Jalan-Jalan di Solo Berdua (Bagian 1 dari 2)

Ceritanya dalam rangka nemenin Fay buat pamitan ama keluarganya di Karanganyar ama Jogja, karena mau berangkat nerusin kuliah S2 di Edinburgh, saya ikut nemenin dia ke kedua kota itu naik kereta api. Karanganyar sendiri adalah sebuah kota kabupaten yang berada 21 km di timur Solo, sekitar 40 menit perjalanan. Selama empat hari di Karanganyar, kita mengisinya dengan berjalan-jalan di kota Solo.

 

Transportasi dalam Kota

Sulitnya jadi wisatawan di solo, angkutan umum dalam kotanya bisa dibilang sangat minim. Walaupun ada Batik Solo Trans, yang meniru Trans Jogja, tapi jumlahnya dikit banget bahkan nyaris ga keliatan. Angkot ada juga, tapi sama aja, jumlahnya dikit. Opsi lain yang tersedia adalah taksi yang jumlahnya bejibun dan keliatan di mana-mana. Tapi karena Solo ga gede-gede amat juga, naik taksi masih kurang murah karena kalopun dia mau pake argo, ada tarif minimum sebesar 25 ribu rupiah. Gojek masih belum ada dan saat itu sih baru akan memulai ekspansinya di Solo. Untungnya, kebanyakan objek wisata dan tempat kulineran lokasinya deket, masih dalam radius 2 km-an sehingga masih bisa kamu jangkau dengan berjalan kaki.

Kita sih untungnya dapet pinjeman mobil punya tantenya Fay, hehehe. Walau tempat-tempat di bawah ini kita kunjungi selama beberapa hari di Solo, saya mencoba untuk menyusunnya supaya bisa jadi perjalanan yang lebih tersusun rapi. Agak susah juga untuk menyusunnya jadi perjalanan satu hari, mengingat jam tutup beberapa tempat wisata jam sekitar jam 2 aja udah tutup. Jadi, mungkin lebih cocok kalo tempat-tempat wisata ini dikunjungi dalam 2 hari.

 

HARI PERTAMA

Timlo Sastro (Google Maps)

Timlo adalah salah satu makanan Solo yang bertipe sup sehingga menurut saya emang cocok buat dimakan pas sarapan. Enak buat ngangetin perut. Bukanya pun pagi banget, dari jam setengah tujuh pagi dan udah tutup jam setengah empat sore. Kalo kamu ga sempet dateng ke sini di waktu tadi, kamu bisa juga mengunjungi cabang mereka di Ruko Tugu Lilin yang buka sampe jam setengah 10 malem.

DSCF1928 (1280x855)

Warung Timlo Sastro yang sederhana ini berada di tengah kota, yaitu di ruko yang berada tidak jauh dari Pasar Gede. Dan ngomongin soal lokasi, sayangnya di seberang kedai ada tempat pembuangan sampah yang cukup menyeruakkan bau tak semerbak. Tapi mungkin kamu bisa sejenak melupakannya sambil mendengarkan alunan musik keroncong yang dibawakan oleh pengamen yang stand by di situ.

DSCF1930 (1280x851)

DSCF1934 (1280x855)

Timlo yang komplet berisi ati ampela ayam, sosis, dan telur bebek yang direbus dengan kecap sehingga berwarna coklat. Sederhana banget kan isinya? Lalu semua isi timlo tersebut diguyur dengan kuah kaldu ayam dan taburan bawang goreng. Sosis yang digunakan jangan dibayangin sebagai sosis pada umumnya yang terbuat dari daging sapi. Sosis yang dimaksud adalah sosis solo yang terbuat dari kulit lumpia berbentuk seperti risoles dan diisi oleh suiran daging ayam bagian dada.

 

Benteng Vastenburg (Google Maps)

Benteng Vastenburg berada tidak jauh dari arena Gladag Langen Bogan alias Galabo, malahan sebenernya tepat berada di belakang Galabo. Benteng yang dibangun pada tahun 1745 ini memang sengaja didirikan sebagai bentuk pengawasan Belanda terhadap Keraton Surakarta mengingat lokasinya yang tidak sampai satu kilometer di utara keraton. Sebelum direnovasi dan dicat pada masa pemerintahan Jokowi sebagai walikota, benteng ini sempat terbengkalai dan dipenuhi oleh semak belukar.

DSCF1963 (1280x854)

Namun tidak seperti Benteng Vredeburg di Jogja, benteng ini tidak dibuka untuk umum kecuali jika terdapat acara yang diadakan di lapangannya yang luas. Lapangan ini berbentuk persegi dengan tonjolan berbentuk segitiga di keempat sudutnya. Pintu masuk utama benteng berada di sebelah barat, tepat berada di samping Bank Danamon Jalan Jenderal Sudirman.

