Museum Bio Farma (Bandung)

Pada bulan Desember 2015, Kawasan Bangunan Heritage Bio Farma diresmikan setelah mengalami renovasi besar-besaran. Bangunan kawasan heritage merupakan bangunan tertua yang ada di kawasan Bio Farma. Bangunan utama Bio Farma ini merupakan hasil karya arsitek Prof. Dr. Ir. CPW Schoemaker, yang pada tahun 1923 digunakan sebagai kantor Landskoepok Inricting en Instituut Pasteur pimpinan L. Otten. Pada tahun 1997, Bandung Heritage telah menginventarisasi bahwa bangunan ini sebagai Bangunan Cagar Budaya yang kemudian ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 19 Tahun 2009. Bangunan yang direnovasi memiliki luas 2.659 m2 dan terdiri dari Lantai 1 seluas 2.030m2 dan Lantai 2 seluas 629 m2. Waktu pelaksanaan pembangunan fisik renovasi bangunan heritage yang ada di kawasan Bio Farma ini, adalah 9 bulan yang dimulai pada bulan Maret 2015.

DSCF0047 (1280x853)

Gedung yang sudah berusia hampir 100 tahun ini, memiiki ciri khas atap atau genteng dengan sudut curam. Pilar bangunan nampak masih kokoh. Teralis besi dan daun jendela yang terbuat dari kayu jati masih asli. Cat berwarna putih yang menjadi ciri khas warna bangunan buatan Belanda tetap dipertahankan. Hampir seluruh bangunan di gedung utama hanya menggunakan satu warna cat, putih.

DSCF0046 (1280x855)

Di kawasan gedung utama juga terdapat museum yang menceritakan tentang penemuan kesehatan, wabah yang terjadi sebelum vaksin ditemukan, serta peralatan yang digunakan pada awal Bio Farma beroperasi. Sebelum renovasi museum ini udah ada, tapi emang ga banyak yang tau. Walau dulu saya belom pernah mengunjungi museumnya, tapi pokoknya sekarang museumnya jadi kerena banget. Rapi, bersih, pencahayaannya bagus, desain dan presentasinya menarik. Kebetulan mereka menyewa tim desain berasal dari kantor desain temennya adik saya.

DSCF9962 (1280x853)

Namun sayangnya, sejauh ini Museum Bio Farma belum dibuka untuk umum. Maksudnya, saat ini museum baru terbuka untuk kunjungan yang berasal dari perusahaan atau institusi pendidikan, tidak untuk perorangan. Bukanya pun hanya weekday aja alias dari Senin sampe Jumat saja, mengikuti jadwal kerja karyawan Bio Farma. Lah, terus kenapa kok saya bisa masuk ke sini? Ceritanya gini, jadi saya sengaja banget tuh hari Jumat ngambil cuti, di antaranya ya supaya bisa dateng ke sini. Waktu saya ke sini, beruntung lagi ada kunjungan rombongan dari Gorontalo. Akhirnya saya meminta untuk bisa berkunjung bareng-bareng dengan mereka. Untungnya dibolehin. Yesss!!!

DSCF9971 (1280x888)

Museum berada di sayap paling barat bangunan utama Bio Farma. Memasuki museum akan ada ruangan yang mirip seperti lobby, lengkap dengan meja resepsionis. Alur pengunjung di museum ini dimulai di ruangan sebelah kiri lobby, yaitu ruangan audiovisual dan hall of fame. Di sini terdapat TV yang sepertinya digunakan untuk memutar sejarah Bio Farma pada rombongan pengunjung. Dinding-dindingnya dipenuhi oleh gambar wajah direkturnya sejak tahun 1890, tentunya masih belum bernama Bio Farma, hingga saat ini dipimpin oleh Drs. Iskandar Apt. MM. Di pintu masuk, ada TV layar datar yang seolah-olah menunjukkan aktivitas di dalam ruangan laboratorium. Cool!

DSCF0039 (1280x853)

Di ruangan berikutnya dipaparkan masa-masa di saat vaksin masih belum ditemukan, di mana penyakit cacar masih menjadi penyakit menular yang fatal. Lalu ada pula timeline yang menceritakan sejarah Bio Farma sejak tahun 1890 masih bernama Park Vaccinogene, melalui masa-masa perang kemerdekaan, menjadi perusahaan umum, perusahaan negara, menjadi perseroan terbatas di tahun 1997, hingga saat ini.

DSCF9977 (1280x844)

DSCF0036 (1280x853)

Lalu, ada sisi ruangan yang menceritakan penelitian mengenai vaksin cacar dan rabies serta proses membuat vaksin dan serum, lengkap dengan koleksi berbagai macam mikroskop cahaya yang masih jadul, dan pakaian yang digunakan oleh staf laboratorium. Di sisi ruangan lainnya, ada bagian kecil yang menceritakan asal muasal Bio Farma yang sempat menjadi bagian dari Insituut Pasteur di Perancis.

DSCF9988 (2560x576)

Ruangan berikutnya masih menceritakan tentang produksi vaksi dengan memamerkan berbagai alat produksi vaksin yang asing bagi kita, seperti monometer, fotometer, regulator, kipp, alat distilasi, centrifuge, mesin filling, sterilisator, dan lain-lain. Tapi tenang aja, ada keterangan singkatnya kok.

DSCF0030 (1280x853)

Di sisi dinding yang berlawanan, terdapat sebuah peta dunia yang menunjukkan bahwa produk-produk yang dihasilkan oleh Bio Farma ini telah digunakan di 131 negara di lima benua. Yang paling banyak tentunya diekspor ke negara-negara di benua Asia dan berikutnya adalah negara-negara di benua Afrika.

DSCF9990 (1280x853)

Ruangan berikutnya, yang kali ini tidak terlalu jelas batasnya dengan ruangan sebelumnya adalah ruangan di mana kita dapat melihat kegiatan CSR yang telah dilakukan oleh pihak Bio Farma, Bio Farma dalam liputan berbagai media lengkap dengan berbagai penghargaan yang telah diperoleh, dan koleksi buku-buku jadul yang dimiliki oleh Bio Farma.

Nah, kalo mau merencanakan kunjungan ke museum ini, kamu bisa menghubungi

N. Nurlaela
Head of Corporate Communications Department
PT Bio Farma (Persero)
Telp : 022 203 3755
Fax : 022 204 1306
e-mail : corcom@biofarma.co.id

 

Museum Bio Farma
Jalan Pasteur No. 28 Bandung
Click for Google Maps

museum-biofarma.jpg.jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s