Ngeliat-Liat Museum Sejarah Alam Indonesia (Bogor)

Perlu saya kasih tau sebelumnya kalo museum ini sampe beberapa bulan sebelum saya ke sini masih bernama Museum Etnobotani yang berada di gedung Herbarium Bogoriense. Ide dan gagasan mendirikan Museum Etnobotani Indonesia (MEI) dicetuskan oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo yang saat itu menjabat Ketua Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) yang sekarang bernama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Setelah melalui proses yang cukup panjang, mengumpulkan artefak etnobotani dari seluruh daerah di nusantara, ruang pamer MEI baru bisa diresmikan bertepatan pada hari ulang tahun Kebun Raya Bogor ke-165 pada tanggal 18 Mei 1982 oleh B.J. Habibie yang pada saat itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi.

DSCF3450 (1280x855)

Museum Sejarah Alam Indonesia merupakan pengembangan dari Museum Etnobotani Indonesia yang baru dideklarasikan pada tanggal 31 Agustus 2016 silam. Ke depannya, museum yang merupakan satu-satunya di Indonesia ini dalam pengembangannya akan bekerja sama dengan museum-museum lain di dunia. Pembangunan gedung setinggi lima lantai akan dilakukan secara bertahap dari tahun 2017 hingga tahun 2019. Oke, mungkin kalo pembangunannya udah rampung, saya baru akan berkunjung ke sini lagi.

DSCF3482 (1280x853)

Setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar 5000 rupiah, yang kayaknya udah jadi standar biaya masuk museum. Waktu kunjungan setiap Senin sampai dengan Jumat dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore dan akan tutup pada saat pelaksaan sholat Jumat. Karena waktu itu saya dateng pada hari Jumat, saya sholat Jumat di Masjid Istana Kepresidenan Bogor. Sayangnya, pada hari Sabtu dan Minggu yang semestinya akan lebih banyak pengunjung, museum masih menerapan aturan “dengan perjanjian”. Mungkin waktu buka itu menyesuaikan dengan hari kerja pegawai LIPI.

DSCF3477 (1280x855)

Di lantai satu museum terdapat berbagai ruangan yang dapat kita liat, mulai dari lobi yang menampilkan foto-foto Bogor dulu dan kini serta keanekaragaman hayati Indonesia dan pemanfaatannya, bahan obat-obatan, sejarah rempah, ruang gaharu, hingga ke ruangan pangan alternatif yang berada di ruangan paling ujung.

DSCF3493 (1280x853)

Ini adalah ruang kerja tempo dulu yang menyimpan berbagai benda yang digunakan oleh seorang peneliti dalam pekerjaannya. Alat-alatnya bener-bener jadul, jadi mungkin ga mencerminkan apa yang digunakan oleh mereka saat ini (atau jangan-jangan masih?). Lalu ada lemari berisi koleksi buku-buku tua, banner yang memperlihatkan alur kerja di museum, serta foto-foto kepala museum dari masa ke masa. Keliatannya mereka cuma memanfaatkan benda-benda usang yang udah ga kepake lagi aja sih ini mah.

DSCF3504 (1280x854)

Di ruang sejarah rempah, pengunjung diajak bertualang menyelami sejarah penemuan rempah-rempah oleh bangsa asing yang menyebabkan bangsa kita dijajah begitu lama. Lalu dipaparkan pula infografis mengenai produksi rempak-rempah dunia di mana Indonesia ternyata “cuma” berada di peringkat ketiga dengan 260 ribu ton, di bawah India dengan 2,25 juta ton dan Cina dengan 584 ribu ton. Rempah-rempah yang diperdagangkan meliputi di antaranya kunyit, kluwek, lengkuas, kapulaga, jahe, lada, cengkeh, pala, cabai, dan kayu manis.

DSCF3520 (1280x855)

Di ruangan terakhir pengunjung bisa melihat pangan-pangan alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti pangan pokok. Tata ruangnya membuat saya serasa sedang berada di pameran pangan. Banner-banner warna-warni dengan berbagai warna dan desain yang ga uniform memenuhi ruangan ini. Keliatan banget sih mereka kayak hanya memanfaatkan alat-alat peraga sisa pameran.

DSCF3537 (1280x853)

Sampe di ujung ruangan, saya baru sadar kalo apa yang dari tadi saya liat ternyata bukanlah bagian dari ruang pameran tetapnya museum. Ternyata ruang museum yang sebenarnya berada di ruangan basement yang sama panjangnya dengan ruangan lantai satu. Di sini ada lima lorong panjang yang bisa dikelilingi oleh pengunjung. Tata letaknya agak membingungkan dan tidak terasa pengelompokannya. Ditambah lagi tidak ada petunjuk alur untuk pengunjung. Tapi yang menyenangkan, ruangannya full AC dan full music walau playlist-nya terasa kurang cocok sama museum ini.

DSCF3543 (1280x853)

Di beberapa panel museum, terdapat bagian-bagian yang disponsori oleh perusahaan-perusahaan seperti Asia Pulp and Paper (Sinarmas APP), PT Perkebunan Nusantara VIII, dan Museum Biofarma yang berada di bawah pengelolaan langsung Biofarma Bandung. Sebagai perusahaan yang masing-masing bergerak di bidang perkebunan dan vaksin, keduanya tentu bersinggungan secara langsung dengan keanekaragaman hayati nusantara.

DSCF3559 (1280x852)

DSCF3552 (1280x853)

DSCF3567 (853x1280)

DSCF3562 (1280x853)

Ada banyak banget panel di ruangan ini. Inget kan tadi saya bilang lorongnya aja ada lima? Nih ya catetan saya, ada panel yang memaparkan flora purba, berbagai macam kayu penting, mainan-mainan tradisional anak yang terbuat dari tumbuhan, alat musik tradisional, rotan dan kegunaannya, lontar dan kegunaannya, minuman tradisional, minuman fermentasi tradisional, jamu, pisang, peralatan pertanian, pangan nusantara, serta berbagai keanekaragaman hayati yang telah berpadu dengan budaya di masing-masing daerah.

DSCF3558 (1280x853)

DSCF3569 (1280x854)

Jam Buka
Senin-Kamis 08.00-16.00
Jumat 08-11.00, 13.00-16.30
Sabtu dan Minggu TUTUP (dengan perjanjian)

Tiket Masuk
Umum IDR 5K

 

Museum Sejarah Alam Indonesia
Jalan Ir. H Juanda No. 22-24 Bogor
Click for Google Maps

museum-sejarah-alam-indonesia.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s