Jalan-Jalan di Jogja, Dari Keraton Sampe ke Tugu (Bagian 1 dari 2)

Sebenernya, saya udah sering main ke Jogja. Mamah saya seneng jalan-jalan di Malioboro. Alhasil, hampir semua wisata di Jogja udah kita sambangin, foto-fotonya ada sih padahal, tapi baru dua yang udah berhasil jadi postingan, Museum Sonobudoyo ama Es Krim Il Tempo del Gelato. Tapi saya pikir ada bagusnya juga kalo saya bikin postingan yang bisa memberi semacam panduan wisata sehari di Jogja yang lokasi-lokasinya bisa dijangkau dengan cukup berjalan kaki saja. Persiapkan tenagamu karena perjalanan kali ini akan memakan waktu dari pagi hingga malam hari.

 

Transportasi

Ngomongin wisata, tentunya ga terlepas dari ngomongin yang satu ini : how to get there alias gimana cara berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jawaban terindah tentunya jalan kaki. Ini ala backpacker dan ala bule banget. Cara termurah lainnya adalah menyewa sepeda, saya pernah liat ada bule yang jalan-jalan pake sepeda. Atau, nyewa sepeda motor yang biayanya mungkin sekitar 60 ribu untuk 24 jam. Atau, kalo lebih modal lagi, bisa nyewa mobil, biasanya Avanza atau Kijang Innova. Yang ini mahal, tapi kan isinya lebih banyak dan kalo jalan-jalan bareng temen-temen biayanya bisa dibagi-bagi.

DSCF2144 (1280x854)

Atau, bisa juga memanfaatkan moda transportasi umum lokal, mulai dari becak, betor alias becak motor, sampe ke angkutan umum kayak taksi (sebagian besar menggunakan argometer), Gojek (terakhir kali saya cek masih belum ada layanan Uber), bus kota, dan Trans Jogja. Yang disebut terakhir ini cukup populer karena murah meriah dan ga kayak di Solo, busnya ada banyak. Rutenya ada delapan dan sekarang bahkan udah ada halte portabel sehingga spot lokasi untuk naik dan turun penumpang jadi bertambah. Katanya sih kita bisa naik dari halte portabel Tapi mesti punya Indomaret Card, mungkin ngetapnya di dalem bus. Tapi kalo ga punya, kita mesti naik dari shelter permanen yang menjual tiket single trip. Kalo mau cari penginapan, bisa juga mempertimbangkan lokasi yang deket shelter atau halte portabel.

 

Museum Siti Hinggil Keraton Yogyakarta (Google Maps)

Perjalanan dimulai dari alun-alun di utara Keraton yang disebut Alun-Alun Lor. Di alun-alun ini terdapat dua buah pohon beringin besar yang ditutupi oleh pagar putih. Kalo kamu pernah denger permainan berjalan menutup mata dan mesti berjalan lurus di antara kedua beringin, disebut masangin, itu bukan di sini melainkan di Alun-Alun Kidul di selatan yang sama-sama memiliki dua pohon beringin. Keraton Yogyakarta memiliki dua buah alun-alun yang berada di utara dan selatan. Konon katanya Alun-Alun Kidul dibuat demi menghormati Ratu Nyi Loro Kidul, agar bangunan keraton tidak dianggap membelakangi laut selatan.

DSCF2154 (1280x853)

Perlu diketahui bahwa bagian yang berhadapan dengan alun-alun Utara ini baru “mukanya” keraton yang disebut dengan Museum Siti Hinggil. Mungkin banyak yang mengira inilah “Keraton” Yogyakarta, padahal sebenernya di bagian belakang masih ada lagi museum keraton yang memiliki pintu dan tiket masuk terpisah.

DSCF1998 (1280x853)

Untuk masuk ke Museum Siti Hinggil ini, kita mesti membayar tiket 5 ribu rupiah untuk wisatawan lokal, 7 ribu rupiah untuk wisatawan asing, dan 2 ribu rupiah untuk tiket izin memotret dengan kamera. Agak menyebalkan memang, kenapa kita mesti membayar untuk memotret dan mengunggah sesuatu yang pada akhirnya justru bisa jadi promosi gratis bagi mereka. Tapi ya udah lah, untung cuma 2 ribu. Di sini, lebih baik kita menggunakan jasa pemandu karena papan keterangan sangat minim (saya curiga jangan-jangan memang sengaja diatur demikian). Biayanya, seperti biasa, seikhlasnya. Saya udah punya standar sendiri untuk pemandu, minimal 30 ribu rupiah.