 

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Google Maps)

Akibat adanya Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, Kerajaan Mataram Islam dibagi menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Surakarta berada di bawah penguasaan Sri Susuhunan (artinya “Yang Dipertuan”) Pakubuwono III sementara Yogyakarta berada di bawah penguasaan Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Umumnya, masyarakat Jawa menganggap keduanya sebagai penerus kerajaan Mataram Islam.

IMG_9936 (1280x853)

Pas saya ama Fay ke sini, Kori Kamandungan Lor yang merupakan gerbang menuju komplek keraton ini lagi ditutup dan direnovasi dengan menggunakan dana yang katanya berasal dari APBN. Foto ini saya ambil sekitar 5 tahun sebelumnya. Warna biru langit tampak mendominasi. Di bagian belakang tampak menara Panggung Sangga Buwana, menara setinggi 30an meter yang konon menjadi simbol lingga dan yoni.

Pintu masuk pengunjung ke komplek keraton tidak berada di depan sini melainan di sisi timur. Karena di deket pintu masuk ga ada lahan parkir, pengunjung biasanya memarkirkan kendaraannya di sini dan berjalan kaki sampe ke pintu masuk. Untuk bisa memasuki komplek keraton yang buka dari jam 9 pagi sampe jam 3 sore (jam 2 kalo weekday, hari Jumat tutup) ini, kita mesti merogoh kocek sebesar 10 ribu rupiah. Dan yang menyebalkan, ada tiket tambahan seharga 3500 rupiah untuk izin mengambil foto dengan kamera.

DSCF1852 (2560x576)

Sebelum masuk ke bagian inti komplek keraton yang disebut Sri Manganti, kita mesti melepas sendal dan ditaro di tempat penitipan. Uniknya, sepatu masih diperbolehkan untuk digunakan. Pakaian juga sebaiknya gunakan yang sopan, jangan pake celana pendek. Di sekeliling area ini terdapat beberapa bangunan yang semuanya tertutup untuk umum, hanya bisa kita liat aja.

IMG_10013 (853x1280)

Bangsal Maligi dan Sasana Sewaka, pernah terbakar pada tahun 1985 sehingga sayangnya tidak asli lagi, merupakan tempat diadakannya upacara-upacara kebesaran kerajaan. nDalem Ageng Prabasuyasa, digunakan untuk menyimpan pusaka-pusaka kerajaan dan juga terdapat tahta keraton. Sasana Handrawina, sekarang digunakan sebagai tempat perjamuan resmi keraton. Lalu ada Panggung Sangga Buwana yang tadi terlihat dari arah depan keraton, digunakan Sri Susuhunan sebagai tempat meditasi, mengawasi lingkungan sekitar, dan penentuan awal bulan dari posisi bulan.

DSCF1847 (853x1280)

Pemandu yang menemani kita menjelaskan bahwa Keraton Surakarta mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono X yang mendirikan banyak bangunan keraton. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya label PB X di bangunan-bangunan tersebut. Pemandu kita banyak banget memuji kami sebagai pasangan yang serasi lah, memuji Fay sebagai calon istri idaman suami lah, bahkan ga lupa dia juga ga lupa menyebutkan fakta bahwa gaji abdi dalem cuma 50 ribu. Saya tau, semua itu sebenernya trik dia supaya kita seneng dan ngasih tip yang gede, wkwkwk.

DSCF1862 (1280x853)

DSCF1863 (1280x856)

Abis berkeliling di Sri Manganti, pemandu mohon pamit (dengan duit 50 ribu di tangan). Kita berkeliling di museum keraton yang menyimpan berbagai benda pusaka keraton (asli dan replika), berbagai jenis perabot, lukisan, peninggalan kerajaan-kerajaan Hindu Buddha pra Mataram Islam, wayang, kereta, dan lain sebagainya.

 

Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta (Google Maps)

Setelah berkunjung ke Keraton Kasunanan Surakarta, jangan lupa untuk menyempatkan diri untuk solat zuhur di Masjid Agung Keraton. Di masjid yang dibangun oleh Sri Susuhunan PB III pada tahun 1763 inilah biasanya kegiatan festival tahunan Sekaten dipusatkan.

DSCF1774 (1280x854)

Pintu utama menuju halaman masjid berupa gapura berbentuk paduraksa yang berada di timur dan menghadap ke Alun-Alun Utara. Ada pula pintu masuk yang lebih kecil di sebelah utara dan selatan. Kalo bawa mobil, di sisi selatan gapura ada area parkir yang sebenernya diperuntukkan bagi pengunjung Pasar Klewer.

