Jalan-Jalan ke Cirebon (Bagian 1 dari 2)

Setiap abis lebaran, pasti deh saya sekeluarga jalan-jalan. Lebaran taun kemaren misalnya, keluarga saya keliling Lampung dan ke Danau Ranau di Sumatera Selatan. Perjalanan yang sangat berkesan buat saya. Perjalanan itu bener-bener mengliputi Lampung Barat dan Timur, Dari Way Kambas sampe ke pantai-pantai di Pesisir Barat Lampung.

Tahun ini, kita sempet ngerencanain mau jalan-jalan, antara ke Pangandaran ata Cirebon. Pangandaran pun lalu dipilih. Udah sempet booking hotel juga malahan. Tapi sekonyong-konyong kita ngeliat berita di TV yang mengabarkan ombak di Pangandaran yang besar, kita mengurungkan niat pergi ke sana.

Akhirnya, Cirebon yang tadinya jadi cadangan pun jadi pilihan kita. Ini bukan kali pertama kita ke sana sih. Tapi gapapa, saya sih seneng-seneng aja. Saya pengen bikin review Kota Cirebon buat dimasukin ke sini. Dan kali ini, kita jalan-jalan bareng ama Citra dan keluarga lagi. Sama persis kayak waktu ke Lampung. Cuma kali ini minus si Papah yang pulang kampung ke Sumatera Barat karena mewakili menghadiri nikahan Ayu, sepupu saya. Met nikah ya Yu!

 

Tahu Sumedang Cita Rasa

Perjalanan ke Cirebon ini kita mulai dengan bermacet-macet ria memasuki kota Sumedang. Kita berangkatnya emang baru jam setengah delapan sih, kurang pagi. Di daerah Cibiru, berdasarkan Google Maps jalan udah mulai merah. Kondisi ini nyaris terus menerus sepanjang jalan, baru selepas Cadas Pangeran kemacetan mulai terurai.

DSCF0740 (1280x853)

Sampe Sumedang, waktu udah lewat tengah hari. Gila juga kan? Dari Bandung setengah 8, sampe Sumedang jam satu siang. Padahal jaraknya ga seberapa. Ya emang salah sendiri sih, coba kalo lewat tol Palikanci yang baru itu, pasti bakal sampe Cirebon lebih cepet. Tapi emang perjalanan jadi kurang berkesan. Sepanjang jalan tol mana ada yang diliat. Jadi bermacet-macet ria ini juga termasuk risiko yang udah siap kita hadapi.

DSCF0742 (1280x853)

Sambil menunggu ketemu mobil Citra dan keluarga, ga afdol rasanya kalo udah ke sumedang tapi ga beli penganan yang satu ini, tahu sumedang. Berbekal info dari Uwo Ati, mamahnya Citra, kita beli tahu sumedang di Tahu Cita Rasa (Google Maps) yang berada persis di seberang Toserba Griya Plaza Sumedang. Rasanya enak, asin-asin gurih bikin nagih dan makan melulu. Harganya 600 rupiah per biji. Tapi sebelnya mereka lupa ngasih cengek, heuuuuu…

 

Empal Gentong Amarta (Google Maps)

Perjalanan menuju Cirebon bener-bener diwarnai oleh kemacetan akibat volume kendaraan yang sangat tinggi. Nyaris 12 jam kita di jalan. Pada mau ke Cirebon semua? Ya ngga juga sih. Mau ke mana-mana, silaturahmi ke handai taulan. Tapi imbasnya ya karena jalannya cuma ada satu, jadinya macet.

DSCF0781 (1280x854)

Karena sampe Cirebon udah malem, kita terus mau makan malem dulu sebelum check in di hotel. Kuliner yang jadi pilihan adalah Empal Gentong Haji Apud yang ada di Jalan Raya Cirebon-Bandung, sekitar 5 km sebelum Masjid Agung Cirebon yang berada di pusat kota. Di sekitar sini ternyata jadi semacam sentra kuliner empal gentong karena rumah makan yang jualan empal gentong ada banyak dan nyaris semuanya rame-rame! Jalan yang dari tadi macet ternyata cuma gara-gara banyaknya mobil yang parkir di pinggir jalan demi mampir dan makan empal gentong.

