Jalan-Jalan ke Sumedang

Minggu itu, tepat seminggu lebih satu hari setelah saya operasi cabut gigi bungsu, kita sekeluarga lagi geje di rumah. Kita emang bukan keluarga yang seneng diem aja di rumah. Mamah saya ngajakin jalan-jalan. Idenya sih ke Sumedang. Wah, pucuk dicinta teh tiba, saya yang udah lama banget ngincer pengen ke Museum Prabu Geusan Ulun langsung menyambar ide itu dengan cepat. Padahal badan saya sendiri masih belom terlalu fit gara-gara mulut masih terkadang terasa senat-senut. Tapiiii, demi jalan-jalan, aku bisa!

Setelah siap-siap, sekitar jam setengah 12 kita berangkat. Saya udah ngecek, si museum buka sampe jam 2 siang. Terus udah ngecek juga pake Waze kalo perjalanan ke Sumedang bakal menghabiskan waktu satu jam lima belas menit. Oke, berarti jam 1 udah bisa sampe lah di Sumedang.

 

Museum Prabu Geusan Ulun (Google Maps)

Awalnya agak bingung juga nyari museumnya. Pas udah nyampe lokasi yang ditunjuk si Waze pun kita ga ngeliat adanya papan nama museum. Di mana sih museumnyaaaa? Kita terus nanya lokasi museum ke petugas jaga di depan pintu masuk suatu tempat yang di depannya bertuliskan “Gedung Negara”. Apa pula itu Gedung Negara? Belakangan saya baru tau bahwa Gedung Negara adalah Kantor Bupati Sumedang dan Museum Prabu Geusan Ulun ternyata ada di dalem komplek itu.

Untuk masuk ke museum, kita hanya ditarik biaya yang tergolong murah banget, cuma 3 ribu per orang. Kita lalu disambut oleh bapak-bapak pemandu museum yang tampaknya masih anggota keluarga pengurus museum. Iya, museum ini tidak dikelola oleh negara melainkan dikelola secara mandiri oleh keluarga di bawah nama Yayasan Pangeran Sumedang. Nama Prabu Geusan Ulun sendiri diambil dari nama Raja Sumedang Larang yang memerintah pada tahun 1578-1601. Walaupun dikelola keluarga, pemerintah pernah beberapa kali mengulurkan tangan membantu, di antaranya dalam rangka pemugaran gedung museum pada tahun 1982.

DSCF1553 (1280x854)

Museum ini ternyata memiliki beberapa bangunan yang digunakan untuk menyimpan berbagai benda koleksi. Bangunan terdepan yang bergaya kolonial disebut Gedung Sri Manganti, a dulunya digunakan sebagai tempat tinggal bupati beserta keluarganya sebelum dialihfungsikan sebagai aula depan museum. Di sini ada koleksi gamelan, foto-foto Bupati Sumedang, pakaian bupati, dan beberapa benda koleksi lain.

DSCF1566 (1280x853)

Di halaman belakang Gedung Sri Manganti, kita diajak ke gedung Bumi Kaler yan dulunya digunakan sebagai tempat tinggal keluarga keturunan leluhur Sumedang. Di Bumi Kaler ini terdapat koleksi awetan harimau Sumatera, perabotan asli pemberian dari bupati Jepara, ayah R.A. Kartini, untuk Raden Adipati Soeria Atmadja, serta koleksi Pepeten, yaitu perlengkapan kamar pengantin perempuan yang digunakan untuk menyimpan perhiasan.

DSCF1570 (1280x853)

Dari Bumi Kaler, kita beranjak ke Gedung Gendeng. Gedung yang didirikan tahun 1850 ini awalnya merupakan tempat penyimpanan utama benda-benda pusaka leluhur dan senjata-senjata lainnya. Karena sudah tidak memadai lagi, pada tahun 1990 dibangunlah gedung baru, Gedung Pusaka, yang fungsinya menggantikan Gedung Gendeng. Walaupun demikian, sebagian senjata dan pusaka keluarga masih ada juga yang disimpan di sini.

DSCF1580 (1280x855)

Di Gedung Pusaka disimpan Mahkota Binokasih, mahkota Prabu Geusan Ulun, di dalam kotak kaca dengan bingkai berwarna emas berbentuk piramida bersudut delapan. Di dalam kotak yang sama juga terdapat perhiasan lain seperti gelang tangan dan lengan, kalung, ikat kepala, tusuk rambut. Semuanya terbuat dari bahan emas, berkilauan diterpa cahaya dari atap gedung yang transparan.

DSCF1588 (853x1280)

Di belakangnya, ada koleksi berharga lainnya, yaitu senjata-senjata peninggalan para raja dan bupati Sumedang. Ada Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Taji Malela, Keris Ki Dukun peninggalan Prabu Gajah Agung, Keris Panunggul Naga peninggalan Prabu Geusan Ulun, Duhung/Badik Curuk Aul peninggalan Sanghyang Hawu, Keris Nagasasra I peninggalan Pangeran Rangga Gempol III, serta Keris Nagasasra II peninggalan R.A.A Surianagara Kusumadinata.

DSCF1599 (1280x855)

Gedung berikutnya adalah Gedung Gamelan. Di sini disimpan koleksi berbagai gamelan yang sudah berusia ratusan tahun, di antaranya Gamelan Sekar Oneng, Gamelan Panglipur, Gamelan Sari Oneng Mataram, dan Gamelan Sari Oneng Parakansalak.