DSCF1780 (1280x853)

Sama seperti keraton, masjidnya pun memiliki nuansa berwarna biru langit. Di depan masjid terdapat lorong memanjang yang disebut tratag rambat sebelum memasuki area serambi masjid yang luas dan adem.

DSCF1781 (1280x855)

Tidak seperti serambi Masjid Gedhe Kauman di Yogyakarta, langit-langit serambi tidak memiliki hiasan yang menarik selain tiga buah lampu kristal yang tergantung.

DSCF1784 (1280x853)

Bagian dalam masjid sudah tampak modern dan didominasi oleh pilar-pilar yang disebut soko. Terdapat mihrab, tempat imam memimpin shalat, dan mimbar di sebelah kanan, sebagai tempat imam menyampaikan khutbah. Satu hal yang unik, di masjid ini sudah tidak terdapat maksura, yaitu tempat shalat khusus raja berupa kerangkeng kayu yang ditujukan untuk melindungi dari bahaya.

 

Cafe Tiga Tjeret (Google Maps)

Siangnya, coba deh makan di Cafe Tiga Tjeret yang ada di seberang Pura Mangkunegaran. Walau namanya cafe dan tempatnya juga cakep banget, makanannya di sini adalah, eng ing eeeng, persiapkan jantung Anda, makanan ala angkringaaan! Hahahah, iya seriusan, ala angkringan. Jadi kesannya kayak angkringan naik level ya.

DSCF1814 (1280x854)

Dan ga kayak angkringan lain, Cafe Tiga Tjeret sih bukanya dari siang hari, sekitar jam 11 lah amannya, sampe dini hari. Menunya juga, walaupun ada banyak yang sama, tapi ada juga yang mungkin ga pernah kamu liat di angkringan biasa.

DSCF1818 (1280x854)

Pilihan nasi kucingnya ada banyak banget. Ada nasi rica bebek, nasi oseng kikil, nasi granat (lengkap dengan tulisan “Caution Very Hot Pedas Setingkat Dewa”), nasi sapi lada hitam, nasi teri, nasi terik daging (terik daging?), nasi oseng tempe, dan nasi bandeng. Lauk sate-sateannya juga ada banyak, mungkin ada kali 30 macem, plus goreng-gorengan kayak pastel, risoles, bakwan, tempe mendoan, dan lain-lain. Buat minumnya, saya beli Es Tiga Tjeret Mug, Fay beli es beras kencur. Dua-duanya rasanya enak dan seger banget. Yang kurang sih cuma satu, mereka ga punya sambel goreng. Pas diminta, yang dikasih cuma sambel ABC. Ga seruuu.

 

Pura Mangkunegaran (Google Maps)

Setelah terpecah melalui Perjanjian Giyanti, Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta kembali dipecah melalui Perjanjian Salatiga pada tahun 1757, di mana Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa mendapatkan sebagian wilayah dari kedua kerajaan tersebut. Pangeran Sambernyawa yang masih bersaudara dengan Paku Buwono III kemudian menjadi penguasanya dengan gelar Mangkunegara I, tanpa gelar Susuhunan maupun Sultan.

DSCF1788 (1280x855)

Pura Mangkunegaran buka setiap hari (yes, termasuk Senin dan Jumat) dari jam 8 pagi sampe jam 3 sore, kecuali di hari Kamis dan Minggu mereka tutup lebih cepet setengah jam. Tiket masuknya 10 ribu rupiah untuk wisatawan lokal. Dan nanti selama berkeliling, kita wajib didampingi pemandu karena kita akan dibawa memasuki daerah-daerah yang cukup privat.

DSCF1789 (1280x855)

Memasuki area Pendopo Agung, kita diharuskan melepas alas kaki dan membawanya dengan kantung plastik yang udah disediain ama pemandu. Pemandu mulai menjelaskan mengenai sejarah Mangkunegaran, lalu menjelaskan mengenai benda-benda yang berada di sekitar. Di depan pendopo ada empat buah patung Singa yang konon berasal dari Jerman, lampu gantung di pendopo yang berasal dari Belanda, lantai marmernya yang berasal dari Italia, serta koleksi berbagai gamelan, salah satunya bernama Kyai Kanyut Mesem.

