Menelusuri Sejarah Seni Kita di Museum Seni Rupa dan Keramik (Jakarta)

Yak, bisa dibilang Museum Seni Rupa dan Keramik adalah rangkaian museum terakhir yang saya kunjungi di di kawasan Taman Fatahillah. Sebelumnya saya udah ngunjungin Museum Sejarah Jakarta alias Museum Fatahillah dan Museum Wayang. Saya memarkirkan motor di lahan parkir kecil yang ada di samping Stasiun Kota alias Beos lalu jalan sekitar 300 meteran ke sini. Karena udah diatur menurut Perda No. 1 Tahun 2015, tarif masuknya sama dengan kedua museum tadi, 5000 rupiah untuk orang dewasa, 3000 untuk mahasiswa, dan 2000 saja untuk pelajar dan anak-anak. Tarif ini bisa lebih murah lagi kalo kita dateng secara rombongan, minimal 30 orang. Hari tutupnya juga sama, seperti biasa, setiap hari Senin.

DSCF3591 (1280x853)

Sesuai fungsi awalnya, gedung yang dibangun pada tahun 1870 berdasarkan rancangan W.H.F.H van Raders ini (panjang amat singkatan namanya) digunakan sebagai kantor Dewan Kehakiman di Benteng Batavia. Entah apa maksudnya “di Benteng Batavia” tapi lembaga ini merupakan peradilan tertinggi pada masa itu. Pada masa pendudukan Jepang, gedung yang bergaya neo klasik ini beralih menjadi asrama militer. Sempat pula digunakan sebagai kantor walikota Jakarta Barat, lalu Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, hingga pada tahun 1976 diresmikan oleh Soeharto sebagai Gedung Balai Seni Rupa. Baru tahun 1990 namanya berubah menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.

DSCF3600 (852x1280)

Museum ini menyimpan berbagai koleksi lukisan, patung, dan benda seni karya seniman-seniman Indonesia sejak tahun 1800-an hingga sekarang. Pembagian ruangan-ruangannya menggambarkan sejarah seni rupa Indonesia. Lukisan dipamerkan di sayap kiri museum sementara keramik dipamerkan di sayap kanan.

DSCF3621 (1280x855)

Kebetulan pas saya lagi ke sana, lagi ada pameran temporer bertemakan “Jati Diri: Periskop Sejarah Seni Rupa Indonesia” yang berlangsung dari bulan Oktober 2016 hingga Januari 2017. Pameran ini memamerkan karya dari 16 pelukis, termasuk Affandi dan Basoeki Abdullah yang mungkin lebih dikenal banyak orang. Tapi saya yakin bagi pegiat seni, keempat belas nama lainnya bukanlah nama yang asing. Saya yang beberapa waktu lalu sempet dateng ke Pameran Koleksi Lukisan Kepresidenan di Galeri Nasional, cukup familiar dengan nama-nama tersebut. Dan saya juga sebenernya agak bingung sih, apa bedanya koleksi yang ada di sini dan di Galeri Nasional? Kayaknya amat sangat beririsan.

DSCF3610 (1280x853)

DSCF3628 (852x1280)

DSCF3629 (1280x853)

DSCF3632 (1280x855)

DSCF3634 (1280x856)

Pameran ini menampilkan lukisan dan sketsa yang dibuat antara tahun 1946-1980. Rangkaian koleksi yang dipamerkan ini diharapkan tidak hanya mengingatkan kembali kepada tokoh-tokoh seniman kita melalui perjalanan sejarah Indonesia, tetapi juga ingin mengajak masyarakat umum dan pencinta seni untuk berpartisipasi dalam perkembangan seni rupa Indonesia khususnya dengan membangkitkan kembali semangat nasionalisme untuk membangun yang ada di negeri kita. Keren ya pesan-pesannya? Itu bukan kata-kata saya melainkan kuratornya pameran.

IMG_20161105_105907 (1280x854)

Beres ngeliat pameran temporer, yang saya ga dilarang sama sekali buat pake kamera bagus saya, di dalem ruangan pameran tetap saya hanya diperbolehkan memotret dengan kamera hape. So, maafkan ya kalo gambarnya kurang oke dan noise-nya kadang parah.

Ruangan pertama adalah ruangan yang memaparkan sejarah gedung museum. Intinya sih kayak yang tadi saya sampein lah. Ruang kedua disebut ruang pengenalan. Di sini dijelaskan mengenai sejarah seni lukis dan keramik di Indonesia. Walau ada layar TV dan komputer yang saya yakin maksudnya supaya lebih interaktif dengan pengunjung, tapi sayangnya ga ada yang nyala. Ruangan ketiga adalah ruang masa pra sejarah yang menyimpan figur dan gerabah yang terbuat dari bahan tanah liat (tapi saya sih ga yakin mereka berasal dari masa prasejarah).

IMG_20161105_105941 (1280x960)

IMG_20161105_110042 (1280x853)

Seni lukis wayang kamasan adalah salah satu bentuk karya seni klasik yang berawal pada abad ke-17 di zaman Kerajaan Gelgel di desa Kamasan, Kabupaten Klungkung sekarang. Pada umumnya lukisan menggambarkan cerita-cerita yang mengandung nilai filosofis agama Hindu dan budaya Bali.

