Menyusuri “Benua” Asia Afrika Sampe ke Dalem Kaum (Bandung)

Bisa dibilang, Jalan Asia Afrika yang membelah kota Bandung menjadi sisi utara dan selatan ini penuh dengan sejarah. Jalan yang bernama asli De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos ini merupakan bagian dari rangkaian jalan sepanjang lebih kurang 1000 km yang membentangi Pulau Jawa dari kota kecil Anyer di ujung barat hingga Panarukan di ujung timur. Pembangunannya dilakukan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Saking bencinya rakyat pada masa itu, mereka menjulukinya dengan panggilan Jenderal Mas Galak. Tidak mengherankan mengingat jalan ini dibangun dengan penuh peluh keringat dan cucuran darah rakyat yang dipaksa menjadi pekerja.

Jalan Raya Pos ini sendiri dibangun untuk memperlancar komunikasi serta mobilisasi pasukan antar daerah di sepanjang pulau Jawa untuk mempertahankan diri dari serangan Inggris. Jalan ini menghubungkan kota-kota besar di pesisir utara Jawa antara lain Jakarta, Cirebon, Semarang, Surabaya, dan Probolinggo, dengan pengecualian kota Bogor, Cianjur, Bandung, dan Sumedang yang semuanya berada di tengah-tengah pulau Jawa. Hebatnya Daendels, jalan ini bisa dirampungkan dalam masa pemerintahan yang singkat dari tahun 1808 hingga 1811.

DSCF2418 (1280x853)

Oke, cukup perkenalannya, mari kita mulai jalan-jalannya. Walau memarkirkan mobil di deket Kantor Pusat Bank Jabar Banten, saya memilih untuk mulai berjalan-jalan dari Hotel Prama Grand Preanger (Google Maps) yang berada di perempatan Jalan Asia Afrika dan Jalan Tamblong. Sebelumnya hotel ini bernama Grand Hotel Preanger dan sebagai bagian dari rebranding, Aerowisata sebagai pengelola mengubah namanya sejak tahun 2014. Hotel berbintang lima yang bergaya Indische Empire ini dibuka sejak tahun 1920 dan turut berperan penting sebagai tempat penginapan bagi para delegasi Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Menariknya, saat direnovasi pada tahun 1929 oleh arsitek terkenal Prof. C.P.W Schoemaker, Ir. Soekarno sebagai salah satu mantan muridnya turut membantu.

DSCF2419 (1280x854)

Baru sedikit berjalan ke arah barat, kita udah disambut oleh Monumen KM Bandung 0+00 yang berada di halaman kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat (Google Maps). Seusai pembangunan jembatan Sungai Cikapundung sekitar tahun 1810 yang menjadi bagian dari De Groote Postweg, Daendels beserta Bupati Bandung, Raden Adipati Wiranata Kusumah II, melanjutkan berjalan kaki sesampainya di tempat ini, Dandels menancapkan tongkat kayu sembari berkata, “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota.” Lalu, di tempat inilah masyarakat kemudian membuat patok berupa tugu tanda Kilometer 0 (Nol). Saat itu memang pusat Kabupaten Bandung berada di Krapyak yang kini disebut Dayeuh Kolot. Namun konon sebelum ada permintaan Daendels tersebut, bupati Bandung memang sudah berencana untuk memindahkan pusat pemerintahan ke lahan kosong yang berada di barat Sungai Cikapundung karena Krapyak seringkali dilanda banjir pada musim penghujan.

DSCF2402 (1280x855)

Di seberang Dinas Bina Marga, agak nyerong dikit sih, ada satu lagi hotel tua yang terkenal di Bandung, namanya Hotel Savoy Homann Bidakara (Google Maps). Hotel bergaya art deco ini dibangun pada tahun 1939 dengan arsitek Albert Aalbers untuk menggantikan Hotel Homann yang dibangun pada tahun 1871 oleh keluarga Homann yang berasal dari Jerman. Banyak tokoh terkenal yang tercatat pernah singgah di sini. Pada tahun 1927, Charlie Chaplin beserta Mary Pickford, artis asal Kanada yang turut mendirikan studio film United Artist, pernah menginap di sini. Hotel yang juga digunakan sebagai akomodasi delegasi Konferensi Asia Afrika 1955 ini ditempati oleh Soekarno, Presiden Vietnam Ho Chi Minh, Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito, PM RRC Zhou Enlai, Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser dan PM India Jawaharlal Nehru.