DSCF0764 (1280x853)

Pas sampe di lokasi, ternyata Empal Gentong Haji Apud udah tutup. Kata tukang parkir, jam 5 sore aja udah tutup dia. Wow banget deh jam segitu udah tutup. Akhirnya kita ke Empal Gentong Amarta rekomendasinya temen Ferdi yang pernah tinggal di Cirebon. Saya beli empal gentong isi campur jeroan, ga pake daging. Warna kuahnya coklat kekuningan dengan taburan irisan daun bawang dan bawang goreng. Harum. Rasanya enak, gurih berbumbu, dan dagingnya juga empuk banget. Saya sukaaa empal gentong. Tapi kalo kata Ferdi dan Citra, rasanya mirip dan malah lebih enak Soto Bali yang ada di deket SMAN 5 Bandung. Semangkok empal gentong dihargai 25 ribu rupiah saja. Ga mahal kan?

DSCF0775 (1280x856)

Selain empal gentong, di sini juga sedia sate kambing muda. Widih, menggoda iman. Kita beli satu porsi buat dibabat rame-rame. Bumbunya cuma kecap doang, mirip kayak sate batibul khas Tegal. Sayang, dagingnya agak liat, padahal katanya kambing muda. Tapi gajihnya enak banget. Seporsi sate dihargai 40 ribu.

 

Cirebon di Malam Hari

Sampe malem-malem, ternyata bukan berarti badan capek dan udah pada pengen tidur. Kita malah keluar lagi dari hotel dan keliling ngeliat-liat Cirebon di malam hari. Saya yang sepanjang jalan cuma jadi penumpang kali ini jadi sopir. Si Ferdi yang emang jadi sopir sejak dari Bandung, tepar dan memilih tidur.

DSCF0801 (1280x853)

Bank Indonesia (Google Maps) yang berada di Jalan Yos Sudarso ini memiliki salah satu bangunan tua, yaitu sebuah gedung peninggalan zaman kolonial yang masih berdiri dengan gagah, walaupun kalah besar dengan gedung baru yang ada di belakangnya, dan sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Sayang, ga ada pencahayaan yang mengarah ke gedung tuanya.

DSCF0796 (1280x853)

Gereja Katolik Santo Yusuf (Google Maps) berada tidak jauh dengan gedung Bank Indonesia dan bahkan masih berada di jalan yang sama. Bentuk bangunannya keren, mengingatkan saya pada film Zorro karena bergaya Spanyol (sotoy mode on). Satpam yang menjaga ramah menyapa saya dan mempersilakan saya untuk masuk melewati pagar untuk mengambil foto. Bangunan yang diperkirakan berdiri pada tahun 1878 merupakan salah satu gereja tertua di Jawa Barat. Tidak mengherankan mengingat Cirebon merupakan kota pelabuhan yang menjadi tempat persinggahan pertama para misionaris.

DSCF0809 (1280x854)

Bangunan yang dikenal dengan nama Gedung BAT (Google Maps) ini berada di Jalan Pasuketan, deket ama pelabuhan. BAT sendiri ini merupakan singkatan dari British American Tobaccos. Gedung bergaya art deco yang sudah berdiri sejak tahun 1917 ini awalnya dimiliki oleh perusahaan rokok SS Michael dan difungsikan sebagai pabrik rokok. Pada tahun 1924 kemudian direnovasi dengan arsiteknya F.D Cuypers & Hulswit.