DSCF1792 (852x1280)

Di bagian Paringgitan, yaitu serambi sebelum memasuki Dalem Ageng, terdapat beberapa koleksi patung kuningan yang berasal dari Cina dan Perancis. Di Dalem Ageng sendiri, walau kita masih diperbolehkan untuk masuk dan melihat-lihta, sayangnya tidak diperbolehkan untuk memotret dengan alasan ruangan ini adalah area yang dianggap privat. Padahal di sini banyak disimpan pusaka dan koleksi keluarga, di antaranya cincin, anting, pedang, keris, kristal, cermin, wadah air, peninggalan Hindu Buddha, cundrik, perlengkapan tarian, topeng, dan badhong.

DSCF1794 (1280x853)

Keluar dari Dalem Ageng, kita udah diperbolehkan menggunakan alas kaki dan memotret lagi. Pemandu lalu membawa kita melalui taman sederhana ke ruangan berbentuk segi delapan yang disebut Beranda Dalem atau Pracimosono, lalu ke makan keluarga yang langit-langitnya memiliki cermin untuk memberikan kesan lega, dan art shop di mana kita bisa membeli souvenir. Kembali ke tempat membeli tiket, kita melihat koleksi kereta istana yang berasal dari Inggris, Jerman, Belanda, dan lain-lain.

 

Masjid Al Wustho Mangkunegaran (Google Maps)

Sama seperti Keraton Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran pun sebenernya memiliki sebuah masjid jadul yang bernama Masjid Al Wustho Mangkunegaran. Masjid yang didesain oleh Ir. Herman Thomas Karsten dan dibangun pada tahun 1878 ini bisa diakses melalui Jalan Kartini yang berada tepat di sebelah barat Pura Mangkunegaran.

DSCF4852 (1280x853)

DSCF4856 (1280x853)

Secara arsitektur, masjid ini sedikit banyak menyerupai Masjid Agung Demak dan Masjid Kauman Jogja. Atap bertumpang tiga mengandung filosofi Iman, Islam, dan Ihsan. Yang sedikit membedakan adalah adanya markis atau kuncung berhiaskan kaligrafi Arab yang berada di sisi depan, kiri, dan kanan masjid. Cat masjidnya sendiri didominasi oleh warna hijau dan kuning.

 

Pasar Triwindu (Google Maps)

Mau berburu barang antik? Hal itu bisa kamu lakuin di Pasar Triwindu yang ada di Jalan Pangeran Diponegoro yang berada di selatan Pura Mangkunegaran. Tapi kalo saya sih ngga lah, palingan cuma ngeliat-liat aja, hehehe.

DSCF4882 (1280x853)

DSCF4875 (1280x853)

Di pasar yang terdiri atas dua lantai ini terdapat lebih kurang 200 kios yang menjual berbagai gelas antik, piring antik, kaca cermin antik, lampu panjang antik, keris, lukisan, keramik, sepeda ontel, patung, dan topeng antik. Karena ga semuanya bener-bener barang antik yang berusia tua, kamu masih bisa juga kok ngedapetin barang yang keliatannya antik tapi sebenernya masih baru dengan harga yang cenderung terjangkau. Gapapa kan, toh nantinya kalo usianya udah tua kan bakalan jadi antik juga, hehehe.

 

Istana Mie & Es (Google Maps)

Kuliner yang berlokasi di Solo Paragon Mall ini saya cobain bareng sama keluarganya Fay yang rutin pergi ke sini setiap malem minggu yang jadi favoritnya Dek Vita, adik sepupunya Fay. Pertama kali membuka cabang di Semarang pada tahun 2006, kini mereka memiliki lebih dari 30 cabang antara lain di Jakarta (di mana ya?), Cirebon, dan di banyak kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Saya sendiri justru baru tau Istana Mie & Es pas di Solo ini.

DSCF1889 (1280x855)

DSCF1890 (1280x854)

Sesuai namanya, mereka punya menu mie dengan berbagai kombinasi isian dan menu-menu es serut. Saya mencoba menu Mie Istana yang menunya paling gede karena isinya paling lengkap. Hmm, ternyata emang oke. Mienya enak dan pulen, saya tambahin kecap manis biar terasa lebih gurih. Di atas mie ada sayur sosin, sedikit irisan telur dadar (baru kali ini saya ngeliat mie dikasih telur dadar), ayam yang udah disuwir halus banget, dan kerupuk pangsit goreng. Sementara di mangkok kuahnya ada siomay berukuran gede yang kerasa banget gurih ikannya, terus ada tahu isi rasa kepiting, baso berukuran kecil, dan pangsit rebus isi ayam. Mie Istana sendiri dibanderol seharga 36 ribu. Penasaran?

 

Bersambung ke Jalan-Jalan di Solo Berdua (Bagian 2 dari 2)

Iklan

2 pemikiran pada “Jalan-Jalan di Solo Berdua (Bagian 1 dari 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s