DSCF2424 (1280x854)

DSCF2406 (853x1280)

Di seberang Hotel Savoy Homann terdapat kantor surat kabar kebanggaan masyarakat priangan, Pikiran Rakyat (Google Maps). Surat kabar yang memiliki slogan “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat” ini didirikan pada tahun 1966 oleh wartawan senior, Atang Ruswita.  Di depannya terdapat monumen mesin cetak yang sayangnya tidak diberi keterangan apapun.

DSCF2409 (1280x854)

DSCF2396 (1280x854)

Di samping Hotel Savoy Homann terdapat gedung tua lainnya, namanya Gedung De Vries (Google Maps). Gedung De Vries dulu dikenal sebagai toko serba ada (toserba) yang menjual berbagai macam keperluan sehari-hari mulai dari makanan, minuman, peralatan dapur, pakaian, dan lain sebagainya yang dimiliki oleh Klaas de Vries. Bangunan ini memiliki arsitektur klasik Eropa dengan menara yang berada di sisi timur bangunan. Sempat digunakan sebagai studio foto, toko mebel, dan bahkan diskotik, setelah tahun 1990an gedung ini dibiarkan kosong dan tidak terurus. Beruntung di pertengahan tahun 2010 Gedung De Vries direnovasi dan kini digunakan oleh Bank OCBC NISP yang memang sebelumnya telah memiliki gedung kantor di sebelahnya.

DSCF2428 (1280x855)

DSCF2430 (850x1280)

DSCF2440 (1280x853)

Di seberang Gedung De Vries terdapat Gedung Merdeka (Google Maps) yang pernah digunakan sebagai venue utama perhelatan Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Saat ini Gedung Merdeka diabadikan menjadi sebuah museum yang dapat dikunjungi setiap hari kecuali hari Senin dan tentunya hari libur nasional. Museum ini menyimpan berbagai memorabilia, foto-foto, serta kisah-kisah menarik yang terjadi selama diadakannya konferensi tersebut. Nah, sampe di sini, tentunya kamu udah bisa menebak dong, nama jalan ini berasal dari mana?

DSCF2454 (851x1280)

Tepat di atas jembatan sungai Cikapundung sekarang terdapat Monumen Dasasila Bandung (Google Maps) yang dipindahkan dari lokasi aslinya di Simpang Lima yang berada di ujung Jalan Asia Afrika di sebelah timur. Monumen pemenang sayembara patung Dasasila Bandung yang dibangun pada tahun 1984 ini merupakan hasil karya Sunaryo, seniman lulusan seni rupa ITB yang kemudian menjadi dosen seni rupa di almamaternya. Monumen ini memiliki lima putik yang melambangkan jumlah negara pemrakarsa Konferensi Asia Afrika, susunan sepuluh kelompok melambangkan sepuluh poin Dasasila Bandung, sementara bentuk bunga secara keseluruhan menegaskan citra Bandung sebagai kota kembang dan kota budaya.

DSCF2465 (1280x855)

DSCF2471 (1280x855)

Satu spot terkenal (eh, terkenal ga ya?) lain yang baru ada pasca peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika adalah dinding di bawah jembatan penyeberangan (Google Maps) yang tepat berada sebelum alun-alun Kota Bandung. Di sisi kirinya ada kutipan oleh M.A.W Brouwer, “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum,” seorang psikolog dan budayawan kelahiran Delft, Belanda, yang menamatkan kuliahnya dari Universitas Indonesia dan kelak menjadi pengajar di Universitas Pajajaran dan Universitas Parahyangan. Sementara kutipan di dinding sebelah kanan merupakan kutipan kekinian yang pernah dilontarkan oleh Pidi Baiq, “Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi,” seorang seniman yang pernah menjadi Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB namun lebih terkenal sebagai penulis buku serial “Drunken” dan imam besar The Panas Dalam, sebuah grup band yang asal Bandung yang suka membuat lirik lagu yang kocak.