DSCF1604 (854x1280)

Gedung yang terakhir yaitu Gedung Kereta, yang sesuai namanya menyimpan kereta-kereta koleksi museum, yaitu Kereta Kencana Naga Paksi dan Kereta Naga Barong yang merupakan replikanya.

 

Monumen Lingga di Alun-Alun Sumedang (Google Maps)

Di depan Gedung Negara, yaitu di sebelah utara, terdapat alun-alun Sumedang. Tepat di tengah alun-alun terdapat sebuah monumen yang dibuat untuk mengenang jasa-jasa Pangeran Aria Soeria Atmadja semasa menjabat sebagai bupati Sumedang pada tahun 1883-1919. Pangeran Aria Soeria Atmadja sendiri wafat di Mekah saat sedang menunaikan ibadah haji sehingga sering juga disebut Pangeran Mekah.

DSCF1611 (1280x854)

Monumen lingga ini bentuknya tergolong unik. Struktur utamanya berbentuk kubus dengan keempat sudut bagian atasnya melengkung. Di atasnya terdapat bangunan berbentuk setengah bola yang mengingatkan pada kubah masjid. Di keempat sisi kubus terdapat ukiran tulisan dalam aksara Jawa, Sunda, dan Latin.

 

Masjid Agung Sumedang (Google Maps)

Di sebelah barat alun-alun ada Masjid Agung Sumedang yang merupakan masjid paling besar di Sumedang. Masjid ini berdiri pada tahun 1850 dengan bantuan para pendatang etnis Tionghoa yang kebetulan para tiba di sana. Maka tidak heran jika masjid ini memiliki perpaduan gaya arsitektur Islam dan Tionghoa.

DSCF1610 (1280x853)

Ciri khas yang paling menonjol pada bangunan Masjid Agung Sumedang adalah banyaknya tiang penyangga. Lalu atapnya berbentuk persegi dan bersusun tiga, disbut tumpang, yang bagian paling atasnya dipuncaki oleh hiasan berbentuk mahkota yang disebut mustaka. Kini, bagian asli masjid sudah dikelilingi oleh teras luas yang dijadikan oleh masyarakat sebagai tempat bersantai, sembari memikmati jajanan yang banyak dijual di sekitar masjid.

 

Rumah Makan Palasari (Google Maps)

DSCF1618 (1280x854)

Waktu kemaren jalan-jalan ke Cirebon, kita udah sempet nyobain makan Tahu Sumedang Cita Rasa. Kali ini, saya iseng nyobain Tahu Palasari yang lokasinya masih sepelemparan batu dari si Tahu Cita Rasa, yang sama-sama rame. Harganya juga sama aja, 600 perak sebutir. Pas di sini saya baru tau ternyata cabe rawit ga otomatis dikasih dan walaupun gratis tapi mesti minta dulu. Selain cabe rawit, di tempat jualan tahu juga dijual sambal buat makan tahu, harganya sebungkus kecil 2500 rupiah.

DSCF1614 (1280x855)

Karena emang udah jam makan siang, saya makan juga di rumah makannya. Karena gigi masih belom bisa diajak berkompromi, saya mesen makanan yang berkuah. Yang cocok ada soto. Ada soto daging, ada soto babat. Saya pesen soto babat. Yang dateng, ternyata emang bener pake babat, tapi style-nya tetep aja soto bandung, pake bengkoang. Babatnya lembut banget, enak deh. Pas banget buat saya yang masih sakit gigi. Rasa kuah sotonya juga enak.

 

Makam Cut Nyak Dhien (Google Maps)

Dulu banget saya udah pernah ke sini sih. Tapiiii, itu entah TK atau pas awal-awal SD. Jadi udah lupa banget lah. Jadi, karena Ferdi ama Nanda juga males kalo main ke Gunung Kunci, akhirnya saya ngusulin ngeliat makam Cut Nyak Dhien di Gunung Puyuh. Apalagi karena Nanda juga belom pernah ke sini.

DSCF1620 (1280x853)

Gunung Puyuh sebenernya merupakan area pemakaman Bupati Sumedang serta keluarganya dan masih dikelola oleh Yayasan Pangeran Sumedang. Dari pintu masuk area makam, kita cukup berjalan lurus menyusuri tangga hingga menemui gapura bertuliskan “Makam Pahlawan Nasional Tjut Nya’ Dhien”.

DSCF1624 (1280x853)

Mengenai Cut Nyak Dhien sendiri, saya rasa kita semua udah tau lah ya. Beliau adalah pahlawan nasional yang berasal dari tanah rencong Aceh. Pada akhir perjuangannya yang panjang dan luar biasa melawan penjajahan Belanda, ia ditangkap dan diasingkan hingga ke Sumedang pada tahun 1906, dua tahun sebelum akhirnya ia mengembuskan napas dan dimakamkan di sini. Bahkan, makamnya sempat “hilang” dikarenakan masyarakat Sumedang kala itu tidak mengetahui bahwa Cut Nya’ Dhien adalah seorang perjuang besar dari Aceh. Mereka hanya mengenalnya dengan nama “Ibu Perbu”. Makamnya baru ditemukan kembali pada tahun 1959 atas permintaan gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan.

DSCF1636 (1280x856)

Hal yang menarik untuk diketahui juga, di Gunung Puyuh ini terdapat makam dari ibunda Muhammad Hatta yang bernama Sitti Saleha. Informasi ini saya peroleh dari pemandu di Museum Prabu Geusan Ulun. Tidak jelas mengapa makam beliau bisa berada di Sumedang.

 

TAMAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s