Jalan-Jalan di Solo Berdua (Bagian 2 dari 2)

Baca dulu bagian sebelumnya di Jalan-Jalan di Solo Berdua (Bagian 1 dari 2)

 

HARI KEDUA

Es Dawet Telasih Bu Dermi (Google Maps)

Oke, di hari kedua ini saya menyarankan kamu buat balik lagi ke daerah Pasar Gede di utara Benteng Vastenburg karena kita bakal menjajal Es Dawet Telasih Bu Dermi yang konon menjadi langganannya Pak Jokowi.

DSCF1948 (1280x854)

DSCF1940 (1280x854)

Parkirnya di sebelah utara pasar aja karena es dawetnya deket banget dari situ dibanding kalo kita mesti masuk dari pintu utama pasar. Di dalem pasar ada beberapa penjual es dawet telasih, jadi jangan sampe salah beli. Liat-liat dulu plang namanya. Dan walaupun es dawet yang buka dari pagi hingga jam 3 sore ini hanya memiliki kursi yang terbatas untuk 4 orang doang sehingga kalo lagi rame kamu mesti rela berdiri.

DSCF1945 (1280x855)

Es dawet ini beda dengan es dawet lain yang biasanya kamu beli. Penyajian dengan menggunakan mangkok kecil lalu diisi dengan bubur sumsum putih, ketan hitam, dawet berukuran kecil-kecil, telasih atau selasih, lalu diberi gula cair, santan, dan tentunya es batu. Rasanya tentunya dingin-dingin seger, tidak terlalu manis, dan rasa santannya lebih mendominasi. Fay bahkan sampe ngasih poin 9.5 dari 10.

 

Mangut Ikan Pe (Google Maps)

Kuliner ini sebenernya saya cobain di Warung Idjo yang cukup terkenal di Karanganyar. Daripada dibuang sayang, mending saya masukin aja deh di sebelah sini, ceritanya buat ide sarapan kamu. Masak cuma makan es dawet doang? Iya ngga?

DSCF1829 (1280x855)

Di sini saya nyobain makan mangut yang udah penasaran dari dulu. Pertama kali baca menu makanan yang namanya mangut pas lagi kulineran di Rumah Makan Yogya di Tebet, Jakarta. Waktu itu saya penasaran sama mangut lele. Tapi karena di sini adanya mangut ikan pe (sejenis ikan pari), ya udah saya nyobain itu aja. Mangut sendiri adalah makanan sederhana berkuah santan berisi ikan yang rasanya gurih dengan racikan bumbu khas Jawa. Mungkin kamu bisa coba nyari makanan ini di Solo. Enak lho, saya suka. Apalagi tekstur daging ikan pari lembut dan agak kenyal.

 

Museum Radya Pustaka (Google Maps)

Museum Radya Pustaka berada di Jalan Slamet Riyadi, tepat berada setelah (karena jalannya satu arah) Taman Hiburan Rakyat Sriwedari yang ga saya kunjungi karena entah di sana ada apa. Semula museum ini bernama Paheman Radyapustaka, paheman berarti tempat berkumpul, radya berarti raja atau negara, dan pustaka berarti buku atau kitab, karena memang di sini disimpan berbagai karya para raja dan pujangga Keraton Kasunanan Surakarta. Maka tak heran jika di halaman gedung terdapat patung dada Ronggowarsito, salah satu pujangga Jawa yang termasyhur, yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1953.

DSCF1771 (1280x856)

Museum Radya Pustaka didirikan pada tahun 1890 oleh KRA Sosrodiningrat IV, pepatih (perdana menteri) di Keraton Kasunanan Surakarta pada masa pemerintahan Sri Susuhunan PB X. Hal ini menjadikannya sebagai museum tertua di Indonesia. Sebelum masuk ke dalam museum ini, kita mesti membeli tiket masuk sebesar 5 ribu dan tiket kamera 5 ribu, harga tiket kamera termahal yang pernah saya bayarkan.

DSCF1766 (2560x934)

Masuk ke dalam museum, kita akan bisa langsung melihat patung dada KRA Sosrodiningrat IV yang diletakkan tepat ditengah ruang pamer museum.

DSCF1740 (1280x854)

DSCF1743 (1280x855)

DSCF1745 (1280x855)DSCF1764 (1280x853)

DSCF1764 (1280x853)

Seiring dengan perjalanan waktu, tidak hanya koleksi kepustakaan yang disimpan melainkan juga berbagai benda-benda bersejarah yang dikumpulkan dari berbagai lokasi dan termasuk juga sumbangan-sumbangan yang berasal dari individu-individu. Koleksi museum saat ini meliputi arca Hindu Buddha, gamelan, wayang, peralatan tradisional, porselen, kristal, berbagai miniatur, uang kuno, dan tentunya koleksi karya sastra yang disimpan di ruangan khusus berAC.

 

Museum Batik Danar Hadi (Google Maps)

Sekitar 200 meter dari Museum Radya Pustaka, ada satu lagi museum yang terkenal di Solo, namanya Museum Batik Danar Hadi. Bahkan museum ini masuk dalam daftar 10 best museums in Indonesia berdasarkan penilaian situs Trip Advisor lho. Museum buka dari jam 8 pagi sampe jam 4 sore dengan harga tiket 35 ribu buat wisawatan umum dan 15 ribu untuk pelajar. Untungnya, harga segitu udah termasuk pemandu yang akan menemani kita selama 50 menit ke depan.

DSCF1953 (1280x852)

DSCF1824 (1280x853)

Selama tur, sayangnya kita ga diperbolehkan mengambil foto karena kalo ga salah sih katanya tata ruangnya udah dilindungi hak cipta. Selain itu, mungkin ada kekhawatiran batik-batiknya ditiru atau dipalsukan karena batik yang disimpan di museum kebanyakan udah berusia tua, langka, dan juga bersejarah.

