Pameran 17|71: Goresan Juang Kemerdekaan di Galeri Nasional (Jakarta)

Dalam rangka menyambut hari ulang tahun kemerdekaan, Istana Kepresidenan Indonesia menggelar pameran koleksi lukisan koleksi kepresidenan pada tanggal 2 hingga 30 Agustus 2016 di Galeri Nasional, Jakarta. Pameran yang dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan terhadap karya-karya besar yang dimiliki Indonesia ini merupakan yang pertama kalinya diselenggarakan semenjak Indonesia merdeka. Sempat direncanakan pada masa kepresidenan Megawati dan SBY namun karena beberapa hal belum berhasil terselenggara, sehingga baru terealisasi pada masa pemerintahan Joko Widodo. Karena keterbatasan waktu, ruang, dan biaya, pameran ini dikatakan hanya mampu menampilkan kurang dari 10% koleksi karya seni di Istana Presiden.

Saya ngajak Fay buat nemenin saya melihat pameran ini. Ini bukan pertama kalinya saya berkunjung ke Galeri Nasional. Tahun lalu saya sempet berkunjung ke pameran Aku Diponegoro. Rupanya, animo masyarakat untuk berkunjung ke pameran kali ini sangat tinggi sehingga pendaftarannya pun memperoleh perlakuan khusus. Apalagi pameran ini tidak ditarik biaya apapun alias gratis tis tis. Bahkan kita pun sebenernya bisa juga mendaftar secara online dan memilih tanggal serta jam berkunjung di situs Badan Ekonomi Kreatif. Tapi karena kurangnya info, kita baru mendaftar pas dateng, mengantre sekitar hampir setengah jam untuk mendapatkan nomor antrean masuk, lalu menunggu lagi hampir satu jam sampe nomor antrean kita terpampang di televisi deket bagian registrasi tadi.

goresan-juang-android.jpg.jpg

Sambil menunggu, pengunjung bisa mencoba aplikasi augmented reality yang disediakan panitia di Google Play Store. Caranya, arahkan kamera di dalam aplikasi ke poster-poster yang sudah disediakan panitia (poster ya, bukan lukisan aslinya). Nanti aplikasi akan menampilkan informasi-informasi singkat mengenai lukisan tersebut. Total ada 9 lukisan yang dapat kita lihat informasinya melalui aplikasi. Ga terlalu istimewa sih. Tapi lumayan untuk membunuh waktu. Saya juga mencoba aplikasi itu pada satu dua lukisan dan bosen. Mendingan ngeliat-liat koleksi benda seni di pameran tetapnya (permanent exhibition). Ga dipungut biaya juga kok.

Ruangan pameran berada di Gedung B dan Gedung C (saya baru ngeuh ada Gedung C dan ga sempet ngeliat-liat di sana ada apa). Pameran tetap di Gedung B berada di lantai 2 dan terbagi menjadi dua bagian, ruangan pertama berisikan koleksi karya seni rupa modern Indonesia dan internasional, sementara ruangan kedua berisi koleksi karya gerakan seni rupa baru hingga seni kontemporer. Di sini, pengunjung tidak diperbolehkan membawa tas, jaket bertudung, kacamata hitam, makanan dan minuman, dan topi, dan mesti menitipkan semuanya di resepsionis. Untungnya, kamera masih boleh dibawa dan digunakan untuk berfoto namun seperti lazimnya peraturan di galeri seni, tidak boleh menggunakan lampu kilat. Saya mengambil banyak foto karya seni di sini, cekidoot.

DSCF1647 (1280x855)

DSCF1652 (1280x855)

DSCF1654 (849x1280)

DSCF1655 (1280x853)

DSCF1659 (1280x854)

DSCF1661 (1280x854)

DSCF1664 (1280x855)

DSCF1667 (1280x853)

DSCF1671 (1280x855)

DSCF1672 (1280x853)

DSCF1676 (1280x855)

Itu tadi merupakan hasil karya seni yang terentang dari masa perintisan, Mooi Indie, Persagi, era pendudukan Jepang dan sanggar, hingga ke akademi seni rupa, hasil karya Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Affandi, Trubus, Popo Iskandar, A.D Pirous, dan lain-lain. Nama-nama itu umumnya dikenal oleh masyarakat luas melalui hasil karyanya yang juga udah diakui secara internasional. Masuk ke era gerakan seni rupa baru dan kontemporer, saya hanya bisa mengenali satu orang senimannya, yaitu Nyoman Nuarta. Selebihnya, angkat tangan. Dan seperti biasa, hasil karyanya pun sulit dipahami. Makanya, kalo saya sih lebih suka lukisan-lukisan pemandangan atau potret kehidupan sehari-hari. Lebih bisa dinikmati dan liatnya ga perlu mikir, hehehe.