DSCF2477 (1280x854)

DSCF2480 (1280x854)

Melewati jembatan penyeberangan tadi, ada Monumen Solidaritas Asia Afrika (Google Maps) yang baru dibuat pada peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika pada tahun 2015 silam. Monumen ini di atasnya terdapat bola dunia, di satu sisinya terdapat tulisan “ASIA AFRIKA” sementara di sisi lainnya terdapat pahatan nama-nama negara peserta konferensi. Monumen ini dulu sempat menghebohkan dunia maya karena nama-nama negara ini awalnya tidak dibuat dengan metode pahat sehingga banyak yang rusak akibat dijadikan objek selfie para wisatawan. Saya sendiri sih suka bertanya-tanya, apa esensinya banyak bikin monumen kayak begini. Apakah nanti pas peringatan 70 tahun misalnya, mau bikin monumen lagi?

DSCF2547 (1280x853)

Sebelum ke alun-alun, mari kita mampir dulu melihat gedung Kantor Pos Besar (Google Maps) yang berada di pertigaan Jalan Asia Afrika dan Jalan Banceuy. Dulu saya, Ferdi, dan mamah sering ke sini untuk membeli perangko dan benda-benda pos lainnya untuk dikoleksi. Iya, saya dan adik saya dulu pernah jadi filatelis. Sejarahnya pun unik, saya jadi filatelis semenjak ada pameran perangko di Gedung Merdeka tadi itu. Tapi sayangnya, semenjak harga perangko semakin mahal, kita akhirnya berhenti koleksi deh. Tiga buah album perangko teronggok di lemari buku saya.

DSCF2487 (2560x770)

DSCF2493 (1280x856)

Nah, ini dia sebenernya tujuan jalan-jalan saya, Alun-Alun Bandung (Google Maps) yang jadi ciamik pasca direnovasi oleh Pak Walikota Ridwan Kamil. Dulu mah alun-alunnya berupa taman yang kumuh dan seringkali bau pesing sehingga mana ada yang mau jalan-jalan ke sini. Bayangin, padahal kan alun-alun itu notabene pusat kota yang mestinya jadi cerminan wajah kota. Apalagi Bandung juga punya slogan Berhiber (Bersih Hijau Berbunga) lah, Bermartabat (Bersih Makmur Taat Bersahabat) lah, atau julukan kota Kembang. Tapi, saya aja ga inget pernah main ke alun-alun sebelum direnovasi.

DSCF2495 (1280x855)

Sekarang alun-alun yang tepat berada di depan Masjid Raya Bandung ini jadi salah satu objek wisata murah meriah kebanggaan masyarakat Bandung deh. Setiap pagi atau malam hari tempat ini dipadati oleh warga kota yang mau refreshing. Tamannya masih ada, tapi hanya di sisi selatan, dan alun-alunnya jadi berkonsep lapangan terbuka yang ditutupi oleh rumput sintetis. Semua yang mau main di atas rumput sintetis ini wajib membuka alas kaki.

DSCF2500 (1280x853)

Di bawah alun-alun ada lahan parkir yang lumayan luas (iya lah, seluas alun-alunnya) dan pusat kuliner. Lahan parkir ini bisa digunakan oleh mereka yang emang mau main di alun-alun atau berjalan-jalan ke Dalem Kaum. Pusat kulinernya sendiri sebenernya pindahan dari para pedagang yang sebelumnya berjualan di alun-alun sebelum renovasi. Sayangnya pusat kuliner ini tidak terkelola dengan apik. Sepi dari pengunjung. Dan konon berhati-hati kalo mau makan di sini, tanya harga dulu sebelum memesan untuk menghindari hal-hal yang diinginkan si pedagang curang (halah).

DSCF2503 (1280x854)

DSCF2506 (1280x853)

Karena waktu itu tepat hari Jumat, saya emang udah sengaja ngepasin waktu jalan-jalan saya dengan diisi solat Jumat di Masjid Raya Bandung (Google Maps) yang berada di sisi barat alun-alun, seperti biasa. Masjid ini bisa dibilang udah tua banget, hampir seusia Bandungnya sendiri, karena dibangun pada tahun 1810 setelah pusat kota dipindah dari Krapyak ke sini. Tentunya bentuk awalnya tidak seperti sekarang ini, masih sangat sederhana namun bentuknya sangat khas, memiliki model khas Sunda dengan atap tumpang bertingkap tiga. Hingga tahun 2001, tercatat tidak kurang dari 20 kali renovasi dan pemugaran telah dilaluinya. Sayangnya menurut saya sih, masjid ini memiliki interior yang biasa-biasa saja.

