Curug Dago, Di Tengah Kota Tapi Terpencil (Bandung)

Entah seberapa populernya tempat wisata alam yang satu ini, tapi yang pasti walau udah lama ngedenger namanya kalo baca buku-buku tentang sejarah atau geografi Bandung, saya baru kali ini nih nyempetin maen ke sini. Sesuai namanya, kamu pasti udah bisa menebak dong lokasinya ada di mana?

DSCF5529 (1280x853)

Kalo saya baca-baca di internet sih ada beberapa jalan yang bisa mengarah ke sini. Ada yang bilang dari Dago Tea House, kalo liat di Google Maps sih keliatannya emang bisa. Tapi saya sendiri sih masuknya dari jalan menurun yang ke arah Komplek Citra Green Dago. Pokoknya abis lewat dari Terminal Dago, ambil jalan ke arah Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Juanda, terus nanti ada jalan di sebelah kiri yang nurun banget, nah, belok di situ. Cuma, karena ga ada lahan parkirnya, agak riskan aja sih parkir mobil di sini. Mungkin kamu bisa parkir dan nitipin mobil kamu di warung deket sana sambil beli air mineral.

DSCF5532 (1280x853)

Dari pinggir jalan, kita menyusuri jalan setapak yang di satu sisinya ada tembok beton abu-abu yang membosankan. Tapi untungnya di satu sisi lainnya ada ladang berwarna hijau yang menyejukkan mata. Jalan kecil ini dipake juga oleh lalu lintas motor milik warga sekitar. Beberapa kali saya yang ke sini bareng Nanda mesti berpapasan ama motor.

DSCF5580 (1280x853)

Setelah berjalan sekitar 250 meter, melewati sebuah sekolah alam, pos tiketnya keliatan juga. Tapi karena waktu itu masih pagi banget, bahkan belom jam 6, jadinya belom ada yang jaga. Tiketnya sendiri sama kayak kalo kamu masuk ke Tahura Juanda karena Curug Dago ini emang masih bagian dari Tahura Juanda, 12 ribu untuk perorangan, tiket motor 5 ribu, dan turis asing 52 ribu. Jadi, dengan tiket yang sama ini kamu bisa berkunjung ke berbagai tempat wisata yang masih berada di dalam komplek Tahura Juanda, misalnya Tebing Keraton.

DSCF5576 (1280x853)

DSCF5535 (1280x853)

Dari pos, kita menuruni sedikit anak tangga sampe keliatan dua buah papan yang salah satunya bertuliskan “Prasasti Curug Dago.” Tepat di hadapannya ada taman bermain anak-anak yang ada perosotannya, ayunan, dan arena lainnya. Mungkin sengaja dibuat kalo-kalo si anak ga berminat turun ngeliat air terjunnya dan memilih bermain di sini. Buat pengunjung yang bawa motor, sepertinya di sini jadi lahan buat tempat parkirnya.

DSCF5536 (1280x853)

Salah satu pertimbangan kenapa anak-anak (atau juga orang tua yang udah agak uzur) adalah jalan menurun ke air terjun agak terjal (hmmm, kalo menurun disebut terjal juga kan ya?). Walau ada beberapa bagian pagar semennya yang rusak, untungnya ga sampe mengganggu perjalanan kita ke bawah.

DSCF5551 (1280x432)

Ah, akhirnya saya bisa ngeliat Curug Dago dengan mata kepala sendiri setelah sebelumnya cuma ngeliat dari internet doang. Tentu rasanya berbeda ya. Curug Dago ini airnya berasal dari aliran Sungai Cikapundung. Kalo dirunut lebih ke atas lagi, airnya berasal dari Maribaya. Ketinggiannya juga ga terlalu tinggi, cuma sekitar 12 meter aja. Saya ga menyangka sih, Sungai Cikapundung yang terkenal itu diairi oleh air terjun kecil ini. Hanya saja yang sangat disayangkan adalah air sungainya kotor oleh sampah. Makanya, kamu jangan buang sampah sembarangan ya, di manapun! Sayangi alam. Kalo bersih kan enak diliat.

DSCF5550 (1280x853)

DSCF5564 (1280x853)

DSCF5571 (1280x853)

Selain memiliki pesona geografis, Curug Dago juga menjadi saksi sejarah yang buktinya tersimpan di dalam dua buah rumah-rumahan kecil berwarna merah. Di rumah yang terjauh dari air terjun, terdapat prasasti yang menjadi saksi kunjungan Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand pada 19 Juni 1896. Prasastinya sendiri baru dibuat pada kunjungannya yang kedua kali. Entah apa yang membuatnya sampe rela bersusah payah datang dua kali ke sini. Tahun 1896 gitu loh, entah seperti apa perjalanan yang ditempuh sang raja untuk mencapai air terjun ini.

DSCF5549 (1280x854)

DSCF5559 (1280x853)

Sementara di rumah kedua yang juga dicat warna merah, terdapat prasasti bertuliskan aksara Thailand juga. Prasasti ini menjadi monumen pengingat kunjungan Raja Prajadhipok (Rama VII) pada 12 Agustus 1929 yang datang untuk melihat prasasti peninggalan ayahnya. Luar biasa, setelah bapaknya, sekarang anaknya pun jauh-jauh berkunjung dari Thailand ke Bandung.

DSCF5574 (1280x853)

Tiket Masuk
Perorangan IDR 12K
Motor IDR 5K
Turis IDR 52K

 

Curug Dago
Dago Pojok, Coblong, Bandung
Click for Google Maps

img_20170129_225116.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s