Penggeledahan rumah M.H. Thamrin

Kecamuk situasi semasa Perang Dunia II membuat pemerintah Hindia Belanda semakin memperketat pengawasan terhadap segala aktivitas politik. Perbedaan pendapat antara pemerintah kolonial dengan kaum nasionalis semakin meruncing. Kiprahnya dalam pergerakan nasional, berjuang untuk rakyat, kemajuan masyarakat pribumi, dan puncaknya menuntut Indonesia berparlemen dan merdeka. Tidak heran jika kemudian M.H. Thamrin dikenakan tahanan rumah. Ia meninggal dunia pada tanggal 11 Januari 1941 karena terserang penyakit demam dan malaria tropis. Dipan pembaringannya turut menjadi bagian dari koleksi museum.

DSCF6123 (1280x854)

Ribuan orang yang mengantar kepergiannya ke pekuburan Karet menandakan betapa besar jasanya dirasakan oleh masyarakat Betawi. Ia dibawa dengan menggunakan kereta jenazah yang replikanya bisa kita lihat di sini. Pada tahun 1960, ia ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional oleh Presiden Soekarno.

Gedung yang dijadikan museum ini pun dulunya merupakan gedung Sekretariat PPPKI yang dibeli dan dihibahkan oleh M.H. Thamrin pada tahun 1928. Konon konsep lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman dilahirkan di sini. Pada tahun 1972 gedung ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dan pada tahun 1986 diresmikan sebagai museum oleh gubernur Jakarta saat itu, R. Soeprapto.

Jam Buka
Selasa-Minggu 09.00-15.00
Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
Dewasa IDR 5K
Mahasiswa IDR 3K
Pelajar IDR 2K

 

Museum M.H. Thamrin
Jalan Kenari II No. 15 Jakarta Pusat
Click for Google Maps

museum-m.h.-thamrin.jpg.jpg

Iklan

Satu pemikiran pada “Museumnya Pahlawan Betawi, Muhammad Husni Thamrin (Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s