Jalan-Jalan di Jogja, Dari Keraton Sampe ke Tugu (Bagian 2 dari 2)

Baca dulu dong bagian sebelumnya di Jalan-Jalan di Jogja, Dari Keraton Sampe ke Tugu (Bagian 1 dari 2)

 

Masjid Gedhe Kauman (Google Maps)

Masjid yang memiliki tiga tingkat atap tumpang ini berada di sebelah barat Alun-Alun Utara ini dibangun oleh Sultan HB I bersama Faqih Ibrahim Diponingrat (panghulu pertama keraton) dengan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Di sini kita numpang shalat dhuhur ama ashar, dijamak qashar tentunya, hehehe.

DSCF2146 (1280x855)

Karena gerbang utamanya di sebelah timur ditutup pagar, kita masuk dari satu dari dua buah pintu kecil yang ada di sampingnya. Di depan masjid yang berpagar tembok berwarna putih tampak seorang pedagang siomay yang, subhanallah, dia lagi mengisi waktu sembari membaca Quran.

DSCF2149 (853x1280)

Serambi masjid dibuat lebih tinggi dari sekitarnya. Warnanya didominasi oleh warna krem dan kuning dengan aksen warna merah dan emas di langit-langitnya. Serambi ini emang enak banget buat tempat nongkrong. Suasana sore yang berangin sepoi-sepoi bahkan membuatnya jadi tempat tidur banyak orang.

DSCF2150 (1280x854)

Karena masjid ini tepat mengarah ke barat, arah shafnya jadi agak miring ke barat laut. Saya jadi teringat adegan film Sang Pencerah di mana Ahmad Dahlan, yang diperankan oleh Lukman Sardi, berusaha memberitahu imam masjid bahwa arah kiblat masjid kurang tepat. Namun, karena peta yang dijadikan acuan yang dianggap sebagai produk kafir, imam masjid saat itu menolak usulan tersebut. Terlepas dari benar tidaknya kisah tersebut, semoga kamu bisa mengambil hikmahnya.

DSCF2152 (1280x855)

Abis solat, saya berpapasan ama penjual minuman tradisional Jawa di deket gerbang utama masjid. Yang dijualnya ada es kencur, kunir asem, dan gulas alias gula asem. Tertarik, saya nyobain es kunir asem. Rasanya enak juga, seger-seger asem.

 

Museum Benteng Vredeburg (Google Maps)

Menarik buat dicermati, Belanda membangun benteng dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari keraton. Seakan-akan memberi pesan bahwa keraton akan selalu berada di bawah pengawasan mereka. Cikal bakal benteng ini dibangun pada tahun 1765 setelah pendirian keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Vredeburg sendiri berarti “perdamaian” yang menyimbolkan perdamaian antara keraton dan Belanda.

DSCF2181 (1280x853)

DSCF2177 (1280x853)

Setelah kemerdekaan Indonesia, benteng ini sempat berfungsi sebagai pos militer sebelum akhirnya pada tahun 1992 mulai dibuka sebagai museum. Museum dibuka dari jam 8 sampe jam 4 di hari biasa atau sampe jam 5 pas weekend. Tiket buat wisatawan lokalnya juga murah banget, cuma dua ribu rupiah. Anak-anak malah cuma seribu. Yang menyenangkan, ga ada yang namanya tiket izin foto segala.

DSCF2161 (1280x855)

Di museum ini bercampur antara bangunan asli peninggalan Belanda yang sudah dipugar sesuai bentuk aslinya dan bangunan-bangunan baru. Ruangan diorama museum 1 hingga 4 sendiri berada di indeks nomer M3, M1, E, dan G.

DSCF2164 (1280x852)

Ini sebenernya kesempatan kedua saya dateng ke museum ini. Dan, waw, sekarang ruangan-ruangan dioramanya keren banget. Udah jauuuuh lebih modern dan menarik. Bahkan ada banyak TV berteknologi layar sentuh agar pengunjung dapat lebih berinteraksi dengan museum. Beberapa malah ada games-gamesnya segala. Diorama yang ditampilkan sih masih sama, menggambarkan perjuangan sebelum proklamasi hingga orde baru, dengan papan keterangan yang dilengkapi dengan bahasa Inggris. Tapi kayaknya bule ga terlalu berminat dateng ke museum dan lebih memilih dateng ke keraton. Lebih etnik sih ya.

