Napak Tilas Bung Karno: Museum KAA (Bandung)

Pada tanggal 18 hingga 24 April 1955, di Bandung diadakan sebuah perhelatan akbar yang cukup berani untuk diadakan oleh sebuah bangsa yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya 10 tahun yang lalu, Konferensi Asia Afrika (KAA). Namun demikian, perhelatan yang oleh dunia internasional dikenal juga dengan sebutan Bandung Conference ini telah berhasil membawa kesadaran akan kesamaan tujuan serta kerja sama di antara sesama bangsa Asia dan Afrika demi mewujudkan perdamaian dunia.

DSCF0214 (1280x854)

Untuk menyimpan, mengoleksi, dan mempresentasikan seluruh informasi mengenai latar belakang, perkembangan, serta jalannya Konferensi Asia Afrika kepada publik maka pada bulan Maret 1980 Gedung Merdeka yang merupakan tempat pelaksanaan konferensi diresmikan sebagai Museum Konperensi Asia Afrika.

DSCF0233 (1280x856)

DSCF0219 (1280x853)

Saat ini, Museum KAA menampilkan berbagai dokumen, foto-foto, poster, dan benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan sejarah KAA, termasuk kisah-kisah menarik di balik konferensi yang diikuti oleh 29 negara ini. Perpustakaannya menyimpan berbagai buku, majalah, koran, dan publikasi yang memuat informasi mengenai peranan negara-negara Asia Afrika di kancah internasional.

DSCF0212 (1280x853)

Dalam sesi pembukaan KAA, Presiden Soekarno membawakan pidato terkenalnya yang berjudul “Let A New Asia and A New Africa Be Born.” Selama 40 menit, tak kurang dari sepuluh kali tepuk tangan panjang memotong pidato proklamator Republik Indonesia itu. “Dunia kita yang malang ini terpecah belah, dan ternyata rakyat dari semua negeri berada dalam ketakutan, kalau-kalau di luar kesalahan mereka, serigala-serigala peperangan akan lepas lagi dari rantainya,” kata Soekarno dalam orasinya tersebut.

DSCF0225 (1280x565)

Gedung Merdeka pertama kali dibangun pada tahun 1895 dan saat itu dinamakan Societeit Concordia. Gedung ini digunakan sebagai tempat bersosialisasi oleh sekelompok masyarakat Belanda yang berdomisili di kota Bandung dan sekitarnya. Pada tahun 1926, gedung ini direnovasi dengan arsiteknya Van Galen Last dan C.P. Wolff Schoemaker, keduanya guru besar Technische Hoogeschool te Bandoeng yang kini telah menjelma menjadi Institut Teknologi Bandung. Kini, sebagian bangunan digunakan untuk ruang pameran, perpustakaan, kantor, dan lain-lain.

DSCF0248 (2560x885)

DSCF0250 (1280x853)

Konferensi Asia Afrika dilangsungkan di Gedung Merdeka, Bandung. Tempat yang strategis karena berada di tengah Bandung, dekat dengan dua hotel terkenal, Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger. Konferensi ini sendiri menghasilkan persetujuan yang dikenal dengan nama Dasasila Bandung (The Ten Principles of Bandung). Perlu dicatat bahwa Indonesia tidak sendirian dalam mengadakan KAA. Dalam pelaksanaannya Indonesia turut dibantu oleh India, Pakistan, Sri Lanka, dan Burma (Myanmar).

DSCF0230 (1280x853)

Dasasila Bandung menjadi pedoman bagi negara-negara terjajah untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Dalam perjalanannya, KAA menjadi batu loncatan penting dalam proses terbentuknya Gerakan Non Blok (Non Aligned Movement) yang tidak memihak Amerika Serikat (Blok Barat) dan Uni Soviet (Blok Timur) yang merupakan dua negara adidaya dunia saat terjadinya perang dingin.

Tiket Masuk
GRATIS

Jam Buka
Selasa-Kamis 08.00-16.00
Jumat 14.00-16.00
Sabtu-Minggu 09.00-16.00
Istirahat Siang 12.00-13.00
Senin dan Libur Nasional TUTUP

 

Museum Konperensi Asia Afrika
http://asianafricanmuseum.org/en/
Jalan Asia Afrika No. 65 Bandung
Click for Google Maps

museum-kaa.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s