Hati-Hati Kalo ke Museum di Tengah Kebun! (Jakarta)

Kira-kira ada berapa banyak orang ya yang dateng blog saya gara-gara baca judulnya di atas? Hehehe. Sesekali pengen bikin judul yang sok sok kontroversial kayak gaya judul berita yang suka saya baca di samping Facebook, yang bikin kita gatel pengen ngeklik tapi pas baca beritanya eh zonk banget. Terus, hati-hatinya kenapa sih? Tenang, tenang, baca dulu aja *wink* (ngeselin).

Jadi, ceritanya beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi sebuah museum yang saya baru denger namanya beberapa hari sebelum berkunjung. Ya, soalnya museum yang satu agak di luar radar karena ga dimiliki oleh pemerintah. Padahal lokasinya ga seterpencil namanya lho, di Kemang, yang notabene daerah padat dan udah terkenal dengan banyaknya kuliner dan ruang usaha.

DSCF5864 (1280x853)

Saya ke sini bareng ama temen SMA saya yang bernama Yori, yang rencananya bakal ke sini bareng temen-temennya sesama Pengajar Muda di Indonesia Mengajar. Waktu itu dia nanya mengenai kontak museum di grup SMA saya. Saya yang mencium bau jalan-jalan langsung nyamber aja tuh. Apalagi katanya kalo mau dateng ke sini mesti berombongan. Wah, pas banget tuh, nebeng aja ah. Ga kenal? Cuek aja, tinggal kenalan.

DSCF5863 (1280x853)

Dari jalan raya, ga heran kalo kita ga akan menyangka ada museum dengan kebun yang cukup luas di baliknya. Kenapa? Soalnya dari jalan raya, cuma ada pintu kayu selebar satu mobil dengan hiasan berbagai topeng kayu dan tulisan Museum di Tengah Kebun yang tersembunyi di kedua sisi dinding di samping pintu. Nyaris ga mungkin terbaca dari kendaraan yang berlalu lalang.

DSCF5874 (1280x855)

Walau dulu sempat menerima kunjungan di hari Rabu dan Kamis juga, kini Museum di Tengah Kebun hanya menerima kunjungan setiap hari Sabtu dan Minggu. Biasanya dalam satu hari museum ini menyediakan dua slot kunjungan, pagi dan siang hari. Dan the best part-nya adalah museum ini gratis tis tis ga menarik pungutan biaya apapun. Bahkan si pemandu kami pun ga meminta tips apapun.

DSCF5884 (1280x855)

Pemandu kita hari itu bernama Rian. Dia menjelaskan bahwa museum ini sebenarnya merupakan rumah kediaman Sjarial Djalil, seorang kolektor benda seni dan antik yang telah mengoleksi lebih kurang 4000 item yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Koleksi tersebut sebagian besar diperoleh dari Balai Pelelangan Christie yang sering mengadakan lelang di berbagai negara karena beliau tidak ingin membeli dari perorangan karena khawatir barang tersebut palsu atau ilegal. Pada tahun 2009, beliau membuka rumahnya sendiri untuk dipertontonkan kepada masyarakat umum.

DSCF5878 (1280x855)

Sebagian besar batu bata rumah berasal dari bangunan VOC yang berada di Pasar Ikan pada saat itu (pasar ikan yang mana ya?), namun karena kondisinya yang sudah tua kemudian dibongkar dan dibeli untuk dijadikan fondasi rumah ini. Lebih kurang ada 17 ruangan yang digunakan untuk menampilkan koleksi museum, termasuk ada ruang tidur, kamar mandi, dan bahkan toilet. Mas Rian memberi tahu kami kalo Bapak Sjahrial Djalil sendiri saat itu sedang sakit dan berada di kamar tidurnya.

DSCF5872 (1280x855)

Di depan museum ada beberapa benda-benda antik, bersejarah, bahkan prasejarah juga. Katanya sih koleksi yang paling tua usianya adalah sebuah fosil kerangdari Maroko yang berasal dari masa Jurassic. Di samping fosil kerang ada koleksi antefik, yaitu hiasan yang berada di atas pintu dan jendela candi. Ironisnya, memang banyak benda-benda yang berasal dari Indonesia diperoleh dari balai lelang Christie. Merupakan bagian dari misi Pak Sjahrial Djalil untuk mengembalikan barang-barang tersebut ke negeri asalnya.

