Wisata Murmer ke Pendopo Kota Bandung (Bandung)

Pendopo Kota Bandung? Tempat apaan sih itu? Banyak cerita yang meliputi tempat yang sejatinya merupakan rumah dinas walikota Bandung ini. Salah satunya yang paling molotok di kepala orang pastinya mengenai kisah-kisah angker yang menyertainya. Namun akhir-akhir ini Pendopo lagi naik pamor nih. Apalagi kalo bukan karena Ridwan Kamil, walikota kita tercinta ini lewat akun Facebook dan Instagramnya ngasih tau kalo pendopo dibuka untuk umum dari tanggal 25 Desember 2016 sampe tanggal 1 Januari 2017 kemaren. Hah, udah telat dong saya nginfoinnya? Ngga jugaaa. Soalnya setelah tanggal itu pendopo tetep bisa dikunjungin oleh umum tapi hanya pada hari Sabtu dan Minggu aja. Dan catet juga ya jamnya, pendoponya dibuka jam 9 pagi sampe jam 12 siang, terus nyambung lagi dari jam setengah 2 siang sampe jam 4 sore.

DSCF4754 (1280x853)

Pendopo sendiri berada tepat di sebelah selatan Alun-Alun Bandung. Jadinya kamu bisa ngemasukin tempat ini ke acara jalan-jalan kamu di Jalan Asia Afrika dan sekitarnya. Parkir mobil di mana? Kamu bisa parkir di parkiran yang ada di basement alun-alun. Tapi agak ribet juga sih mengaksesnya, mesti dari arah Jalan Dewi Sartika karena pintu masuknya pas banget di ujung alun-alun yang susah diakses kalo dari arah Jalan Asia Afrika. Saya sendiri akhirnya parkir di Jalan Dalem Kaum di depan Martabak Kubang Hayuda. Abis itu tinggal jalan deh ke Pendopo.

DSCF4749 (853x1280)

Di pintu gerbang saya disambut oleh seorang petugas keamanan yang meminta KTP saya. Walau datengnya rame-rame, cukup satu aja KTP yang dititipkan. KTP ini lalu mereka catet di semacam buku tamu, entah buat apa. Di dalem, euh, ternyata udah rame tapi untungnya ga pake banget. Jadi, walau namanya pendopo, di sini ada taman rumput yang ga terlalu gede, terus ada rumah dinas walikotanya di belakang, dan tentunya si pendoponya yang ada di antara keduanya. Di lapangan rumput ini para pengunjung melepas alas kakinya, mirip kayak lagi main di alun-alun. Anak-anak berlarian riang di taman rumput ini. Apalagi taman rumputnya rindang, ada pohon beringin gede banget yang rindang dan bikin teduh. Konon pohon beringin ini ditanam langsung oleh Bupati Bandung keenam, R.A. Wiranatakusumah II. Waktu itu pendopo merupakan rumah dinas bupati, bukan walikota kayak sekarang.

DSCF4752 (851x1280)

DSCF4747 (851x1280)

Di sisi kiri dan kanan pohon beringin tadi terdapat dua buah struktur tembok bercat putih yang digunakan untuk menggantung lonceng keemasan seukuran badan manusia. Nah, cerita-cerita angker yang saya bilang di awal tadi sebagiannya meliputi lonceng ini. Ada yang bilang jangan coba-coba membunyikan lonceng ini kalo ga pengen celaka. Entah apa maksudnya tapi bisa jadi ada hubungannya dengan sejarah penggunaannya. Konon dulu lonceng ini sering dibunyikan untuk mengumpulkan orang-orang. Seringkali di antaranya dibunyikan pada saat akan diadakan eksekusi mati bagi para pemberontak pemerintah Hindia Belanda.

DSCF4753 (1280x853)

DSCF4730 (1280x853)

Pendopo dibangun sekitar tahun 1810 masehi dan merupakan bangunan pertama yang dibangun di alun-alun Bandung. Saat itu, Bandung bahkan baru aja “ada” akibat adanya perintah dari Jenderal Mas Galak alias Daendels untuk mendirikan sebuah kota di situ, mengikuti adanya pembangunan Jalan Raya Pos yang terkenal. Saat ini, pendopo digunakan untuk tempat melakukan kegiatan masyarakat kota Bandung, komunitas-komunitas, dan juga nikahan massal untuk warga kelas menengah ke bawah.

DSCF4742 (853x1280)

DSCF4732 (1280x853)

Di salah satu sudut pendopo ada Gong Integritas Bangsa yang memuat simbol-simbol keagamaan dan logo seluruh kabupaten di Indonesia. Di sudut satunya lagi, ada seperangkat gamelan laras salendro yang kondisinya cukup terawat. Entah kapan gamelan ini dimainkan. Tapi sepertinya akan menarik kalo dimainkan dan bisa diliat para pengunjung kayak di Museum Keraton Jogja.

DSCF4739 (2560x864)

DSCF4737 (1280x853)

Nah, di belakang pendopo adalah rumah dinas walikota yang dari tadi kita omongin. Jadi bukan “pendopo”nya yang jadi rumah dinas walikota. Tapi kita tentunya ga bisa masuk ke dalam dan cuma bisa ngeliat semacam ruang tamunya gitu. Ada empat deret meja dan kursi-kursi yang sepertinya digunakan oleh walikota untuk menyambut tamu penting. Saya membayangkan Kang Ridwan Kamil duduk si salah satu kursi merah yang ada di ujung itu. Kursi merah satunya lagi? Mungkin buat tempat duduk si Cinta alias Teh Atta yang merupakan istri beliau.

DSCF4762 (1280x855)

Sebelom pulang, saya masih sempet sedikit narsis di dinding yang ada di samping pagar depan pendopo. Di sini ada sketsa figur walikota dan bupati Bandung dari masa ke masa. Ceritanya mungkin siapa tau ntar muka saya yang digambar di sini, hahaha.

 

Pendopo Kota Bandung
Jalan Dalem Kaum, Alun-Alun, Bandung
Click for Google Maps

pendopo-bandung.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s