Kangen Nasi Goreng Hitamnya RM Legoh (Bandung)

Udah lamaaaa banget sejak saya dan keluarga terakhir kali makan di sini. Beberapa tahun belakangan, rumah makan ini memang dilanda isu serius (yang konon emang kenyataan) kalo mereka menyajikan menu yang tidak halal. Menu yang tidak halal ini emang hanya akan diberikan pramusaji kalo diminta oleh si pelanggan. Intinya, cara seperti ini menurut saya kurang baik karena menunjukkan ketidakterbukaan untuk pengunjung. Walau kalo denger-denger sih, mereka bilang alat masaknya dipisah. Tapi coba saya tanya deh, sebagai pengunjung muslim apakah kamu mau ambil risiko? Masalah seperti ini memang sensitif. Makanya saya lebih respek buat mereka yang mau memberikan keterangan “non halal”, karena sebagian muslim juga bisa jadi tidak paham nama-nama menu yang ga halal seperti sekba atau bakut. Ini baru namanya berbisnis dengan itikad yang baik.

Maka, demi mendengar kalo sekarang mereka udah ga menjual menu babi lagi, saya udah mengonfirmasinya dengan temen saya, Ulu, yang udah lebih dulu ke sini, saya memberanikan diri dateng ke sini. Dan memang menurut pramusajinya, sudah 5 bulan belakangan Legoh memutuskan untuk tidak menjual menu babi lagi. Menurut saya sih, ada baiknya kalo mereka melakukan klarifikasi resmi di situs web atau media sosialnya. Karena kata-kata owner kan tentunya lebih meyakinkan daripada konfirmasi dari saya atau Ulu.

DSCF4271 (1280x853)

Legoh ini punya tempat yang terbuka dan cukup lega. Tapi sama sekali ga memiliki facade yang menarik. Dari pinggir Jalan Trunojoyo malah yang keliatan barang-barang jualan. Beberapa saat setelah duduk, ada dua orang bule yang dateng. Entah dari mana mereka tau tempat ini. Saya yang waktu itu bareng ama Nanda berkenalan dengan mereka. Namanya Laura dan Fred. Mereka orang Jerman yang tinggal di Amsterdam, masing-masing berhenti kerja dari Asics dan Calvin Klein dan memutuskan untuk menjadi traveller. Wow banget ya? Mereka memilih Indonesia sebagai destinasi mereka yang kedua, setelah sebelumnya ke Filipina. Uniknya, setelah mengobrol agak lama, saya merasa mereka ini tampaknya dateng dengan persiapan yang ga mateng. Mereka serba ga tau tempat wisata apa aja yang terkenal dan mesti dikunjungi. Apakah kayak gini gaya travelling orang Eropa?

menuLegoh-okt2016v1-dpn-web

menuLegoh-okt2016v1-blkg-web

Menu ini saya ambil dari situs web mereka. Menunya beragam dan serba Indonesia banget, ada menu nasi goreng, sapi, ikan, cumi, ayam, bebek, sayuran, cemilan, dan macem-macem sambel khas juga mereka sedia. Lengkap dengan gambarnya. Menarik. Saya suka banget sama Indomie Sambel Roanya Warunk Upnormal, saya pesen tuh sambel roanya yang merupakan sambel khas Manado. Terus, senengnya lagi, waktu kita ke sana, lagi ada promo diskon 10% dengan cara follow media sosial mereka dan mengunggah foto lagi makan di situ ke salah satu media sosial mereka. Sampe kapan promonya berlangsung? Ga tau deh. Mendingan kamu buruan ke sana.

DSCF4267 (1280x853)

Legoh menawarkan berbagai menu nasi goreng dengan range harga 25 hingga 33 ribu rupiah. Yang menarik sih menurut saya nasi goreng hitam dan nasi goreng roa. Udah pernah denger nasi goreng hitam? Mungkin belum. Emang jarang banget sih rumah makan yang menawarkan menu ini. Jadiii, nasi goreng ini tuh kecapnya digantikan oleh tinta cumi. Oke, siapa yang agak bergidik pas saya bilang tinta cumi? Saya juga begitu. Dulu waktu saya pernah tinggal di Labuan, Banten, ibu saya pernah beli nasi yang berwarna hitam gitu ke rumah. Saya juga memandang dengan penuh kejijikan. Entah kenapa saya waktu itu akhirnya mau mencoba. Dan ternyata, nasi goreng dengan tinta cumi ini emang enak lho. Gurihnya minta ampun. Dan sensasinya emang beda daripada nasi goreng biasa yang pake kecap manis.

DSCF4270 (1280x854)

Tapi, yang beli nasi goreng hitam itu bukan saya sih, karena Nanda mau beli itu. Daripada dobel, saya mendingan milih menu lain kan. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya mesen lele lada garam setelah sempet terjadi pergolakan batin antara mau beli itu, dori mayo, atau cakalang rica. Pas dateng, lelenya ternyata gede banget. Mungkin 2.5 kali ukuran pecel lele pinggiran jalan. Yang keliatan kayak bubuk-bubuk itu adalah cacahan bawang putih yang digoreng dengan lada dan garam. Masalahnya, walaupun lelenya excellent, tapi si bawnag putih lada garamnya terlalu asin. Cuma satu tumpukan aja yang kemakan, dan itupun padahal udah dimakan juga ama Nanda.

DSCF4268 (1280x853)

Sambal roanya, ga pedeeeeessss. Pedesnya ternyata mengandalkan potongan cabe rawit yang ada, kirain si sambel yang warnanya merah itu emang udah pedes. Rasanya sih enak dan masih bisa saya rekomendasikan. Potongan ikan roanya menurut saya kurang kecil dan kurang banyak.

DSCF4272 (1280x853)

Selain nasi goreng hitamnya, yang dikangenin dari Legoh adalah keju aromanya. Jadi, mirip kayak pisang aroma, potongan keju digulung dengan kulit lumpiah dan digoreng. Rasanya enak banget dah. Dan saya belom pernah nemuin menu yang sama di tempat lain. Kejunya juga ga terlalu terasa asin karena, kayaknya sih ya, dikasih gula pasir yang jadi meleleh ketika digoreng. Empat potong keju aroma habis tak terasa.

Lele Lada Garam IDR 23K
Nasi Goreng Hitam IDR 23K
Sambal Roa IDR 11K
Keju Aroma IDR 10K
Nasi Putih IDR 5K

 

Rumah Makan Legoh
http://rmlegoh.com/
Jalan Sultan Agung No. 9 Bandung
Click for Google Maps

legoh.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s