DSCF2005 (1280x853)

Bangunan pertama yang kita masuki disebut Bangsal Pagelaran, dibuat pada masa Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII, dulunya digunakan sebagai tempat para penggawa menghadap sultan. Di bagian selatan ada Bangsal Pengrawit terdapat tempat pelantikan pepatih dalem alias perdana menteri. Tempat ini ditandai oleh bagian lantai yang ditinggikan sebagai tempat duduk sultan serta warna lantai yang berbeda sebagai tempat duduk patih. Di kiri dan kanan bangsal terdapat ruangan kaca yang diisi oleh manekin-manekin sultan dan keluarga, manekin prajurit, serta manekin yang menggambarkan prosesi khitanan, prosesi tetesan (khitanan untuk anak perempuan), dan prosesi pernikahan.

Menuju ke selatan, kita akan melewati dua buah bangsal kecil yang disebut Bangsal Pacikeran. Terlihat para pengunjung yang sedang asyik berfoto dengan dua buah abdi dalem tanpa mengetahui bahwa keduanya sebenarnya adalah jagal untuk eksekusi potong jari dan pancung yang sesuai dengan hukum Islam. Hukum ini dihentikan setelah keraton menyatakan diri sebagai bagian dari Republik Indonesia.

DSCF2008 (1280x855)

Naik ke atas tangga, kita tiba di Bangsal Manguntur Tangkil sebagai tempat singgasana sultan, Bangsal Witono sebagai tempat menaruh senjata, serta Siti Hinggil sebagai tempat penobatan sultan, pisowanan agung, serta penyelenggaraan acara-acara penting lainnya. Di belakang kiri dan kanan bangsal terdapat dua buah bangunan berisi foto-foto yang dahulu digunakan UGM sebelum memiliki kampus sendiri di Bulak Sumur.

 

Museum Kareta Karaton (Google Maps)

Museum yang berada di sebelah barat Museum Siti Hinggil ini berisi koleksi kereta kuda milik Keraton Kasultanan Yogyakarta yang dulunya merupakan kendaraan utama di lingkungan keraton yang masih digunakan hingga masa kini dalam upacara-upacara kebesaran keraton, seperti upacara penobatan Sultan, pernikahan putra Sultan, atau mengantar jenazah Sultan ke tempat peristirahatan terakhir.

DSCF2039 (1280x856)

Untuk masuk ke dalam museum, kita lagi-lagi mesti merogoh kocok yang untungnya tidak perlu terlalu dalam, cukup 5 ribu rupiah saja. Namun lagi-lagi mesti ada yang namanya tiket izin kamera sebesar seribu rupiah.

DSCF2035 (2560x970)

Museum ini konon memiliki 23 buah koleksi kereta kuda dalam berbagai bentuk dan ukuran yang telah berusia ratusan tahun. Setiap kereta kuda memiliki nama-nama sendiri layaknya manusia dan dianggap sebagai pusaka keraton yang mendapat penghormatan berupa ritual yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Suro atau 1 Muharram. Seperti biasa, papan keterangan sangat minim sehingga kita mesti memakai jasa pemandu untuk memperooleh informasi mengenai koleksi museum.

 

Museum Keraton Yogyakarta (Google Maps)

Bagian keraton yang merupakan tempat tinggal sultan dan keluarganya ini berada di sebelah selatan Museum Siti Hinggil. Pintu masuknya berada di sisi barat yang bisa dicapai dengan menyusuri Jalan Rotowijayan. Tiket masuk untuk wisatawan lokal 5 ribu rupiah dan tiket kamera seribu rupiah. Jasa pemandu juga tersedia. Tips, sebaiknya gunakan pakaian yang sopan seperti celana atau rok panjang, sementara pemakaian sendal masih diperbolehkan. Yang udah terlanjur pake rok mini atau celana gemes tidak perlu khawatir karena disediakan penutup berupa kain batik lebar yang disebut dodot.

DSCF2045 (1280x853)

Bagian pertama yang kita lihat adalah Bangsal Sri Manganti yang dulunya digunakan sebagai tempat menerima tamu penting keraton serta pertunjukan gamelan dan seni tari. Pas saya ama Fay ke sana sekitar jam 10an, pas banget lagi ada pertunjukan gamelan lengkap dengan lantunan lagu jawa yang dibawakan oleh para sinden. Coba liat deh si bapak yang main bonang ini, dia tau banget bakal banyak difoto pengunjung dan ga pede kalo ga pake kacamata item, hehehe. Uniknya lagi, mungkin karena tau bakal ada pertunjukan gamelan ini, saat itu banyak banget wisatawan asingnya.

DSCF2048 (1280x854)

Puas ngedengerin sinden-sinden bernyanyi (hati-hati jangan kelamaan soalnya ntar ngantuk, hehehe), kita memasuki sisi selatan komplek keraton melalui gerbang Regol Donopratopo yang di sisi kiri dan kanannya terdapat patung penjaga, Dwarapala.