DSCF1681 (1280x855)

DSCF1682 (1280x853)

DSCF1685 (852x1280)

DSCF1686 (853x1280)

Beres ngeliat-liat, kita balik lagi ke bagian registrasi, ngeliatin nomer antreannya udah sampe mana. Wah, rupanya bentar lagi nyampe nomer antrean kita. Sama halnya dengan di pameran tetap, di sini juga kita mesti menitipkan jaket, tas, dan kali ini kamera tidak boleh dibawa. Memotret hanya diperbolehkan menggunakan kamera handphone. Makanya fotonya ga terlalu bagus nih, banyak noise-nya, soalnya diambil pake kamera hape.

P_20160806_123602_HDR (1280x852)

Sayang, pas kita berkunjung itu hari Sabtu. Kalo kamu berkunjung di hari Minggu, katanya kita akan dipandu langsung oleh kurator pameran ini, Mikke Susanto dan Rizki A. Zaelani, pada dua waktu yang berbeda, jam 10 pagi dan setengah 2 siang. Mereka akan memandu pengunjung menikmati koleksi karya seni tersebut sambil menceritakan kisah di balik karya seni tersebut.

P_20160806_123234_HDR (1280x853)

P_20160806_123725_HDR (1280x853)

P_20160806_123804_HDR (1280x854)

P_20160806_124059_HDR (1280x854)

P_20160806_125614 (1280x854)

Pameran yang buka dari pukul 9 pagi hingga pukul 8 malam ini menghadirkan sebanyak 28 karya dari 20 pelukis, plus 1 lukisan yang dilukis sendiri oleh Presiden Soekarno. Karya-karya ini terbagi dalam 3 kategori, ada kategori Perjuangan Bangsa, Perjuangan Bangsa dan Saksi Proklamasi, serta Hasil-hasil Kemerdekaan. Pelukis yang karyanya ditampilkan di sini antara lain Raden Saleh, Basoeki Abdullah, Affandi, Lee Man Fong, Dullah, Soedjojono, Henk Ngantung, Diego Rivera, Rudolf Bonnet, dan Hendra Gunawan. Lukisan berjudul Rini yang dilukis oleh Soekarno lupa saya foto. Kisah di balik masing-masing lukisan menurut saya menarik sekali. Dan seringkali nilai historis itulah yang membuat lukisannya bernilai mahal. Kamu bisa membaca kisah-kisah tersebut di katalog pameran.

P_20160806_125724_2 (1280x854)

P_20160806_125825 (1280x854)

Walau katanya pengunjung hanya diberi waktu 15 menit untuk melihat-lihat, tapi saya ga mendengar ada petugas yang sibuk memanggil-manggil pengunjung yang terlalu lama di dalam. Jadi, saya sama Fay santai aja di dalem, menikmati lukisan, dan juga ga lupa berfoto di sampingnya. Salah satu lukisan favorit saya berjudul Tara karya Srihadi Soedarsono yang menampilkan lukisan putrinya yang bernama Tara sedang belajar menari Bali. Warnanya yang merah mencolok sangat menarik perhatian saya.

 

Galeri Nasional
http://galeri-nasional.or.id/
Jalan Medan Merdeka Timur No.14, Gambir, Jakarta Pusat
Click for Google Maps

galeri-nasional.jpg.jpg

Iklan

2 pemikiran pada “Pameran 17|71: Goresan Juang Kemerdekaan di Galeri Nasional (Jakarta)

  1. Mbak dan Mas, itu Augmented Reality-nya juga bisa jalan di lukisannya loh, dan…. akan beda experience nya kalo di lukisan yang sebesar itu, justru poster yang di luar itu untuk latihan menggunakannya. Di katalog pun bisa digunakan di gambar yang diminta.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s