DSCF1823 (1280x854)

danarhadi_pic435

Museum ini menyimpan lebih dari 10 ribu helai batik yang berasal dari berbagai periode dan daerah di Pulau Jawa. Tentunya tidak semua dapat dipajang dalam satu waktu melainkan digilir setiap 6 bulan sekali.

 

Tengkleng Bu Edi Pasar Klewer (Google Maps)

Tengkleng Bu Edi berjualan di bawah, atau di depan deh, gerbang Pasar Klewer. Pasar Klewernya sendiri sedang dibangun kembali setelah terbakar sekitar satu tahun lalu sehingga para pedagangnya kini ditampung sementara di Alun-Alun Utara dan Pagelaran Sasana Sumewa yang sebenernya merupakan bagian muka dari keraton. Warung tengkleng ini sendiri buka dari jam setengah satu siang dan karena rame banget biasanya dalam beberapa jam udah abis. Makanya baiknya dateng ke sini pas awal baru buka deh.

DSCF1927 (1280x854)

DSCF1923 (1280x855)

Walau tempatnya sempit, ga kondusif, dan kebersihannya meragukan ini, tapi para penikmat Tengkleng Bu Edi tampaknya ga peduli. Pas saya cobain, seporsi tengkleng yang dibandrol 25 ribu rupiah ini ternyata emang enak sih. Udah isinya banyak, kuahnya berbumbu dan gurih, harganya juga murah banget. Oiya, buat kamu yang belom tau tengkleng, isinya selain ada jeroan dan tulang belulang dengan daging yang menempel, juga ada bagian-bagian kepala kambing kayak daging pipi dan kuping. Jadi jangan kaget ya kalo kemakan bagian yang aneh-aneh. Makannya jangan terlalu dipikirin, hehehe.

 

Loji Gandrung (Google Maps)

Loji Gandrung ini sebenernya bukan tempat wisata sih. Saya penasaran aja buat ngeliat tempat ini gegara sering ngeliat namanya ditulis di papan petunjuk yang ada di kota Solo. Loji Gandrung merupakan bangunan cagar budaya yang kini dijadikan sebagai rumah dinas walikota Solo. Awalnya ia adalah rumah pribadi yang dibangun oleh Johannes Augustinus Dezentje, seorang pengusaha perkebunan asal Belanda, pada masa pemerintahan Paku Buwono IV.

DSCF1967 (1280x853)

Dulu di rumah ini sering diadakan sebagai tempat pesta dansa dan jamuan makan malam setiap akhir pekan sehingga Presiden Soekarno yang dahulu pernah beberapa kali menginap di sini memberinya nama Loji Gandrung yang berarti rumah bagus yang sering dijadikan tempat pesta dansa. Rumah ini kemudian diwariskan secara turun temurun di dalam keluarga hingga Belanda angkat kaki dari Indonesia. Di depan rumah terdapat patung Jenderal Gatot Soebroto karena rumah ini sempat menjadi Markas Brigade V Slamet Riyadi yang dipimpin oleh Gatot Soebroto pada tahun 1948-1949.

 

Monumen Pers Nasional (Google Maps)

Tadinya saya berminat masuk ke dalam monumen yang juga memiliki museum ini. Tapi sayang, pas saya ke sini waktu udah menunjukkan pukul 3 seperempat. Museumnya tutup jam 3 sore. Monumen Pers Nasional menempati sebuah bangunan yang didirikan pada tahun 1918 atas perintah Mangkunegara VII pada sebidang tanah yang berada 500 meter di barat Pura Mangkunegaran sebagai balai pertemuan yang disebut Societeit Sasana Soeka. Setelah sempat beberapa kali beralih fungsi, pada tahun

DSCF1955 (1280x853)

Museum ini memiliki koleksi lebih dari satu juta surat kabar dan majalah sejak masa sebelum dan sesudah Revolusi Nasional Indonesia dari berbagai daerah di Nusantara. Selain itu, teradpat juga koleksi yang berkaitan dengan jurnalisme atau bekas milik tokoh-tokoh pers, di antaranya mesin ketik, kamera, baju, pemancar, telepon, kentongan, dan lain-lain.

 

Nasi Liwet Bu Wongso Lemu (Cipto Sukani) (Google Maps)

Agak bingung juga menentukan yang mana Nasi Liwet Bu Wongso Lemu yang asli. Di Jalan Teuku Umar ada beberapa penjual nasi liwet yang semuanya mengaku “Bu Wongso Lemu.” Bertanya pada salah satu dari mereka juga kemungkinan besar percuma, semua pasti mengaku asli. Saya coba cari di internet, siapa tau ada yang berbagi informasi mengenai mana Nasi Liwet Bu Wongso Lemu. Yang saya temuin cuma satu, di bilang yang asli yang menuliskan “Cipto Sukani” di spanduknya. Nah lho, siapa pula itu Cipto Sukani? Dan tetep, ga ada jaminan kalo yang saya cobain ini udah yang asli.

DSCF1882 (1280x853)

DSCF1971 (1280x853)

Nasi liwet mirip kayak nasi uduk, dimasak dengan santan sehingga terasa gurih. Disajikannya juga menggunakan daun pisang yang dibentuk agak mengerucut. Di atas nasi liwet lalu ditambahkan berbagai lauk pauk di antaranya sayur labu siam, sepotong tahu rebus, telur bacem, dan ada potongan ayam. Dan yang membedakannya dengan nasi liwet khas Sunda adalah adanya areh, yaitu lapisan kental yan mengapung di atas hasil rebusan santan.

 

TAMAT

Iklan

3 pemikiran pada “Jalan-Jalan di Solo Berdua (Bagian 2 dari 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s