DSCF2078 (2560x708)

Bagian inti komplek keraton disebut kedaton di mana terdapat hamparan tanah yang luas yang ditanami oleh pohon sawo kecik. Di foto di atas tampak Bangsal Kencono yang, merupakan balairung utama istana tempat dilangsungkannya berbagai upacara untuk keluarga keraton. Di sisi barat terdapat keputren, yaitu tempat tinggal putri-putri sultan, sebaliknya di sisi timur terdapat kesatriyan, tempat tinggal putra-putra sultan, yang sekarang sebagian besar menjadi bagian dari museum keraton.

DSCF2074 (852x1280)

Museum menyimpan koleksi milik keluarga keraton, seperti gamelan, porselen dan kristal, hadiah-hadiah dari raja-raja Eropa, perabotan, batik (di ruangan ini kita tidak diperbolehkan memotret) serta museum uang khusus menyimpan benda-benda yang pernah dipakai atau dimiliki oleh Sultan HB IX. Selain itu, ada juga ruangan yang menyimpan koleksi lukisan yang beberapa di antaranya bahkan dilukis oleh Raden Saleh.

 

Istana Air Tamansari (Google Maps)

Tamansari memiliki arti taman yang indah. Taman yang dibangun oleh Sultan HB I pada tahun 1684 tahun Jawa (1758 M) ini digunakan sebagai tempat rekreasi dan kolam pemandian sultan beserta keluarganya. Tamansari sering disebut sebagai Istana Air (Water Castle) karena memiliki bangunan-bangunan yang dikelilingi oleh danau buatan.

DSCF2097 (1280x854)

Karena saya dan Fay mau nerusin ke Taman Sari, dari keraton kita keluar dari pintu selatan dan berjalan ke arah barat lalu berbelok ke selatan sampe menemui pintu masuk kecil di mana di sana bisa langsung terlihat Gedong Gapura Panggung yang di dekatnya ada loket penjualan tiket masuk. Wisatawan lokal cukup membayar 5 ribu rupiah, tapi lagi-lagi mesti membayar tiket kamera dua ribu rupiah. Sampe di sini, di tas kamera saya udah tergantung empat label izin memotret yang warnanya berbeda-beda. Lucu juga sih jadinya.

DSCF2099 (1280x855)

Di balik Gedong Gapura Panggung ada Umbul Binangun yang dulu digunakan untuk pemandian putra-putri dan para selir sultan. Di sini terdapat tiga kolam dan dua buah bangunan. Sultan sendiri mandi di kolam terpisah yang berada di belakang bangunan tempat saya mengambil foto ini.

DSCF2103 (1280x852)

Dari Umbul Binangun kita berjalan ke arah barat memasuki halaman berbentuk segi delapan. Di sini terdapat sebuah bangunan gapura besar bernama Gedong Gapura Hageng. Gapura berhiaskan relief burung dan bunga-bungaan ini dulunya merupakan pintu gerbang utama menuju taman yang kini sudah tidak ada dan berganti dengan pemukiman padat.

DSCF2109 (2560x870)

Di sebelah selatan lapangan segi delapan ada tempat yang disebut Pasarean Ledoksari. Konon, tempat ini digunakan sebagai tempat peraduan sultan dengan istri-istrinya. Sayangnya, ga ada papan keterangan yang menunjukkan lokasi situs-situs yang ada di Tamansari. Saya mesti pake jurus bertanya, “abis dari sini ke mana lagi, Pak?”

DSCF2117 (853x1280)

Termasuk untuk bisa ke sini, saya mesti nanya-nanya bahkan ke penduduk sekitar. Kalo pake guide sih enak, pasti ke mana-mana dianterin. Memang di Tamansari ini lokasi situsnya berada di antara pemukiman penduduk. Sumur Gumuling berada di sebelah utara lapangan segi delapan. Di sini ada petugas yang akan memeriksa tiket kita tadi, makanya tiketnya jangan sampe hilang ya. Sumur Gumuling ini merupakan bangunan bertingkat dua yang sebagian besar terletak di bawah tanah. Dulunya bangunan ini digunakan sebagai tempat ibadah shalat dan memiliki lorong yang terhubung dengan keraton. Bahkan ada jalan rahasia yang dapat digunakan untuk menyelamatkan diri jika sewaktu-waktu ada serangan musuh.

