Mengunjungi Rumah Si Pitung (Jakarta)

Kampung Marunda termasuk di dalam 12 Jalur Destinasi Wisata Pesisir Jakarta Utara yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Jakarta Utara. Lokasinya bisa dibilang jauh banget dari jantung kota karena udah berbatasan dengan provinsi Jawa Barat yang diwakili oleh Kabupaten Bekasi. Di beberapa situs berita yang saya baca, destinasi-destinasi wisata ini diharapkan bisa Go International. Masalahnya ya cuma satu, walaupun punya program yang bagus, pemerintah ga memberikan perhatian lebih terhadap kualitas tempat wisatanya. Berkesan lepas tangan. Dan hal ini menurut saya terjadi dengan Rumah Si Pitung dan dan Masjid Al Alam yang ada di Kampung Marunda.

DSCF2151 (1280x852)

Untuk menuju ke sini, saya mencari “Rumah Si Pitung” di Google Maps, terus ikutin deh petunjuk arahnya. Nanti pas udah makin deket ke lokasi, akan ada papan petunjuk yang mengarah ke sana. Karena Rumah Si Pitung ini dikelilingi daerah danau berawa-rawa yang terhubung langsung ke laut, sekitar sekitar 200 meter sebelumnya kamu udah mesti parkir karena jalan menuju Rumah Si Pitung cuma bisa dilalui oleh sepeda motor. Selanjutnya, kita mesti jalan.

DSCF2147 (1280x855)

Di kiri dan kanan jalan setapak yang mesti kita lalui terdapat danau berawa. Danau ini rupanya dimanfaatkan warga untuk menyalurkan hobi memancing. Tapi, sepertinya sih ga gratis karena untuk memancing di sini, warga mesti merogoh kocek sekitar 5000 rupiah dan (kayaknya) mesti membayarkannya ke kios pemancingan yang ada di situ.

DSCF2120 (1280x853)

Rumah Si Pitung beroperasi setiap hari kecuali Senin dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Tiket masuk untuk perorangan dewasa 5000 rupiah saja, standar harga tiket masuk museum di Jakarta. Untuk mahasiswa dan pelajar baik perorangan maupun rombongan bahkan tersedia tarif tiket yang lebih murah. Kurang murah apa coba wisata ke museum-museum?

Sore itu, Rumah Si Pitung didatangi juga oleh beberapa pengunjung selain saya dan keluarga. Ada juga ya yang berminat dateng ke sini, padahal kan jauh banget di ujung Jakarta. Area Rumah Si Pitung sendiri sangat bersih dan terawat. Mungkin ya karena pengunjungnya ga terlalu banyak. Penyebab lainnya? Mungkin karena dulu sempet dipake Pak Djokowi buat deklarasi calon presiden.

DSCF2107 (852x1280)

Tapiiii, satu hal yang mengecewakan adalah, ternyata Rumah Si Pitung ini bukanlah rumah tempat tinggalnya Si Pitung. Rumah yang didominasi warna merah ini ternyata rumah seorang saudagar Betawi bernama Haji Safiudin. Terus, apa hubungannya Haji Safiudin dengan Pitung? Singkat cerita, Haji Safiudin ini bekas korban rampokannya yang di kemudian hari malah jadi semacam partner in crime-nya. Terus, sebenernya di manakah rumah Si Pitung? Si Pitung ternyata dilahirkan di daerah Rawa Belong, Jakarta Barat. Dan rumah tempat ia dilahirkan ini sepertinya emang udah ga ada lagi.

Si Pitung sendiri sering sekali berkunjung dan bahkan tinggal di rumah ini. Aktivitasnya ini lambat laun tercium oleh Belanda. Pada suatu hari, dengan kekuatan satu regu pasukan polisi bersenjata lengkap, Si Pitung disergap dengan hujan peluru. Pitung pun rebah. Dalam perjalanan ke rumah sakit militer, sekarang RSPAD, dengan menggunakan ambulans, Pitung meregang nyawa di usia 28 tahun. Kisah hidupnya ini bisa kita baca di papan informasi yang ada di dalam Rumah Si Pitung. Tulisan yang sama bisa kamu baca juga di blog “Rakyat Bekasi”.

DSCF2115 (1280x853)

Selain itu, rumah ini juga sebenernya ga ada apa-apa lagi. Ada lukisan, ada furnitur kayak meja, kursi, dipan, dan lampu. Tapi ya ga jelas aja, apakah mereka ini peninggalan asli si Haji Safiudin tadi? Saya sih ga yakin. Mungkin cuma hasil rekaan aja, bahwa di sini ada meja dan kursi, ada lemari, ada lampu, dan lain sebagainya. Karena ga ada papan informasi yang memberi keterangan apapun.

 

Museum Kebaharian Jakarta Situs Marunda
Rumah Si Pitung

Jalan Kampung Marunda Pulau, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara
Click for Google Maps

rumah-si-pitung.jpg.jpg

 

Keluar dari pintu gerbang Rumah Si Pitung, kita berpapasan dengan kelompok yang seperti rombongan haji, berpeci dan berjilbab. Rupanya Rumah Si Pitung bersama dengan Masjid Al Alam menjadi destinasi wisata religi warga Jakarta dan sekitarnya. Dari Rumah Si Pitung, untuk mencapai Masjid Al Alam kita mesti mengitari lahan bertembok, melalui jalan setapak yang jauh lebih ga kondusif daripada pas tadi kita pergi ke Rumah Si Pitung dari arah parkiran mobil. Jalan setapak ini sebagiannya dibeton, tapi ada bagian di mana jalannya bertanah dan becek. Plus kita juga sempet ketemu bangkai seekor tikus yang udah setengah membusuk melintang di tengah jalan. Memprihatinkan lah pokoknya buat suatu objek wisata yang digadang-gadang bisa Go International.

DSCF2138 (1280x853)

Masjid yang terkadang disebut Masjid Si Pitung atau Masjid Marunda ini dikisahkan menjadi tempat bermain Si Pitung kecil sambil mengaji dan belajar silat. Kisah lain ada yang mengatakan bahwa masjid ini dibangun oleh salah seorang walisongo dalam perjalanannya dari Banten ke Jawa Tengah. Mau yang versi yang lebih ajaib? Ada yang bilang masjid ini dibangun oleh Fatahillah dalam waktu semalam saja. Jadi teringat kisah Bandung Bondowoso kan?

DSCF2140 (1280x854)

Di samping masjid yang sudah berusia lebih dari 400 tahun ini, terdapat sebuah sumur yang dikatakan memiliki tiga rasa sekaligus, yaitu asin, tawar, dan payau. Sayangnya pas saya ke sini, saya ga tau mengenai hal ini sehingga ga nyobain apakah bener atau ngga. Para peziarah malahan ada yang meyakini bahwa air sumur tersebut mampu menyembuhkan berbagai penyakit sehingga membawanya pulang dengan botol atau jerigen.

DSCF2129 (1280x854)

Masjid Al Alam yang asli berbentuk persegi dengan ukuran 10×10 meter dengan atap berbentuk joglo. Namun di sekitarnya ada beberapa bangunan tambahan yang sengaja dibangun untuk menampung jamaah. Di bagian dalam masjid, terdapat empat buah pilar bulat berwarna putih yang masih kokoh berdiri. Kebetulan waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore sehingga saya menyempatkan diri solat di sini. Walaupun tidak dilengkapi dengan AC dan hanya ada kipas angin, masjid yang sudah dicanangkan sebagai cagar budaya sejak tahun 1975 ini tetep terasa adem.

 

Masjid Al Alam Marunda
Click for Google Maps

masjid-al-alam.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s