Jalan-Jalan ke Museum Fatahillah (Jakarta)

Siapa sih orang Jakarta yang ga tau Museum Fatahillah? Museum yang satu ini kepopulerannya mungkin mengalahkan museum-museum lainnya di Jakarta kayak Museum Nasional alias Museum Gajah yang ada di deket Monas. Walaupun nama resminya Museum Sejarah Jakarta, kebanyakan orang mengenalnya dengan nama Museum Fatahillah dikarenakan di depannya terdapat sebuah lapangan luas menyerupai plaza yang diberi nama Taman Fatahillah.

DSCF9772 (2560x579)

Lapangan ini setiap akhir pekan selalu ramai dipadati wisatawan dari dalam dan luar Jakarta yang ingin menikmati suasana di kota tua. Di sekeliling Taman Fatahillah memang terdapat berbagai bangunan tua dan juga dua buah museum lain, Museum Wayang di sebelah barat dan Museum Seni Rupa dan Keramik di sebelah timur.

DSCF9642 (1280x854)

Bangunan museum awalnya digunakan sebagai Balai Kota Batavia (Stadhuis van Batavia) yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal VOC, Johan Van Hoorn. Bentuknya konon menyerupai Royal Palace yang ada di Amsterdam. Sejujurnya sih saya merasa kalo bangunannya lebih mirip sama gedung SMAN 3 dan SMAN 5 di Bandung, hehehe.

DSCF9647 (1280x853)

Tepat di bawah tiang bendera yang berada di bagian depan gedung, terdapat plakat bertuliskan “Museum Sejarah Jakarta diresmikan oleh Gubernur KDH DKI Jakarta Ali Sadikin, 30 Maret 1974.” Sebelumnya, gedung ini pernah difungsikan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kantor pengumpulan logistik Dai Nippon, lalu pasca kemerdekaan sempat dijadikan markas Kodim 0503 Jakarta Barat hingga tahun 1968. Museum Sejarah Jakarta sendiri sebelumnya udah ada tapi menempati gedung yang sekarang beralih menjadi Museum Wayang.

DSCF9626 (1280x853)

Di hadapan Museum Fatahillah terdapat gedung kantor pos yang melayani keperluan komunikasi dari Batavia ke seluruh Indonesia ini didirikan pada tahun 1928. Bangunannya memiliki jendela vertikal yang sangat banyak sehingga menjamin ruangan di dalamnya memperoleh pencahayaan yang cukup.

DSCF9629 (1280x855)

Tepat di sebelah barat gedung kantor pos terdapat Gedoeng Jasindo yang baru saja beberapa tahun direnovasi sehingga tampak lebih ciamik. Gedoeng yang saat ini dimiliki oleh PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) ini dibangun pada tahun 1912 dan digunakan sebagai kantor NV West-Java Handel-Maatschappij (WEVA). Di sebelahnya lagi, ada Cafe Batavia yang udah terkenal sebagai rumah makan di kawasan ini. Pemandangan Museum Fatahillah dari sini keren banget lho.

DSCF9637 (1280x854)

Sementara itu, di antara kantor pos dan Gedung Jasindo terdapat Meriam Si Jagur yang terkenal karena bentuk tangannya yang seringkali dianggap porno. Zaman dulu, orang Portugis dulu kalo keluar di malam hari selalu mencoba menutupi semua lubang, termasuk sela-sela jari untuk mencegah masuknya roh jahat yang dipercaya masuk dari lubang-lubang di tubuh. Yak, Si Jagur ini asalinya adalah meriam Portugis dari Malaka yang direbut oleh Belanda. Meriam raksasa yang dibuat dari 14 meriam yang besinya dilebur menjadi satu ini pada tahun 1641 kemudian diboyong ke Batavia untuk memperkuat pertahanan kota.

DSCF9658 (1280x853)

Museum Sejarah Jakarta dibuka setiap hari Selasa hingga hari Minggu dari jam 9 sampe jam 3 sore. Mengingat begitu padatnya wisatawan yang mengunjungi kawasan kota tua, kalo ga mau berdesak-desakan, ada baiknya kalo kamu masuk museum tepat ketika baru dibuka. Kamu bisa membeli tiket di ruangan kecil yang ada di sayap barat bangunan. Harganya tergolong murah banget, orang dewasa cuma dikenai biaya 5 ribu rupiah aja. Untuk mahasiswa, pelajar, anak-anak, atau rombongan biayanya bahkan bisa lebih murah lagi.

DSCF9687 (1280x853)

Saya dengan terburu-buru memasuki ruangan demi ruangan di lantai satu karena takut pengunjungnya keburu rame sehingga saya sulit mengambil foto-foto koleksi museum. Walau sebenernya koleksi museum mencapai 23 ribu lebih, namun hanya sekitar 500an saja yang dipamerkan ke pengunjung.