DSCF5899 (854x1280)

Sebelum masuk ke dalam museum, kita dipersilakan menaruh semua tas bawaan ke lemari yang udah disediakan, yang bahkan antik juga. Lalu kita juga harus menukar sepatu dengan sandal untuk digunakan selama di dalam museum. Koleksi museum tidak diletakkan secara berkelompok melainkan bercampur-campur tidak berdasarkan masa dan asal daerahnya. Suka-suka Pak Sjahrialnya lah ya. Setiap ruangan juga biasanya memiliki nama yang diambil dari nama koleksi kesukaan Pak Sjahrial. Misalnya ruangan pertama disebut ruang Loro Blonyo karena adanya patung Loro Blonyo yang dipercaya dapat memberikan keharmonisan antara suami dan istri. Ruang kedua diberi nama ruang Buddha Myanmar, diambil dari nama arca Buddha keemasan terbuat dari kayu yang berasal dari Myanmar.

DSCF5898 (1280x853)

Ruang berikutnya adalah Ruang Dewi Sri, ruang ini sebenernya lebih mirip ruang tengah atau ruang keluarga yang layaknya ada di sebuah rumah namun bedanya isinya dipenuhi oleh benda-benda antik. Makanya, kalo lagi di sini kita mesti super berhati-hati dalam melangkah, jangan sampe deh nyenggol benda-benda yang ada sini. Kalo jatuh, rusak, terus disuruh ganti, mesti nyicil berapa tahun tuh. Ruang tengah ini juga terasa adem banget karena menghadap kebun berumput yang di tengahnya terdapat sebuah bale.

DSCF5891 (853x1280)

Di toilet yang bisa digunakan oleh pengunjung ini, bahkan interiornya pun diisi oleh beberapa benda antik seperti hiasan wayang dan topeng kayu.

DSCF5903 (1280x855)

Ruangan berikutnya yang kita kunjungi adalah Ruang Dewi Sri, ruang makan yang juga berisi benda-benda antik, termasuk perlengkapan makannya yang udah berbaris rapi di atas meja. Tapi Pak Sjahrial ga mungkin makan pake perlengkapan makan itu deh. Di salah satu dinding terdapat cermin yang saya pake buat selfie. Di samping meja ada patung dada Dante yang terbuat dari kayu. Saya tau namanya karena tahun lalu saya membaca novel Inferno-nya Dan Brown yang kemudian difilmkan juga.

DSCF5909 (1280x854)
Ruang penghubung : Kolam Nandiswara
DSCF5921 (1280x855)
Ruang kerja : Ruang Prasejarah
DSCF5916 (1280x855)
Altar kecil yang berada di kamar tidur : Ruang Buddha Thailand

Setelah melewati beberapa ruangan lain, Mas Rian kemudian menghilang sejenak memasuki ruangan yang pintunya berada di ruang kerja Pak Sjahrial. Ternyata dia meminta izin apakah kami boleh masuk ke ruang tidurnya atau tidak. Pas kita masuk, saya kaget sekali mengetahui Pak Sjahrial ternyata sedang terbaring di tempat tidurnya. Usianya ternyata sudah sangat tua karena beliau lahir di Pekalongan pada tanggal 16 Maret 1940. Saat ini beliau sedang sakit Parkinson yang mulai menderanya beberapa tahun silam. Tapi saya salut luar biasa, kami masih diperbolehkan untuk berkunjung untuk melihat-lihat dan bahkan masih mau berinteraksi dengan kami walaupun kondisinya, bagi saya, cukup memprihatinkan.

DSCF5920 (1280x855)
Kamar mandi : Ruang Singagaruda

DSCF5918 (1280x853)

Di bawah sebuah meja di kamar mandi, Mas Rian menunjukkan batu nisan yang sudah dipersiapkan oleh Pak Sjahrial. Menurut keterangan Mas Rian, Pak Sjahrial ini dulunya seorang pengusaha sukses di bidang advertising dan hobi berjalan-jalan keliling dunia. Sayangnya, beliau tidak menikah dan juga tidak mengadopsi anak. Namun demikian, beliau sudah memikirkan keberlangsungan museum dan keseluruhan koleksinya dengan mendirikan Yayasan Museum di Tengah Kebun yang nantinya akan mengurus museum jika beliau telah tiada.

