Berkunjung ke Museum Pos Indonesia (Bandung)

Bagi mereka yang memiliki hobi mengoleksi prangko (bukan perangko lho ya) alias filateli, sepertinya wajib untuk mengunjungi Museum Pos Indonesia yang berada di komplek Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Jalan Cilaki ini. Di sekitarnya juga terdapat banyak objek wisata lain, antara lain Museum Geologi, Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Taman Lansia, Taman Pustaka Bunga, dan yang paling terkenal tentu saja Gedung Sate. Sama seperti Museum KAA, museum ini juga tidak menarik biaya dari para pengunjungnya.

DSCF0205 (1280x853)

Di area depan kantor terdapat sebuah monumen yang disangga oleh struktur semen berwarna putih. Monumen yang disebut Tugu Peringatan Pahlawan PTT ini dibuat untuk mengenang para pegawai PTT yang tewas dalam rangka turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tahun 1945 hingga 1949. PTT sendiri merupakan singkatan dari Pos, Telegraf, dan Telefon, nama PT Pos Indonesia pada masa kemerdekaan. Di depan tugu tertulis puisi Chairil Anwar yang berjudul Karawang Bekasi sementara di batu di atasnya tertulis nama-nama pegawai PTT yang menjadi korban keganasan penjajah.

DSCF0133 (1280x854)

Kita memasuki area museum dengan menaiki tangga lalu berbelok ke teras di sebelah kiri. Di sini terdapat papan-papan yang mencamtumkan profil Mas Soeharto dan R. Dijar selaku Kepala dan Wakil Kepala Jawatan PTT yang pertama setelah kemerdekaan. Lalu ada profil Soetoko selaku salah satu panglima Angkatan Muda (AM) PTT yang berperan dalam pengambilalihan Kantor Pusat PTT dari tangan Jepang pada bulan September 1945. Ada juga Bendera Pusaka PTT berupa bendera merah putih kusam yang sempat dikibarkan di Kantor Pos Jakarta Pasar Baru pada 29 Desember 1945.

DSCF0132 (1280x855)

Museum pos menyimpan berbagai benda koleksi yang berkaitan dengan pos, antara lain ada koleksi sepeda tua yang biasa digunakan oleh tukang pos, diorama pos keliling desa, prangko dalam dan luar negeri, benda-benda filateli, peralatan pos, bis surat, dan masih banyaaak lagi.

DSCF0157 (1280x855)

Pas zamannya orang tua kita dulu, kayaknya profesi tukang pos ini profesi yang sangat dihormati ya. Gimana ngga, di zaman di mana telepon belum ada di mana-mana kayak sekarang ini, peranan tukang pos dalam menyampaikan kabar hingga ke pelosok-pelosok desa pastilah sangat besar, misalnya dalam mengantarkan surat-surat cinta dari ayah dan ibu kalian. Kehadirannya pasti selalu dinanti dengan hati berdebar-debar.

DSCF0140 (1280x856)

Di ruangan ini berbagai koleksi prangko dipamerkan. Ada yang ditaro dalam album, ada yang ditaro di papan berdiri, ada yang ditaro di lemari pajang, disebut vitrin, yang untuk melihatnya kita mesti menariknya dulu.

DSCF0145 (1280x855)

DSCF0155 (853x1280)

Koleksi prangko Indonesia yang disimpan di sini ada dari berbagai periode, mulai dari masa pra kemerdekaan alias masih prangko Hindia Belanda sampe ke masa sekarang. Prangko di atas misalnya, merupakan prangko yang unik karena peredarannya sangat singkat, yaitu pada masa Republik Indonesia Serikat dari tahun 1950 hingga 1951 saja. Inilah salah satu hal yang menarik dari prangko, ia turut merekam peristiwa bersejarah yang terjadi pada saat diterbitkan. Oiya, asal kamu tau aja ya, koleksi filateli itu ga cuma prangko doang lho. Ada juga yang namanya sampul hari pertama (SHP), lalu carik perangko berbingkai, kartu pos, dan masih banyak lagi.

DSCF0154 (1280x853)

Sementara itu, sebagian besar koleksi prangko luar negeri disimpan di vitrin. Koleksi prangko ini disimpan dalam vitrin yang lacinya diberi label nama negara dan tersusun berdasarkan alfabet.

DSCF0163 (1280x855)

DSCF0168 (1280x853)

DSCF0136 (1280x854)

Selain prangko kita juga bisa melihat koleksi benda-benda yang berkaitan dengan pos, misalnya nih ya, ada timbangan pos, materai, mesin hitung, denah, peta, mesin pengikat kantong, rak sortir, miniatur alat angkut pos, surat, piagam, mesik tik, mesin penjual prangko yang dulu sempat digunakan di Kantor Pos Besar Bandung, kantong pos udara, seragam petugas pos, kotak pos (bis surat), dan gerobak angkut.

DSCF0170 (1280x853)

Ini salah satu sudut di museum pos yang saya ambil gambarnya. Menarik? Lumayan sih. Saya sebenernya mau mengabadikan cat dindingnya yang sudah mengelupas dan tampak lembap. Saya udah bilang belom kalo Museum Pos ini berada di ruang bawah tanah? Tidak heran jika udaranya lembap. Pihak pengelola museum memang meletakkan beberapa air dehumidifier. Tapi tetep aja sih mengkhawatirkan, mengingat di sana disimpan banyak benda filateli yang tak ternilai harganya.

DSCF0173 (1280x853)

Di salah satu ruangan di museum ini, dipamerkan surat emas, yaitu surat dari raja-raja nusantara kepada para komandan dan jenderal kaum penjajah. Sebagian surat emas yang disimpan berasal dari museum di Inggris karena memang dulunya sebagian besar surat yang terdokumentasi dikirimkan untuk Sir Thomas Stamford Raffles. Isi surat dan naskah tersebut beragam, dari masalah ekonomi, perdagangan, sampai masalah politik dan kekuasaan. Media tulisnya terbuat dari kulit binatang, daun lontar, kertas ataupun bilah bambu.

Tiket Masuk
GRATIS

Jam Buka
Senin-Jumat 08.00-15.00
Sabtu 08.00-13.00
Minggu dan Libur Nasional TUTUP

 

Museum Pos Indonesia
Jalan Cilaki No. 73 Bandung
Click for Google Maps

museum-pos.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s