Seri Pahlawan Revolusi : Sasmitaloka Ahmad Yani (Jakarta)

Masa SD dulu, saya seneng banget nonton film perang yang menampilkan kisah perjuangan bangsa Indonesia di TV. Tapi cuma satu film yang ga berani saya liat saking “gore”nya, alias banyak darah-darah, sampe-sampe saya cuma berani ngeliat film itu sambil ngintip-ngintip dari balik tembok. Saya akhirnya baru bisa menonton film itu secara lengkap pas udah kuliah, yang itupun bukan di TV karena pasca reformasi film yang kerap diputar pada malam tanggal 30 September sebagai alat propaganda pemerintahan Orde Baru itu akhirnya berhenti ditayangkan. Ya, film apa lagi kalo bukan Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI.

Kesukaan saya menonton film perang sewaktu kecil dulu bisa jadi dikarenakan saya dan sanak famili ibu saya pernah berkunjung ke Monumen Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya. Tampaknya kunjungan itu berkesan banget sampe saya hafal siapa aja nama jenderal yang menjadi korban. Di monumen tersebut, ketujuh patung pahlawan revolusi berdiri dengan gagahnya. Di tengah dan paling depan berdiri Jenderal Ahmad Yani dengan gayanya yang berbeda sendiri, dengan tangan yang mengacung menunjuk ke depan.

DSCF6027 (1280x855)

Hari itu saya berencana berkunjung ke beberapa museum yang ada di deket kosan saya dan yang menjadi sasaran pertama saya adalah Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani yang berada di Terusan Jalan Lembang, Menteng. Kawasan elit yang banyak ditempati oleh para petinggi negara ini bahkan juga petinggi negara asing yang menjadi perwakilan di Indonesia. Sasmitaloka sendiri diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti tempat mengenang, dikarenakan adanya peristiwa besar yang terjadi di tempat ini. Konon, hanya rumah Jenderal Ahmad Yani dan rumah Jenderal Sudirman yang kini dijadikan museum dan menyandang nama Sasmitaloka.

DSCF6025 (1280x854)

Masuk ke halaman parkir, saya mengisi buku tamu yang ada di bangunan pengelola museum, terpisah dari rumah. Tidak ada pungutan apapun yang diminta, jadi saya pikir mungkin gratis. Masuk ke ruangan awal di dalam rumah, terdapat foto-foto berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Ahmad Yani selama hidupnya, lalu foto-foto yang diambil dari adegan dalam film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI, dan juga foto-foto jenazah para pahlawan revolusi yang diangkat dari dalam sumur Lubang Buaya. Di ruangan sebelahnya terdapat pakaian dinas Ahmad Yani yang terpajang rapi di dalam lemari kaca.

DSCF6028 (855x1280)

Buat kamu yang udah nonton film itu, ini dia pintu belakang rumah yang menjadi saksi bisu keganasan pasukan Cakrabirawa. Pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, mereka mendatangi hunian Ahmad Yani untuk menculiknya dengan dalih bahwa ia diminta untuk menghadap presiden. Ahmad Yani merasa marah akan kelancangan perwira yang pangkatnya sangat jauh di bawahnya karena permintaannya untuk mandi dan berganti baju ditolak mentah-mentah.

DSCF6034 (1280x855)

Ahmad Yani lalu berbalik masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu. Kemungkinan akan mengambil senjata karena dirinya tentu sudah merasa curiga. Seorang pasukan tidak mau mengambil risiko dan memuntahkan peluru dari balik pintu. Ahmad Yani tersungkur. Saat itu, seorang putranya menjadi saksi penembakan sementara anak-anaknya yang lain baru terbangun setelah mendengar suara bising tembakan. Istrinya kebetulan sedang berada di luar rumah, merayakan ulang tahun bersama teman-temannya.

DSCF6030 (1280x854)

Tepat di lokasi ini, ditandai oleh sebuah plakat berwarna kuning kusam, Ahmad Yani menghembuskan nafas terakhirnya, 1 Oktober 1965, pukul 04.35 pagi. Jenazahnya lalu diseret oleh pasukan Cakrabirawa dan dibawa dengan menggunakan truk tentara. Darah segar yang mengalir mewarnai lantai rumah meninggalkan jejak yang panjang. Di rumah yang sederhana ini, salah satu putra terbaik bangsa gugur.

