Jalan-Jalan ke Cirebon (Bagian 2 dari 2)

Baca bagian pertamanya di Jalan-Jalan ke Cirebon (Bagian 1 dari 2)

 

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (Google Maps)

Seperti layaknya denah kesultanan di Jawa, di sebelah utara keraton pasti terdapat alun-alun. Di sebelah barat alun-alun pastilah ada masjid agung.

DSCF1021 (1280x854)

Alun-alun Keraton Kasepuhan digunakan untuk tempat parkir. Apalagi pas mau solat Jumat kayak gini, yang parkir pasti banyak banget. Jalan di sekitarnya tidak mampu menampung volume mobil yang tinggi.

DSCF1022 (1280x855)

Pintu masuk utama masjid ditandai oleh sebuah gapura yang mencolok karena berwarna merah dan pintunya yang berwarna hijau dongker. Bagian atas gapura berbentuk setengah lingkaran dengan tulisan kaligrafi arab. Bentuknya mengadopsi bentuk gerbang paduraksa pada candi dan ornamennya diganti dengan bentuk-bentuk geometris.

DSCF1026 (1280x853)

Nama masjid ini diambil dari kata “sang” yang bermakna keagungan, “cipta” yang berarti dibangun, dan “rasa” yang berarti digunakan. Menurut tradisi, pembangunan masjid ini dikabarkan melibatkan sekitar lima ratus orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri, dengan diarsiteki oleh Sunan Kalijaga dan Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit.

DSCF1037 (1280x853)

Menurut sumber sejarah di buku “Babad Tanah Cirebon”, dikisahkan masyarakat Cirebon pada masa awal perkembangan Islam di wilayah itu ditimpa musibah kematian yg berturut-turut menimpa muazin dan jamaah masjid yang disebabkan guna-guna menjangan wulung yang disebarkan tokoh jahat pemuka agama lain yg merasa terganggu oleh perkembangan Islam. Konon Sunan Gunung Jati, Sunan Kali Jaga, Pangeran Cakra Buana dan tokoh Walisongo lainnya lalu berdoa memohon pertolongan Allah, dan akhirnya mendapat petunjuk untuk mengadakan Azan Pitu yg dikumandangkan oleh tujuh orang muadzin sebelum shalat. Saat ini, Azan Pitu hanya dilaksanakan pada saat akan diadakan solat Jumat.

 

Gado-Gado Prujakan (Google Maps)

Abis solat Jumat, perut kita udah mulai laper lagi. Kali ini kita mengikut selera Uwo Ati yang pengen makan Gado-Gado Prujakan. Lokasinya ga sulit ditemui karena ada di jalan di depan Stasiun Prujakan. Plang namanya “Rujak Gado-Gado Ibu Waty & Ibu Hj. Umy”. Lucu juga. Bentuk usahanya CV alias Persekutuan Komanditer kali ya.

DSCF1058 (1280x855)

Gado-gado dibuat dengan menggunakan wadah cobek gede yang terbuat dari batu. Satu orang bertugas menyiapkan sayur-sayuran di tepian wadah. Satu orang lagi bertugas mencampur sayuran dengan bumbu kacang dan menuangkannya ke piring. Saya sih sebenernya ga laper-laper amat. Jadinya saya makan berdua sama mamah. Gado-gado keliatannya ga terlalu banyak karena cuma mengisi dua pertiga piring. Tapi pas dimakan, cukup kenyang juga. Rasanya bumbu kacangnya juga enak lho. Sepiring gado-gado ini bisa diperoleh dengan harga 17 ribu rupiah.

DSCF1052 (1280x854)

Selain gado-gado, mereka juga menjual bubur sumsum. Ada candilnya pula. Waaah, saya suka candil! (ketauan banget udah bingung mau ngomong apaan)

 

Keraton Kacirebonan (Google Maps)

Satu keraton lain yang juga kalah populer adalah Keraton Kacirebonan yang berada di Jalan Pulasaren. Jadi, ketiga keraton di Cirebon ini ada di lokasi yang berdekatan, masih dalam radius satu kilometer, tapi memiliki wilayah masing-masing.

DSCF1063 (1280x854)

Saat itu, Keraton Kanoman di bawah kepemimpinan Pangeran Raja Kanoman yang merupakan putra dari Sultan Anom IV Muhammad Chaerudin, melakukan perlawanan terbuka terhadap Belanda. Ketika ia berhasil ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Ambon, pemberontakan rakyat Cirebon malah semakin menjadi-jadi. Maka untuk meredakannya, Belanda memulangkan kembali Pangeran Raja Kanoman ke Cirebon.