DSCF0815 (1280x854)

Masjid Raya At-Taqwa (Google Maps) berada di sebelah barat Alun-Alun Kejaksan. Sebagai catatan, Cirebon memiliki dua buah alun-alun. Alun-alun yang lain dan sebenernya yang “asli” berada di depan Keraton Kasepuhan Cirebon. Bangunan asli masjid sudah ada sejak tahun 1918 dan telah mengalami berkali-kali renovasi hingga ke bentuknya saat ini yang mampu menampung hingga 5500 jamaah. Di keempat sudut masjid terdapat empat buah menara namun di depannya terdapat satu lagi menara utama yang terpisah dan lebih tinggi.

DSCF0820 (1280x855)

Ini dia salah satu kebiasaan orang Indonesia yang saya agak ga paham. Ngapain sih orang duduk-duduk nongkrong tepat di depan gedung Balai Kota (Google Maps)? Ngapain coba? Tapi konon katanya dari dulu ya udah begini. Balai Kota terkadang disebut juga dengan Balai Udang, sebutan berasal dari delapan ornamen udang yang merayap di sudut-sudut bangunannya. Sama dengan Gedung BAT, gedung yang dibangun pada tahun 1920 dengan arsitek H.P Hamdl dan C.F.H. Koll ini pun bergaya art deco. Keberadaan gedung balaikota menegaskan pentingnya kota Cirebon bagi pemerintahan kolonial Belanda.

DSCF0835 (1280x854)

Perjalanan saya malam itu berakhir di Stasiun Cirebon (Google Maps), disebut juga Stasiun Kejaksan, yang jalan masuknya tepat berada di seberang hotel tempat kami menginap, Hotel Cordova (Google Maps). Stasiun yang dibangun pada tahun 1920 dengan bergaya campuran art noveau dan art deco ini melayani kereta api kelas bisnis, eksekutif, kelas campuran, dan beberapa kereta kelas ekonomi.

 

Nasi Jamblang Pelabuhan Ibu Sumarni (Google Maps)

DSCF0841 (1280x854)

Pagi-pagi jam 7 kita udah berangkat lagi. Hari ini Jumat, siangnya jadi agak pendek karena ada shalat Jumat. Dan pagi ini kita udah berencana mau sarapan di Nasi Jamblang Pelabuhan Ibu Sumarni.

DSCF0869 (1280x855)

Sengaja kita berangkat pagi banget karena kata Citra yang udah pernah ke sini, jam 7 aja udah ngantre banget. Nasi jamblang yang satu ini emang unik. Padahal mereka cuma nyempil doang di samping area pelabuhan. Masuknya aja mesti lewat jalan sempit di samping gapura gerbang pelabuhan yang Pretty Asmara aja udah pasti ga bisa lewat.

DSCF0862 (1280x853)

DSCF0865 (1280x854)

Karena abis ini kita masih mau kulineran nasi lengko, saya ga bernafsu buat ngambil banyak-banyak. Sejumput telur dadar, satu perkedel kentang, tempe goreng, dan suiran sambel udah cukup. Harganya? Mihil, karena segini aja dihargai 14 ribu rupiah. Tapi jangan heran, harga nasi jamblang emang rada mahal sih.

 

Nasi Lengko Pak H. Barno (Google Maps)

Nasi lengko adalah salah satu makanan khas kota-kota di jalur pantura, di mana Cirebon termasuk di dalamnya, namun mungkin kalah terkenal dibanding saudaranya si empal gentong dan nasi jamblang. Nasi lengko adalah nasi yang di atasnya diberi goreng tahu, goreng tempe, cacahan mentimun, toge, daun kucai, bumbu kacang, kecap manis, dan terakhir dibubuhi bawang goreng. Sederhana namun sarat protein.

DSCF0900 (1280x854)

Di Nasi Lengko Pak H. Barno yang sering disebut Nasi Lengko Pagongan, karena berada di Jalan Pagongan, ini memiliki satu ruangan sederhana yang besar. Pas kita ke sana, ruangannya rame banget. Dan saya rasa sih bukan cuma karena lagi libur lebaran aja. Selain nasi lengko yang dihargai 12 ribu rupiah saja, mereka juga menyediakan sate kambing yang seporsinya dibandrol 40 ribu rupiah. Rasanya enaaaak banget. Beneran deh. Dagingnya yang lembut banget dan gajihnya yang juicy bisa banget ditandingin sama Sate Giyo di Jakarta.