DSCF2162 (1280x854)

Si Fay yang lulusan IPS tampak antusias membaca hampir semua keterangan diorama. Tapi karena udah hampir jam 4 dan khawatir museum bakal tutup, saya jadi agak memburu-buru Fay supaya jalan lebih cepet. Takut keburu diusir sama petugas.

DSCF2157 (1280x854)

Di luar sudut barat daya benteng terdapat Monumen Serangan Umum 1 Maret. Coba, masih inget pelajaran sejarahnya ga? Serangan Umum 1 Maret adalah serangan terkoordinasi selama 6 jam yang dilakukan oleh pihak TNI pada masa Agresi Militer Belanda II atas usulan Sultan HB IX pada Jenderal Soedirman. Sejak serangan ini pulalah reputasi Soeharto, pada saat itu masih berpangkat letkol dan turut memimpin serangan, mulai menanjak.

 

Hamzah Batik a.k.a Mirota Batik (Google Maps)

Pulang dari Jogja rasanya ga lengkap kalo ga membawa buah tangan. Kalo makanan biasanya kalo ga gudeg, ya bakpia. Tapi kalo mau beli buah tangan berupa benda-benda khas Jogja, Hamzah Batiklah tempatnya. Toko kerajinan yang dulunya bernama Mirota Batik ini berada di seberang Pasar Beringharjo.

DSCF2187 (1280x853)

Ketika baru masuk aja kita udah disambut oleh bau aromaterapi kemenyan yang khas. Di toko yang Jawa banget ini dijual berbagai macam kerajinan yang merepresentasikan Jogja, Jawa, atau Indonesia. Barang yang dijual beragam banget, mulai dari gantungan kunci, wayang, patung, lukisan, batik, dompet, hingga ke jamu-jamuan. Selain toko, Hamzah Sulaeman selaku pemiliknya juga memiliki usaha rumah makan bernama House of Raminten.

 

Jalan-Jalan di Malioboro (Google Maps)

Satu hal yang bisa bikin mamah saya seneng banget ke Jogja adalah suasana Jalan Malioboro. Jalan Malioboro emang unik. Kota-kota yang udah pernah saya kunjungi di Indonesia ga punya jalan yang semacam ini. Kurang lebih sepanjang satu kilometer, terhitung dari ujungnya di deket Stasiun Jogja hingga ke Titik Nol Kota Jogja di simpang yang ada Bank BNI-nya, dipenuhi oleh para pedagang kaki lima di kedua sisi jalan, kebanyakan berjualan baju, aksesoris, dan kerajinan tangan murah meriah yang cocok buat oleh-oleh borongan. Surganya para bu ibu nih.

DSCF5145 (1280x855)

Di seberang Benteng Vredeburg ada salah satu dari enam Istana Kepresidenan yang ada di Indonesia (ya iya lah, masak ada di negara lain?) yang disebut Gedung Agung atau Gedung Negara (Google Maps). Gedung Agung sempat menjadi istana presiden sementara saat usia Republik Indonesia masih muda dan pada saat Agresi Militer Belanda II.

DSCF5144 (1280x853)

DSCF5139 (1280x855)

Buat yang seneng belanja, di sebelah utara Benteng Vredeburg ada Pasar Beringharjo (Google Maps) yang menyediakan berbagai jenis barang, mulai dari batik, jajanan pasar, uang kuno, pakaian anak dan dewasa, makanan cepat saji, bahan dasar jamu tradisional, sembako hingga barang antik. Mamah saya seneng ke sini dan makan pecel yang banyak dijajakan di depan pasar. Seporsi harganya sekitar 10 ribu rupiah, sementara sate-satenya dihargai 5 ribuan per tusuk.

DSCF5149 (1280x854)

Di deket Jalan Malioboro juga terdapat beberapa daerah yang berkembang menjadi pecinannya kota Jogja, Kampung Ketandan (Google Maps), Beskalan, dan Pajeksan, ditandai oleh rumah-rumah yang berasitektur Tionghoa, toko emas, toko obat, serta rumah makan (yang muslim harap berhati-hati yaa). Menjelang Imlek di sini kerap kali diadakan Pekan Budaya Tionghoa.