DSCF1078 (1280x855)

Namun karena di Kesultanan Kanoman telah bertahta Pangeran Raja Abu Soleh Immamudin yang merupakan adik Pangeran Raja Kanoman, maka atas dasar kesepakan keluarga, pada tahun 1808 Pangeran Raja Kanoman mendirikan Kesultanan Kacirebonan dan menjadi sultan pertamanya dengan gelar Sultan Amirul Mukminin Muhammad Khairuddin II. Keraton ini kemudian dibuat pada tahun 1814.

DSCF1073 (1280x853)

DSCF1075 (851x1280)

Untuk masuk ke dalam komplek keraton, kita mesti membeli tiket seharga 10 ribu rupiah, sekaligus juga membayar tiket parkir mobil 5 ribu rupiah. Di dalam bangunan keraton yang didominasi oleh warna hijau ini, terdapat berbagai koleksi pusaka keraton yang diwariskan secara turun-menurun dalam keluarga. Ada koleksi porselen cina, naskah dan surat kuno dari masa kolonial, perhiasan, mahkota, uang kuno, gamelan, dan lain-lain.

 

Taman Air Gua & Panggung Sunyaragi (Google Maps)

Agak keluar Cirebon, ada satu lagi objek wisata yang wajib dikunjungi selagi di Cirebon. Namanya Taman Sunyaragi. Objek wisata ini buka dari jam 8 pagi hingga jam setengah 6 sore dan bisa dimasuki dengan membayar tiket 10 ribu saja (dan jangan lupa ada juga tiket parkir 5 ribu rupiah). Mengingat tempatnya yang cukup luas dan cenderung outdoor, waktu yang paling tepat untuk mengunjungi adalah pagi atau sore hari. Bawalah topi dan botol air minum untuk menghindari dehidrasi.

DSCF1125 (2560x576)

Taman Sunyaragi (sunya berarti sunyi, sementara ragi berarti raga) adalah tempat peristirahatan dan meditasi sultan-sultan dari Kasepuhan Cirebon. Dulunya, komplek ini dikelilingi oleh danau yang kini sudah kering namun masih terlihat jelas sisa-sisanya. Bangunan-bangunannya didominasi oleh batu karang yang berwarna kehitaman. Terkadang cukup tajam sehingga kita mesti berhati-hati saat berjalan jangan sampe tergores, terutama saat mesti melalui lorong-lorongnya yang sempit.

DSCF1138 (853x1280)

Komplek Taman Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bagian pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias, ruang ibadah dan dikelilingi oleh taman lengkap dengan kolam. Bangunan gua-gua berbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air.

 

Masjid Merah Panjunan (Google Maps)

Dari Taman Sunyaragi, objek wisata terakhir yang kita kunjungi adalah Masjid Merah Panjunan, kali ini kembali lagi ke tengah kota Cirebon, tepatnya daerah Panjunan. Nama Panjunan sendiri berasal dari nama jun, yaitu keramik porselen, di mana di daerah ini dahulu banyak terdapat perajinnya yang merupakan kelompok pendatang Arab dari Baghdad yang dipimpin oleh Pangeran Panjunan. Makanya jangan heran kalo di sini kamu akan menemui warga yang berparas Arab. Mereka bukan turis lho ya.

DSCF1151 (1280x853)

Masjid yang didominasi warna merah ini bahkan dikatakan sebagai mesjid tertua di Cirebon, dibangun pada tahun 1453, lebih tua daripada Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dibangun pada tahun 1489. Bahkan lebih tua juga daripada Masjid Demak (1477) dan Masjid Kudus (1530).

DSCF1156 (1280x854)

Masjid ini dibangun dengan menggunakan bata merah, bahan yang saat itu lazimnya digunakan untuk membangun candi. Masjid yang awalnya hanya berupa mushola ini dibangun menjadi masjid atas inisiatif Pangeran Panjunan dengan memadukan budaya Hindu-Budha. Perpaduan antara Arab dan Tiongkok ditandai dengan ornamen-ornamen porselen keramik dari Tiongkok yang terdapat di dinding bagian dalam masjid, konon merupakan hadiah saat Sunan Gunung Jati menikah dengan Tan Hong Tien Nio, putri Kaisar Dinasti Ming.

DSCF1166 (1280x853)

Berkali-kali saya berkunjung ke sini, masih ada aja sekelompok ibu-ibu yang akan meminta uang dan agak memaksa. Kalo ga ngasih bahkan kita akan dikejar sampe ke mobil. Ga jelas juga apa peran mereka di masjid ini, walau ngakunya sih bagian kebersihan masjid. Terserah kamu sih kalo kamu mau ngasih, tapi yang pasti kalo satu dikasih, yang lain pasti bakalan minta juga. Dan kalo mereka merasa kamu ngasihnya kurang banyak, bisa  jadi mereka ngelunjak minta dilebihin.