IMG_20161105_110108 (1280x854)

Lukisan kaca Cirebon diperkirakan lahir dan berkembarng sejak abad ke-17 pada masa pemerintahan Panembahan Ratu di Cirebon. Seiring dengan masuknya kebudayaan Cina, Hindu, dan Islan, lukisan kaca Cirebon memiliki banyak ragam. Selain tema pewayangan, lukisan kaca juga banyak mengambil tema keagamaan yang menampilkan kalografi ayat Alquran.

IMG_20161105_110220 (1280x853)

Raden Saleh dianggap sebagai perintis seni lukis modern Indonesia. Beberapa karyanya yang paling terkenal, yaitu “Penangkapan Pangeran Diponegoro”, “Perburuan Rusa”, dan “Banjir di Jawa”. Koleksi lukisan Raden Saleh sini sayangnya hanya repro karena lukisan-lukisan aslinya banyak yang berada di museum di Belanda.

IMG_20161105_110345 (852x1280)

Masa Mooi Indie yang muncul di awal abad ke-20 ditandai oleh lukisan-lukisan yang menampilkan keelokan pemandangan alam di Hindia Belanda. Banyak pula pelukis asing yang datang karena tertarik dengan keindahan alamnya dan eksotisme wanita, seperti karya Antonio Blanco di atas yang berjudul “Dancing in the Cloud”. Pelukis-pelukis lainnya dari era ini antara lain Abdullah Suriosubroto, Mas Pirngadi, Wakidi, Ernest Dezentje, Walter Spies, Rudolf Bonnet, Lee Man Fong, dan Biau Tik Kwie.

IMG_20161105_110416 (1280x854)

Persagi atau Persatuan Ahli-Ahli Gambar Indonesia bediri pada tahun 1938 dengan membawa semangat seni lukis Indonesia modern. Dikatakan oleh S. Sudjojono bahwa setiap lukisan mencerminkan pribadi pelukisnya masing-masing, berbeda halnya dengan gaya Mooi Indie yang dinilai hanya meniru keindahan alam tanpa ada makna lain. Lukisan di atas merupakan contoh lukisan dari era ini yang berjudul “Rapat Ikada 1965” karya Otto Djaya.

IMG_20161105_111338 (1280x960)

Setelah Zaman Jepang yang ditandai oleh lembaga kebudayaan Keimin Bunka Sidhoso, sejarah seni lukis Indonesia memasuki Era Sanggar, di mana para seniman, pelukis, budayawan, dan sastrawan sering berkumpul mengadakan berbagai kegiatan dan latihan. Dua seniman yang terkenal dari era ini adalah Affandi dan S. Sudjojono yang masing-masing memiliki sanggar-sanggarnya sendiri.

IMG_20161105_111403 (960x1280)

Pada tahun 1955-1965, seni lukis Indonesia dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia untuk menyuarakan ideologi politik dengan membawa tema-tema kerakyatan. Banyak pelukis yang waktu itu terseret di bawah naungan Lembaga Kebudayaan Rakyat, Lekra, bentukan PKI, di antaranya Hendra Gunawan, Trubus, Djoko Pekik, Amrus Natalsya, dan Henk Ngantung. Karya berjudul “Rumah-Rumah China di Jatinegara” di atas dibuat oleh Amrus Natalsya pada tahun 2000.

IMG_20161105_111639 (1280x960)

IMG_20161105_111648 (960x1280)

Masa Akademi Seni Rupa ditandai oleh bermunculannya sekolah tinggi seni dengan berbagai jurusan. Pada tahun 1947 di Bandung didirikan lembaga pendidikan seni rupa yang meneriman mahasiswa sebagai calo guru gambar. Pada tahun 1956 berdiri Seksi Seni Rupa yang menjadi cikal bakal Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Pada 1950 di Yogyakarta berdiri Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang kini dikenal sebagai Institut Seni Indonesia (ISI).

IMG_20161105_111741 (1280x960)

Sejak era orde baru, seni lukis Indonesia bangkit melalui gebrakan Grup Sebelas Seniman Bandung yang berpameran di Jakarta pada tahun 1966. Karya di atas merupakan karya khas Popo Iskandar yang sering bertemakan kucing.

IMG_20161105_111940 (1280x962)

IMG_20161105_112143 (1280x961)

IMG_20161105_112314 (960x1280)

Dari ruang pamer lukisan yang berada di sayap kiri museum, pengunjung selanjutnya bisa melihat-lihat koleksi keramik yang berasal Asia dan Eropa dan kapal-kapal karam. Keramik-keramik ini meliputi berbagai bentuk, karakteristik, fungsi, dan gaya yang berasal dari China, Jepang, Thailand, Eropa. Koleksi keramik China terutama berasal dari masa Dinasti Ming dan Chin.

DSCF3635 (1280x853)

Ruang terakhir yang ada di lantai dua sayap kanan adalah ruang yang memamerkan keramik nusantarayang nyaris berasal dari seluruh penjuru negeri. Koleksi keramik lokal berasal dari berbagai sentra industri daerah di Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Malang, Bali, Lombok dan lain-lain. Benda-benda yang terbuat dari tanah liat ini dipergunakan untuk berbagai tujuan, misalnya barang kebutuhan sehari-hari seperti wadah dan kendi juga ada yang digunakan sebagai hiasan bangunan.

Jam Buka
Selasa-Minggu 08.00-15.00
Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
Dewasa IDR 5K
Mahasiswa IDR 3K
Pelajar/Anak-Anak IDR 2K

 

Museum Seni Rupa dan Keramik
Jalan Pos Kota No. 2, Taman Fatahillah, Jakarta Barat
Click for Google Maps

museum-seni-rupa.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s