DSCF6039 (1280x854)

DSCF6037 (1280x855)

DSCF6038 (1280x853)

Ahmad Yani tewas ditembus oleh 8 peluru di bagian depan dan 2 peluru di bagian belakang tubuhnya. Beberapa peluru yang tidak mengenai tubuhnya meninggalkan bekas lubang di figura dan lemari di seberang pintu yang diberi tanda panah berwarna hitam. Jika mau, di sini pun sebenarnya ada pemandu yang tentu nantinya mesti kita beri tip. Saat itu saya memilih untuk melihat-lihat sendiri walaupun hanya bisa melihat papan keterangan yang informasinya terbatas.

Saya masuk ke dalam kamar yang dahulu digunakan sebagai kamar tidur Ahmad Yani dan istri. Saya terlanjur sempat memotret sebelum seorang pemandu yang melihat saya berkata tidak boleh memotret ruangan tersebut dengan alasan khawatir benda koleksi pemalsuan benda koleksi. Di kamar ini tersimpan senjata Thompson yang digunakan untuk memberondong tubuh Jenderal Ahmad Yani, pakaian yang digunakan untuk membersihkan darah di lantai, senjata yang digunakan untuk menembak Letjen S. Parman, koleksi uang, medali, cincin, keris, jam tangan, lencana, pulpen, tongkat komando, sapu tangan, kacamata, agenda dan buku harian, foto-foto keluarga, bahkan gunting kuku. Di sudut kanan kamar terdapat bekas halilintar yang menyambar kamarnya seminggu sebelum pengangkatan beliau sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad). Kedua anak laki-laki mereka yang masih kecil tampaknya tidur di kamar yang sama karena ada dua lukisan wajahnya, Untung Mufreni dan Irawan Sura Eddy.

DSCF6031 (1280x853)

DSCF6033 (855x1280)

Dua kamar di sampingnya merupakan kamar tidur kelima anaknya yang lain, yaitu Widna Ani Andriani dan Reni Ina Yuniati yang berada di satu kamar, lalu Amelia Yani, Indria Ami Rulliati, dan Herliyah Emi Rudiati di kamar lainnya. Tapi rasanya saya tidak melihat lukisan wajah satu putrinya lagi, Elina Lilik Elastria. Jadi jumlah putra-putrinya ada delapan orang. Setelah tragedi itu keluarga Yani pindah dan rumah ini diresmikan oleh Menpangad sekaligus Ketua Presidium Kabinet Ampera, Jenderal Soeharto, sebagai museum tepat setahun kemudian pada tanggal 1 Oktober 1966.

DSCF6040 (853x1280)

Sepanjang hidupnya, Ahmad Yani merupakan seorang perwira yang sangat berprestasi. Dinding ini menjadi saksinya, di mana terpajang berbagai piagam penghargaan dan sertifikat yang dianugerahkan kepadanya. Di antaranya ada ijazah kelulusan beliau dari Sekolah Komando dan Staf Umum di Fort Levenworth, Texas. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan pandangannya cenderung kebarat-baratan dan berseberangan dengan Presiden Soekarno yang cenderung ketimur-timuran dan mendukung PKI.

DSCF6042 (1280x854)

Dari ruang tengah yang terdapat minibar dan meja makan, saya melongok ruang sebelahnya yang tentunya digunakan sebagai ruang tamu karena terhubung dengan pintu depan rumah. Agak mengherankan mengapa pasukan Cakrabirawa tidak datang dari sini melainkan dari lorong belakang rumah. Di dinding ruangan ini tergantung sebuah lukisan besar yang menggambarkan saat Ahmad Yani memukul seorang pasukan Cakrabirawa.

DSCF6050 (1280x853)

Kunjungan saya ke sini nyaris saja melewatkan sebuah mobil sedan merk Chevrolet berwarna biru langit yang digunakan oleh Ahmad Yani semasa hidupnya. Informasi ini saya peroleh dari internet, karena sayangnya di sini tidak ada papan keterangannya.

Jam Buka
Selasa-Minggu 08.00-16.00
Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
GRATIS

 

Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal TNI Ahmad Yani
Jalan Terusan Lembang Blok D No. 58, Menteng, Jakarta Pusat
Click for Google Maps

sasmitaloka-ahmad-yani.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s