DSCF2124 (1280x854)

Bangunan terakhir yang kita kunjungi di Tamansari ini adalah Pulo Kenanga (tapi ada papan nama “Pulo Cemeti” juga, pusyiiing). Dari atas bangunan ini kita bisa melihat panorama di sekitarnya. Sayangnya, pas kita ke sana, pintunya digembok (mana ini kuncennyaaa!). Dulu bangunan ini dikelilingi danau buatan, makanya disebut pulo. Dari foto yang diambil dari arah Pasar Ngasem ini kamu bisa membayangkan betapa kerennya bangunan ini pas di sekelilingnya masih ada danau dulu.

 

Bale Raos (Google Maps)

Abis dari Tamansari, waktu udah agak lewat dari jam makan siang dan perut udah mulai cukup laper. Kita berdua udah ngerencanain buat makan siang di Bale Raos yang ada di deket pintu belakang keraton tadi. Iya, kita mesti jalan balik lagi ke sana dari Pasar Ngasem. Ga jauh lah, cuma sekitar setengah kilo. Tapi panasnya itu loh.

DSCF2125 (1280x855)

Pas banget kan, abis tur keraton kita cobain juga makanan kegemaran Sultan HB VII hingga HB X. Tempat makan outdoor dibagi di dua buah bangunan joglo yang dipenuhi oleh ornamen khas keraton dan Jawa pada umumnya. Pas baru duduk, saya tiba-tiba menyadari bahwa di meja yang ga jauh dari meja kita ada Yusril Ihza Mahendra. Padahal baru aja semalem saya ngedengerin suara dia yang diwawancara via telepon oleh seorang presenter TV One.

DSCF2131 (853x1280)

Bale Raos menyediakan berbagai macam menu set nasi, ayam, bebek, daging, ikan, sayuran, kudapan, makanan penutup, dan minuman tradisional dan modern. Buat minumnya kita mesen beras kencur yang warna krem, terus beer djawa yang warna coklat oranye, sementara yang berwarna merah ati adalah secang. Karena saya belom pernah minum bir, saya ga tau kalo beer djawa rasanya mirip apa ngga ama bir. Saya sih paling suka rasa secang yang rasanya lebih seger.

DSCF2134 (1280x853)

Untuk makanannya, rupanya pikiran kita sama, ga mau rugi, wkwkwk. Kita pesen set nasi yang lauknya ada macem-macem. Bukan ga mau rugi juga deng, sebenernya emang dengan memesan satu menu, kita bisa nyobain banyak lauk. Fay mesen nasi sekul jene yang isinya ada nasi kuning, kering tempe, sambel goreng udang, dendeng rago, dan irisan telur dadar. Pas saya cicipin, hampir semuanya rasanya biasa aja. Ga lebih nikmat dari nasi kuning terenak yang pernah saya makan deh. Beneran.

DSCF2136 (1280x854)

Sementara saya mesen nasi tradisional set yang isinya banyak banget sampe dibagi di berbagai wadah terpisah, Di piring nasi ada oseng daun pepaya favorit GKR Hemas, kerupuk, dan nasi putih yang di puncak kerucutnya ada nasi merah. Jadi kayak bendera yah.

DSCF2135 (1280x855)

Lauk-lauknya ada tempe dan tahu bacem, gecok ganem favorit Sultan HB IX, dan lombok kethok favorit Sultan HB VII. Gecok ganem berisi daging cincang rebus dengan kuah santan. Yang rasanya cukup enak menurut saya adalah lombok kethoknya yang rasanya mirip black bean beef yang pernah saya coba di Seribu Rasa Menteng.

DSCF2141 (1280x853)

Agak kalap, Fay mesen bergedel jagung. Kamu bisa tebak lah ya, ini perkedel. Mungkin di bahasa Jawanya disebut bergedel. Satu porsinya berisi empat perkedel dan lumayan gede-gede juga. Bedanya dari perkedel jagung yang biasa saya makan, di sini adonan jagungnya kayak diulek dulu karena lembut banget.

Nasi Tradisional Set IDR 50K
Sekul Jene Set IDR 48K
Bergedel Jagung IDR 12.5K
Secang Dingin IDR 10K
Beer Djawa IDR 17.5K
Beras Kencur IDR 12K

 

Lanjuuut di bagian kedua, Jalan-Jalan di Jogja, Dari Keraton Sampe ke Tugu (Bagian 2 dari 2)

Iklan

2 pemikiran pada “Jalan-Jalan di Jogja, Dari Keraton Sampe ke Tugu (Bagian 1 dari 2)

  1. Saya gak suka Transjog, Fach. Tiga kali naik transjog, sopirnya sama semuanya nyetirnya kasar. Ngerem mendadak, belok serampangan, tiba2 ngebut 😂 wong jogja yang katanya selo, gak kerasa sama sekali di transjog mah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s