 

Keraton Kanoman Cirebon (Google Maps)

Sebenernya, Cirebon punya tiga buah keraton yang menjadi penerus Kesultanan Cirebon, namun yang paling terkenal tentunya Keraton Kasepuhan. Selain itu, ada Keraton Kanoman dan Keraton Kacirebonan juga. Dan di antara dua keraton ini, saya rasa Keraton Kanoman yang paling jarang dikunjungi. Kenapa? Karena lokasinya yang terhalang Pasar Kanoman sehingga kalopun ada yang tau bahwa di situ ada keraton, pasti males karena parkirnya juga susah.

DSCF0959 (1280x853)

DSCF0954 (1280x853)

DSCF0909 (1280x853)

Dari rombongan, akhirnya saya doang yang masuk ke dalem. Yang lainnya pada males dan memilih nunggu di mobil yang untungnya dapet parkir ga jauh dari gerbang Pasar Kanoman. Saya jalan melalui pasar ini. Entahlah apakah ada jalan masuk lain yang lebih oke, saya belom sempet googling. Ternyata, ada juga wisatawan lain selain saya. Ga lebih dari 20 orang. Lagi asik ngeliat seekor burung merak jantan yang kandangnya ditaro cukup depan. Tapi kasian, kandangnya kotor oleh sampah-sampah kecil.

DSCF0935 (1280x855)

DSCF0938 (1280x855)

Saya lalu merangsek masuk semakin dalam melewati tembok-tembok putih dengan keramik-keramik piring porselen asli dari Cina. Tidak ada penjaga, tidak ada yang meminta tiket masuk sama sekali. Saya bisa bebas melihat-lihat pendopo yang didominasi oleh warna biru langit yang cantik, disebut Bangsal Jiem, dan bagian dalamnya yang sepertinya merupakan ruangan singgasana sultan tanpa ada yang melarang. Baru ketika saya tampaknya akan masuk ke area privasi, yaitu penghuni keraton, ada seseorang yang menegur saya.

DSCF0920 (1280x853)

DSCF0930 (1280x853)

Di sebelah timur, ada bangunan sederhana dengan plang “Gedung Pusaka” yang berfungsi sebagai museum mini. Bangunannya ga terlalu besar. Di sini baru deh saya dimintai tiket, itupun kalo mau masuk museum. Tiketnya 15 ribu rupiah. Mahal? Mahal banget sih, soalnya ruangannya kecil. Berkeliling 10 menit juga udah kelamaan. Isinya ada koleksi Kereta (kuda) Paksi Naga Liman, Kereta Jempana, senjata, ukir-ukiran dua dimensi, satu set gamelan, dan perabot-perabot tua.

DSCF0947 (850x1280)

Sebelum pulang, di sebelah barat saya ngeliat dinding bercat putih dengan pintu berwarna hijau. Di atas pintu terdapat lubang kecil yang diisi dengan lonceng kecil. Di sebelah bangunan ini ternyata ada sebuah langgar keraton berukuran kecil yang sangat sederhana.

 

Keraton Kasepuhan Cirebon (Google Maps)

Setelah perjalanan super singkat di Keraton Kanoman, saya dan rombongan bertolak ke Keraton Kasepuhan. Lumayan, masih ada waktu satu setengah jam untuk melihat-lihat sebelum masuk waktu salat Jumat.