DSCF5923 (1280x853)
Ada kolam renangnya, jadi pengen nyebur deh

DSCF5928 (1280x855)

Pas kita lagi berjalan-jalan, ternyata Pak Sjahrial keluar kamarnya dengan menggunakan kursi roda. Saya bener-bener salut deh, ternyata beliau keluar kamar khusus untuk mengajak kami berfoto bersama.

DSCF5925 (1280x853)
Gudang Khazanah II : Ruang Dinasti Tang
DSCF5930 (1280x854)
Galeri II : Serambi Etnografi I
DSCF5933 (1280x854)
Kamar tidur tamu I : Ruang Imari Jepang
DSCF5935 (1280x853)
Sajadah antik dari Turki akhir abad ke-19
DSCF5938 (1280x856)
Kamar tidur tamu II : Ruang Dinasti Ming

DSCF5949 (2560x885)

DSCF5894 (1280x855)

Setelah berjalan-jalan sekitar satu jam, kami diajak Mas Rian untuk rehat sejenak di bale yang ada di tengah kebun. Di samping bale ada sebuah arca Ganesha, dewa ilmu pengetahuan yang berkepala gajah itu, berukuran besar yang kemudian dijadikan nama kebun ini. Walaupun kami disuguhi oleh air mineral gelas, tapi saya sangat mensyukurinya karena… dingin, hehehe.

DSCF5946 (1280x855)

Di salah satu sudut kebun, ada prasasti yang saya pikir merupakan batu nisan Sultan Aceh entah siapa seperti yang pernah saya liat di buku pelajaran sejarah. Tapi ternyata Mas Rian bilang kalo tempat ini ternyata tempat yang sudah Pak Sjahrial rencanakan sebagai “rumah masa depan”-nya. Namun rencananya ini konon terhalang peraturan pemerintah daerah yang hanya memperbolehkan kuburan berada di area pemakaman resmi.

DSCF5943 (1280x853)
Gudang Khazanah II : Ruang Kaisar Wilhelm

DSCF5988 (1280x853)

Perjalanan kami diakhiri di garasi tempat kami tadi menitipkan tas dan barang-barang bawaan. Garasi ini disebut Ruang Cirebon karena adanya ukiran wayung berbahan kayu yang berasal dari sana. Di sini Mas Rian memberi kami tebak-tebakan. Coba kamu lihat ukiran yang paling kanan, ada hewan apa di sana? Ayo coba perhatikan baik-baik. Jawabannya saya kasih di paling bawah halaman ini ya…

Jadi setelah baca tulisan saya, kamu jadi pengen berkunjung juga ngga? Kamu bisa coba menghubungi nomer  (021) 7196 907 atau 0877 8238 7666 buat reservasi. Tapi kalo ga nyambung, mungkin bisa menghubungi Mas Riannya di 0813 1127 3300. Oke? Selamat berkunjung!

 

Museum di Tengah Kebun
Jalan Kemang Timur Raya No. 66 Jakarta Selatan
Click for Google Maps

museum-di-tengah-kebun.jpg.jpg

Jawaban : Gajah, coba diliat lagi dengan seksama

Iklan

14 pemikiran pada “Hati-Hati Kalo ke Museum di Tengah Kebun! (Jakarta)

  1. Mas Fachri, rombongan itu dalam jumlah minimal berapa orang? apakah saat ini masih menerima kunjungan saolnya denger2 katanya sdh tidak menerima kunjungan lagi. Kunjungan di akhir pekan Sabtu dan Minggu tersedia slot jam brp saja di pagi dan siang hari? terima kasih Mas Fachri. Salam.

    Suka

  2. Museum tengah kebun ini memang salah satu museum yang unik menurut saya. Kesan hommy kentara sekali ya.. Dan yang bikin kagum itu adalah koleksi-koleksinya yang sangat berharga dan banyak sekali.. 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s