DSCF5128 (1280x853)

DSCF2190 (1280x853)

DSCF2251 (1280x853)

Kalo malem hari, di beberapa bagian jalan, penjaja kuliner khas Jogja mulai menggelar jualannya. Ada lesehan gudeg dan nasi rames, soto, angkringan, pokoknya macem-macem deh. Kalo ga mau makan dan cuma mau menikmati suasananya aja, kamu bisa juga naik becak atau delman yang ada di sepanjang jalan. Seperti biasa, mesti pinter menawar.

DSCF2246 (1280x853)

Karena kepopulerannya, di sekitar Jalan Malioboro, atau biasanya orang cukup menyebut Malioboro aja, banyak terdapat hotel dan penginapan, mulai dari yang tarif kamarnya selangit sampe dengan yang ramah di kantong. Penginapan-penginapan ini umumnya berada di sepanjang Jalan Dagen dan Jalan Sosrowijayan. Saya sempet mampir ke Jalan Dagen buat beli bakpia merk Bakpiapia (Google Maps). Mereka punya bakpia tradisional dan blasteran yang rasanya aneh-aneh kayak bakpia isi pisang keju, nanas, cappucino, tuna, blueberry cheese, dan duren. Selain merk ini, tentunya ada banyak merk bakpia lain yang enak dan terkenal kayak Bakpia Pathok 25 dan Bakpia Kurnia Sari.

 

Stasiun Tugu (Google Maps)

Perjalanan saya ama Fay sebenernya udah berakhir di Malioboro, abis itu kita pulang karena udah capek banget jalan. Tapi kalo kamu mau nerusin jalan lagi, di utara Malioboro masih ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi.

DSCF2236 (1280x855)

IMG_1406 (852x1280)

Emangnya stasiun tempat yang terkenal? Stasiun Yogyakarta atau lebih dikenal dengan nama Stasiun Tugu sih iya. Tempat ini sering menjadi perlintasan peristiwa bersejarah semisal saat para pemimpin Indonesia terpaksa mengungsi ke Jogja pada masa Agresi Militer Belanda I atau pada saat Divisi Siliwangi hijrah ke Jogja akibat konsekuensi Perjanjian Renville.

 

Angkringan Kopi Joss (Google Maps)

Tepat di utara stasiun ada sebuah jalan yang dipenuhi oleh warung-warung angkringan lesehan yang baru menggeliat saat malam tiba. Tempat ini terkenal banget sebagai tempat anak-anak muda nyari makan malem atau sekedar nongkrong-nongkrong. Angkringan yang terkenal namanya Angkringan Lik Man, tapi angkringan lainnya juga ga kalah rame. Emang makanan angkringan mau enak banget kayak gimana sih? Palingan ga jauh beda lah satu sama lain.

DSCF8642 (1280x853)

DSCF8638 (1280x855)

DSCF8631 (1280x853)

Selain itu, angkringan di sini juga menjual kuliner terkenal yang namanya kopi joss. Bukan, bukan kopi yang dicampur Extra Joss. Kopi joss adalah kopi biasa yang diseduh dengan air mendidih. Yang bikin beda adalah sebelum disuguhkan, penjualnya akan menambahkan arang yang membara ke dalamnya. Nama joss dikatakan berasal dari suara arang saat dimasukkan ke dalam air kopi.

 

Tugu Jogja (Google Maps)

Nah, perjalanan dari selatan sampai utara berakhir di Tugu Jogja yang menjadi salah satu ikon landmark kota Jogja. Tugu ini dibangun oleh Sultan HB I sebagai pendiri keraton Jogja. Saking terkenalnya, tugu ini dipenuhi oleh para wisatawan yang ingin berfoto di depannya.

IMG_1414 (1280x855)

Tugu yang berada di perempatan jalan ini memiliki sifat magis yang menghubungkan laut selatan, keraton, dan Gunung Merapi. Bentuknya mirip seperti lilin dengan puncak yang runcing seperti tanduk kuda unicorn. Karena catnya yang berwarna putih, tugu ini disebut juga “pal putih” oleh sebagian masyarakat Jogja.

 

TAMAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s