 

Bubur Sop Ayam M. Kapi (Google Maps)

Malamnya, petualangan kuliner Cirebon kembali berlanjut. Kali ini kita nyambangin Bubur sop Ayam yang ada di deket jembatan di Jalan Tentara Pelajar. Baru denger yang namanya bubur sop ayam? Makanya, jangan taunya cuma nasi jamblang sama empal gentong doaaang. Cirebon ini kaya akan kuliner tradisional lho.

DSCF1183 (1280x854)

Bubur sop ayam ini sebenernya sama kayak bubur ayam lainnya, kecuali adanya kuah sop yang jumlahnya kentara. Bubur dan sop. Kombinasi yang pas banget buat menemani malam yang dingin di Cirebon. Malam itu, saya ga nyangka tempat ini rame dikunjungi pembeli. Saya kira tempatnya pun kecil. Tapi kenyataannya, mejanya banyak. Bahkan gerobak buburnya ada dua sehingga kita ga perlu waktu lama menunggui pesanan datang. Mau coba? Bubur yang seporsinya dihargai 16 ribu rupiah ini buka dari jam 5 sore.

 

Docang Pa Kumis (Google Maps)

Keesokan harinya, jam setengah 8 kita udah check out dari hotel. Tujuan hari ini adalah Telaga Remis dan Telaga Biru yang berada sekitar 24 km di sebelah barat daya Cirebon. Tapi, masak sih mau beraktivitas ga pake sarapan dulu? Karena ga ada yang punya ide mau makan apa, saya akhirnya ngasih usul sarapan docang aja. Apaan itu docang? Ada hubungan apa ama doclang yang ada di Bogor? Ga ada hubungannya sama sekali.  Jadi konon katanya docang ini kuliner para wali yang dibuat dari makanan sisa suatu acara. Maksudnya adalah untuk mengajarkan masyarakat agar tidak membuang-buang makanan sekalipun hanya sisa.

DSCF1187 (1280x856)

DSCF1195 (1280x854)

Docang yang kita incer ada di Jalan Tentara Pelajar juga, deket sama lokasi Bubur Sop Ayam M. Kapi yang kita sambangin semalem, namanya Docang Pak Kumis. Docan adalah hidangan yang suuuuper sederhana. Bahkan mungkin lebih sederhana dari nasi lengko. Isi docang adalah potongan lontong, daun singkong, toge, dan parutan kelapa, yang kemudian disiram dengan kuah oncom dan ditaburi remah kerupuk docang. Rasanya juga sebenernya ga enak-enak amat. Malah mungkin buat sebagian orang akan terasa aneh karena adanya aroma oncom.

 

Telaga Remis dan Telaga Nilem

Telaga Remis (Google Maps) sebenernya berada di wilayah Kabupaten Kuningan, namun karena jalan akses yang kita ambil dari arah Kabupaten Cirebon, kita sampe dua kali kena retribusi jalan desa. Pas di Cirebon kena retribusi 3 ribu rupiah dan pas di Kuningan kena lagi 5 ribu rupiah. Menyebalkan sih, karena itu artinya kita semacam membayar biaya jalan tol yang tidak perlu. Belum lagi nanti untuk masuk ke area wisata, kita mesti membayar lagi tiket sebesar 15 ribu yang merupakan bea masuk wilayah Taman Nasional Gunung Ciremai. Pas parkir, disuruh bayar lagi 5 ribu rupiah. Oh orang Indonesia, kenapa kalian sungguh mata duitan…

Menuju Telaga Remis, emosi kita pagi itu tambah diuji oleh sekelompok warga yang menyuruh kami untuk parkir di suatu area parkir yang masih agak jauh dari lokasi wisata yang jalannya masih agak nanjak ke atas lagi. Kalo kalian menemui mereka juga, jangan turuti kemauan mereka. Mereka ini sebenernya bekerja sama dengan tukang ojek lokal. Kalo hari masih pagi, area parkir di atas masih bisa menampung mobil pengunjung. Tapi kalo udah agak siang, mungkin akan penuh dan opsi parkir di bawah itu bisa dipertimbangkan. Tipsnya, coba dulu pergi ke atas, kalo emang penuh ya baru balik ke bawah lagi.

DSCF1216 (1280x853)

Telaga remis sangat-sangat adem karena dikelilingi oleh hutan pinus rimbun yang merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Ciremai. Karena masih pagi, udaranya pun sejuk dan enak untuk dihirup. Saya, Ferdi, Nanda, dan Citra lalu mengitari telaga melalui jalan setapak yang ada di sekelilingnya. Liat-liat sekalian nyari spot foto yang bagus. Di beberapa titik tampak warga yang sedang memancing ikan di telaga. Suatu kegiatan yang saya masih ga paham di mana asyiknya.