DSCF2560 (1280x853)

Hal menarik yang bisa kamu lakuin di sini adalah naik ke menaranya. Masjid Raya Bandung punya menara kembar yang salah satunya bisa dinaikin oleh para pengunjung dengan hanya membayar tiket 5 ribu rupiah saja. Nanti kita akan menaiki lift (tentunya) hingga ke ketinggian lantai 19 di menara yang tingginya mencapai 81 meter tersebut. Dari sini saya bisa ngeliat bentuk alun-alun yang keren dengan taman yang ada di sampingnya.

DSCF2561 (1280x853)

Lalu di sebelah selatan alun-alun terdapat Pendopo Kota Bandung (Google Maps), yaitu bangunan yang dulunya digunakan sebagai kantor bupati Bandung. Sekarang justru berubah menjadi rumah dinas walikota. Saya pernah masuk ke sini dalam rangka ikutan lomba yang diadain ama Sahabat Museum KAA. Selain itu, saya taunya sih tempat ini sekarang dipake buat tempat resepsi nikahan gratis bagi warga kota yang kurang mampu. Ih, enak banget yaa.

DSCF2562 (853x1280)

Lalu tepat di selatan menara ada Jalan Dewi Sartika yang padat oleh kendaraan. Biasanya kalo jalan satu arah ini udah macet pasti deh gara-gara angkot ngetem yang ngeselin. Jauh ke sebelah selatannya lagi ada sekumpulan pepohonan hijau yang saya ga kepikiran itu apa. Baru pas nulis ini dan ngecek ke peta baru saya nyadar kalo itu adalah Lapangan Tegal Lega (Google Maps). Ih, cool ya, jadi kayak hutan kota gitu.

DSCF2564 (1280x854)

Di sebelah barat keliatan kubah masjid yang sederhana, di sekelilingnya ada bangunan-bangunan pertokoan. Kalo kamu perhatiin di sebelah kanan atas foto ada bangunan bertuliskan Dezon NV (Google Maps). Toko yang telah masuk dalam daftar bangunan cagar budaya ini dulunya merupakan toko serba ada yang udah berdiri sejak tahun 1925. Sayangnya sekarang bangunan ini tidak digunakan lagi.

DSCF2566 (1280x853)

Di sebelah timur, terlihat Jalan Dalem Kaum yang kini aspalnya udah berganti dengan beton berbentuk paving block dan ga jadi tempat parkir motor lagi. Keliatan bekas bangunan Kings Shopping Centre yang terbakar pada bulan Juni 2014 kini sudah diratakan dengan tanah dan sudah ada pekerjaan konstruksi untuk menggantinya dengan bangunan yang baru.

DSCF2515 (1280x853)

Puas melihat kota Bandung dari atas menara, perjalanan dilanjutkan ke Jalan Dalem Kaum. Kondisinya sekarang udah lebih rapi, malahan di deket masjid disediakan tempat duduk untuk para pejalan kaki. Di kiri kanan jalan terdapat pusat pertokoan, yang paling banyak adalah toko pakaian dan toko alas kaki.

DSCF2516 (853x1280)

DSCF2523 (1280x855)

Nyempil di antara rumah-rumah dan pusat pertokoan, ada gang kecil yang menjadi akses jalan ke makam Bupati Bandung (Google Maps) yang tadi udah saya ceritain, R.A. Wiranata Kusumah II, bupati keenam yang dianggap sebagai pendiri kota Bandung. Selain makam beliau, ada sekitar 130an makam lainnya yang berada di lahan sempit di sebelah utara Masjid Raya Bandung ini.

DSCF2538 (1280x853)

DSCF2542 (1280x853)

Oiya, jangan lupa sama tempat yang satu ini, Pasar Kota Kembang (Google Maps) atau orang suka menyebutkan Pasar Kokem. Pasar ini menjual barang-barang KW mulai dari sepatu, tas, hingga berbagai aksesoris wanita dengan harga yang cukup miring. Namun tentunya calon pembeli mesti memiliki kemampuan tawar menawar yang mumpuni. Konon, dulu tempat ini cukup terkenal di kalangan pelajar-pelajar badung karena adanya beberapa lapak yang menjual VCD film porno. Tapi kayaknya sekarang udah ngga lagi sih. Di hari Jumat siang itu, Pasar Kota Kembang terasa sangat lengang. Entahlah apakah di akhir minggu situasi ini akan berbeda.

 

TAMAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s