DSCF9663 (1280x856)

Pada salah satu dinding museum tergantung museum karya S. Sudjojono yang berjudul “Penyerangan Mataram ke Batavia”. Lukisan yang proses pembuatannya memakan waktu hingga 37 tahun ini menceritakan pertempuran antara tentara Mataram yang berasal dari berbagai suku di Nusantara dan serdadu VOC di Batavia. Di dalam lukisan terdapat figur Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram ketiga, dan Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC, yang merupakan pucuk pimpinan dari masing-masing kubu yang bertikai.

DSCF9666 (1280x855)

Di lantai satu, pengunjung dapat mengetahui proses perkembangan kota Batavia pada awal-awal pendiriannya. Lalu ada juga ilustrasi-ilustrasi berupa peta, gambar bangunan, serta potret kehidupan warganya di masa itu.

DSCF9695 (1280x854)

Setelah puas melihat-lihat replika-replika prasasti, lukisan, diorama, maket, model replika, dan berbagai perkakas di lantai satu, di lantai dua pengunjung dapat melihat perabot-perabot kayu yang digunakan semasa pemerintahan Belanda.

DSCF9692 (1280x853)

DSCF9701 (1280x855)

Menurut saya sih, di lantai dua ini koleksinya amat sangat ga menarik. Ada sketsel atau penyekat ruangan, lemari kaca, lemari berlaci, meja, dan kursi. Spot foto juga ga ada yang menarik. Palingan di depan sketsel yang ukiran-ukirannya indah atau di depan sebuah lemari (Schepenkast) yang dulunya dipake buat naro arsip karena ukurannya yang cukup masif.

DSCF9711 (1280x854)

Dari lantai dua ini juga kita bisa ngeliat Taman Fatahillah dan air mancur yang berada di tengah-tengahnya. Bangunan air mancur berbentuk segi delapan ini merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat dari tahun 1743 hingga akhir abad ke-19. Air mancur yang sekarang hanyalah replika dari air mancur asli yang direkonstruksi pada tahun 1972.

DSCF9725 (1280x853)

DSCF9741 (853x1280)

Turun dari lantai 2, saya masuk ke bagian belakang museum yang disebut Masa Prasejarah. Di sini kita bisa mengetahui penemuan-penemuan bersejarah yang berasal dari daerah-daerah di sekitar Jakarta, seperti Prasasti Tugu, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Cidanghiang, Prasasti Batutulis, Prasasti Jambu, Prasasti Padrao, Arca Siwa, Arca Rajarsi, dan lain-lain lengkap dengan keterangannya. Prasasti-prasasti yang ada di sini merupakan replika, karena yang aslinya saya pikir ada di Museum Nasional.

DSCF9746 (1280x855)

Keluar ke halaman belakang, masih ada beberapa ruangan lain di gedung museum yang bisa kita kunjungi. Ada penjara bawah tanah di sebelah kanan pintu keluar, menuruni tangga. Sayangnya, ruangan ini ga bisa kita masuki karena tergenang air. Terus, naik ke lantai dua lagi, ternyata ada ruangan di lantai dua yang ga bisa dimasuki dari ruangan-ruangan penuh mebel tadi. Di sini disimpan berbagai koleksi pecah belah seperti botol, vas bunga, mangkok, dan teko. Karena agak tersembunyi, ga banyak pengunjung yang masuk sampe ke sini.

DSCF9754 (1280x854)

Kalo mau beli kenang-kenangan, ada toko cenderamata yang menjual berbagai benda hasil kerajinan tangan. Sebagai orang Indonesia sih, menurut saya isinya ga ada yang menarik. Udah sering liat di tempat lain. Ga ada yang unik. Tapi kalo buat dikasih liat sama turis-turis asing, masih bisa lah.

DSCF9770 (1280x853)

DSCF9758 (853x1280)

Tepat di belakang gedung museum, ada patung Dewa Hermes yang dulunya pernah dipasang di Jembatan Harmoni, sementara yang sekarang ada di sana justru merupakan replikanya. Dewa ini kerap dijadikan simbol dari organisasi pos karena dalam Mitologi Yunani memang bertugas untuk membawa pesan. Ciri khasnya adalah ia menggunakan sandal bersayap serta membawa tongkat yang disebut Caduceus.

DSCF9769 (1280x854)

DSCF9765 (1280x855)

Wisata ke Museum Fatahillah bisa dikatakan lengkap karena di halaman belakang ada pedagang jajanan kuliner khas Betawi, kerak telor dan es selendang mayang. Ada pikulan toge goreng juga sih, tapi kayaknya lagi ga jualan. Hmm, jalan-jalan saya kali ini bisa dikatakan berakhir dengan indah kenyang.

Jam Buka
Selasa-Minggu 09.00-15.00
Senin dan Hari Libur Nasional TUTUP

Tiket Masuk
Dewasa IDR 5K
Mahasiswa IDR 3K
Pelajar/Anak-Anak IDR 2K

 

Museum Kesejarahan Jakarta
Jalan Taman Fatahillah No. 1 Jakarta Barat

Click for Google Maps

museum-fatahillah.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s