DSCF1210 (2560x576)

Kalo males jalan kaki, di sana ada juga wahana sepeda air yang tiketnya bisa dibeli di loket seharga 20 ribu. Setelah lelah berjalan kaki atau bermain sepeda air, bisa tuh mampir ke beberapa rumah makan yang ada di sana. Ada yang menyediakan ikan bakar, mie ayam, dan juga nasi lengko. Hmm, ikan bakar sepertinya menarik karena pastinya dipancing dari telaga ini.

DSCF1244 (1280x855)

Ga jauh dari Telaga Remis, sebenernya kelewatan di jalan menuju ke Telaga Remis, ada Telaga Nilem (Google Maps). Ini adalah telaga yang jauh lebih kecil tapi ga seperti Telaga Remis, di sini pengunjung bisa berenang sepuasnya karena airnya beniiiing. Keliatannya seger banget dan menggiurkan buat diceburin. Kalo mau nginep, di sana ada beberapa kamar cottage yang sepertinya bisa disewa.

 

Telaga Biru Cicerem (Google Maps)

Dari Telaga Nilem, kita ngelanjutin perjalanan ke Telaga Biru. Informasi mengenai Telaga Biru ini kita peroleh dari Instagram. Walau di Instagram disebut Telaga Biru, tentu karena airnya yang berwarna biru, nama resminya adalah Telaga Cicerem. Lokasinya ada tepat di tepi Jalan Kaduela.

DSCF1265 (2560x576)

Suasana di sekitar Telaga Cicerem ini sangat asri karena ada banyak pohon besar yang rindang. Karena udah agak siang, pengunjungnya pun mulai ramai, terutama oleh pasangan muda-mudi yang berpacaran. Telaga ini tentu jadi pilihan yang menarik mengingat tiketnya murah, hanya 5 ribu saja (dan inipun kemungkinan tarif tuslah lebaran), yang dikelola oleh karang taruna setempat.

DSCF1264 (1280x853)

Selain airnya yang biru, di beberapa bagian telaga yang dalam ada terdapat banyak ikan yang bergerombol. Saya menduga ikan ini memang sengaja dipelihara oleh penduduk sekitar untuk menambah daya tarik telaga karena tidak tampak warga yang berusaha sedang memancingi ikan-ikan tersebut.

 

Terasering Panyaweuyan (Google Maps)

Spot wisata terakhir yang akan kita kunjungi di jalan pulang ke Bandung adalah Terasering Panyaweuyan yang berada di Kabupaten Majalengka. Objek wisata yang satu ini baru aja tenar setelah diliput oleh salah satu acara TV swasta, My Trip My Adventure. Dan untuk mencapai lokasinya yang dekat dengan kaki Gunung Ciremai bukanlah perkara mudah. Apalagi kita ternyata salah ambil jalan akses. Jalannya kecil, berkelok-kelok, dan juga seringkali dibatasi oleh jurang yang cukup dalam dan lagi jalannya tidak dilengkapi oleh pagar pengaman. Ga cocok deh kalo di rombongan ada peserta yang jantungan atau gampang panikan.

DSCF1272 (2560x864)

Tapi begitu sampe di lokasi, mestinya semua kesulitan tadi terbayar. Pemandangannya memang wow. Tapi tunggu dulu, akan lebih wow lagi kalo kita naik ke puncak bukitnya. Mobil diparkir dekat dengan satu-satunya warung di sana. Jasa ojek yang ditawarkan penduduk setempat untuk mencapai ujung jalan setapak yang digunakan untuk mendaki bukit tarifnya ga masuk akal, 50 ribu. Mengingat saya sering naik gojek dan tarifnya jarang banget melebihi 20 ribu, saya memilih jalan aja deh. Lebih sehat (pembenaran).

DSCF1273 (2560x864)

Bagi penduduk setempat, pemandangan seperti ini tentunya udah biasa. Tapi buat kita yang tinggal di kota, tentunya luar biasa. Sayang, saat itu bukit-bukit yang diterasering oleh warga untuk menanam sayur-sayuran tidak semuanya penuh ditanami sehingga ada lahan yang tampak “gundul”. Cuacanya pun agak mendung karena baru aja hujan. Hal lain yang saya sayangkan juga adanya timbunan sampah yang ditinggalkan oleh para pengunjung. Kamu! Iya kamu! Jangan tiru perilaku mereka-mereka yang hobi nyampah sembarangan ini ya. Leave nothing but footpronts, take nothing but pictures, kill nothing but time!

 

TAMAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s