Menghayati Makna Persatuan di Museum Sumpah Pemuda (Jakarta)

Bangunan yang dijadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda ini berada di Jalan Kramat Raya No. 106 yang awalnya digunakan sebagai pemondokan pelajar. Selain menjadi tempat pemondokan, pada tahun 1925 gedung ini digunakan pula sebagai tempat latihan kesenian dan diskusi politik para anggota Jong Java. Oleh mereka gedung ini dinamakan Langen Siswo.

DSCF6127 (1280x853)

Pada tahun 1920-an, bangunan ini termasuk wilayah Weltevreden. Jalan di depannya suda ramai dengan lalu lintas kenaraan mobil dan trem listrik yang menghubungkan daerah Senen dan Mesteer Cornelis atau kini dikenal dengan nama Jatinegara. Pada tahun 1927, penghuni gedung mulai berasal dari beragam daerah dan beragam sekolah. Mereka terdiri dari para mahasiswa Recht Hooge School (Sekolah Tinggi Hukum) dan Geneeskundige Hooge School (Sekolah Tinggi Kedokteran).DSCF6128 (1280x853)

Untuk memasuki museum, kita cukup membayar tiket masuk sebesar 2 ribu rupiah saja. Kenapa kok ga 5 ribu juga kayak kebanyakan museum lainnya? Itu karena museum ini tidak dikelola oleh Pemda Jakarta melainkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di teras gedung terdapat beberapa patung dada para tokoh pemuda, di antaranya ada patung dada M. Tabrani, Mochammad Jamin, Soegondo Djojopuspito, Johannes Leimena, R. Kaca Sungkana, M. Rochjani Soe’oed. Ubin rumah pun masih dipertahankan dari zaman Belanda.

DSCF6130 (1280x855)

Di bagian dalam museum, kita disambut oleh diorama tiga orang pemuda yang tampak sedang berdiskusi serius. Beberapa buah buku-buku tebal tampak berserakan di meja. Apakah mereka sedang belajar untuk mempersiapkan ujian? Ga mungkin lah ya, kan ini Museum Sumpah Pemuda. Di dinding di sekitarnya dapat kita lihat foto-foto suasana Jakarta saat itu dan keterangan mengenai sejarah gedung.

DSCF6136 (1280x853)

Pergerakan nasional Indonesia berawal dari berdirinya Budi Utomo di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908, walau masih bersifat kejawaan. Setelah itu, bermunculan pula sejumlah perkumpulan pemuda di berbagai daerah, ada Tri Koro Dharmo (kemudian menjadi Jong Java, 1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Celebes (1918), Sekar Rukun (1919), Jong Ambon (1923), Jong Bataks Bond (1925), Jong Islamieten Bond (1925), dan Pemuda Kaum Betawi (1927). Tidak turut ketinggalan, terbentuk pula berbagai organisasi kepanduan. Di sisi lain, ada pula organisasi yang menganut asas kebangsaan yang tidak berlandaskan semangat kedaerahan atau agamis, di antaranya Perhimpunan Indonesia (1922), Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (1926), dan Pemuda Indonesia (1927).

DSCF6147 (1280x853)

Di Bandung, berdiri Partai Nasional Indonesia (PNI) yang berasal dari Algemeene Studiclub (ASC) yang didirikan oleh Soekarno. Ide-ide PNI dan Perhimpunan Indonesia besar pengaruhnya dalam pembentukan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, yang kelak menjadi penggagas Kongres Pemuda II tahun 1928. Kongres yang berlangsung pada 27-28 Oktober 1928 ini dihadiri oleh 750 orang dari berbagai wakil organisasi pemuda, perorangan, anggota Volksraad (dewan rakyat), wakil pemerintah Hindia Belanda, wakil surat kabar, serta polisi-polisi Hindia Belanda,

DSCF6165 (1280x853)

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman yang disambut meriah oleh para peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres yang diucapkan oleh para pemuda yang hadir sebagai sumpah setia. Sumpah inilah yang kita kenal dengan nama Sumpah Pemuda, sebuah pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, bangsa yang satu, dan bahasa yang satu : Indonesia.

DSCF6161 (1280x853)

DSCF6160 (1280x855)

Keluar dari bangunan utama, di belakang ternyata ada sebuah halaman kecil yang di salah satu sisinya terdapat relief diorama yang menggambarkan perjuangan Indonesia mencapai kemerdekaan dan mempertahankannya. Di gedung di seberang relief tersebut, terdapat dua ruangan yang diisi dengan berbagai informasi mengenai kepanduan. Gerakan kepanduan diyakini turut menanamkan bibit persatuan pada pemuda. Kepanduan mendidik pemuda untuk mandiri dan pada akhirnya akan mendorong kemandirian sebagai sebuah bangsa yang merdeka.

Jam Buka
Selasa-Minggu 08.00-16.00
Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
Dewasa IDR 2K
Anak-Anak IDR 1K

 

Museum Sumpah Pemuda
Jalan Kramat Raya No. 106 Jakarta Pusat
Click for Google Maps

museum-sumpah-pemuda.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s