Seri Pahlawan Revolusi : Museum Jenderal Besar A.H. Nasution (Jakarta)

Memang sih, Abdul Haris Nasution tidak termasuk sebagai salah satu dari sepuluh pahlawan revolusi. Tapi tetap saja, pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Cakrabirawa menyambangi rumah beliau di Jalan Teuku Umar pada waktu yang nyaris bersamaan saat tim yang lain mendatangi rumah Jenderal Ahmad Yani. Beruntung, usaha mereka gagal dan pahlawan revolusi tidak menjadi berjumlah sebelas orang. Namun, harga yang harus dibayarkan sangat mahal.

DSCF6084 (1280x854)

Setelah dari Sasmitaloka Ahmad Yani di Jalan Terusan Lembang, rute saya selanjutnya adalah mendatangi rumah keluarga besar A.H. Nasution yang setelah ia wafat pada tahun 2000 kemudian dihibahkan untuk menjadi museum yang diresmikan pada tanggal 3 Desember 2008 silam. Situasi ternyata jauh lebih ramai karena ada kunjungan anak sekolah dan juga sekelompok ibu-ibu yang sedang dipandu oleh petugas museum. Museum ini juga dikelola oleh TNI dan setau saya sih gratis.

DSCF6059 (853x1280)
Patung dada Nasution
DSCF6060 (1280x855)
Sebagian furnitur ruang tamu
DSCF6062 (1280x853)
Ruang kerja
DSCF6063 (1280x853)
Koleksi buku Nasution

Setelah dari teras, saya disambut oleh patung dada Nasution, tentunya dalam potongannya saat masih muda, yang berada di ruangan yang dulunya digunakan sebagai ruang tamu. Tepat di baliknya ada ruang kerja di mana tampak patung figur Nasution dalam pakaian dinasnya sedang khusyuk bekerja. Di mejanya terdapat sebuah mesin tik dan telepon kuno yang sering digunakannya. Di hadapan meja, terdapat sebuah lemari kaca besar yang papan keterangannya bertuliskan “Buku-Buku Karya Jenderal A.H. Nasution.” Wow, produktif sekali beliau menulis.

DSCF6068 (1280x855)

Memasuki lorong yang tersambung ke ruang makan, terdapat beberapa ruangan di samping kiri dan kanannya. Ruangan yang pertama adalah kamar tidur Nasution, istri, dan anak mereka yang terkecil, Ade Irma Suryani. Pada pukul 4, 1 Otober 1965, sekelompok pasukan Cakrabirawa yang dipimpin oleh Letnan Arief berhasil mengamankan tentara penjaga, mengepung rumah, dan bahkan mendobrak pintu masuk.

DSCF6070 (1280x854)

Terjaga, istri Nasution lalu menutup pintu lalu berteriak pada suaminya agar melarikan diri. Sambil dipandangi istrinya yang sedang menggendong Ade Irma, beliau lalu melompati tembok rumahnya dan tidak dikejar oleh para pasukan Cakrabirawa. Nasution bersembunyi di halaman rumah tetangganya hingga pukul 6 pagi. Dalam prosesnya, beberapa tembakan mengenai Ade Irma Suryani, tiga butir peluru menembus punggungnya. Bekas tembakan yang diberondongkan dari balik pintu ditandai oleh lingkaran-lingkaran kuning.

DSCF6069 (1280x855)

Uniknya, entah memang mereka tidak menyadari bahwa yang berhasil kabur itu Nastion sendiri (kan gelap ya) atau memang tidak mengetahui wajahnya (masak sih ga tau?), mereka bersikeras bertanya kepada Bu Nasution mengenai keberadaan Nasution. Situasi penodongan senjata ini terjadi di ruang makan, di mana Ibu Nasution sempat berusaha melepon untuk meminta bantuan namun tidak berhasil karena sebelumnya saluran telepon sudah diputus. Bu Nasution berkata bahwa suaminya sedang dinas keluar kota.

DSCF6078 (1280x853)

Dalam sebuah pondok terpisah, salah satu dari dua ajudan Nasution, Letnan Satu Czi. Pierre Tendean disergap dalam usahanya mengubah situasi. Di dalam film “Penumpasan Pengkhianatan G 30 S-PKI”, Tendean terdengar berkata, “Saya Nasution.” Mungkin itu sebabnya ia yang akhirnya diculik oleh para pasukan Cakrabirawa.

Di sebelah rumah Nasution, ada rumah dinas Wakil Perdana Menteri Indonesia, Johannes Leimena. Karel Satsuit Tubun yang menjadi penjaganya mendengar kegaduhan yang terjadi dan bergegas ke rumah Nasution. Sayang, ia ditembak oleh pasukan Cakrabirawa yang memergokinya.

DSCF6071 (1280x853)

Bu Nasution lalu bergegas membawa putrinya ke rumah sakit pusat angkatan darat. Namun sayang, lima hari kemudian Ade Irma Suryani menghembuskan nafas terakhirnya. Barang-barang pribadinya sebagian disimpan di sebuah lemari kaca di kamar tidurnya tadi. Di sebelahnya ada baju dinas dan tongkat yang digunakan Nasution saat melepas jenazah para pahlawan revolusi di markas TNI. Rupanya pergelangan kakinya patah saat melompati tembok.

DSCF6067 (1280x854)

DSCF6072 (1280x853)

Ruangan-ruangan lainnya bagi saya udah ga terlalu menarik lagi. Ada ruangan yang berisi koleksi senjata, pedang, keris, dan lencana-lencana penghargaan yang diperoleh Nasution selama hidupnya.

DSCF6079 (1280x853)

DSCF6082 (1280x854)

Di tembok samping rumahnya, terdapat relief kisah hidup Nasution. Di sisi paling kanan ditulis tanda-tanda kehormatan maupun penghargaan-penghargaan yang telah diperolehnya, baik dari dalam maupun luar negeri. Sebagian besar telah diperolehnya sebelum tahun 1965. Di belakang rumah, ada mobil merk Volvo yang sepertinya (karena ga ada papan informasinya) merupakan kendaraan dinas semasa beliau masih hidup.

Jam Buka
Selasa-Minggu 08.00-16.00
Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
GRATIS

 

Museum Jenderal Besar A.H. Nasution
Jalan Teuku Umar No. 40, Menteng, Jakarta Pusat
Click for Google Maps

museum-a.h.-nasution.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s