DSCF0971 (1280x855)

Untuk masuk ke dalam area keraton, kita ga melalui gerbang keraton yang disebut Kreteg Pangrawit (berarti jembatan kecil) ini melainkan melalui sebuah pintu kecil di sebelah kiri yang ada bangunan loketnya. Tiket masuk ke Keraton Kasepuhan lumayan mahal. Harga tiket saat weekend dan libur nasional adalah sebagai berikut,
Tiket Masuk IDR 20K
Tiket Pelajar IDR 15K
Tiket Wisatawan Asing IDR 40K
Tiket Pelajar Asing IDR 20K
Tiket Parkir IDR 10K (bayar ke tukang parkir)

DSCF0977 (1280x853)

Untuk memperoleh pengetahuan lebih, kita lalu memakai jasa pemandu. Namanya lupa, tapi yang ga akan pernah lupa adalah jambangnya yang ga nahan itu. Penjelasan awal dilakukan di komplek Siti Inggil. Di komplek ini terdapat lima buah bangunan seperti pendopo kecil tidak berdinding yang memiliki filosofi dan fungsinya masing-masing.

DSCF0982 (1280x853)

Dari komplek Siti Inggil, kita akan melalui gapura yang diberi nama Regol Pengada untuk memasuki area yang disebut Tajug Agung alias mushola agung. Konon katanya sultan sholat idul fitri sebanyak dua kali, yang pertama di sini bersama keluarga, lalu yang kedua bersama masyarakat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

DSCF0985 (1280x853)

Setelah Tajug Agung, kita masuk ke area utama keraton. Di tengah area terdapat taman melingkar, Taman Dewandaru, yang ada dua buah meriam dan dua buah patung macan putih yang menjadi simbol keluarga besar Pajajaran.

DSCF0990 (1280x853)

Terakhir kali saya main ke sini, pengunjung masih bisa memasuki area singgasana sultan, Bangsal Pringgandani, Bangsal Prabayasa, dan Bangsal Agung Panembahan. Tapi semenjak ada kasus kursi berusia ratusan tahun yang rusak akibat diduduki pengunjung yang ingin selfie, sultan yang marah lalu melarang pengunjung untuk masuk ke area ini dan hanya bisa sampe di ruangan bernama Jinem Pangrawit aja. Di pintunya ada satu kaca yang sepertinya sengaja diambil agar pengunjung bisa mengintip bagian Gajah Nguling, yaitu bagian ruangan sebelum bangsal-bangsal tadi.

DSCF1014 (1280x855)

DSCF1017 (852x1280)

Di area utama juga terdapat dua buah bangunan yang digunakan untuk menyimpan benda pusaka dan kereta. Bangunan yang pertama disebut Museum Benda Kuno. Di sini disimpan koleksi gamelan, pakaian, benda pecah belah, senjata, ukiran logam, dan lain-lain.

DSCF0997 (1280x853)

Bangunan satu lagi yang berhadapan dengan Museum Benda Kuno adalah Museum Kereta Singa Barong. Di sini disimpan beberapa kereta kencana Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Kereta yang paling terkenal adalah Kereta Singa Barong, karya Panembahan Losari, cucu Sunan Gunung Jati, yang dibuatnya pada 1549. Kereta Singa Barong yang berbelalai gajah melambangkan persahabatan Kasultanan Cirebon dengan India, berkepala naga lambang persahabatan dengan Tiongkok, serta bersayap dan berbadan Buroq lambang persahabatan dengan Mesir. Kereta ini memiliki replika yang kualitasnya jauh di bawah. Pemandu menjelaskan perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara kedua kereta ini.

DSCF1003 (853x1280)

Selain Kereta Singa Barong, pemandu juga menjelaskan mengenai lukisan Prabu Siliwangi dan macan putihnya yang terkenal. Lukisan ini merupakan hasil karya seorang seniman dan bukan merupakan benda bersejarah. Konon katanya pandangan mata si prabu akan mengikuti kita ke sudut manapun kita bergerak.

 

Baca bagian berikutnya di Jalan-Jalan ke Cirebon (Bagian 2 dari 2)

Iklan

3 pemikiran pada “Jalan-Jalan ke Cirebon (Bagian 1 dari 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s